Posts Tagged ‘Chairil Anwar’

Chairil Anwar: Derai-Derai Cemara

chairil anwar

DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari jadi akan malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah lama bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah jauh dari cinta-sekolah-rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhimya kita menyerah.

1949

Chairil Anwar

sumber: Kakilangit  6/April/1997  hal 4

Iklan

Puisi Ekspresionisme Impresionisme

Contoh ekspresionisme

 

Chairil Anwar

 

1943

 

Racun berada di reguk pertama

Membusuk rabu terasa di dada

Tenggelam darah dalam nanah

Jalan kaku lurus. Putus

Candu

Tumbang

Terbenam

Hilang

Lumpuh

Lahir

Tegak

Berderak

Rubuh

Runtuh

Mengguruh

Menentang. Menyerang

Kuning

Merah

Hitam

Kering

Tandas

Rata

Rata

Rata

Dunia

Kau

Aku terpaku

 

Contoh impresionisme :

 

Toto Sudarto Bachtiar

 

IBUKOTA SENJA

 

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari

Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi

Di singai kesayangan, kota kekasih

Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan

 

Gedung-gedung dan kepala mengabur  dalam senja

Mengurai dan layung-layung membara di langit barat daya, kata kekasih

Tekankan aku pada pusat hatimu

Di  tengah-tengah kesibukan dan penderitaanmu

 

Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia

Sumber-sumber yang murni terpendam

Senantiasa diselimuti bumi keabuan

Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas

Menunggu waktu mengangkut maut

 

Aku tidak tahu apa-apa, di luar yang sederhana

Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan

Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dini hari

Serta di keabadian mimpi-mimpi manusia

 

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran

Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari

Antara kuli-kuli yang kembali

Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan

 

Serta anak-anak berenang tertawa tak berdosa

Di bawah bayangan samar istana kejang

Layung-layung senja melambang hilang

Dalam hutan malam terjular tergesa

 

Sumber-sumber murni menetap terpendam

Senantiasa diselaputi bumi keabuan

Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas

O, kota kekasih setelah senja

Kota kediamanku, kota kerinduanku