Posts Tagged ‘Puisi’

Melepas Belenggu Khayalan

Melepas Belenggu Khayalan

Palur April 2020

 

Bukan tak suka angin menerpa rambut semilir

dulu, nikmat itu kurasakan pernah

hingga semuanya menjadi akhir

oleh hujaman tajamnya anak panah

 

lembut kurasa tangan berhembus

membelai wajah yang kini semakin keriput

semakin perih darah mengucur kala kau renggut

 

kelebat lalu masih terukir di ujung pelupuk

senyum ketir terukir bersama awan yang perlahan memudar

membawa hujan yang tak jadi

 

Oh, belenggu itu terus merenggut bebasku

meski sekuat tenaga ku singkirkan rantai benci itu

apakah aku harus berdamai dengan rasa suka

atau bermusuhan dengan cinta lalu

yang terus membawa khayalku

hingga menuju gelapnya malam

 

Chairil Anwar: Derai-Derai Cemara

chairil anwar

DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari jadi akan malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah lama bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah jauh dari cinta-sekolah-rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhimya kita menyerah.

1949

Chairil Anwar

sumber: Kakilangit  6/April/1997  hal 4

Puisi: Perahu Kertas

PERAHU KERTAS

Sapardi Djoko Damono

 

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan

kaulayarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang,

dan perahumu bergoyang menuju lautan.

 

“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang

lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan ber-

bagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau

pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang

tak pernah lepas dari rindumu itu.

 

Akhirnya kaudengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir

besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Puisi: Sajak Orang Kepanasan (Rendra)

SAJAK ORANG KEPANASAN

 

Karena kami makan akar

Dan terigu menumpuk di gudangmu

Karena kami hidup berhimpitan

Dan ruangmu berlebihan

Maka kami bukan sekutu

 

Karena kami kucel

Dan kamu gemerlapan

Karena kami sumpek

Dan kamu mengunci pintu

Maka kami mencurigaimu

 

Karena kami terlantar

Dan kamu miliki segala keteduhan

Karena kami kebanjiran

Dan kamu berpesta di kapal pesiar

Maka  kami tidak menyukaimu

 

Karena kami dibungkam

Dan kamu nerocos bicara

Karena kami diancam

Dan kamu memaksakan kekuasaan

Maka kami bilang TIDAK kepadamu

 

Karena kami tidak boleh memilih

Dan kamu bebas berencana

Karena kami cuma bersandal

Dan bebas memakai senapan

Karena kami harus sopan

Dan kamu punya penjara

Maka  TIDAK dan TIDAK kepadamu.

 

Karena kami arus kali

Dan kamu batu TANPAHATI

Maka air akan mengikis batu

Puisi: Rakyat

Hartoyo Andangjaya (dari Angkatan 66)

 

RAKYAT

Rakyat adalah kita

Jutaan tangan yang mengayun dalam kerja

Di bumi di tanag air tercinta

Jutaan tangan mengayun bersama

Membuka hutan ilalang menjadi lading-ladang berbunga

Mengepulkan asap dari cerobong-cerobong pabrik-pabrik kota

Menaikan layar menebar jala

Meraba lelam di tambang logam dan batu bara

Rakyat ialah  tangan yang bekerja

 

Rakyat ialah kita

Otak yang menapak sepanjang jemarang

Yang selalu berkata dua adalah dua

Yang bergerak di simpang-siur garis niaga

Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

 

Rakyat ialah kita

Beragam suara di langit tanah tercinta

Suara bangsi di rumah berjenjang bertangga

Suara kecapi di pegunungan jelita

Suara boning mengambang di pendapa

Suara kecak di muka pura

Suara tifa di hutan kebun pala

Rakyat ialah suara beraneka

 

Rakyat ialah kita

Puisi kaya makna di wajah semesta

Di darat

Hari yang berkeringat

Gunung batu berwarna coklat

Di laut

Angin yang menyapu kabut

Rakyat adalah puisi di wajah semesta

 

Rakyat ialah kita

Darah di tubuh bangsa

Debar sepanjang masa

Sumber: Buku Puisi halaman 31

 

Puisi: Surat Terakhir Sang Dewa

SURAT  TERAKHIR SANG DEWA

Oleh: Danriris KS

 

Waktu telah menunjukkan jam delapan

Kala ku berbisik di telingamu

“aku akan pergi…, menembus gelap yang melambai-lambai!”

Lirih….

 

Kau hanya tersenyum getir

Mirip yang kulihat ketika ku bercerita

Tentang mimpi membangun bahtera mewah

Di tengah hidup kita yang terengah-engah

 

Aku melangkah melepas dekapan sore tadi

Berat tangan ini membuka

Tapi tubuh kian melayang

Dan senyum getirmu kian mengembang

Dihiasi buliran permata beruntai di sudut jendela

 

Tak banyak yang kuharap dewiku…

Hanya doa agar gelap malam tak memakan putihku

Menghilangkan bekal yang tak seberapa

Semoga angin malam tak membawa nyawaku dalam sesatnya alam semesta

Kuharap cahaya yang setitik itu menuntunku

Menghadap Dia yang telah memanggilku