Archive for the ‘Novel’ Category

Belenggu: Cara Armijn Pane Mendobrak “Pakem”

Belenggu_cover

Pengarang        : Armijn Pane (18 Agustus 1908 – 6 Februari 1970)

Penerbit           : Dian Rakyat

Tahun              : 1940; Cetakan Xlll, 1988

Ringkasan:

Dokter Sukartono (Tono) adalah seorang dokter yang bijaksana. Ia tak pernah meminta bayaran apabila pasiennya adalah orang tidak mampu, hingga ia dikenal sebagai dokter yang dermawan. Selain itu, ia mempunyai sifat ramah terhadap siapa saja yang dikenalnya. Namun, karena kesibukanmya sebagai dokter, Tono hampir tak mempunyai waktu untuk memberi perhatian kepada Tini (Sumartini), istrinya. Tini yang merasa tidak mendapat perhatian dari suaminya, mencari kesibukan di luar rumah. Akibat kesibukan mereka, Tono dan Tini jarang mempunyai waktu bersama-sama. Hal ini menimbulkan akibat lain, mereka tldak dapat mengkomunikasikan pikiran masing-masing. Masalah-masalah yang timbul sering hanya dipikirkan sendiri-sendiri sehingga timbul kesalahpahaman yang serlng menimbulkan pertengkaran yang mewarnai rumah tangga mereka.

Pandangan Tono dan Tini juga berbeda dalam hubungan suami-istri. Tono berpendapat, tugas seorang wanita adalah mengurus anak, suami, dan segala hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Sebaliknya, Tini menginginkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita. Bahkan, Baca lebih lanjut

Iklan

Ulasan Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”

tenggelamnya-kapal-van-der-wijck

Poster Promo Versi Film

 

Hari Jumat dan Sabtu tanggal 13-14 Februari 2015, salah satu stasiun TV swasta Indonesia menayangkan sebuah film yang mengambil cerita dari satu novel Hamka yang cukup terkenal “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Awalnya, saya tidak tertarik untuk menonton film ini sewaktu pertama kali ditayangkan di bioskop. Namun, ketika mengetahui film ini ditayangkan di TV (gratis tentunya), saya pun “terpaksa menonton meskipun tidak secara penuh.

Begitu mengikuti beberapa scene film ini, saya pun teringat dengan novelnya yang saya baca sekitar 12 tahun yang lalu semasa masih aktif kuliah. Hmmm, filmnya memang menarik, tapi rasanya lebih gereget novelnya (kalau gak percaya, sila baca saja sendiri). Ya, seperti biasanya ketika sebuah novel dibuat versi filmnya, tentu sisi entertain-komersilnya lebih dikedepankan meski tidak merusak alur tentunya). Seperti halnya film Soekarno yang (maaf) “menjijikkan” bagi saya. Bahkan, film ini pun mendapat protes keras dari salah satu putri Presiden RI pertama ini.

Kembali ke “Kapal Van Der Wijck”. Untuk yang penasaran atau ingin mengingat kembali seperti apa cerita “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, berikut ringkasan dari novel karya Hamka ini: Baca lebih lanjut