Lebih Dekat Dengan Angkatan Balai Pustaka


300px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_'Kiosk_van_'Balai_Poestaka'_te_Poerwokerto.'_TMnr_10000591

Banyak yang tertarik dengan angkatan ini. Entah itu karena memang minat yang besar terhadap karya sastra atu pun sekedar tuntutan tugas kuliah🙂. Agak sulit memang mencari referensi tentang perjalanan angkatan ini, karena selain jarang penerbit sekarang yang mencetak ulang karya mereka, jika ada pun harganya tentu lebih mahal dibanding karya sastra kontemporer (apalagi yang picisan).

Kiranya kita yang telah lama berkecimpung dalam dunia sastra Indonesia, juga yang baru saja mengenal dan mulai tertarik perlu mengetahui kisah perjalanan dan perkembangan sastra Indonesia. Pengetahuan akan hal ini pada gilirannya bisa dimanfaatkan untuk membuat studi banding, sekaligus mengetahui latar belakang kehidupan sosial-politik-kultural yang mendukung terciptanya cipta sastra tersebut. Dengan memahami sejarah sastra Indonesia, kita bisa memperluas wawasan kehidupan kita, mengetahui kemajuan apakah yang telah dicapai para pengarang dan penyair kita, pesatkah atau lamban-lamban saja.

Sebenarnya kita tidak bisa menentukan secara mutlak kapankah tonggak kesusastraan Indonesia mulai dipancangkan. Yang kita ketahui ialah ekspresi kesenian dengan media bahasa yang mulai marak ketika orang begitu bergairah mencipta dengan bahasa bersangkutan.

Hal ini tidak terpancang pada bahasa tulis. Yang diungkapkan secara lisan pun bisa merupakan cipta sastra, sejauh ekspresi itu memenuhi kriteria literir. Namun apabila yang dimaksud karya sastra Indonesia ialah karya-karya imajinatif yang diterbitkan dalam bentuk buku atau media cetak, kita harus menunjuk angka tahun secara pasti.

Roman karya Merari Siregar berjudul Azab dan Sengsara terbit pada tahun 1920, diterbitkan oleh PN Balai Pustaka. Buku ini ditunjuk sebagai awal kebangkitan Angkatan Balai Pustaka. Karena itu, Angkatan Balai Pustaka pun juga dinamai Angkatan 20.

Apakah roman Azab dan Sengsara yang bahasanya banyak unsur bahasa Melayu, mendayu-dayu dan diselingi pantun dan pepatah-pepitih merupakan buku pertama kesusastraan Indonesia? Ada kontroversi di sini. Yang ada ketika itu masih bahasa Melayu ataukah sudah bahasa Indonesia? Kalau tonggak pencanangan bahasa Indonesia ditandai oleh Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, bukankah itu berarti yang ada pada tahun-tahun 20-an  adalah bahasa Melayu? Namun kalau kita pikirkan benar-benar, perkembangan suatu bahasa Indonesia mengalami proses yang cukup panjang. Bersumber dan berindukkan bahasa Melayu, bahasa ini terus menyempurnakan diri dan mempermantap eksistensinya dengan banyak menyerap istilah-istilah dari bahasa asing, memungut kosakata bahasa daerah. Hal ini selaras dengan aktivitas kehidupan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika demikian, bukankah sekitar tahun 20-an merupakan tahun ketika bahasa Indonesia sedang memproses diri?

Ayip Rosidi dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia menyatakan bahwa karya sastra Indonesia adalah segala karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sedangkan perbedaan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu terletak pada adanya semangat dan kesadaran nasionalisme Indonesia, suatu kesadaran untuk merdeka dalam persatuan kebangsaan Indonesia. Semenjak kebangkitan bangsa Indonesia melawan penjajah dengan menjunjung tinggi suatu bahasa persatuan itulah kita menggunakan bahasa Indonesia. Sebelum bangkitnya kesadaran keindonesiaan itu, bahasa yang menjadi cikal bakal dan sumber utama bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu. Jadi, menurut Ayip Rosidi, bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang dijiwai oleh nasionalisme Indonesia. Tanpa jiwa dan semangat tersebut, bahasa tersebut tetaplah merupakan bahasa Melayu.

