Posts Tagged ‘Sastra’

Atheis: Sebuah Avant Garde dekade 50-an

            Akan hal roman Atheis karya Achdiat Kartamihardja yang terbit dan langsung meroket pada dekade 50-an, kita pun sungguh bisa menemukan ke-avantgarde-annya, sesuatu yang tidak kita jumpai baik pada Salah Asuhan maupun Belenggu. Tema dan ide cerita yang dikedepankan pengarang tidak tanggung-tanggung: ideologi komunisme beserta seabrek segi kenegatifannya. Komunisme dalam roman Atheis bukan sebagai latar belakang cerita, melainkan benar-benar sebagai materi pokok yang dibahas secara mendalam, demikian mendalamnya pengarapan ideologi yang punya gaung internasional itu, sehingga rasanya, Atheis bisa dijadikan sebagai salah satu referen manakala kita ingin mengadakan studi tentang komunisme.

            Untuk bisa menulis roman seberbobot Atheis, pengarang tidak mungkin hanya Baca lebih lanjut

Iklan

O. Seno Gamira Ajidarma : Manusia Kamar

Nama yang layak di catat sebagai pengarang avanta garde setelah periode danarto adalah Seno Gumira Ajidarma, disamping Hamsad Rangkuti, Hamid Jabbar, dan lain-lain. Manusia Kamar, cerpen Seno yang juga digunakan sebagai judul buku kumpulan cerpen, memperlihatkan tragedi manusia modern yang selalu merasa terteror oleh keadaan sekeliling yang dianggap penuh penipuan, kemunafikan, kriminalitas dan kemaksiatan. Jadilah sang pelaku utama sebagai manusia yang terbelenggu oleh dirinya sendiri, karena ia selalu berikhtiar sesedikit dan sesebentar mungkin berkomunikasi dengan orang lain. Ia tenggelamkan dirinya di kamar untuk waktu tidak terbatas.

Namun, tinggal di kamar di sebuah rumah yang hanya berpintu satu, sang tokoh ternyata sempat mencatat prestasi cemerlang dan meraih keterkenalan dalam bidang penulisan dan karang-mengarang, sesuatu yang rasanya nyaris nonsens. Disamping itu ia pun tidak pernah ketinggalan zaman. Ia bisa hidup mewah dengan peralatan rumah tangga serba modern serta tak pernah mengalami kesulitan dalam hal-hal keseharian. Ia selalu aktif menyerap lalu-lint Baca lebih lanjut

“SALAH ASUHAN” Barat vs Timur Ala Abdul Muis

“SALAH ASUHAN”  BARAT VS TIMUR ALA ABDUL MUIS

Sangat berbeda dengan roman-roman Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya dan semacamnya, karya Asbdul Muis yang cemerlang ini tidak lagi mengacu ke ciri-ciri kemelayuan. Tema yang digarap Abdul Muis sudah menjurus ke persoalan sosial-politik dengan sudut pandang seorang nasionalis.
Tampil dengan sikap politik dan budaya yang jelas memihak bangsanya, Abdul Muis menyulut api konflik dan benturan kultural antara barat yang liberal dan longgar moral dengan timur yang masih setia menjaga adat, akhlak dan iman. Barat diwakili oleh masyarakat Belanda, kehidupan keluarga Corrie, gaya hidup dan tingkah polah Hanafi yang lebih barat daripada orang barat sendiri. Sedangkan timur diwakili oleh ibu Hanafi, Rapiah istrinya, ninik-mamak Hanafi dan orang-orang kampung yang memegang teguh adat yang bersendi syarak dan kitabullah. Di satu sisi, Abdul Muis mencuatkan citra, bahwa kehidupan ibu Hanafi dan Rapiah begitu sederhana, kuna, kolot, ketinggalan zaman, namun di balik pencitraan yang demikian, ada nada sinis terhadap liberalitas dan gaya hidup hedonistik yang

Baca lebih lanjut

Sastra: Benarkah “Siti Nurbaya” Tidak Nasionalis?

Kalau kita membaca roman Siti Nurbaya, kita justru menemukan sesuatu yang agak janggal jika dipersepsi dengan nasionalisme Indonesia. Nilai didik apa sajakah yang kita temukan dengan penokohan Syamsul Bachri? Begitu putih cinta-kasihnya pada Siti Nurbaya, namun ketika ia menghadapi kenyataan yang sangat getir, yakni karena tak berdaya, dengan sungguh terpaksa kekasihnya menikah dengan Datuk Maringgih, Syamsul Bachri justru “mencari mati” dengan bertindak menjadi Letnan Mas, anggota tentara kerajaan Belanda yang gigih memerangi kaum pemberontak bangsanya sendiri. Demi dendam-kesumat Syamsul Bachri, pengarang, yakni Marah Rusli, merekayasa suatu skenario duel-meet antara Baca lebih lanjut

Sastra: Ciri-ciri sastra tiap angkatan (dari Balai Pustaka hingga 2000-an)

Ciri-ciri Angkatan Balai Pustaka
Berbicara tentang pertentangan adat dan kawin paksa, dominasi orang tua dalam perkawinan. Gaya penceritaan terpengaruh oleh sastra Melayu yang mendayu-dayu, masih menggunakan bahasa klise seperti peribahasa dan pepatah-petitih. Karya-karya yang diterbitkan Balai Pustaka diharuskan memenuhi Nota Rinkes yang berbunyi: didaktis, serta netral agama dan politik.

Ciri-ciri Angkatan Pujangga Baru
Menampilkan nasionalisme Indonesia,. memasuki kehidupan modern, menampakkan kebangkitan kaum muda. Banyak terpengaruh oleh Angkatan 1880 di Negeri Belanda, sehingga puisi-puisinya banyak yang berbentuk soneta. Pada masa ini terjadi polemik yang seru antartokoh-tokohnya. Sutan Takdir Alisyahbana berorientasi Baca lebih lanjut

Puisi: Surat Terakhir Sang Dewa

SURAT  TERAKHIR SANG DEWA

Oleh: Danriris KS

 

Waktu telah menunjukkan jam delapan

Kala ku berbisik di telingamu

“aku akan pergi…, menembus gelap yang melambai-lambai!”

Lirih….

 

Kau hanya tersenyum getir

Mirip yang kulihat ketika ku bercerita

Tentang mimpi membangun bahtera mewah

Di tengah hidup kita yang terengah-engah

 

Aku melangkah melepas dekapan sore tadi

Berat tangan ini membuka

Tapi tubuh kian melayang

Dan senyum getirmu kian mengembang

Dihiasi buliran permata beruntai di sudut jendela

 

Tak banyak yang kuharap dewiku…

Hanya doa agar gelap malam tak memakan putihku

Menghilangkan bekal yang tak seberapa

Semoga angin malam tak membawa nyawaku dalam sesatnya alam semesta

Kuharap cahaya yang setitik itu menuntunku

Menghadap Dia yang telah memanggilku

 

 

Puisi Angkatan 20-an (Angkatan Balai Pustaka): Mengeluh

MENGELUH

 

Bukanlah beta berpijak bunga,

melalui hidup menuju makam.

Setiap saat disimbur sukar

bermandi darah dicucurkan dendam

 

Menangis mata melihat makhluk,

berharta bukan berhakpun bukan.

Inilah nasib negeri anda,

memerah madu menguruskan badan.

 

Ba’mana beta bersuka cita,

ratapun rakyat riuhan gaduh,

membobos masuk menyapu kalbuku.

 

Ba’mana boleh berkata beta,

suara sebat sedanan rusuh,

menghimpit masah, gubahan cintaku.

 

II

 

Bilakah bumi bertabur bunga,

disebarkan tangan yang tiada terikat,

dipetik jari, yang lemah lembut,

ditanai sayap kemerdekaan rakyat?

 

Bilakah lawang bersinar Bebas,

ditinggalkan dera yang tiada berkata?

Bilakah susah yang beta benam,

dihembus angin kemerdekaan kita?

 

Disanalah baru bermohon beta,

supaya badanku berkubur bunga,

bunga bingkisan, suara syairku.

 

Disitulah baru bersuka beta,

pabila badanku bercerai nyawa,

sebab menjemput Manikam bangsaku.

 

Dari: Percikan Permenungan

Oleh: Rustam Effendi (Angkatan Balai Pustaka)