Posts Tagged ‘Tata Bahasa’

PERBEDAAN BAHASA INDONESIA DAN BAHASA MALAYSIA

PERBEDAAN BAHASA INDONESIA DAN BAHASA MALAYSIA

*) Penting untuk dicatat: tulisan ini dikutip dari ensiklopedia bebas wikipediaIndonesia. Apabila akan menjadikannya sebagai referensi, harap merujuk sumber asli sebagaimana ditulis di bagian akhir tulisan ini.

Bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia adalah dua bentuk baku dalam bahasa Melayu modern (pasca-Perang Dunia II). Selain keduanya, terdapat pula bentuk baku lain yang dipakai di Brunei, namun karena penuturnya sedikit bentuk ini menjadi kurang signifikan. Artikel ini mencoba menunjukkan perbedaan di antara kedua bentuk baku utama meskipun usaha-usaha penyatuan ejaan dan peristilahan selalu dilakukan di bawah koordinasi MABBIM.

Sebenarnya tidak banyak perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Berbagai varian bahasa Melayu digunakan di berbagai wilayah Indonesia dan semua mengakui bahwa bahasa yang digunakan di Provinsi Riau dan sekitarnya adalah bahasa Melayu Standar (atau bahasa Melayu Tinggi, bahasa Melayu Piawai). Perbedaan latar belakang sejarah, politik, dan perlakuan yang berbeda menyebabkan munculnya perbedaan tata bahasa, peristilahan dan kosakata, pengucapan, serta tekanan kata pada dua bentuk standar modern yang sekarang dipakai.

Perbedaan itu secara garis besar dapat dipaparkan sebagai berikut: Baca lebih lanjut

Iklan

NASIBMU BAHASAKU…

Tulisan ini hanya sebagian dari rasa lucuku pada bahasa yang telah mempersatukan bangsa ini. Bukan karena tidak bangga, atau pula merasa bosan untuk menggunakan bahasa tercinta ini. Namun, semata-mata rasa lucu itu muncul serta-merta ketika saya membaca kata demi kata yang tertulis pada lembar jawaban siswa-siswa saya.

Entah karena terburu waktu atau mungkin efisiensi tinta pulpen yang mereka pakai, karena hampir semua kompak menulis kata “Yang” dengan “yg”, atau kata “Dengan” disingkat saja “dg”, bahkan parah lagi “Karena” menjadi “krn” atau pula “Sudah” berubah menjadi “sdh”. Duh,…batin tertawa namun campur ngilu, lucu tapi bingung maksud jawabannya apa karena jadinya multi-persepsi.

Jika sudah demikian siapa yang patut disalahkan? ah, itu mah tanggung jawab guru bahasa-nya donk!, ada yang berkata seperti itu. Padahal, saya kira ini merupakan tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia, yang tentu saja harus merasa memiliki bahasa kebanggaan kita ini. Apa terus guru matematika tak peduli dengan anak yang kebelinger menggunakan kata-kata (tepatnya huruf-huruf) konyol seperti itu pada lembar jawaban ulangannya, ataupula apakah seorang guru IPA tak merasa bingung untuk menterjemahkan jawaban anak yang menggunakan bahasa tingkat tinggi?, tak perlu dijawab, tapi harus dipikirkan.

Lalu kenapa anak-anak sekarang lebih suka menyingkat kata-kata? seperti biasanya, semua karena kebiasaan. Bukankah bahasa seperti itu muncul setelah merebaknya SMS, Facebook, IRC, IM, dan sebangsanya? Tapi, apakah faktor kebiasaan harus terus mendarah daging?.

Jika hal di atas tetap dibiarkan, bukan tidak mungkin akan merusak tatanan bahasa kita. Degradasi bahasa (meminjam istilah degradasi moral) akan menjadikan bahasa ini mati di negerinya sendiri. Kita malu dengan orang australia yang dengan gigihnya mempelajari bahasa indonesia, kita tentunya harus miris bahasa indonesia justru pasih didendangkan oleh orang belanda. Kiranya cukup bila bahasa indonesia yang baik hanya ditulis oleh para penerbit buku. Sudah saatnya mengembalikan atau mungkin mengenalkan kembali BAHASA INDONESIA pada anak-anak kita, agar bahasa ini tetap menjadi bahasa yang menjadi kebanggaan kita bersama.

TATA BAHASA: PENGGUNAAN TANDA BACA

Penggunaan tanda baca pada tulisan sepertinya hal yang sepele. Namun, sebenarnya penggunaan tanda baca yang kurang tepat akan menyebabkan suatu tulisan mengalami distorsi dalam makna. Singkatnya penggunaan tanda baca yang baik dan benar merupakan hal yang mutlak. Berikut ini adalah pedoman  penggunaan tanda baca sesuai  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan edisi kedua berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.

Pemakaian Tanda Baca

A. Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:

  • Ayahku tinggal di Solo.
  • Biarlah mereka duduk di sana.
  • Dia menanyakan siapa yang akan datang.
  • Hari ini tanggal 6 April 1973.
  • Marilah kita mengheningkan cipta.
  • Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.
2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Baca lebih lanjut

TATA BAHASA: IMBUHAN MeN-

Sistematika pengajaran imbuhan meN

Sistematika pengajaran imbuhan meN(kan/i) harus dimulai dengan penguasaan proses morfofonemik imbuhan ini. Hal ini meliputi pengajaran proses nasalisasi yang berkaitan dengan bunyi pertama pada kata dasar (KD) yang mendapatkan imbuhan ini. Proses nasalisasi ini dapat dirangkum sebagai berikut. Baca lebih lanjut

Teknik Membaca Puisi

Ada banyak puisi pilihan  yang dikedepankan dari para siswa diharapkan bisa memanfaatkannya. Secara optimal  untuk aktivitas membaca estetis, sama dengan membaca apresiatif. Membaca estetis ini sangat mengolah unsur keindahan/estetika, dimanfaatkan untuk pembinaanapresiasi sastra, sama-sama memasuki ranahpsikomotorik, serta menggunakan objek kajian seluruh bentuk dan jenis karya sastra. . Bukan karya sastra  namun ditulis dalam bahasa yang indah dan menyentuh dengan isi yang elok-elok  seperti kitab suci, dan karya-karya filsafat, karya-karya renungan dan karya-karya psikologi, pendidikan, humaniora,bisa digunaka untuk aktivitas membaca , estetis dan  apresiatif.Bedanya membaca apresiatif dilaksanakan di dalam hati, sedangkan membaca estetis dilafalkan/disuarakan,biasanya dihadapan audiens.

Karena dihadapan audiens,membaca estetis hendaknya sangat memperhatikan faktor orang-orang yang mendangarkan pembacaan itu. Pembaca estetis karya sastra( puisi,cerpen, fragmen novel,teks drama, liris prosa )harus mengusahakan agar pembacaannya diterima bagi penyimak,cukup komunikatif. Ia bisa membacakan teks sastra secara hidup dan mempesona. Para penyimak ikut merasakan dan menikmati keindahan karya sastra yang disampaikan serta memahami kedalaman maknanya. Jadi, mereka bisa memperoleh sesuatu dari karya sastra berupa nilai-nilai etis dan estetis,pengalaman batin/khasanah spiritual,untaian  cerita yang elok-elok, hampir sama dengan yang didapatkan oleh pembaca atau dengan yang diperoleh apabila mereka membaca sendiri  karya sastra yang mereka simak itu.

Untuk itu, sang pembaca estetis harus memperhatikan faktor-faktor berikut:

  1. Penghayatan, penjiwaan, pemahaman,  atas teks yang dibacanya.
  2. Pemvokalan yang jelas dan fasih, lancar, tidak salah baca, tidak tersendat-sendat.
  3. Lagu pengucapan kalimat/ baris-baris puisi atau intonasi dan penjedaan yang tepat. Intonasi meliputi kuat lemahnya tekanan, tinggi rendahnya nada, cepat lambatnya tempo. Penjedaan adalah pemenggalan dan pengelompokan kata berdasarkan aspek pemaknaan.
  4. Karena acap dalam pentas, maka membaca estetis juga memperhatiakn aspek penampilan yang etis namun menarik, tenang penuh konsentrasi, sangat mendukung isi materi puisi yang dibacakan.

PARAGRAF ARGUMENTASI INDUKTIF-DEDUKTIF

Paragraf argumentasi induktif deduktif

Berbeda dengan jenis-jenis paragraf/wacana yang lain, argumentasi memfokuskan pada penyampaian alasan-alasan rasional yang meyakinkan atas opini yang dikedepankan. Dengan argumentasi tersebut diharapkan pembaca membenarkan pendapat tersebut, bisa menerima gagasan yang disampaikan sebagai sesuatu yang masuk akal.

Perbedaan antara paragraf induktif dengan paragraf deduktif lebih terletak pada posisi kalimat inti atau kalimat utama atau ide-ide pokoknya sebagai kristal pembicaraan. Paragraf induktif dimulai dari kalimat-kalimat uraian yang lalu mengerucut menjadi inti senagai kesimpulan. Dalam paragraf deduktif dihadirkan terlebih dulu pernyataan umum yang maknanya luas yang dirumuskan dalam kalimat utama/kalimat inti. Kalimat-kalimat yang hadir selanjutnya merupakan penjelasan atas kalimat inti tersebut

Itulah ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif. Berangkat dari pemahaman ciri-ciri tersebut, hendaknya bisa disusun kerangka paragraf yang akan ditulis.

Membaca Cepat Naskah Non-Sastra

Membaca Cepat Teks Nonsastra dengan Memperhatikan Tekniknya.

Membaca cepat sering digunakan untuk memahami dalam waktu singkat dan tepat teks-teks nonsastra, utamanya berita dan repeortase (laporan utama) di media massa. Dengan sistem memindai/scanning, membaca cepat dilaksanakan hanya dengan cara memfokuskan pada kata-kata kunci, dan istilah-istilah khusus. Kata-kata biasa dilewati begitu saja.

Supaya berlangsung cepat, membaca jenis ini hampir-hampir tidak berlangsung horizontal, tetapi vertical bahkan zigzag, tidak mendatar, tapi berkelok menurun. Ini perlu proses dan latihan yang terus-menerus, melaksanaknnya cepat namun penuh konsentrasi agar pemahamannya juga tepat. Lama kelamaan 250 kata permenit bukan termasuk membaca cepat lagi.

Meski berlangsung cepat dan dengan pemahaman yang tepat, sehingga usai melaksanakan aktivitas tersebut, diharapkan siswa bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diambil dari dalam tentang isi bacaan. Bukan hanay itu, mereka pun mampu pula membuat ringkasan isi teks secara spontan dalam beberapa kalimat yang runtut.