SEKILAS TENTANG PRAMOEDYA ANANTA TOER, SANG MAESTRO, DIVA SASTRA INDONESIA


pram

PRAMOEDYA ANANTA TOER

Pramudya Ananta Toer, dilahirkan di Blora, 6 Februari 1925, meninggal di Jakarta, 29 April 2006, seorang maestro yang berkali-kali menjadi nominator Nobel Sastra, satu-satunya dari Indonesia, yang merupakan novelis Indonesia yang sangat terkemuka, hingga sekarang. Karya-karyanya pada masa ini banyak mengungkap pengalaman otentik perjuangan fisik melawan penjajah. Ia memang pernah mengangkat senjata untuk negeri ini dan berbulan-bulan disekap oleh pemerintah kolonial.

Ternyata tembok penjara benar-benar menjadi bagian dari hidupnya. Tahun 1966-1980 ia menjadi TAPOL Pulau Buru tanpa proses pengadilan karena ketokohannya dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan milik PKI. Sebelumnya, selain menjadi tawanan rezim Orde Baru  Pak Harto  selama 14 tahun di Pulau Buru, ia pun  pernah ditahan oleh pemerintahan Bung Karno selama beberapa bulan karena kasus bukunya Hoa Kiau di Indonesia, serta dipenjarakan di LP Bukitduri Jakarta oleh penjajah Belanda.

   Karya-karya Pramudya yang menandai peran pentingnya sebagai sastrawan Angkatan ’45 antara lain: Percikan Revolusi (kumpulan novelet dan cerpen,1950), Subuh (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (novel, 1951), Dia yang Menyerah (novel 1951), Cerita-cerita dari Blora, serta novel Bukan Pasar Malam (1951). Usai menjalani 14 tahun penahanan Orde Baru, Pram menerbitkan karya-karya monumentalnya yang disebutnya sebagai Tetralogi Roman Pulau Buru berjudul: Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca(1985). Keempatnya sudah beredar tapi kemudian dilarang oleh Jaksa Agung RI.

Pramudya juga menulis semacam biografi perjuangan dengan mengangkat tokoh R.M. Tirta Adisurya, seorang politikus dan jurnalis yang menentang penjajah Belanda pada dekade awal abad XX, dengan judul Sang Pemula (1985). Buku inipun kemudian dicekal. Namun, Pram terus juga menulis, kemudian lahirlah roman Gadis Pantai (1987), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Arus Balik (1995). Berkali-kali Pram menjadi nominator Nobel Sastra, meraih penghargaan internasional Ramon Magsaysay dari Filipina tahun 1995, Hadiah Fukuoda dari Jepang tahun 2000, juga penghargaan dari Chile,  Norwegia dan tiga kali dari Amerika Serikat. Dari dalam negeri, satu-satunya penghargaan yang diterimanya berasal dari partai polieik pimpinan Budiman Sujatmiko (waktu itu) bernama ”Partai Rakyat Demokratik Award”

Karya-karya Pram yang lain: novel Perburuan (1950); Kranji – Bekasi Jatuh (1947); Midah Si Manis Bergigi Emas (1954); Korupsi (1954); Calon Arang (1957); Panggil Aku Kartini Saja (1962); Larasati (2000); Mangir (2000). Sebagai penerjemah, Pram menulis Tikus dan Manusia (novel John Steinbeck, 1950); Kembali kepada Cinta Kasihmu (novel Leo Tolstoy, 1950); Ibu (karya Maxim Gorki, 1956); Asmara dari Rusia (novel Alex Kuprin, 1959); Manusia Sejati (novel Boris Polevoi, 1959).

Sumber: Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: