Warna Puisi 70-an


Memandang panorama puisi Indonesia dekade 70 sampai 80-an yang menyemaraki dunia sastra Indonesia, patutlah kiranya kita merasa bergembira, bangga, karena dibandingkan dengan dunia perpuisian Periode ‘66 surut ke belakang, kita melihat adanya sejumlah perkembangan yang cukup pesat, baik diteropong utamanya dari segi kuantitas maupun kualitas. Mengamati karya-karya sastra berbentuk puisi yang diciptakan para penyair kita pada dekade 70-80-an, kita akan menemukan serangkaian bentuk kreativitas perpuisian yang mencerminkan usaha maksimal penyairnya dalam mengedepankan kemungkinan-kemungkinan baru,  makna-makna baru, cakrawala estetis baru.

Hal di atas bisa kita saksikan pada struktur lahir dan struktur batin serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam karya-karya yang dimaksud. Dalam banyak hal, apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh para penyair Indonesia pada periode tersebut sudah sesuai dengan kemajuan zaman.

Kalau dalam penulisan prosa kita menemukan kenyataan berimbangnya jumlah cerpen dan novel yang berbobot literer dan pop, maka dalam puisi, jumlah karya yang  berbobot sastra jauh lebih banyak daripada yang sebatas pop. Bahkan, puisi-puisi yang dimuat di majalah remaja seperti Nova ( sebelum berubah menjadi tabloid ), Gadis, Estafet, Idola, Indonesiaku, banyak pula yang bernilai literer. Sementara itu, puisi-puisi yang dimuat di surat kabar harian Berita Buana, Pelita, Suara Pembaruan, Suara Karya (Minggu), Kedaulatan Rakyat (Minggu), Pikiran Rakyat, Wawasan (Minggu), Suara Merdeka (Cempaka Minggu Ini), Surabaya Pos (Minggu) tabloid Mutiara, Salam, serta majalah Panji Masyarakat dan Amanah, kebanyakan berbobot sastra. Sementara itu, majalah Budaya Jaya (almarhum), Basis, Horison, serta majalah-majalah kampus terbitan Jurusan/Program Bahasa dan Sastra Indonesia, secara kontinu juga memproduksi puisi. Kualitas yang cukup tinggi juga kita temukan pada karya-karya puisi yang diterbitkan oleh PT Pustaka Jaya dan PN Balai Pustaka dalam bentuk buku.

Dunia penulisan puisi periode 70-80-an ini terus melaju karena setiap minggu, koran-koran tersebut di atas, secara teratur memuat puisi dalam jumlah lumayan. Tidak jarang, dalam setiap pemunculannya, kita bisa membaca sekitar 3 sampai 6 judul puisi, baik ditulis oleh seorang penyair maupun lebih. Horison menyediakan dua halaman penuh untuk puisi sedangkan Nona, Estafet, Basis, menyediakan satu halaman.

Buku antologi yang berisi ratusan puisi karya berpuluh penyair bisa juga kita jumpai pada tahun-tahun tersebut. Dari tangan mendiang Linus Suryadi Ag., penyair Yogya yang sangat produktif, terbit antologi puisi berjudul Tugu dan Tonggak I, II, III, IV. Sebelum kelima buku tersebut, sempat pula kita menemukan Laut Biru Langit Biru susunan penyair Ayip Rosidi, yang di samping memuat ratusan puisi karya berpuluh penyair, juga mengedepankan cerpen, fragmen novel, nukilan buku ilmu sastra.

Masa subur kepenyairan periode 70 sampai 80-an, ditandai dengan munculnya ratusan penyair baru yang mencipta lebih dari sepuluh ribu judul puisi. Pada ketika itu, nama-nama lama pun tidak lalu tinggal tenggelam. Regenerasi, rasanya kurang tepat untuk dunia kreativitas semacam sastra ini, sebab setiap penyair dapat menciptakan lahan dan sawah-ladang tempat mereka bercocok tanam. Yang muda dipersilakan menaiki panggung penciptaan, yang tua tidak perlu pensiun (artinya tidak berkarya). Kreativitas mereka yang mengalir itu pada gilirannya justru mendorong terbukanya lapangan-lapangan baru, dan perluasan rubrik.

Kesan sang pengarang dan penyair sebagai jago melamun, sebagai sekelompok orang bodoh dan pemalas yang tidak punya kegiatan selain merenda imajinasi di langit tinggi terhapus sudah. Pada kenyataannya para pengarang justru menunjukkan kepada dunia, bahwa mereka memiliki potensi dan wawasan intelektual cukup tinggi dan luas, di samping citarasa artistik tinggi. Itu bisa kita lihat dari latar pendidikan formal mereka. Para penyair Indonesia periode 70 hingga 80-an ini banyak yang bergelar sarjana. Paling tidak, mereka itu pernah mengikuti perkuliahan resmi di suatu perguruan tinggi.

Para penyair Indonesia dekade 70 hingga 80-an yang boleh juga disebut sebagai cendekiawan adalah: Dr. Toety Herati, Dr. Ariel Heryanto, Dr. Kuntowijoyo, Darmanto Jatman, S.U., Dr. Andre Hardjana, T. Mulya Lubis, M.L., Dr. Hendrawan Nadesul, dr. Faisal Baraas, Ir. Nirwan Dewanto, Ir. Darwis Khudori, Dra. Rayani Sriwidodo, Dr. Dami M. Toda, Dr. Rahmat Joko Pradopo ( sekarang Prof. ), Drs. Joko Pinurbo, Drs. Ahmadun Yossi Herfanda, Drs. Suminto A. Sayuti ( sekarang Prof.Dr. ), Dra. Dorothea Rosa Herliani, Drs. Kriapur ( mendiang ), Dr. Andrik Purwarsito, Drs. Wahyu Wibowo, Sutarji C.B., Abdul Hadi W.M.( sekarang Dr. ), Afrizal Malna, Emha Ainun Najib, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi Ag., Leon Agusta, Yudhistira Ardi Nugraha, Noorca Marendra, Agnes Arswendo, Soni Farid Maulana, Agus Darmawan T.,  Acep Zamzam Noer, K.H. A. Mustafa Bisri, Hajjah Tutty Alawiyah A.S., Adri Darmaji Woko, Hamdy Salad, Hamid Jabbar, dan seterusnya.

Nama-nama lama yang ikut menyemarakkan masa kepenyairan ini antara lain: Dr. Sapardi Joko Damono, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Slamet Sukirnanto, Taufiq Ismail, Wilson Nadeak, Dinullah Rayes, Motinggo Boesye, Piek Ardianto Supriadi, Muchtar Prabottinggi, dan Ikranegara. Semuanya adalah cendekiawan.

Selain mereka, masih terdapat lebih seratus orang penyair yang berkiprah pada periode ini dengan kualitas karya tidak mengecewakan dan bobot intelektual memadai. Mereka itu antara lain: Ahmad Nurullah, D. Zawawi Imron, Ajamuddin Tifani, Husni Jamaluddin, Ibrahim Sattah, Abrar Yusra, Isbedy Setiawan Z.S., Mathori A. Elwa, Ahmad Syubbanuddin Alwi, Ragil Suwarna Pragolapati, Syubah Asa, Diah Hadaning, Puji Santosa, Herman K.S., Beni Setia, B.Y. Tand, Imam Budi Santosa, Arya Mustafa Sappan Mukti, Anis Saleh Baashin, Sugandhi Putra, Sutan Iwan Sukri Munif, Micky Hidayat, Untung Surendra, Lazuardi Adi Sage, Nanang R. Suprihatin, Hijaz Zamani, I Made Suantha, Nyoman Wirata, Juhardi Basri, Fauzi Robbani, Ramland Rafael, Zainuddin Tamir Kotto, Slamet Raharjo Rais, Heru Emka, Sukoso D.M., F. Rahardi, Ida Raka Kusuma, Ida Bagus Gde Parwata, Oei Sien Tjwan, B. Priono, Pesu Aftaruddin, Sefrial Arifin, Syarifuddin A. Ch., Irawan Sandya Wiraatmaja, Ahmad Fachrawi, John Damimukese, Ismet Natsir, Umbu Landu Paranggi, Frans Najira, Bambang Sarwono, Upita Agustin, Faisal Ismail, Karno Kartadibrata, Nyoman Tusdi Eddy, Ngurah Parsua, Fauzi Absal, Hendro Siwanggono, Darman Munir, M. Nasrudin Anshari G.N., Idrus Tintin, H.S. Jurtatap, Swaraswati Sunindyo, Damiri Mahmud, Zaenal Muttaqin, Rita Utoro, Gunoto Sapari, Waluyo Budi, Wahyu Prasetyo, Ang Tekn Khun, Ook Nugroho, Hendry Ch. Banggun, Abduln Wachid B.S. dan seterusnya.