Sastra Indonesia dengan demikian juga bermuatan jiwa kebangsaan khususnya untuk membedakannya dengan sastra Melayu yang tetap bersuasana Melayu pada awal transisi dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Karya-karya M.R. Muhammad Yamin dan Rustam Effendi, meski masih menampakkan langgam bahasa dan suasana kemelayuan, namun karena di dalamnya mengalir ruh nasionalisme Indonesia bisa kita sebut sastra Indonesia. Di samping itu, yang membedakan sastra Indonesia dengan sastra Melayu ialah adanya faktor kebaruan, baik dalam pengucapan/ekspresi maupun kekaya-rayaan kosakata dan diksi. Walaupun puisi-puisi Amir Hamzah masih bernafaskan Melayu yang bisa kita rasakan dalam pilihan kata-katanya, namun puisi-puisi tersebut tetap kita sebut karya sastra Indonesia karena tingginya tingkat kreativitas yang dimiliki sang penyair yang juga menunjukkan semangat nasionalisme (ke-Indonesiaan).

Sebetulnya, tidak ada benang merah dan relevansi antara Angkatan Balai Pustaka dengan pembinaan nasionalisme, aspirasi kemerdekaan Indonesia, menegakkan keadilan kebenaran dan memerangi kemungkaran dalam maknanya yang militan, apalagi semangat berkobar-kobar mengusir penjajah laknat. Sebagai penerbit pemerintah, Balai Pustaka tidak mau buku-buku yang diterbitkannya menjadi bumerang yang mendeskreditkan boss mereka. Roman-roman Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, serta Katak Hendak Jadi Lembu, Salah Pilih, Karena Mertua, Apa Dayaku Karena Aku Perempuan karya Nur Sutan Iskandar dan yang sejenis dengan itu yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan mengisi khazanah Angkatan Balai Pustaka, karena buku-buku tersebut hanya berbicara tentang pernik-pernik kehidupan rumah tangga biasa, adat kawin paksa, cinta muda-mudi tempo dulu, keculasan dan keserakahan versus kebaik-hatian, sama sekali tidak pernah menyinggung penindasan pembodohan, pemiskinan, sekularisasi yang dilakukan oleh penguasa-penguasa kolonial.

Kalau kita membaca roman Siti Nurbaya, kita justru menemukan sesuatu yang agak janggal jika dipersepsi dengan nasionalisme Indonesia. Nilai didik apa sajakah yang kita temukan dengan penokohan Syamsul Bachri? Begitu putih cinta-kasihnya pada Siti Nurbaya, namun ketika ia menghadapi kenyataan yang sangat getir, yakni karena tak berdaya, dengan sungguh terpaksa kekasihnya menikah dengan Datuk Maringgih, Syamsul Bachri justru “mencari mati” dengan bertindak menjadi Letnan Mas, anggota tentara kerajaan Belanda yang gigih memerangi kaum pemberontak bangsanya sendiri. Demi dendam-kesumat Syamsul Bachri, pengarang, yakni Marah Rusli, merekayasa suatu skenario duel-meet antara Letnan Mas versus Datuk Maringgih yang berakhir dengan maut keduanya. Dengan gagah beraninya Letnan Mas alias Syamsul Bachri yang sakit hati pada Datuk Maringgih yang merebut kekasihnya, menumpas Datuk Maringgih beserta komplotannya yang membelot membayar pajak pada pemerintah kolonial. Apa pun motivasinya, bahwa Syamsul menyerang Sang Jagoan Tua dalam kapasitasnya sebagai tentara Belanda yang berusaha menghancurkan pemberontakan Datuk Maringgih, niscaya tidak bisa dinilai sebagai tindakan terpuji sang patriot dari kacamata Indonesia. Kalau kita cermati, episode ini justru menampakkan sikap pengarang yang kompromistis terhadap aturan main atas karya-karya yang memenuhi syarat Nota Rinkes. Hanya karena kecewa soal cinta, Syamsul Bachri frustrasi berat ingin dijemput maut, lalu masuk dinas militer dan kemudian terkenal sebagai Letnan Mas, lalu merasa berpeluang emas bisa memimpin pasukan untuk menindas pemberontakan yang disulut oleh Datuk Maringgih, musuh besarnya.

Meskipun Datuk Maringgih sendiri tidak digambarkan sebagai pejuang yang militan menghujat pemerintah kolonialis Belanda, namun sebenarnya, ia lebih Indonesia daripada Syamsul Bachri, karena sikap anti terhadap Belanda yang menjajah tanah airnya itu. Tidak peduli pembelotannya membayar pajak pada Belanda itu didorong oleh hasrat agar harta-bendanya tidak berkurang dan semacamnya, namun dengan sikap membelotnya itu, ia sudah menunjukkan keberaniannya untuk tidak taat pada perintah Sang Penjajah, satu sikap yang sebenarnya jauh lebih nasionalistik daripada sikap Syamsul Bachri yang sengaja bergabung dengan Belanda dan sempat menjadi tentara kerajaan sang penjajah. Hanya sayang, Datuk Maringgih bertabiat jelek, licik, menipu temannya sendiri.

Di samping tampil dengan sikap politik yang kompromistis dan berbaik-baik dengan pemerintah kolonial (mungkin ini dilakukan oleh pengarang semata agar karya-karyanya bisa diterbitkan), roman-roman Balai Pustaka didominasi oleh tema-tema sekitar adat kawin paksa, sikap otoriter orang tua dalam menentukan jodoh sang anak, konflik Generasi Muda versus Generasi Tua yang dimenangkan oleh pihak orang tua. Tokoh-tokoh cerita umumnya dilukiskan secara dikotomis hitam-putih, ekstrim; tokoh baik dilukiskan serta sempurna, fisik, penampilan, pandangan hidup, sikap dan moralnya serba baik dan ideal, sebaliknya, tokoh-tokoh jahatnya digambarkan serba jelek dan memuakkan, baik tampang lahiriah maupun moralitasnya, sampai-sampai, penyakit yang diidap tokoh antagonis ini pun merupakan penyakit kotor (tokoh Kasibun dalam Azab dan Sengsara). Pengarang dengan seadanya memotret realitas-realitas sosial yang terjadi ketika itu, dengan visi dan misi yang sejalan dengan politik pemerintah kolonial. Umumnya mereka berani menentang arus atau menjadi oposisi. Mereka menyikapi adat kawin paksa, dominasi orang tua, sistem pendidikan, pola hidup dan budaya bangsa-bangsa Eropa yang menjajah di sini sebagai sesuatu yang wajar, positif, nyaris tanpa sikap kritis, meskipun hati nurani mereka berkata yang sebaliknya.

Situasi itulah yang dominan di antara roman-roman yang model cerita dan karakter tokoh-tokohnya yang sangat stereotip dan klise itu, masih ada sebenarnya novel-novel yang menampakkan kemajuan cara berpikir pengarangnya, dengan wawasan hidupnya yang lebih luas, dengan sikapnya yang moderat dan terbuka, kritis dan proporsional. Darah Muda dari Jamaluddin Adinegoro dan Mencari Pencuri Anak Perawan karya Suman Hs., adalah contoh novel/roman dari angkatan Balai Pustaka yang menghadirkan sikap dan citra baru, benar-benar sudah beranjak dari model cerita roman-roman seangkatan mereka.

Secara berani, Darah Muda menampilkan pola perkawinan campuran Minangkabau – Sunda, suatu perkawinan antara dokter Nurdin dengan guru Rukmini yang dilandasi cinta-kasih yang berurat-berakar di hati mereka. Pengarangnya, yang juga tersohor sebagai wartawan dengan bukunya Melawat ke Barat dan Filsafat Ratu Dunia, sedemikian terkenalnya sebagai Bapak Jurnalis Indonesia, sehingga ada pemenang Adinegoro untuk karya jurnalistik terbaik, melukiskan cerita ke pangkuan takdir, yang mempertemukan Nurdin dan Rukmini di jenjang pelaminan. Padahal, ada upaya yang keras dan tipu muslihat yang culas dari pihak Ibu Nurdin dan Harun yang mendambakan Rukmini, agar sepasang merpati yang saling memendam perasaan khusus itu berpisah. Namun kenyataannya, setelah melalui bermacam liku-liku kehidupan, cerita berakhir dengan kemenangan pihak kawula muda yang melangkah atas landasan cinta-kasih.

