Archive for the ‘Cerita Pendek’ Category

Cerpen: TIGA SAHABAT HEBAT

TIGA SAHABAT HEBAT

Karya: Aprilia Diah Ayu Kusumaningrum*)

            Sang surya mulai menampakkan wajahnya. Perlahan merayap ke tepian langit. Kemilau cahaya menerangi langit, embun membasahi dedaunan, ayam jantan mulai bersahutan menyapa pagi ini. Seolah menyapa Atifa.

Atifa tinggal di Desa Maringgai, ayahnya bernama pak Joko bekerja sebagai petani, sementara ibunya, Bu Sri sehari-harinya berdagang sayuran di pasar. Seringkali Atifa membantu ibunya berjualan. Mereka adalah keluarga yang sederhana namun penuh kebahagiaan.

Atifa sudah ditunggu oleh teman-temannya, Sheril dan Arya. Mereka menamakan diri sebagai Tiga Serangkai.

“Atifa berangkat dulu. Assalamualaikum!” Atifa berpamitan

waalaikum salam, hati-hati di jalan!” jawab ibu Atifa.

***

            Tepat pukul 07.00, ketiganya pun bersegera masuk ke dalam kelas. Hari ini Baca lebih lanjut

Iklan

Catatan Hari Ini

Hups…..!, ada rasa lelah di dada setelah menempuh perjalanan hampir 30 km. Ya, kini aku telah duduk di ruang perpustakaan sekolah tempat setiap hari aku menunggu bertemu anak-anak didikku, ruangan yang kerap menyaksikan betapa rindunya aku terhadap celotehan siswa yang berulang kali membuat keningku berkerut.

Hari ini tepat 22 hari ramadhan tahun ini kulalui. baru sebulan saja efektif bertemu anak-anak di kelas. Esok dan dua minggu ke depan ada jarak membentang dan waktu yang sepertinya akan membuat benteng baru dalam ruang yang seharusnya membuat aku dan siswaku berpadu, bersama belajar tentang bahasa tercinta. Ah, lagi-lagi libur. Senang, girang, dan lega, rasa itu ada dalam diriku bahkan mungkin itu pula yang dirasakan oleh siswaku. Siapa yang tak senang berlibur, lepas dari rutinitas. Tapi, lepas malam biasanya ketika aku terjaga ada bermacam pikiran dan pertanyaan yang menghampiri labirin otakku. Baca lebih lanjut

Cerpen Aliran Surrealisme

Contoh sastra Surrealisme

 

KECUBUNG PENGASIHAN

Oleh : Danarto

KEMBANG-KEMBANG di taman bunga yang indah harum semerbak itu pun jauh-jauh sudah menyambut bersama-sama dengan senyum mesra kepada perempuan bunting yang berjalan gontai seolah-olah beban di dalam perutnya lebih berat dari keseluruhan tubuhnya hingga orang melihatnya terkesan bahwa ia lebih tampak menggelinding daripada berjalan dengan kedua belah kakinya, yang mana tentulah merupakan pemandangan yang jenaka, manapula pakaiannya compang-camping hingga kerepotan sekali ia untuk menutupi perutnya yang bundar buncit itu dengan selayaknya, hingga ia di jalan-jalan raya, di restoran-restoran, di pasar, di stasiun, di tong-tong sampah, membangkitkan gairah orang-orang untuk meletuskan hasrat hati yang peka seperti senar-senar lembut : laki-laki tersenyum kurang ajar, anak-anak tertawa mengejek, wanita-wanita melengos. Dan kembang-kembang di taman bunga yang menyambut perempuan bunting dengan senyum mesranya itu pun tentulah di hatinya terselip perasaan geli juga.

Taman bunga itu indah harum semerbak. Banyak orang beristirahat di sana. Orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, anak-anak muda yang berpasangan dan sendirian, bocah-bocah cilik yang bermain kejar-kejaran atau yang tenang duduk-duduk di bangku. Para pensiunan, para pegawai, para buruh, para petani yang habis belanja ke kota dan mau pulang lagi ke desanya, para profesor dan kaum cerdik pandai, para mahasiswa, para seniman yang lusuh, para pedagang, para tukang jual obat, para tukang catut, para tukang becak, para gelandangan dan pengemis yang kotor, kelaparan dan compang-camping. Yah, semuanya perlu duduk-duduk di taman itu. Tidak perlu menggagas apa yang perlu diperbuat. Yah, pokoknya ketaman bunga itu dulu dan lantas mau apa ! Ngomong? Menikmati bunga-bunga yang jelita-jelita ? Melihat yang melihat ? Cuci mata (kotor hati) ? Cari jodoh ? Bercerai ? Bertengkar ? Merencanakan siasat? Menghitung keuntungan ? Menemukan rumus ? Mencari ilham ? Ngobrol cabul ? Menggapai-gapai Tuhan di mana adanya ? Ya, segalanya diperbuat orang di taman itu. Perempuan bunting itu sudah memasuki bagian taman bunga yang dikenalnya. Ia tiap hari ke situ. Ia makan kembang-kembang itu. Sebagai orang gelandangan, ia paling sengsara. Ia kalah rebutan sisa-sisa makanan di tong sampah, sebab pengemis-pengemis lain lebih cekatan. Ia tak pernah mendapatkan apa-apa dalam bak sampah. Kemudian diputuskannya untuk memakan kembang. Berhari-hari ia memakan kembang-kembang di taman itu. Mula-mula ia tak tahan. Tapi lama-lama biasa juga. Tiap harinya makan bertangkai-tangkai kembang. Di sana ada kelompok Mawar, kelompok Melati, Sedap Malam, Anggrek dan sebagainya.

“ Selamat siang, perempuan bunting “, sambut kelompok-kelompok itu bersama-sama, seperti anak-anak sekolah kepada ibu gurunya.

“ Selamat siang, sayangku “, sahut perempuan bunting itu sambil mendekati mereka. Ia berkeliling mengitari kelompok-kelompok itu dan terpana.

“ Kandunganmu semakin besar rupanya”, kata Mawar

“ Awas, awas, kau bisa terjungkir ”, kata Melati

“ Rasain kalau nanti meledak, wahai perempuan ayu “, sambung Sedap Malam.

Perempuan itu terkekeh-kekeh keras hingga buah dadanya terpental-pental dan perut buncitnya bergetar seperti ada gempa bumi. Sekalian kelompok-kelompok kembang itu pun ikut tertawa.

“ Bentukmu tampak semakin lucu kalau kau tertawa keras. Saya ingat Rangda “, sela Anggrek.

“ Ah, orang-orang baik pun akan tertawa geli melihatmu “, kata Melati.

“ Hayo ! Macam apalagi kiranya?” tukas Kamboja.

“ Bungkahan batu ! “, teriak Kenanga.

“ Ah, terlalu biasa. Tidak kena “.

“ Trasi bau ! “.

“ Tong yang mbludag ! “

“ Hampir ! “

“ Padas gempal ! “

“ Bukan main! Kena! Kena! “

Perempuan bunting itu terkekeh-kekeh terus, kelompok-kelompok kembang mengikutinya, dengan tertawa dan bergoyang.

“ Mana suka kia “, sahut mereka dengan genit.

(dari kumpulan cerpen “Godlob”)

CERPEN: RELUNG HATI INDRIA

RELUNG HATI INDRIA

–ryks-

“Ya…di adalah pilihanku!” gumam Indria.

Betapa tidak, hampir setahun ini dia telah mencoba mengenal Firdaus teman sekampusnya. Setahun itu pula ia sering berjalan berdua dengan firdaus…normalkah?.

“Tuuu…uut…” ringtone simple yang tidak sesederhana bunyinya bagi hati Indria. “ah .. mas Firdaus!!!” pekiknya.

“halo mas..” sapa Indria, jauh, tapi cukup dekat baginya.

“bias ketemu ga Indria?” Tanya Firdaus. Tentu dong mas, kapan?dimana??” Indria tak sabar.

“nanti sore jam 5 di kafe kampus kita”.

Ada rasa bahagia yang begitu hebat, ada rasa ingin melompati waktu agar jam 5 sore segera datang.

“ah mas Firdaus, andai engkau selalu di sampingku, tentu aku kan bahagia selamanya…!!! .

—cengeng banget ya..—-

********

“siiip dah!!!” Indria bergumam sambil berputar-putar di depan cermin. Cantikkah? Ya iya lah Indria bukanlah tipe wanita berparas biasa-biasa saja (ga usah di bayangin deh, pokok nya cantikkkkkkkkkkkkk!!!).

Dengan dandanan khas cewek masa kini, Indria melangkah mantap menemui kekasih hatinya (katanya sih cinta sejati…..).

Di kafe itu Firdaus telah menunggu dengan senyum yang khas (senyum buaya kali ya? Tapi dijamin deh lu pade pasti kelepek-kelepek kalo lihat firdaus). Senyuman yang membuat hati Indria makin luruh.

“ lama nunggu ya mas?” Tanya Indria

“ Ah ngga kok Ndri, baru saja.” Jawab firdaus, biasa lah namanya juga masih pacaran ga ada kata menunggu itu menyebalkan.

“ Ada apa mas?” Indria penasaran.

“ ah ga da apa-apa Ndri, mas Cuma ingin ketemu aja.

Cihuy… namanya juga sedang di mabuk asmara, atau di mabuk nafsu ya ????.

Ya, pertemuan-pertemuan seperti itulah yang selalu singgah dalam hari-hari mereka, pertemuan yang ga penting tapi berharga bagi mereka……, lebih kurangnya ya maaf deh ga usah diceritakan nanti malah kepanjangan kayak sinetron aja..!!!.

***

Suatu hari…

Sebuah nada sambung terdengan dari HP Indria, ya Firdaus yang memanggil, tentu saja hati Indria berbunga.

“ halo mas, ada apa?” Tanya Indria. Hening dan sesaat kemudian ….

“ Indria…. Kita putus!!!” singkat … tapi tak sesingkat efeknya, dahsyat bo….

