Sastra: Yang Muda, Yang “ANGKATAN 2000”


      Pada masa ini, banyak sekali muncul pengarang wanita. Mereka umumnya menulis dengan ungkapan perasaan dan pikiran yang tajam dan bebas. Ada di antara mereka yang sangat berani menampilkan nuansa-nuansa erotik, hal-hal yang sensual bahkan seksual, yang justru lebih berani dibandingkan para sastrawan seumumnya. Yah, hampir-hampir seseram Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag., meskipun  tentu saja lebih banyak yang tidak demikian. Ungkapan-ungkapan erotik vulgaristik nampak dalam cerpen ”Saya Menyusu Ayah” di antologi Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) karya Jenar Mahesa Ayu dan episode-episode tertentu dalam novel ”Saman” karya Ayu Utami.

   Nama ini diberikan Korrie Layun Rampan pada sejumlah pengarang dan penyair yang telah melahirkan wawasan estetik baru pada tahun 90-an.  Dinobatkannya sebagai tokoh angkatan ini adalah Afrizal Malna (puisi), Seno Gurnira Ajidarma (cerpen), dan Ayu Utami (novel).

             Korrie berkata, “Afrizal Malna melansir estetik baru yang digali dari sifat massal benda-benda dan manusia yang dihubungkan dengan peristiwa tertentu dan interaksi massal. Estetik massal ini merupakan penemuan Afrizal yang unik dalam sastra Indonesia”. Tulis Korrie selanjutnya, “Pembaruan Seno tampak dalam pilihannya terhadap model sastra lisan yang mengembalikan realitas fiktif kepada realitas dongeng. Estetik baru yang dikembangkan secara menarik oleh Seno adalah perkembaliannya terhadap sastra murni yang tidak memisahkan antara wacana prosa dan puisi”. Adapun mengenai Ayu Utami, Korrie menulis, ”Pembaharuan fisikal novel dilakukan. oleh Ayu Utami dengan novel Saman berupa teknik-teknik khas yang mampu melahirkan wawasan estetik baru. Pembaruan itu tampak pada pola kolase yang meninggalkan berbagai warna yang dilahirkan oleh tokoh maupun peristiwa yang secara estetik menonjolkan kekuatan-kekuatan literer. Sifat kolase itu menempatkan segi-segi kompositonis dengan wacana fiksional esai dan puisi”.

Adapun para sastrawati Angkatan 2000 antara lain: Ayu Utami, Jenar Mahesa Ayu,  Fira Basuki, Herlinatiens, Nukila Amal, Linda Christianti, Ratih Kumala, Oka Rusmini,  dan lain-lain.

      Ada di antara mereka yang mengusung ideologi kebebasan wanita (woman libs) yang dulu pernah dilakukan oleh Nh. Dini (namun ungkapan-ungkapan Dini tetap literik, tidak vulgar). Sebenarnya minus idiom-idiom vulgar karya mereka termasuk berbobot, seperti juga prosa liris karya Linus Suryadi berjudul Pengakuan Pariyem. Di bagian-bagian tertentu karya Jenar Mahesa Ayu dan Ayu Utami bahkan sangat puitis serta filosofis, menampilkan ungkapan-ungkapan yang bernas dan cerdas, dengan imajinasi-imajinasi yang kaya renungan, mungkin juga humanis dan religius. Jadi mengandung hal-hal yang kontrovesial.

            Berseberangan dengan mereka yang mengibarkan bendera liberalisme dalam sastra, muncul sastrawati dari Forum Lingkar Pena (FLP) dengan tokohnya kakak beradik Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, serta Afifah Afra, Izzatul Jannah, yang diperkuat oleh para pengarang seperti Sakti Wibowo, Gola Gong dan lain-lain. FLP mengusung sastra Islami yang kadang disebut juga sastra religius, sastra zikir, sastra transendental, sastra pencerahan. Bagi mereka, sastra yang baik itu harus mencerahkan, mencerdaskan, mengarifkan dengan bahasa yang indah, lembut dan sublim, tanpa gaya menggurui.

Di berbagai acara talk show, ceramah, sarasehan, mereka mengusung tema Menulis Bisa Bikin Kaya. Kaya yang dimaksud di sini adalah kaya dalam pengertian luas, tidak sebatas yang umum dipahami orang awam. Memang bisa juga dimaknai secara material (contoh konkret:  Hilman Hariwijaya, jago ngocol se-Indonesia dengan serial Lupus nya, bisa meraup royalti delapan ratus juta rupiajh (Rp 800.000.000,00) dalam waktu lima tahun) , tetapi lehih diartikan sebagai kaya pikiran, kaya hati, kaya ruhani, kaya spiritualitas, kaya wawasan, kaya pengalaman.

Menurut Korrie Layun Rampan, Sastrawan produktif dekade 80 an yang terus aktif berkarya hingga kini, Sastra Angkatan 2000 memiliki ciri-ciri sebagai benikut:

  1. Pilihan kata diambil dan bahasa sehari-hari yang disebut bahasa“kerakyatjelataan”;.
  1. mengandung revolusi tipografi atau tata wajah yang bebas aturan dan cenderung ke puisi konkret;
  2. Penggunaan estetika baru yang disebut “antroforisme” (gaya bahasa berupa penggantian tokoh manusia sebagai “aku lirik” dengan bendabenda).
  1. Penciptaan interaksi massal dan hal-hal yang bersifat individual;
  2. Komposisi dibangun dalam pengaturan partisipasi benda-benda, peristiwa, pertanyaan aku lirik, dalam perspeksi yang sejajar dan obyektif;
  1. Puisi-puisi profetik (keagamaan/religius) dengan kecenderungan menciptakan penggernbaraan yang lebih konkret melalui alam, rumput atau daun-daun.
  2. Knitik sosial juga masih muncul dengan lebih keras karena kekuatan Orde Baru dan ketidakmenentuan situasi di tahun 2000-an.
  3. Selaras dengan bentuk tipografi baru, banyak diciptakan puisi dengan corak bait atau ‘nirbait’ (tidak rnenggunaan sistem pembuatan bait-bait).
  4. Penggunaan citraan alam benda.
  5. Pergeseran “aktivisme” (cerita/dongeng kuno) dengan pelukisan yang bersifat isoterik (terasing), bercirikan warna lokal dengan inovasi sehingga rnenghi langkan sifat keterasingan.
  6. Penggantian aku lirtik luaran (aku lirik yang bersifat seperti puisi-puisi Chairil Anwar dan penyair sezamannya) ke aku lirik dalaman (lebih bersifat batin).

Rampan dalam Waluyo (2003: hal 164-165)

Pada awal abad XXI (tahun 2000), melalui Penerbit PT Grarnedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), Jakarta, Korrie Layun Rampan meluncurkan buku setebal 782 + iv berjudul Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Dalarn buku tersebut dihimpun 76 sastrawan-sastrawati (57 sastrawan dan 19 sastrawati). Kebanyakan nama-nama mereka belum lama mencuat ke langit sastra Indonesia, rata-rata kelahiran tahun 70-an, itu pun masih banyak yang belum terkaver. Jadi di luar angka 76 tersebut, masih puluhan atau kira-kira sebanyak itu pula nama-nama sastrawan-sastrawati Indonesia yang bisa dimasukkan ke dalam Angkatan 2000.

Pengarang lain yang digolongkan ke dalam Angkatan 2000, antara lain, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosi Herfanda, Dorothea Rosa Herliany, Gus Tf  Sakai, Isbedi Stiawan ZS, Joni Aniadinata, Medy Loekito, M. Shoim Anwar, Nenden Lilis, Oka Rusmini, Radhar Panca Dahana, Sitok Srengenge, Soni Farid Maulana. Taufik lkram Djamil, Wiji Thukul, dan Yanusa Nugroho.

Selain nama di atas, masih sangat banyak nama-nama yang bisa dimasukkan ke dalam “Angkatan 2000”, figur-figur yang aktif berkarya pada tahun-tahun sekitar 2000, sebelum dan sesudahnya baik di tingkat nasional maupun kantong-kantong sastra di daerah dengan kualitas yang memadai. Menyebut beberapa nama bisa disampaikan:

Triyanto Triwikromo, S. Prasetya Utomo, Afifah Afra, Dewi Lestari (terkenal dengan Supernovanya), Fira Basuki (terkenal dengan serial Atap, Pintu, Jendela), Radar Pancadahana, Agus Noor, Abdul Wahid B.S., Ahmad Nurullah, Ahmad Subanudin Alwy, Hamdy Salad, AS Laksana, Almarhum Beni R. Budiman, Cecep Samsul Hadi, Linda Kristianti, Jenar Mahesa Ayu (menulis kumpulan cerpen Mereka Bilang Saya Monyet; Jangan Main-main dengan Kelaminmu, novel Nayla), Herlinatiens (menulis novel Garis Tepi Seorang Lesbian), Joni Ariadinata, Jujur Prananto, Kriapur (mendiang), Medi Lukita, Nenden Lilis A, Omi Intan Naomi, Taufik Ikram Jamil, Ulfatin Ch, Indra Tranggono, Ahmad Munif, Gola Gong, Andrik Purwasita, Sosiawan Leak Eko Tunas, Yant Mujiyanto, Handry TM, Mukti Sutarman SP, dan lain-lain.

Sementara itu ada pula beberapa nama yang dimasukkan oleh Korrie Layun Rampan ke dalam buku Angkatan 2000, padahal mereka sudah berkiprah pada masa-masa sebelumnya. Mereka itu antara lain: Afrizal Malna, Ahmadun Yossi Herfanda, Seno Gumira Ajidarma. Ada pula beberapa nama besar yang tidak tercantum dalarn buku Angkatan 2000 susunan Kornie Layun Rampan meskipun mereka sangat produktif pada sekitar tahun 2000, karena mereka termasuk jago tua, tokoh senior yang sudah malang-melintang pada dekade 90-an atau sebelumnya. Yang termasuk kelompok mi adalah: Remy Sylado yang menulis novel Kembang Jepun, Kerudung Merah Kirmizi (peraih Cakrawala Literary Award berhadiah Rp 50 juta rupiah), Ca Bau Kan, Sam Po Kong, Antologi Senibu Puisi, buku ilmiah 9 dan 10 Kata Indonesia adalah Asing, Taufiq Ismail yang mengawal Reformasi dengan buku antologi puisi yang terkenal Malu Aku Jadi Orang Indonesia (MAJOI), almarhum Abdul Hamid Jabbar dengan antologi puisinya Segerobak Sajak, Indonesiaku, Hamsad Rangkuti yang menerbitkan kumpulan cerpen Sampah Bulan Desember dan Kepala dalam Pispot, K.H. A. Mustofa Bisri dengan antologi puisinya Gandrung, Tadarus, Tikus dan Manusia, Filasafat Benjol, Seno Gurnira Ajidarma yang menulis kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernab Mati, dan lain-lain, Emha Ainun Najib yang di samping banyak menulis karya sastra dan kumpulan kolom juga menulis banyak lirik lagu untuk dinyanyikan grup musik Gamelan Kyai Kanjeng, serta Kuntowijoyo dan Budi Darma yang cerpen-cerpennya banyak dirnuat di harian Kompas edisi Minggu, dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: