Melepas Belenggu Khayalan

Melepas Belenggu Khayalan

Palur April 2020

 

Bukan tak suka angin menerpa rambut semilir

dulu, nikmat itu kurasakan pernah

hingga semuanya menjadi akhir

oleh hujaman tajamnya anak panah

 

lembut kurasa tangan berhembus

membelai wajah yang kini semakin keriput

semakin perih darah mengucur kala kau renggut

 

kelebat lalu masih terukir di ujung pelupuk

senyum ketir terukir bersama awan yang perlahan memudar

membawa hujan yang tak jadi

 

Oh, belenggu itu terus merenggut bebasku

meski sekuat tenaga ku singkirkan rantai benci itu

apakah aku harus berdamai dengan rasa suka

atau bermusuhan dengan cinta lalu

yang terus membawa khayalku

hingga menuju gelapnya malam

 

PUISI RAKYAT

Puisi rakyat merupakan warisan turun-temurun yang harus kita pelihara. Puisi rakyat dapat berupa pantun, syair, dan gurindam.

  1. Pantun

Pantun merupakan puisi melayu yang mengakar dan membudaya dalam masyarakat. Pantun dikenal dengan banyak nama di Nusantara, yaitu tuntun (bahasa Jawa) dan pantun (bahasa Toba). Fungsi pantun adalah mendidik sambil menghibur.

Ciri-ciri pantun:

    1. Setiap bait terdiri atas empat baris
    2. Setiap baris terdiri atas 8-12 susku kata
    3. Rima akhir setiap baris adalah a-b-a-b
    4. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran
    5. Baris ketiga dan keempat merupakan isi

Contoh pantun

Berakit-rakit ke hulu

Berenang-renang ke tepian

Bersakit-sakit dahulu

Bersenang-senang kemudian

 

  1. Gurindam

Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari India. Istilah gurindam berasal dari bahasa India, yaitu kirindam yang berarti mula-mula atau perumpamaan.

Ciri-ciri gurindam:

    1. Setiap bait terdiri atas dua baris
    2. Setiap baris memiliki 10-14 suku kata
    3. Setiap baris memiliki rima yang sama atau bersajak a-a, b-b, c-c, dan seterusnya
    4. Baris satu dan dua merupakan satu kesatuan utuh
    5. Baris pertama berisi soal, masalah, atau perjanjian
    6. Baris kedua berisi jawaban atau maksud gurindam

Contoh gurindam:

Dengan orang tua jangan melawan

Kalau tidak mau hidup berantakan

  1. Syair

Syair berasal dari Persia bersama dengan masuknya islam di Indonesia. Istilah syair berasal dari bahasa Arab, yaitu syi’ir atau syu’ur yang berarti “perasaan yang menyadari”, kemudian kata syu’ur berkembang menjadi syi’ur yang berarti puisi dalam pengetahuan.

Ciri-ciri syair:

    1. Setiap bait terdiri atas empat baris
    2. Setiap baris terdiri atas 8-14 sku kata
    3. Bersajak a-a-a-a
    4. Semua baris merupakan isi
    5. Bahasa yang digunakan biasanya berupa kiasan

Contoh syair

Syair Perahu

(Karya Hamzah Fansuri)

 

Inilah gerangan suatu madah

mengarangkan syair terlalu indah,

membetuli jalan tempat berpindah,

di sanalah i’tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,

ialah perahu tamsil tubuhmu,

tiadalah berapa lama hidupmu,

ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,

hasilkan kemudi dengan pedoman,

alat perahumu jua kerjakan,

itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,

hasilkan bekal air dan kayu,

dayung pengayuh taruh di situ,

supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,

angkatlah pula sauh dan layar,

pada beras bekal jantanlah taksir,

niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,

muaranya sempit tempatmu lalu,

banyaklah di sana ikan dan hiu,

menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,

di sanalah perahu karam dan rusak,

karangnya tajam seperti tombak

ke atas pasir kamu tersesak.

Guru Pembelajar, Sebuah Perubahan Paradigma

BUNDA bgron 1Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015, menjadi titik balik perubahan paradigma bagi guru. Ketika program sertifikasi guru diluncurkan pada tahun 2006 menyusul terbitnya Undang-undang Guru dan Dosen, berbagai harapan terhadap peningkatan kualitas guru khususnya terus bermunculan dari berbagai pihak. Namun, ketika dievaluasi baik oleh pemerintah maupun secra independen, program sertifikasi guru belum mampu mendongkrak kualitas guru secara signifikan. Meskipun, beberapa guru bersertifikat menunjukkan peningkatan kinerja dan kemampuan yang pesat.

Salah satu upaya pemerintah untuk mengubah paradigma “konsumtif”nya program sertifikasi adalah dengan adanya program Penilaian Kinerja Guru (PKG) secara berkala. Selain PKG, secara reguler pemerintah juga mengadakan Uji Kompetensi Guru (UKG). Untuk UKG, jika pada mulanya para guru tidak terlalu paham tujuan dan tindak lanjut dari adanya ujian tersebut, akhirnya pada tahun 2016 pemerintah menunjukkan keseriusannya untuk menindaklanjuti hasil UKG terkhusus yang terakhir diadakan pada tahun 2015, dengan mengadakan sebuah program yang kita kenal sebagai Guru Pembelajar (GP).

Guru Pembelajar sendiri digagas oleh Menteri Pendidikan saat itu yakni Bapak Anis Baswedan. Kini, meski telah berganti menteri program GP sepertinya tetap berlanjut. Tentunya dengan penyesuaian beberapa hal yang berkaitan dengan kebijakan menteri yang baru.

Apa sih Guru Pembelajar itu? Guru Pembelajar merupakan sebuah program untuk menstandarisasi kompetensi guru berdasarkan hasil UKG tahun 2015. Program ini diawali dengan diadakannya diklat widya iswara GP dan diklat instruktur nasional GP. Para Instruktur Nasional kemudian membimbing guru dibawah tanggung jawabnya untuk mempelajari modul Guru Pembelajar sesuai rapor UKG masing-masing.

Untuk jelasnya sahabat bisa mengunduh file sosialisasi Guru Pembelajar pada tautan berikut.

Unduh Sosialisasi GP

Selamat mengikuti program Guru Pembelajar!

 

Puisi: KISAH SEBATANG POHON JAGUNG

KISAH SEBATANG POHON JAGUNG

oleh: danriris

Aku hanya sebatang jagung

Yang hidup atas kasih-Nya

 

Aku diciptakan dengan bunga yang terpisah

Tapi atas kuasa-Nya pula,

kedua bungaku tetap menyatu

 

Aku sebatang pohon yang memiliki kulit mengkilap

Tampak sempurna, namun sejatinya penuh kekurangan

Terlihat kokoh, namun keropos di dalam

 

Bila tiba waktunya,

bulir kasih kedua bunga kami muncul

sempurna bila bunga kami sempurna

ranum, bila batangku mendapat cukup nutrisi

tentu atas kehendak-Nya

 

meski tampak bersatu,

benang sari dan putikku tetaplah terpisah

yang sering satu diantara keduanya dianggap tak punya guna

namun, bila satu diantara keduanya tak ada

maka, tak akan ada kehidupan yang baru bagi kami

 

aku…

sekedar batang pohon jagung

yang mudah saja roboh

atau dirobohkan

namun bisa juga  tetap berdiri tegar dalam hembusan badai

tentu semua atas kehendak-Nya

 

Struktur Fisik Puisi Indonesia Periode 70 hingga 80-an

Dibandingkan dengan puisi-puisi Periode ’66 dan sebelumnya, puisi-puisi Indonesia dekade 70 hingga 80-an ini memiliki struktur lahir yang sangat beraneka ragam. Di samping bentuk-bentuk yang masih punya keterikatan kuat dengan konvensi penulisan puisi yang telah ada, di sini kita jumpai juga bentuk-bentuk yang lain, yang setengah konvensional dan inkonvensional. Segala bentuk tipografis dan pencapaian wawasan estetik baru dicobaterapkan di sini. Pada periode ini, unsur-unsur seni rupa ikut mewarnai bentuk-bentuk sanjak yang ada yang sebetulnya telah dirintis oleh para penyair dekade 70-an, mengisyaratkan kepada kita bahwa kekuatan struktur puisi mutakhir tidak semata-mata pada kata.

Perbandingan antara bentuk-bentuk puisi yang konvensional dengan yang di luar konvensi boleh dikatakan imbang. Kecenderungan berbeda dengan yang konvensional memang ada. Penciptaan karya sastra bukanlah semata persoalan bentuk tata wajah. Itu tidak lagi mengacu pada konvensi penulisan yang ada, tetapi lebih merupakan perjuangan sang penyair mengedepankan nilai-nilai estetik baru. Oleh karena itu, struktur lahir yang konvensional masih tetap digunakan oleh para penyair periode ini ketika mereka berkarya. Lanjutkan membaca

Warna Puisi 70-an

Memandang panorama puisi Indonesia dekade 70 sampai 80-an yang menyemaraki dunia sastra Indonesia, patutlah kiranya kita merasa bergembira, bangga, karena dibandingkan dengan dunia perpuisian Periode ‘66 surut ke belakang, kita melihat adanya sejumlah perkembangan yang cukup pesat, baik diteropong utamanya dari segi kuantitas maupun kualitas. Mengamati karya-karya sastra berbentuk puisi yang diciptakan para penyair kita pada dekade 70-80-an, kita akan menemukan serangkaian bentuk kreativitas perpuisian yang mencerminkan usaha maksimal penyairnya dalam mengedepankan kemungkinan-kemungkinan baru,  makna-makna baru, cakrawala estetis baru.

Hal di atas bisa kita saksikan pada struktur lahir dan struktur batin serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam karya-karya yang dimaksud. Dalam banyak hal, apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh para penyair Indonesia pada periode tersebut sudah sesuai dengan kemajuan zaman.

Kalau dalam penulisan prosa kita menemukan kenyataan berimbangnya jumlah cerpen dan novel yang berbobot literer dan pop, maka dalam puisi, jumlah karya yang  berbobot sastra jauh lebih banyak daripada yang sebatas pop. Bahkan, puisi-puisi yang dimuat di majalah remaja seperti Nova ( sebelum berubah menjadi tabloid ), Gadis, Estafet, Idola, Indonesiaku, banyak pula yang bernilai literer. Sementara itu, puisi-puisi yang dimuat di surat kabar harian Berita Buana, Pelita, Suara Pembaruan, Suara Karya (Minggu), Kedaulatan Rakyat (Minggu), Pikiran Rakyat, Wawasan (Minggu), Suara Merdeka (Cempaka Minggu Ini), Surabaya Pos (Minggu) tabloid Mutiara, Salam, serta majalah Panji Masyarakat dan Amanah, kebanyakan berbobot sastra. Sementara itu, majalah Budaya Jaya (almarhum), Basis, Horison, serta majalah-majalah kampus terbitan Jurusan/Program Bahasa dan Sastra Indonesia, secara kontinu juga memproduksi puisi. Kualitas yang cukup tinggi juga kita temukan pada karya-karya puisi yang diterbitkan oleh PT Pustaka Jaya dan PN Balai Pustaka dalam bentuk buku. Lanjutkan membaca