Mencari Pencuri Anak Perawan yang dikarang oleh seorang guru yang berjiwa guru (demikian majalah Tempo terbitan 16 Maret 1991 mengistilahkan), menghadirkan gaya dan fenomena detektif yang belum pernah muncul dalam tradisi roman Indonesia. Roman ini pun, yang terbit empat tahun setelah Darah Muda, yakni tahun 1931, akhirnya memberi kemenangan pada tokoh muda (Sir Joon dan Nona) yang saling mencinta. Padahal kita tahu betapa keras usaha Pak Gadi (ayah Nona) dan Tairoo (pemuda yang mengincar Nona dan disukai Pak Gadi) untuk memisahkan mereka yang sebenarnya telah bertunangan (pada mulanya Pak Gadi memang menyetujui kehadiran Sir Joon).

Pak Gadi yang mata duitan dan Tairoo yang memburu Nona dengan mengandalkan harta-bendanya yang melimpah-ruah, sempat dikerjai Sir Joon yang cerdik/banyak akal. Raibnya Nona secara misterius dikesani terjadi karena ulah Pak Gadi sendiri yang menginginkan mahar yang lebih banyak dari calon menantunya (demikian Sir Joon memberi analisis pada Tairoo), bisa pula merupakan perbuatan licik Tairoo untuk membujuk Nona yang berkeberatan menikah dengannya (demikian Sir Joon berlogika pada Pak Gadi). Akibatnya, orang tua dan calon menantunya itu saling curiga. Padahal, semua itu salah! Siapa mengira bahwa penculikan itu justru merupakan perbuatan Sir Joon sendiri (Nona kemudian disembunyikan di rumah seorang janda tua yang baik hati di pinggir kampung), padahal waktu itu, ia habis mengobati cedera kaki dalam suatu pertandingan sepakbola. Itulah roman detektif pertama yang kita miliki. Di sini benar-benar ada suspens, aspek kriminalitas, sejumlah penalaran, yang merupakan penanda roman detektif. Di sini, aspirasi kaum muda nampak berjaya, yang menunjukkan kecenderungan pengarang pada dinamika daripada status quo Sir Joon akhirnya menikah dengan Nona dan merintis kehidupan yang layak di Singapura, di negeri rantau.

Sementara itu, Abdul Muis tampil secara cemerlang dengan tema cerita dan wawasan estetik baru dalam roman Salah Asuhan, yang menampakkan beberapa kemajuan dan keistimewaan dibandingkan Siti Nurbaya dan Azab dan Sengsara, pendahulunya. Di sana dikisahkan Hanafi, pemuda Indonesia, yang mengalami salah asuhan, karena kegila-gilaannya pada yang serba barat, yang menjebaknya untuk hanya sampai pada hal-hal yang lahiriah, hanya pada kulit luar dan permukaan, bukan pada substansinya. Muncullah di sana Hanafi yang kebelanda-belandaan dalam gaya dan cara berpakaiannya, hobi dan seleranya. Ini sangat berbeda dengan nilai-nilai barat yang ditransformasikan secara cukup kreatif oleh Sutan Takdir Alisyahbana, pelopor Angkatan Pujangga Baru yang menangkap barat lebih pada jiwa dan intelektualitasnya.

Barat dalam pandangan Hanafi lebih pada penampilan fisik, kebanggaan pretise untuk menutupi inferioritasnya sebagai orang timur. Karena itu, ia kemudian berpacaran dengan Corrie Du Busse, gadis Indo – Prancis, lalu menikahi gadis itu, agar benar-benar menjadi barat. Teman pergaulannya adalah orang-orang barat, pola hidup dan kebiasaannya, ia sesuaikan dengan cara hidup orang barat. Ia lakukan semua itu dengan sangat radikal, sehingga benar-benar runyamlah segalanya. Ia lecehkan adat-istiadat kampungnya sendiri, ia terlantarkan anak-istrinya sendiri, ia tinggalkan dan durhakai ibu kandungnya sendiri.

Sangat berbeda dengan roman-roman Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya dan semacamnya, tidak lagi mengacu ke ciri-ciri kemelayuan. Tema yang digarap Abdul Muis sudah menjurus ke persoalan sosial-politik dengan sudut pandang seorang nasionalis.

Tampil dengan sikap politik dan budaya yang jelas memihak bangsanya, Abdul Muis menyulut api konflik dan benturan kultural antara barat yang liberal dan longgar moral dengan timur yang masih setia menjaga adat, akhlak dan iman. Barat diwakili oleh masyarakat Belanda, kehidupan keluarga Corrie, gaya hidup dan tingkah polah Hanafi yang lebih barat daripada orang barat sendiri. Sedangkan timur diwakili oleh ibu Hanafi, Rapiah istrinya, ninik-mamak Hanafi dan orang-orang kampung yang memegang teguh adat yang bersendi syarak dan kitabullah. Di satu sisi, Abdul Muis mencuatkan citra, bahwa kehidupan ibu Hanafi dan Rapiah begitu sederhana, kuna, kolot, ketinggalan zaman, namun di balik pencitraan yang demikian, ada nada sinis terhadap liberalitas dan gaya hidup hedonistik yang kemudian mendarah daging dalam kehidupan Hanafi.

Sinisme itu sungguh bisa kita amati, pada bagaimana Abdul Muis melukiskan kehancuran hidup Hanafi. Perkawinan Hanafi dengan Corrie yang jauh dari restu orang tua dan menyalahi adat-istiadat daerah, merupakan potret kehidupan yang penuh petaka. Segala salah asuhannya Hanafi pada gilirannya menjadi bumerang yang menghantam diri Hanafi sendiri.

Ending cerita yang tragik, yakni bunuh dirinya Hanafi karena terlanda stress berat akibat kematian Corrie yang merana dan ia tidak diterima di lingkungan adat ketika kembali, mencerminkan sikap pengarang yang oposan barat. Di sini pengarang memanfaatkan tragedi Hanafi sebagai kaca benggala, bahwa begitulah akibat orang menerlantarkan anak-istri dan mendurhakai ibu, melecehkan adat-istiadat. Tersirat suatu penilaian dan “message” di sana, bahwa pendidikan dan kultur barat itu tidak selamanya baik, bahwa sikap orang-orang tua dan orang-orang kampung yang mengesankan out of date itu, ternyata juga menyimpan kearifan tertentu dan keluhuran yang sungguh tidak layak dianginlalukan.

Bahasa, lukisan setting dan peristiwa dalam Salah Asuhan termasuk baru. Ia tidak lagi berasyik-asyik dengan jiwa kemelayuan yang penuh pepatah-petitih sebagaimana Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat. Ia tidak hanyut oleh selera massa dan kemauan penguasa, berani tampil mandiri menentang arus mengunjukkan diri sebagai karya yang berpribadi. Salah Asuhan merupakan novel hati nurani, karena dalam novel ini, pengarang yang juga salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, berhasil tampil otentik, mampu menyuarakan kebenaran sesuai aspirasi hati-nuraninya, jauh dari sekadar upaya agar karangannya bisa naik cetak di Balai Pustaka.

Sifat revolusioner demikian, merupakan sesuatu yang baru untuk ukuran Balai Pustaka 1927. Teknik penceritaan yang lebih singkat dan padat dibandingkan karya-karya pendahulu dan sesamanya, lukisan karakter tokoh-tokohnya yang hidup dan kena – Hanafi yang mabuk oleh kemodernan dirinya sendiri, Corrie yang liberal, namun cukup setia ketika menjadi Nyonya Hanafi, ibu Hanafi dan Rapiah yang mewakili budaya timur dan figur pemegang teguh adat dan agama – memperkuat novel ini. Konflik yang terjadi antara Hanafi dan ibunya, Hanafi dengan Corrie, Hanafi dengan lingkungan adat, dilukiskan oleh Abdul Muis secara sugestif.

Dalam bidang sanjak, muncul dua tokoh pada periode awal, yang kemudian lebih terkenal sebagai Bapak Soneta Indonesia yakni Rustam Efendi dan Mr. Muhammad Yamin. Rustam terkenal sebagai pembaharu dalam bidang puisi dan merintis penulisan drama bersajak, juga aktif dalam bidang politik sebagai senator dari sayap kiri sedangkan Yamin memelopori penulisan soneta dalam sastra Indonesia, merintis penerjemahan atas sastra dunia, juga terkenal sebagai salah seorang penggali Pancasila dan anggota Panitia Sembilan Pendiri Negara Kedaulatan Republik Indonesia (Founding Father).

Rustam Effendi dengan kumpulan puisinya Percikan Permenungan dan drama bersanjaknya Bebassari, telah menghembuskan nafas kebaruan dalam sastra Indonesia dengan soneta-sonetanya, dengan naskah dramanya yang dipuisikan, dengan isi yang mengeluh dan memberontak, menyuarakan arus bawah, menghujat penguasa yang zalim.

Ada percikan api nasionalisme dalam sanjak-sanjak Rustam Efendi, pemberontakan jiwa yang terjajah, yang mendambakan kemerdekaan dan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan yang adil dan beradab. Baik Percikan Permenungan maupun Bebassari sama-sama menghadirkan dimensi sosial-politik, ada keberanian menyuarakan aspirasi jiwa yang bebas merdeka dari segenap rantai penjajahan. Dengan ungkapan-ungkapan simboliknya, karya Rustam itu terasa benar mendedahkan kesadaran patriotisme, suatu kecintaan yang mendalam terhadap tanah air Indonesia.

Sementara itu, di dalam soneta-sonetanya, roman dan naskah dramanya, Mr. Muhammad Yamin pun banyak berbicara tentang aspirasi kebangsaan, penyadaran tentang keindahan dan kebesaran tanah tumpah darah, kerinduan tercapainya kemerdekaan. Ditulisnya kumpulan puisi Tanah Air dengan nomor-nomor sanjaknya seperti Bandi Mataram, Gembala, Indonesia Tumpah Darahku, dengan lukisan-lukisan alamnya yang cermat penuh kekaguman terhadap keindahan panorama pantai dan gunung-gunung, sebagai ekspresi, kecintaannya yang mendalam terhadap tanah air tercinta. Dengan romannya Gajah Mada, Pangeran Diponegoro, Yamin berusaha mengambil hikmah kejayaan masa silam. Ia juga menulis drama-drama berlatar sejarah yang lain, yakni Ken Angrok dan Ken Dedes. Kalau Dewi Tara Sudah Bertahta serta menerjemahkan karya Rabindranath Tagore berjudul Menantikan Surat dari Raja dan Di dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga.

Puisi-puisi karya Muhammad Yamin dan para penyair lain seangkatannya, kebanyakan berbentuk soneta, di samping sanjak-sanjak baru yang lain, dari distikon sampai septime. Sanjak-sanjak itu sangat kuat menampakkan gaya kemelayuan yang berirama merdu/ritmis dan mendayu-dayu, sangat dekat dengan lingkungan flora dan fauna. Puisi-puisi itu terasa juga mengungkapkan pengalaman-pengalaman batin yang punya nilai humanitas dan regiulisitas.

ANGKATAN BALAI PUSTAKA adalah nama kelompok sastrawan dan karya-karyanya berdasarkan ciri-cirinya yang didominasi sifat-sifat kemelayuan dalam bahasanya, adanya potret sosial yang menjunjung tinggi tradisi dengan tema-tema pertentangan adat dan kawin paksa, kecenderungan didaktis, serta bebas dari unsur-unsur politik dan agama. Hal ini selaras benar dengan isi nota Rinkes yang merupakan prasyarat bagi karya-karya sastra masa itu. Agar dapat menembus tembok penerbit Balai Pustaka, yakni:

Netral dari misi dan ajaran agama.

Netral dari percaturan/propaganda politik.

Memiliki nilai didik/bersifat edukatif.

Penamaan Angkatan Balai Pustaka terjadi karena karya-karya mereka dimuat dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, dengan catatan, tidak setiap pengarang yang bukunya diterbitkan oleh Balai Pustaka pasti disebut sebagai sastrawan Angkatan Balai Pustaka. Kita mesti melihat isi dan masanya lebih dulu, sebab sampai sekarang pun penerbit Balai Pustaka masih menerbitkan buku-buku sastra, sebagaimana Pustaka Jaya, Gramedia Pustaka Utama, Pustaka Firdaus, Pustaka Mizan, Bentang Budaya, Navila, dan sebagainya. Angkatan Balai Pustaka hanya merupakan periode sastra antara tahun 1920-1933.

Sebagai penutup uraian tentang sastra sebelum perang disebut di sini dua orang pengarang yang karyanya merupakan tonggak sejarah dalam perkembangan sastra Indonesia Modern yakni Amir Hamzah dengan puisinya Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi serta Armjin Pane dengan novelnya Belenggu.

