Puisi: KISAH SEBATANG POHON JAGUNG

KISAH SEBATANG POHON JAGUNG

oleh: danriris

Aku hanya sebatang jagung

Yang hidup atas kasih-Nya

 

Aku diciptakan dengan bunga yang terpisah

Tapi atas kuasa-Nya pula,

kedua bungaku tetap menyatu

 

Aku sebatang pohon yang memiliki kulit mengkilap

Tampak sempurna, namun sejatinya penuh kekurangan

Terlihat kokoh, namun keropos di dalam

 

Bila tiba waktunya,

bulir kasih kedua bunga kami muncul

sempurna bila bunga kami sempurna

ranum, bila batangku mendapat cukup nutrisi

tentu atas kehendak-Nya

 

meski tampak bersatu,

benang sari dan putikku tetaplah terpisah

yang sering satu diantara keduanya dianggap tak punya guna

namun, bila satu diantara keduanya tak ada

maka, tak akan ada kehidupan yang baru bagi kami

 

aku…

sekedar batang pohon jagung

yang mudah saja roboh

atau dirobohkan

namun bisa juga  tetap berdiri tegar dalam hembusan badai

tentu semua atas kehendak-Nya

 

Struktur Fisik Puisi Indonesia Periode 70 hingga 80-an

Dibandingkan dengan puisi-puisi Periode ’66 dan sebelumnya, puisi-puisi Indonesia dekade 70 hingga 80-an ini memiliki struktur lahir yang sangat beraneka ragam. Di samping bentuk-bentuk yang masih punya keterikatan kuat dengan konvensi penulisan puisi yang telah ada, di sini kita jumpai juga bentuk-bentuk yang lain, yang setengah konvensional dan inkonvensional. Segala bentuk tipografis dan pencapaian wawasan estetik baru dicobaterapkan di sini. Pada periode ini, unsur-unsur seni rupa ikut mewarnai bentuk-bentuk sanjak yang ada yang sebetulnya telah dirintis oleh para penyair dekade 70-an, mengisyaratkan kepada kita bahwa kekuatan struktur puisi mutakhir tidak semata-mata pada kata.

Perbandingan antara bentuk-bentuk puisi yang konvensional dengan yang di luar konvensi boleh dikatakan imbang. Kecenderungan berbeda dengan yang konvensional memang ada. Penciptaan karya sastra bukanlah semata persoalan bentuk tata wajah. Itu tidak lagi mengacu pada konvensi penulisan yang ada, tetapi lebih merupakan perjuangan sang penyair mengedepankan nilai-nilai estetik baru. Oleh karena itu, struktur lahir yang konvensional masih tetap digunakan oleh para penyair periode ini ketika mereka berkarya. Lanjutkan membaca

Warna Puisi 70-an

Memandang panorama puisi Indonesia dekade 70 sampai 80-an yang menyemaraki dunia sastra Indonesia, patutlah kiranya kita merasa bergembira, bangga, karena dibandingkan dengan dunia perpuisian Periode ‘66 surut ke belakang, kita melihat adanya sejumlah perkembangan yang cukup pesat, baik diteropong utamanya dari segi kuantitas maupun kualitas. Mengamati karya-karya sastra berbentuk puisi yang diciptakan para penyair kita pada dekade 70-80-an, kita akan menemukan serangkaian bentuk kreativitas perpuisian yang mencerminkan usaha maksimal penyairnya dalam mengedepankan kemungkinan-kemungkinan baru,  makna-makna baru, cakrawala estetis baru.

Hal di atas bisa kita saksikan pada struktur lahir dan struktur batin serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam karya-karya yang dimaksud. Dalam banyak hal, apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh para penyair Indonesia pada periode tersebut sudah sesuai dengan kemajuan zaman.

Kalau dalam penulisan prosa kita menemukan kenyataan berimbangnya jumlah cerpen dan novel yang berbobot literer dan pop, maka dalam puisi, jumlah karya yang  berbobot sastra jauh lebih banyak daripada yang sebatas pop. Bahkan, puisi-puisi yang dimuat di majalah remaja seperti Nova ( sebelum berubah menjadi tabloid ), Gadis, Estafet, Idola, Indonesiaku, banyak pula yang bernilai literer. Sementara itu, puisi-puisi yang dimuat di surat kabar harian Berita Buana, Pelita, Suara Pembaruan, Suara Karya (Minggu), Kedaulatan Rakyat (Minggu), Pikiran Rakyat, Wawasan (Minggu), Suara Merdeka (Cempaka Minggu Ini), Surabaya Pos (Minggu) tabloid Mutiara, Salam, serta majalah Panji Masyarakat dan Amanah, kebanyakan berbobot sastra. Sementara itu, majalah Budaya Jaya (almarhum), Basis, Horison, serta majalah-majalah kampus terbitan Jurusan/Program Bahasa dan Sastra Indonesia, secara kontinu juga memproduksi puisi. Kualitas yang cukup tinggi juga kita temukan pada karya-karya puisi yang diterbitkan oleh PT Pustaka Jaya dan PN Balai Pustaka dalam bentuk buku. Lanjutkan membaca

Sekilas Karya Hartoyo Andangjaya

Hartoyo Andangjaya, dilahirkan di Solo 4 Juli 1930, meninggal di kota ini juga pada 30 Agustus 1990. Penyair yang pernah menjadi guru SMP dan SMA di Solo dan Sumatra Barat ini menulis sanjak-sanjak terkenal berjudul Perempuan-perempuan Perkasa, Rakyat, juga Sebuah Lok Hitam, Buat Saudara Kandung. Sanjak-sanjak tersebut bisa dijumpai dalam bukunya Buku Puisi (1973). Musyawarah Burung (1983) adalah karya terjemahan liris prosaya tokoh sufi Fariduddin Attar. Seratusan puisi karya penyair sufi terbesar sepanjang sejarah, Maulana Jalaluddin Rumi, diambil dari Diwan Syamsi Tabriz, diterjemahkan dan dihimpunnya di bawah judul buku Kasidah Cinta.

Hartoyo juga menulis antologi puisi Simponi Puisi (bersama DS Mulyanto, 1954), Manifestasi (bersama Goenawan Mohamad dan Taufiq Ismail, 1963), kumpulan syair Dari Sunyi ke Bunyi (1991).Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (Tagore, 1976), Kubur Terhortmat bagi Pelaut (antologi puisi J. Slauerhoff, 1977), Rahasia Hati (novel Natsume Suseki,1978); Puisi Arab Modern (1984).Hartoyo Andangjaya termasuk penanda tangan Manifes Kebudayaan.

Sejarah Sastra: Yang dilarang, “Manifes Kebudayaan”

Manifes Kebudayaan merupakan pernyataan sikap sejumlah seniman dan budayawan Indonesia tentang misi dan visi mereka dalam kreativitas berkesenian. Maklumat ini dimuat  pertama kali dalam lembaran budaya Berita Republik, 19 September/Oktober 1963 yang selengkapnya berbunyi:

Manifes Kebudayaan

Karni para seniman dan cendekiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah Manifes K.ebudayaan, yang menyatakan pendirian, cita-cita dan politik Kebudayaan Nasional kami.

Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan yang lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sendiri dengan kodratnya.

Dalam melaksanakan Kebudayaan Nasional kami berusaha menciptakan dengan kesungguhan yang sejujur–jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah masyarakat bangsa-bangsa.

PANCASILA adalah falsafah kebudayaan kami.

Jakarta, I Agustus 1963

Para penandatangan Manifes Kebudayaan adalah Wiratmo Soekito, H. B. Jassin,

Trisno Sumardjo, Arief Budiman, Goenawan Mohammad, Bokor Hutasuhut,

Bur Rasuanto, Zaini, Ras Siregar, D.S. Moeljanto,. Djufri Tanissan, A. Bastari

Asnin,  Sahwil, Taufiq Ismail, M. Saribi Afn., Purnawan Tjondronagoro, Hartojo Andangdjaja, Binsar Sitompul, dan Boen S Oemarjati Lanjutkan membaca

HEBOH SASTRA (1968): Ki Panji yang Dianggap Menghina Tuhan

HEBOH SASTRA (1968) merupakan peristiwa dalam sastra Indonesia yang merupakan reaksi atas cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin (pseudonim), dimuat di majalah Sastra, Agustus 1968.

Cerpen tersebut dianggap menghina Tuhan dan agama Islam.  Akibatnya, Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara di Medan menyita majalah Sastra pada tanggal 12 Oktober 1968. Kantor majalah Sastra di Jakarta didemonstrasi oleh sekelompok orang. Atas penyitaan majalah Sastra itu muncul reaksi para pengarang Medan yang merasa tidak mengerti tindakan  Kejaksaan Tinggi. Dalam penerbitan stensilan “Responsi” para pengarang Medan mengkritik Lanjutkan membaca

Sastra: Yang Muda, Yang “ANGKATAN 2000”

      Pada masa ini, banyak sekali muncul pengarang wanita. Mereka umumnya menulis dengan ungkapan perasaan dan pikiran yang tajam dan bebas. Ada di antara mereka yang sangat berani menampilkan nuansa-nuansa erotik, hal-hal yang sensual bahkan seksual, yang justru lebih berani dibandingkan para sastrawan seumumnya. Yah, hampir-hampir seseram Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag., meskipun  tentu saja lebih banyak yang tidak demikian. Ungkapan-ungkapan erotik vulgaristik nampak dalam cerpen ”Saya Menyusu Ayah” di antologi Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) karya Jenar Mahesa Ayu dan episode-episode tertentu dalam novel ”Saman” karya Ayu Utami.

   Nama ini diberikan Korrie Layun Rampan pada sejumlah pengarang dan penyair yang Lanjutkan membaca

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.281 pengikut lainnya