Posts Tagged ‘Puisi Narasi’

PUISI: PEMAHAMAN YANG KU MINTA

Pemahaman yang Ku Minta

Takkan terlepas dari padangan mata tentang sebuah perubahan, meski tak semua perubahan mampu terekam dengan jelas dalam tatapan para pecundang. Karena perubahan bukanlah sesuatu yang mudah dicerna dengan sanubari yang penuh dengan debu.

Bagaimana dapat merasakan perubahan sementara tak ada yang mampu lagi dirasakan oleh hati, bahkan mata pun tak terkoneksi lagi dengan kalbu. Sepertinya tak ada lagi syaraf-syaraf motorik yang peduli dengan perasaan sehingga berlalulah setiap emosi yang bergejolak dalam benak.

Jika memang perbedaan itu memaksa aku untuk mengatakan tak ada lagi yang perlu dibicarakan tentang perbedaan, maka biarlah aku berlalu dengan asaku yang mungkin takkan pernah lagi peduli dengan segala perubahan yang membayang dibelakangku.

Andai perbedaan itu memaksa aku untuk mengubah segala hal yang menyangkut kepentingan hatiku untuk mampu merasakan kejernihan dunia, sepertinya aku tak mampu untuk mempertahankan berbelok dari jalan ini. Walau memang keindahan itu ada dalam benakku ketika kau katakan keelokan dunia, akan tetapi mampukah kita menghilangkan keluhan yang seringkali diungkapkan karena merasa ada batas antara huruf-huruf percaya dan yakin.

Setiap aku meminta sebuah kepahaman, sepertinya tak ada yang tercerna dari saluran yang berada dalam vestibulamu. Karena ia hanyalah terinspirasi dari setiap kata-kata yang sesuai dengan asamu.

PUISI: AKU DI ANTARA HIMPITAN WAKTU

Setumpuk kain menghiasi rona kamarku yang semakin kusut karena telah tersentuh berbagai kotoran yang selama ini tak pernah aku bersihkan. Lupa atau lalai, mungkin tak mampu lagi aku bedakan. Seperti tak mampu lagi membedakan antara kenyataan dan mimpi.
Apakah aku terlalu banyak tidur sehingga aku senantiasa bermimpi yang menyebabkan aku lupa kapan aku terbangun ?, entahlah semua ternyata telah ada dalam ruangan kamarku yang telah penuh sesak dengan tumpukan kain usang. Bukan saja pakaian ku yang tak pernah aku cuci lagi, tapi ternyata kamar ini menyimpan beribu masalah yang aku ambil dari kamar sebelah.
Mimpi… lebih dekat dengan kehidupanku, bukan karena aku telah lelah untuk hidup di alam nyata, tapi ternyata bermimpi lebih membuatku tenang daripada berada di alam nyata yang telah banyak meracuni perjalanan cintaku.
Cinta…apa yang mampu aku maknai dari kata itu, rasanya belum saatnya aku mampu mengungkapkan tentang cinta dalam mimpiku, karena belum ada mimpiku yang berbicara tentang definisi cinta, yang ada dalam mimpiku adalah jalan pelampiasan segala kekecewaanku terhadap tubuhku sendiri yang telah banyak menyebabkan hatiku hancur.
Biarlah aku bermain dengan mimpiku yang semakin membuatku terlelap memasuki ruangan kusam kamarku. Walau ternyata aku menyadari kamar ini telah membuatku mati.
(ryks, 2008)