Seperti tersambar petir Indria mendengarnya, belum sempat Indria berkata lagi, telepon telah terputus. Menangis? Pasti, Marah? Tentu saja, kaget? Ya iyalah…. Pokoknya jangan Tanya deh perasaannya Indria, intinya sakiiiii…………..iiiit!.

Tak sabar menunggu esok agi, bukan lagi untuk memupuk cinta, tapi memupuk tanya….

Esok harinya,

Indria berusaha menmui Firdaus ndi kosnya, namun Firdaus tak lagi tinggal di sana. Teleon? Yah kuno ah, kan biasa kalo habis utus kan langsung ganti nomor. Ya Firdaus raib entah kemana, mungkin kalo buaya hilang ke rawa kali ya?.

Hancur hati Indria, padahal semua ruang hatinya selama ini telah penuh oleh Firdaus, tak mungkin melangkah lagi tanpa tuntunan Firdaus, pikirnya…. Lebay!.

Gontai Indria kembali ke peraduannya.

***

Berminggu-minggu tak ada kabar dari firdaus, dan berminggu-minggu itu pula Indria seolah tanpa tujuan. Semua teman Indria sangat mengkhawatirkan kondisi tersebut, tapi sepertinya semua usaha untuk menghaus Firdaus dari hati Indria malah membuat keadaan semakin runyam.

Benci!! Hanya rasa itu yang memenuhi hati teman-teman Indria pada Fisrdaus. Dasar buaya, s****n, bring***, dan lain sebagainya (kelamaan kalo di absen satu-satu) adalah sebutan yang keluar dari mulut teman Indria teruntuk sosok Firdaus.

Lalu kemanakah firdaus?

Sebenarnya Firdaus tak sepenuhnya melepas Indria dari hatinya. Lalu kenapa ia dengan tega mencampakkan Indria begitu saja? Sepertinya sulit bagi Firdaus untuk mengungkakan alasannya.

Hanya saja Firdaus merasa selama ini ia telah salah langkah, salah kaprah mengekspresikan rasa cinta dan ayangnya pada Indria dengan selalu bermesra-mesraan dengan Indria. Yang membuat Firdaus menghilang dari pandangan Indria adalah karena rasa takut, takut pada kenyataan bila keduanya terlalu jauh dalam menjalin hubungan. Tapi pembaca ga usah negative dulu…. Yah dasar otak mes**.

Ah Firdaus tak kalah bingungnya dari indria.

***

Dua tahun telah berlalu, Indria kini masih dengan kesendiriannya. Bukan tak ada laki-laki yang mencoba membuka hati Indria, tai sepertinya pintu itu masih tertutup dan terkunci rapat. 24 tahun usia Indria, usia yang membuat orang tuanya was-was. Tapi apa daya, keduanya pun tak mampu membuat hati Indria luluh meski telah di panaskan….

Sampai suatu hari…

“ kring….krii…iing….”, telepon ruang tengah berbunyi. Tergopoh Ibu Ratih, ibunya Indria, mengangkat gagang telepon.

“ Assalamu’alaikum!”, sapa beliau.

“ Wa’alaikum salam!” suara lelaki di seberang telepon.” Maaf, bias bicara dengan Pak teguh atau Ibu Ratih? Ini dari Firdaus”.

“Firdaus?” Tanya Bu Ratih kaget, “ Firdaus temannya Indria?, ini Ibu, ada apa nak Firdaus?”. Bagaimana tidak dua tahun lamanya Firdaus menghilang taka da kabar.

“ maaf bu, lama Firdaus tak memberi kabar. Bagaimana kabar ibu sekeluarga?”

“Alhamdulillah baik, Firdaus sendiri gimana, koq lama tak ada beritanya?.

“Firdaus baik bu, Firdaus ga kemana-mana, hanya saja sekarang agak sibuk.” Jelas Firdaus.” Maaf bu, jika berkenan  sabtu lusa Firdaus ingin silaturahmi ke rumah Ibu.” Lanjut Firdaus.

“ Ya kesini aja nak, ga usah sungkan” tandas Bu Ratih masih dengan kekagetannya.

“ Iya bu terima kasih. Tapi rencananya Firdaus datang bersama orang tua Firdaus”.

“ dengan orang tua?” makin kaget lah bu Ratih.

“ Iya bu, ga apa-apa kan bu?” Tanya Firdaus.” dan rencananya kalau ibu sekeluarga berkenan, Firdaus juga ingin sekalian melamar Indria.”

“Sabtu ya? Insya Allah Ibu sekeluarga tidak ada acara, nanti Ibu sampaikan pada bapak.  Tapi tentang Indria, biar nanti dibicarakan dulu bersama disini. Lagi pula semua kan terserah Indria.” Mencoba menenangkan diri.

“ terima kasih bu, maaf jika mengganggu” Firdaus sedikit sungkan karena sudah to the point.

“ Lho, ga apa-apa kok nak Firdaus, Ibu tunggu kedatangannya….”.

“ ya mungkin itu dulu bu, terima kasih banyak sebelumnya, Firdaus pamit dulu, Assalamu’alaikum” firdaus menutup pembicaraan. “ Wa’alaikum salam!” jawab Bu Ratih sambil menutup teleponnya, telepon telah tertutup, tapi rasa kagetnya masih terus berdering.

Segera bu Ratih menemui suaminya pak Teguh. Ak teguh tak kalah kaget mendengar cerita istrinya. Bagaimana pun Firdaus telah dua tahun menghilang, dan kini dia dating untuk melamar Indria. Keduanya pun teringat ke masa dua tahun lalu, teat sebelum kepergian Firdaus…

***

“ Nak Firdaus…”buka pak Teguh.

“ Inggih pak..” Firdaus tertunduk.

“ Bukannya bapak tidak setuju dengan hubungan Firdaus dengan Indria. Tapi sebnagai orang tua, jujur bapak merasa khawatir dengan hubungan kalian yang hamper setahun ini.

“ ya meskipun di masyarakat kita berpacaran adalah sesuatu yang lumrah, tapi bukan berarti sesuatu yang lumrah itu selalu benar.

“ nak Firdaus, bapak tahu kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Bapak percaya kamu dan Indria tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Namun tetap saja kekhawatiran itu ada ada diri kami. Bagaimana tidak, Indria begitu ketergantungan pada nak Firdau seolah dia tak mampu hidup bila tak ada Firdaus. Bukankah ini tak wajar nak? Seseorang yang belum menikah tapi harus selalu bersama-sama.

“Bukan apa-apa, kami sebagai orang tua hanya ingin ketergantungan Indria tertuju pada laki-laki yang tepat dalam waktu yang tepat pula. Kami merasa kamu adalah laki-laki yang tepat, tapi waktunya lah yang belum tepat. Kalian belum memiliki ikatan yang dapat dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Intinya nak Firdaus, andai kamu dan Indria ingin selalu bersama-sama menikahlah segera. Tapi andai nak Firdaus belum siap, sadarkan Indria dari ketergantungannya, lepaskan Indria dari ikatan yang belum ia miliki, hingga waktunya tiba!” panjang lebar Pak Teguh menjelaskan dengan lembut.

Firdaus terdiam, wajahnya sedih namun mengerti.

“ Iya pak, bu… saat ini entah rasa itu benar atau tidak, yang jelas Firdaus sdangat menyayangi Indria, jujur pula Firdaus ingin menikahi Indria. Tapi maafkan Firdaus pak, sepertinya secara lahir saat ini Firdaus belum siap untuk menafkahi Indria, Firdaus belum memiliki pekerjaan, pun sepertinya saya belum mampu untuk menjadi Imam yang baik bagi Indra.

“ Baiklah pak, bu… saya berjanji akan melepaskan Indria dulu. Tai Insya Allah, ketika saya telah siap dan Indria belum menukah, saya akan dating untuk melamar Indria!” tegas firdaus.

Baik nak Firdaus, terima kasih atas pengertiannya.”

***

Ya ..itu terjadi dua tahun yang lalu dan ternyata benar, kini Firdaus dating untuk melamar Indria.

***

Sabtu sore itu…

“Assalamu’alaikum!” dari teras dean.

“Wa’alaikum salam!” Pak Teguh dan Bu Ratih memang telah menunggu suara itu.” Oh Nak Firdaus, Silakan masuk, maaf berantakan”.

“ terima kasih bu, maaf mengganggu. Ini orang tua saya pak, bu… “mereka pun hanyut dalam obrolan. Tapi sepertinya ada yang kurang?

“ Bu, panggilkan Indria” inta Pak Teguh mengingatkan Bu Ratih akan kekurangan tadi.

Indria, sejak tadi ia asyik di kamarnya. Dia tak peduli dengan kesibukan orang tuanya sejak kemarin. Memang Bu Ratih pun sengaja tak memberi tahu akan rencana kedatangan Firdaus.

“ Indria, buka pintunya sayang..!!” inta Bu Ratih.

“ Iya bu, sebentar!” sedikit ,malas Indria membuka pintu, “ ada apa bu?”

“ Kamu turun nak, temui tamu di bawah, mereka ingin ketemu kamu”.

“ siapa bu?, males ah!” rajuk Indria.

“ turunlah dulu”

“ah siapa sih?” malas Indria mengikuti ibunya.

Dan…. eng..ing…eng… (seperti di sinetron), Indria kaget bukan kepalang, “Firdaus? Disini? Setelah menghancurkan hatiku. Dia berani dating kesini?” hati Indria berkecamuk. Andai tak ada orang tuanya dan orang tua Firdaus, tentu Firdaus sudah di hajar Indria.

Duduklah Indria di samping ibunya, menahan amarah. Memang amarah itu bercampur asa….

“ Indria, nak Firdaus datang bersama orang tuanya kesini ingin bersilaturahmi dengan keluarga kita, dengan kamu” jelas Pak Teguh, “ selain itu Firdaus juga ingin melamra kamu, bukan begitu nak firdaus?” pandangan Pak Teguh beralih pada Firdaus, meminta penegasan.

“ Iya Pak, bu, Indria…. Saya datang kesini ingin melamar kamu” tegas Firdaus.

“ nah, sudah kamu dengar sendiri kan Indria? Sekarang terserah kamu?” Pak Teguh meneruskan.

Lama terdiam…hening…Firdaus mulai gugup….

“Ayah, Ibu …, Indria bahagia mendengar niat mas Firdaus, Indria juga senang ternyata mas Firdaus masih mencintai Indria.” Indria mulai menjawab.

“Indria sangat dan sangat bahagia jika Indria menjadi istri mas Firdaus” Indria terisak,” tapi ayah, bu, mas Firdaus….., Indria minta maaf, saat ini Indria belum siap menerima mas Firdaus, sebagaimana Indria dulu tak siap untuk kehilangan mas Firdaus!” Indria tak kuasa menahan tangisnya.

Semua terdiam, bingung, dan ….bermacam rasa ada dalam benak mereka….

CERPEN: ISTRIKU IJINKAN AKU MENCARI YANG BERHIJAB

Istriku, Ijinkan aku Mencari yang Berhijab

“Aduh masa pakai celana pendek mau keluar rumah yang?!” ujarku refleks melihat istriku memegang daun pintu.

“ah, kan hanya mau ngambil air kran di depan rumah aja mas….!” Istriku menjawab sambil membuka pintu yang memang sedari tadi dia pegang. Keluar, seolah tak mengindahkan pertanyaanku.

Aku hanya bisa termenung, sedih, bercampur rasa heran. Betapa tidak, istriku yang sedari kecil mendapat gemblengan agama islam dari ayahnya, tapi seolah tak begitu peduli dengan auratnya. Bukankah ia pun jebolan madrasah aliyah?. Bandingkan dengan diriku, yang tidak lebih dari empat tahun mengenal agama ini. Ya ….., aku seorang muallaf, baru empat tahun terakhir ini aku hijrah ke dalam agama ini. Bahkan sering ketika aku berkenalan, kemudian saling menyebut nama,dia pun akan langsung menganggap bahwa  aku bukanlah seorang muslim.

Namaku Antonius Susanto, dengan mataku yang sipit, kulitku yang lebih putih dari kebanyakan orang Indonesia, tentu menambah anggapan orang tentang apa apa yang aku anut.

Empat tahun yang lalu aku mendapat pencerahan hanya dengan hal yang sepele saja. Aku membaca sebuah terjemahan Al Quran yang bahkan aku pun tak pernah menyentuhnya sekalipun. Sebuah terjemahan Al Quran yang menegaskan bahwa islam adalah satu-satunya agama yang jelas-jelas menegaskan sebagai agama yang anti rasis.

Tidak lama kemudian, aku bertemu dengan seorang gadis berjilbab, seorang mahasiswi jurusan bahasa perancis, Muslimatun Nizar namanya. Ya..sekarang dia menjadi istriku. Aku terpesona dengan lembut tutur katanya, dan tentu saja dengan kemuslimannya. Kini dia telah menjadi istriku, bahkan Allah telah mengkaruniakan seorang putra yang gagah kepada kami berdua.

Kulihat istriku telah kembali masuk ke rumah……….

***???**

Esok harinya…., sore itu dia pulang dengan begitu sumringah. Wajahnya begitu berseri seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang special.

“mas, tahu ga?, tadi teman-teman kantorku bilang, kalau bentuk tubuhku tuh bagus banget. Bahkan mereka iri lho akan bentuk tubuhku, katanya seperti masih belum pernah melahirkan saja”. Istriku bercerita dengan senangnya. Aku hanya bisa tersenyum, getir………

ah istriku, bukannya ku tak senang engkau dipuji oleh orang lain, tapi….???. hati ini memelas. Bukankah sudah sering ku katakana wahai istriku, aku mengharapkanmu berjilbab, berhijab, dan menjaga kehormatan engkau yang merupakan kehormatan keluarga ini. Aku miris istriku.

“mas … koq diam saja…. Ngomong dong!!” istriku membuyarkan lamunanku.

“oh, ya memang tubuh kamu bagus koq de. Bukan itu saja, engkau cantik, apalagi ditunjang rambutmuyang lurus dan panjang.” Jawabku memujinya. Istriku makin “melayang”.

“ah, mas bisa aja….” Hidungnya merekah, pipinya pun makin memerah. Tapi aku miris, hati terasa teriris, dan setiap malam aku menangis istriku, mengadu pada-Nya, mengadu tentang kecantikanmu.

Yang membuatku semakin sedih, setiap kali aku menyinggung tentang hijab ataupun jilbab, satu kalimat saja aku ucapkan, tapi seolah beribu dalil engkau sampaikan. Aku memang tak sepandai engkau istriku, aku pun bahkan belum pernah membaca satupun kitab kuning yang sering ayahmu ajarkan kepadamu sejak kecil wahai istriku. Tapi mengapa ……….

Pernah aku bertanya kepadamu…

“yang, pernah kepikiran untuk pake jilbab ga yang?”

“pernah sih mas, lagian kan kalo dulu aku ke sekolah, ke pengajian ya pake jilbab juga.” Jawab istriku, “tapi… ah ribet lho mas kalo pake jilbab, mau pergi-pergi ga bisa cepet, belum lagi kalau jilbabnya kusut, kan jadi keki. Aku bahkan pernah kan bercerita sama teman-teman kalo aku pake jilbab gimana, eh mereka malah bilang sayang banget katanya kalo rambutku ditutupi.” Papar istriku.

“lagian kan mas, jilbab hanya budayanya orang arab sana saja…!!” pungkas dia yang semakin membuat hatiku terpuruk, tersungkur meratapi “kecantikanmu”.

“engkau lebih paham tentang agama istriku…” masih ku bersabar, mencari jalan untuk mengajakmu berhijab.

***!!!!***

Sebulan kemudian ….

“mas, boleh ga aku ikut kelas senam di deket kantorku?” istriku bertanya, padahal baru saja dia meletakkan tas kerjanya.

“lho, bukannya kamu sudah ikut kelas senam di tempatnya Bu Sarah?” aku balik bertanya.

“ah… bosen mas, di tempat Bu Sarah pesertanya sedikit, instrukturnya juga itu-itu saja.” Kepintaran istriku mulai muncul lagi,”kalau di klub senam deket kantorku tuh ya mas, instrukturnya setiap sesi ganti, lebih bagus juga tempatnya. Apa mas juga ikut kelas senam di sana?. disana kan banyak juga peserta putranya”.

Rasanya cukup di sini diamku.

“istriku… minumlah air ini dulu.” Aku menyosorkan segelas air putih ke depan istriku. “duduklah di depan mas.”

“ah mas ada apa? Boleh ya???” rajuk istriku.

“duduklah dulu istriku, minumlah dulu. Engkau kan baru saja pulang, cape kan?” pintaku kembali. Istriku pun duduk. Selesai air itu melewati kerongkongannya, ‘istriku, dengarkan mas…” aku mulai menyampaikan kata-kata yang telah kususun sejak awal aku menikah.

“engkau tahu siapakah aku? Engkau tahu berapa lama aku mengenal agama yang engkau anut?, ya baru saja dan tak banyak ayat maupun  hadits yang aku kuasai. Tapi istriku, tahukah engkau mengapa begitu singkat rentang waktu antara aku berkenalan denganmu hingga aku menikahimu?, sederhana saja istriku, yang aku pahami dari islam ini adalah, laki-laki harus menghargai perempuan, laki-laki harus menjaga kehormatan perempuan. Sehingga aku tak ingin mata ini menikmati yang engkau miliki pada tubuhmu  tanpa ada hak yang diberikan yang membuat aku halal melihat rambutmu, memegang tanganmu, ataupun melihat lekuk tubuhmu.

Yang aku tahu istriku, dalam islam yang baru saja aku kenal, seorang wanita tidaklah boleh memperlihatkan aurat tubuhnya kepada laki-laki yang bukan muhrimnya. Tidak boleh pula ia memperlihatkan lekuk tubuhnya kepada mereka.

Makanya istriku, begitu aku terpesona padamu, hanya dalam hitungan hari saja aku datang ke rumah orang tuamu. Ya…aku langsung melamarmu.

Tapi kenapa istriku, kini kau umbar auratmu pada laki-laki lain. Bukankah aku yang sekarang menjadi suamimu? Bukankah sejak lama aku tidak ridho jika engkau membuka hijabmu, bukankah sejak lama aku tidak ridho engkau membanggakan kecantikanmu dengan memperlihatkannya pada semua orang?.

Istriku, bukan aku tak bangga dengan cantikmu, bukannya aku tak jumawa memiliki istri dengan tubuh yang begitu sempurna. Tapi istriku, pikirkanlah, andai engkau memiliki sebatang cokelat makanan kesukaanmu, makanan yang sering kau puji-puji kelezatannya, kemudian berpuluh-puluh orang  menjilat batang cokelat yang engkau pegang, masihkah engkau mau memakannya?.

Istriku, bukankah dirimu wanita terhormat, bukankah engkau adalah wanita yang tak dapat “dibeli” dengan berapa pun? Tapi kenapa kehormatan yang engkau agung-agungkan itu malah engkau obral kepada semua orang.

Tiga tahun rasanya cukup aku memintamu dengan perlahan, tiga tahun sepertinya cukup untuk membuatmu berpikir tentang ini. Kini saatnya aku memberikan peringatan terakhir kepadamu.

Istriku, bukankah Allah yang menjadi pemilik tubuhmu memerintahkan agar aurat tubuh kita dijaga, memerintahkan agar wanita memelihara kehormatannya, memerintahkan agar wanita menjulurkan pakaiannya, memerintahkan agar lekuk tubuh tak menjadi pajangan.

Tapi engkau menganggapnya sebagai budaya, adapt, kebiasaan orang-orang arab badui.

Aku marah istriku, bahkan sejak lama. Aku malu istriku, malu tak mampu membuat dirimu memaknai dengan benar apa yang telah engkau pelajari dari agama ini bahkan sejak engkau lahir dari rahim ibumu.

Istriku,  ijinkan aku memiliki istri yang berhijab, ijinkan anakmu memiliki ibu yang akan membimbingnya ke syurga.

Karena aku takut istriku, takut dengan maharku sendiri ketika menikahimu. Tertatih-tatih aku menghapalkan  surat At-Tahrim yang bahkan membaca fatihah pun belum fasih. Terbata-bata aku membacakan ayat demi ayatnya hanya ingin menunjukkan jika aku ingin menjadi imam yang benar bagimu. Takut aku ketika mengingat salahsatu ayat dari maharku itu.

“hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….”

Takut….dan benar-benar takut istriku.

Istriku…………jawablah!”.

………………istriku hanya terisak, dan bersimpuh di pangkuanku……….

 (terima kasih untuk istriku, engkau telah banyak memberikan inspirasi kepadaku –kadar–)

Cerita Pendek: Andai Saja

Andai Saja

(oleh: kadar)

Kubuka inbox suamiku. Satu persatu pesan didalamnya aku baca. Marahkah suamiku? Sepertinya tidak, karena tiap kali ada sms yang masuk ke telepon genggamnya tiap kali itu juga ku baca seluruh pesannya.

Terkadang ada sms yang lucu, tapi terkadang pula ada sms yang membuat mataku memicingkan mata. Tapi kali ini ada sebuah pesan yang benar-benar membuat jantungku berdebar karena terkejut, membuat hatiku teriris karena merasa miris, bahkan kepalaku terasa ditimpa beban yang begitu berat begitu kubaca tiap kata dalam pesan yang satu ini.

Ya… ada kata sayang dari seorang wanita dalam pesan yang diterima oleh suamiku. Bila pesan itu berasal dari nomorku, tak akan aku seterkejut ini. Tapi ini wanita lain, wanita yang mungkin takkan kusangka seberani ini mengirimkan pesan pada suamiku. Sejenak aku mencoba untuk berbaik sangka pada pesan itu, mungkinlah ini hanya candaan seorang teman pada sejawatnya. Karena ku tahu suamiku paling suka bercanda dengan siapa saja. Walau tak kupungkiri, semalaman aku tak bias tidur dengan tenang karena pesan itu.

Seperti biasanya, pagi kusiapkan sarapan untuk suamiku tercinta. Dan seperti biasanya pula suamiku malah bercanda seolah tak ada hal yang telah membuat hatiku terluka, ah suamiku andai saja engkau tahu hatiku yang sedang gundah tentunya kau takkan seperti orang yang seolah tak punya salah dan dosa.

Dia pun berangkat setelah memberikan ciuman dikening dan mengucapkan slam. Selamat jalan suamiku, semoga keselamatan dan keberkahan menyertai perjalananmu. Maka, hatiku harus kembali bersabar hari ini menanti sebuah penjelasan.

Sembari memupuk kesabaran, aku berangkat ke tempat kerjaku……

Sesampainya di kantor, tak lupa aku segera membuka layar HP-ku dan mengetik beberapa kata:” ayah sayang, jangan lupa sarapannya di tas, love you so much…”. Sebuah balasan ku terima:”terima kasih Yang, sudah mas makan…”.  Sedikit membuatku merasa tenang.

Hari itu kulewati dengan rasa yang gundah menunggu kedatangan suamiku.

Malam itu, kembali berpuluh pesan tanpa isi masuk dalam inbox suamiku, tapi suamiku masih bungkam tanpa memberikan penjelasan, entah pura-pura tidak peduli atau merasa bahwa aku tak memberikan respon apa-apa, tapi tahukah suamiku hatiku tercabik-cabik. Dan hartus senantiasa kutata kembali dengan perekat kesabaran yang seolah kau manfaatkan untuk tetap tak berkata apa-apa.

Ah suamiku kau malah  sibuk didepan komputer kemudian tertidur pulas di samping anak kita.

Esoknya…. Kau hanya tersenyum dan pergi ke tempat kerja, tanpa memberikan yang aku tunggu sejak kemarin…sebuah penjelasan…….

*=*?=**?

Sore itu, anak kita tertidur kau duduk disampingku:” Yang, engkau mungkin bertanya-tanya dengan isi inbox mas, tapi mas merasa dua hari kemarin semua masih wajar karena itu dikirimkan oleh teman mas yang selama ini mas pikir tak mungkin memiliki rasa selain rasa seorang teman. Tapi ternyata mas salah. Setelah pesan-pesannya yang janggal, hari ini mas melihat sikap yang janggal pula. Sepertinya benar, dia ada rasa yang lain yang sebenarnya tidak wajar untuk seorang wanita yang telah bersuami bahkan memiliki anak.”

Ada sedikit senyum sinis dari bibirku, tak terlihat olehnya…

Dia masih dengan penjelasannya:”Namun mas harap engkau tak berpikir terlalu jauh tentang suamimu ini, andai saja mas punya pikiran untuk berselingkuh, kenapa tidak dari kemarin mas lakukan ketika ada seorang wanita lajang, cantik, dan memiliki kedudukan mengucapkan kata cinta pada mas…. Sungguh meski sering ku bersikap egois padamu, bahkan banyak pula kata-kata kasar kuucapkan ketika aku marah, namun tak sekali pun dalam hati ini terlintas untuk memberikan ruang untuk kumasukan wanita lain dalam hidupku setelah memilkimu.

Istriku, bisa jadi kemesraan sedikit pudar diantara kita, namun ikatan suci takkan pernah kurusak oleh syahwatku terhadap wanita lain. bisa jadi diri mas tak seromantis dulu, tapi tak sedikit pun cinta ini berkurang padamu. Istriku boleh kau ragu akan cintaku, tapi jangan kau ragukan kesetiaanku padamu.”.

???**??!!**

Ah suamiku, mengapa baru sekarang kau jelaskan, mengapa baru sore ini kau memberikan ketenangan itu, mengapa kau biarkan hati ini sempat curiga padamu, mengapa kau biarkan pikiran ini menduga-duga. tapi terima kasih suamiku, engkau telah memberikan pelajaran dengan diammu, engkau memberikan pelajaran tentang kesabaran yang selalu berbuah manis. Andai saja sabar itu tak ada, tentu rasa damai takkan pernah ada, andai saja buruk sangka membuat amarahku membuncah, tentu rumah ini takkan berisi canda dan tawa….

Ah Suamiku, aku pun cinta padamu………

CERITA: PRIAKU

Priaku

Manusia memiliki kelemahan, aku adalah manusia yang hidup dengan segala kelemahanku. Apa yang terjadi kalau manusia tidak mempunyai kelemahan. Kelemahanku terkadanga membawa kehancuran dalam diruki sendiri. Kelebihana ada juga dalam diri manusia, apakah kelebihan itu akan selalu membahagiakan? Oh tentu tidak, terkadang kelebihan itu melenakan. Aku hanya seonggok daging yang diberikan kehidupan oleh Tuhan. Aku hanya manusia yang bisa menjalani dan berusaha menggapai impian yang aku gantungkan, hari ini aku merasa terpuruk dengan segala kelemahanku. Aku wanita yang menyukai seorang pria, yang entah apakah dia mempunyai perasaan yang sama sepertiku.
Hari itu, awal tahun 2006, terungkapalah perasaan yang selama ini kau rasakan terhadapku. Aku ragu apakah benar yang kau rasakan. Jujur aku meragukan perkataan seorang pria. Dua bulan kita kenal, kau langsung mengatatakan cinta dengan penuh gelora. Takut, senang, bahagian, bingung bercampur aduk saat itu. aku adalah wanita yang belum pernah menjalin hubungan dengan seorang pria. Dulu aku menyukai seorang pria tapi aku tidak tahu entah di mana pria itu sekarang berada. Sekarang, aku sekarang ini jatuh cinta dengan seorang pria yang aku kenal dua bulan yang lalu. Awalnya aku tidak punya perasaan apa-apa terhadapnya tapi sekarang aku benar-benar jatuh dan terpuruk di depannya. Perasaanku yang terkadang tidak dapat kukendalikan. Aku takut kehilangan dia, awal yang indaha dari semua perkataan yang ia ungkapkan kepada kini perlahan-lahan mulai hilang. Sapaan lembut penuh cinta mulai sirna. Priaku apakah telah hilang semua perasaanmu kepadaku? Aku adalah wanita yang taku tkehilangan semua yang telah menjadi bagian dari kehidupanku. Sekarang aku bingung ke mana langkah kaki akan kubawa. Aku disini sekarang sendiri, sunyi, hanya gudah gulana yang ada dalam kalbuku.
Tuhan salahkah hamba-Mu ini telah memiliki rasa cinta terhadap seorang pria? Cinta, apa itu cinta? Penderitaan yang kurasakan. Pria kenapa kau masuk dalam hidupku alu dengan seenak hatimu kau akan pergi dari hatiku dengan segenap luka menganga yang tak tahu kapan bisa merapat lagi.

Apakah salah?
Ya apakah semua yang telah kulakukan adalah suatu kesalahan. Mencintai, menyayangi, mengasihi seorang pria yang telah membuat terlena dengan perhataian dan sapaan lembutnya. Aku mencintaimu karena sapaan lembutmu, aku mengasihimu karena pancaran jiwamu, aku menyayangimu karena ketulusanmu dulu. Sekarang, apakah masih sama? Oh tentu tidak, kau telah bosan denganku. Semua kelemahan dalam diriku sudah kau ketahui. Sedikit demi sedikit akan terbentuk tembok yang akan memisahkanku denganmu, kau telah mulai membangun tembok itu. Aku akan terbelenggu di balik tembok yang mulai kau bangun. Akankah aku dapat menembus temok itu? Kalau pun dapat kutembus, aku hanya mampu menembus tembok itu saja, tapi aku tidak mampu menembus perasaanmu.

Kemana kaki akan kulangkahkan?
Aku bingung, bimbang, ragu, kecewa. Impianku dulu, sekarang sedikit demi sedikit mulai mengabur, angan-anganku untuk dapat bersanding denganmu mulai menjauh.