Dengan lebih dari 100 buku kumpulan puisi pada dekade 70 hingga 80-an ini dan yang tersebar di media massa lebih 10.000 judul, rata-rata seorang penyair yang produktif menulis ratusan puisi dan menerbitkan lebih sebuah kumpulan puisi. D. Zawawi Imron misalnya, penyair Asal Madura yang kini tetap tinggal di tanah kelahirannya, telah menulis sekitar 4.000 judul puisi, yang sebagian kecil dari jumlah itu dibukukan dalam Madura, Akulah Lautmu, Bulan Tertusuk Lalang, Nenek Moyangku Air  Mata, Clurit Emas. Dorothea, Acep Zamzam Noor dan Soni Farid Maulana yang lahir di atas tahun 1969, telah pula menulis lebih dari 500 puisi. Mereka pun telah menulis beberapa kumpulan sanjak, baik secara tunggal maupun bersama penyair lain.

             Daerah asal dan latar kesukuan mereka kebanyakan adalah Jawa, tanpa menutupi kenyataan bahwa beberapa nama tenar tersebut di atas justru berasal dari luar Pulau Jawa. Mereka yang berasal dari luar Jawa antara lain, adalah:

 Riau:

Sutarji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah,Dasri Al Mubarri.

 Sumatra:

Leon Agusta, A.Hamid Jabbar, T. Mulya Lubis, Motinggo Boesye, Herman K.S., Zainuddin Tamir Kotto, Damiri Mahmud.

 Madura:

Abdul Hadi W.M., Ahmad Nurullah, Arya Mustapa Sappan Mukti, D. Zawawi Imron.

 Bali:

Ikranegara, I Made Suantha, IDK Raka Kusuma, Nyoman Thusti Eddy, Nyoman Wirata, Ida Bagus Gde Parwita, Ngurah Parsua.

 Kalimantan:

Korrie Layun Rampan, Ahmad Fahrawi, Ajamuddin Tifani, Tarman Efendi Marsyad, Micky Hidayat, Hijaz Zamani.

Nusa Tenggara   :

Dinullah Rayes, Umbu Landu Paranggi.

Sulawesi:

Husni Jamaluddin, Pesu Aftaruddin, Aspar, Jamaluddin Latif, Rahman Arge.

Ambon:

Dami N. Toda, John Mamimukese.

Ribuan sanjak yang ditulis oleh lebih seratus penyair dalam periode ini memiliki struktur lahir dan struktur batin yang cukup beraneka. Nilai didik yang bisa kita petik dari puisi-puisi itu pun bermacam-macam pula. Di samping menghadirkan bentuk dan isi konvensional, periode kepenyairan dekade 70 hingga 80-an tanpa ragu-ragu memunculkan berbagai inovasi dan bentuk kreativitas yang indah, menarik, dan otentik.

Telah terjadi perkembangan yang sangat berarti kalau misalnya kita membandingkan dan menderetkan puisi-puisi dekade 70 hingga 80-an ini dengan puisi-puisi sebelumnya. Di sini kita melihat kompleksitas persoalan, kehidupan yang lebih multidimensional, hadirnya wawasan estetik dan nilai-nilai baru, serta berbagai kemungkinan kreativitas yang benar-benar dihayati dan diterjemahkan oleh para penyair.

Kalau dari khazanah tempo dulu kita mengenal nama-nama penyair andal seperti Muhammad Yamin, Sanusi Pane, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Generasi Kisah memunculkan Toto Sudarto Bachtiar, Ayip Rosidi, Kirjomulyo, serta Rendra yang sampai kini masih kaya dengan kreativitas yang mendedah-dedah, sedangkan Generasi Manifes Kebudayaan dan Angkatan ’66 mencuatkan nama-nama tenar: Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Sapardi Joko Damono, Bur Rasuanto, Hartoyo Andangjaya, Sandi Tyas, Slamet Sukirnanto, maka pada dekade 70 – 80-an ini, nama-nama yang dinilai memiliki pesona kuat adalah Sutarji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Leon Agusta. Dari kalangan yang lebih muda, penyair yang punya posisi penting pada era ini adalah Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Ag., D. Zamawi Imron, Afrizal Malna, Korrie Layun Rampan, Kriapur, Heru Emka, Nirwan Dewanto. Para penyair yang lebih muda itu belajar dari para pendahulu mereka, namun gaya pengucapan mereka bisa hadir secara khas.

Sumber: Ikhtisar Sejarah sastra

One response to this post.

  1. Posted by Dinar Tyas on 3 Juni 2015 at 20:14

    Hi, Nama saya Dinar Tyas, Putri kedua Dari alm. Sandy Tyas. Thank you for mentioning my dad as part of “angkatan 66”!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: