Posts Tagged ‘Kalimat invers’

Menggunakan kalimat dengan inverse, imbuhan ter-/-kan, ter-/-i, -man, -wan, -wati, -is, isme, kalimat majemuk bertingkat: sehingga, baik, …. Maupun, entah …. Entah, kata asing, kata pungut/serap, yang pada kalimat fokus(penegas).

Kalimat inverse adalah kalimat yang predikatnya diletakkan di depan subjek (kalimat susun balik) karena di sini, predikat tersebut lebih dipentingkan daripada subjek.

Misalnya:

Menangislah anak itu

Sunguh mempesona Sang Diva

Baik imbuhan ter–/-kan maupun ter-/-I, keduanya digunakan untuk membentuk kalimat pasif, yang fungsinya dekat dengan di-/-kan dan di–/-u. imbuhan ter-/-kan dan ter-/-I melukiskan suatu tindakan pasif yang artinya bisa di ……. Di depan imbuhan tersebut acap digunakan kata tidak, misalnya kata tidak terpahami, tidak terlukiskan, tidak tarsalurkan, tidak teratasi, tidak terwakili, tidak tersampaikan.

Sufiks –man, -wan, -wati, dihubungkan dengan kata benda (abstrak) yang hasil gabungannya yang menunjukkan suatu persona, orang yang punya keahlian dalam bidang, punya sifat suka, ber … contoh sastrawan, seniman, budiman, sejarahwan, budayawan, sukmawa, rohaniawan.

Ada perbedaan gender antara man dan wan serta wati. Man dan wan untuk pria sedangkan wati untuk wanita.

Sufiks –is punya fungsi dengan sufik di atas. Diletakkan pada kata-kata asing namun untuk pria dan wanita. Contoh: gitaris, violis, reformis, anarkis, humanis, spiritualis, novelis, dan lain-lain.

Morfem –isme berarti paham atau aliran. Contoh: nasionalisme, feodalisme, romantisme, realisme, patriotisme, daerahisme, feminisme, dan sebagainya.

Dalam kalimat majemuk bertingkat, kita jumpai penggunaannya sehingga yang menunjukkan akibat dari suatu tindakan atau peristiwa serta baik ….. maupun ….. juga entah …… entah …..

Kata-kata yang terletak dibelakang baik dan maupun serta, entah (yang di depan) dan yang di belakang punya kesamaan keadaan (kata sifat), peristiwa (kata kerja abstrak), peristiwa(kata kerja), sesuatu yang jenisnya sama.

Contoh:

Baik tersusun rapi maupun acaka-acakan koleksi buku-bukunya tetaplah banyak memiliki nilai kegunaan.

Entah membaca dan menulis, entah menyimak dan berbicara, keempatnya punya peran penting dalam pelajaran bahasa.

Dalam bahasa kita kenal kata asing dan kata pungut atau kata serap. Dalam bahasa Indonesia yang termasuk kata asing adalah seluruh kata yang berasal dari mancanegara, dari negara di luar Indonesia. Contoh kata sing: apresiasi, politik, sosial, hukum, transparan, net work, pasca sarjana, postmodernisme, syahbandar, khusyuk, inner beauty, sukses, uswatun khasanah, refrmasi, anarkis, novelis, proklamator, presenter, dan lain-lain. Kata-kata asing tersebut kita serap dalam bahasa Indonesia dan kemudian dituliskan sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia.

Seluruh kata asing yang kemudian masuk ke dalam bahasa Indonesia memang termasuk kata pungut atau jata serapan, namaun kata pungut tidak sebatas itu. selain kata asing, termasuk kata pungut adalah kata-kata asal bahasa daerah yang masuk dalam bahasa Indonesia, misalnya dari bahasa Jawa, Sunda, Betawi, Minang, Bugis, Madura, Dayak, dan lain-lain.

Contoh:

Lestari, manunggal, rampung, rimbunana, prihatin, waskita, ngelangut, dan lain-lain.

Iklan