Dalam bukunya tentang Amir Hamzah, H.B. Jassin, kritikus utama sastra Indonesia menyebut Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (1962). Penyair muda yang berbakat ini di masa revolusi pada tahun 1946  telah terbunuh oleh sekelompok pemuda di daerah Binjai, karena ia termasuk keluarga bangsawan kerajaan Langkat, Sumatera Utara. Sungguh suatu peristiwa tragis dan ironis bahwa sebagai penyair nasionalisme yang sepenuhnya menjiwai cita-cita kebangsaan itu harus meninggal karena kesalahpahaman dan ketidaktahuan. Akan tetapi, Teeuw menyebutkan bahwa kematiannya merupakan lambang pengurbanannya dalam perbenturan antara adat serta kewajiban tradisi di satu pihak dan kebebasan individu di lain pihak yang telah dijalani oleh Amir Hamzah seperti yang terlihat dalam puisinya.

Karya Amir Hamzah dijiwai oleh rasa ketuhanan yang amat mendalam dan dipengaruhi oleh karya pujangga sufi Persia. Pengetahuannya yang luas mengenai sastra, bahasa, dan kebudayaan daerahnya  memberi warna yang khas kepada sajak-sajaknya. Salah satu sumbangannya yang terbesar ialah bahwa ia telah berhasil menciptakan gaya bahasa yang baru dalam karyanya, dengan kepadatan dan ketajaman ekspresi yang sebelumnya tidak pernah dihasilkan penyair lain, sekaliber Muhammad Yamin, atau Sutan Takdir Alisyahbana. Hal ini dikatakan oleh Chairil Anwar dalam suatu pembicaraannya (Jassin, 1962:7). Dengan demikian ia telah membuktikan bahwa bahasa Indonesia memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk dikembangkan menjadi sarana ekspresi sastra modern.

Belenggu, hasil cipta sastra Armijn Pane mula-mula ditolak oleh Balai Pustaka karena isinya tidak sesuai dengan paham-paham konvensional yang dianut oleh para pengarah Balai Pustaka. Setelah dipublikasikan dalam Poejangga Baru pun novel tersebut menimbulkan banyak reaksi yang menentang, khususnya karena dianggap tidak sesuai dengan norma susila Indonesia.

  1. PARA SASTRAWAN ANGKATAN BALAI PUSTAKA

Sastrawan yang termasuk Angkatan Balai Pustaka antara lain :

Merari Siregar, dilahirkan di Siporok, Sumatera Utara, 13 Juni 1896, meninggal di Kali Anget, Madura, 23 April 1940, terkenal dengan bukunya:

Azab dan Sengsara (roman, 1920)

Si Jamin dan Si Johan (cerita saduran dari Uit het Volk karya Justus van Maurik,1918)

Marah Rusli, kelahiran Padang, 7 Agustus 1889, meninggal di Bandung, 17 Januari 1968. Kakek musikus tersohor almarhum Harry Rusli. Terkenal  dengan karya monumentalnya Siti Nurbaya (roman, 1922). Mendapatkan hadiah dari pemerintah R. I.  1969. Karya-karyanya yang lain La Hami (roman, 1952), Anak dan Kemenakan (novel, 1956), Memang Jodoh. Serta terjemahan Gadis yang Malang(novel Charles Dickens, 1922)

Rustam Efendi, lahir di Padang, 13 Mei 1903, meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1979. Terkenal dengan bukunya :

Percikan Permenungan (kumpulan bersajak, 1926)

Bebassari (drama bersajak, 1926), drama pertama sastra Indonesia modern.

Muhammad Yamin, dilahirkan di Sawahlunto, Sumatra Barat, 23 Agustus 1903, meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1968. Tersohor dengan karya-karyanya :

Tanah Air (kumpulan sanjak, 1822)

Gajah Mada (roman sejarah)

Enam Ratus Tahun Sang Merah Putih (karya ilmiah)

Menantikan Surat dari Raja (drama terjemahan karya Rahindranath Tagore, 1828)

Indonesia Tumpah Darahku (kumpulan puisi, 1928)

Kalau Dewi Tara sudah Bertahta (drama, 1934)

Ken Arok dan Ken Dedes (drama, 1934)

Di dalam dan di luar Lingkungan Rumah Tangga (terjemahan drama Rabindranath Tagore, 1933)

Julius Caesar (terjemahan drama William Shakespeare, 1951)

Mr. Muhammad Yamin adalah salah seorang di antara Nine Founding Father (Sembilan Bapak Pendiri) Republik Indonesia, pengupas sila-sila Pancasila sebelum pidato Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 oleh Bung Karno. Bersama Rustam Effendi . Muhammad Yamin dijuluki Bapak Soneta Indonesia.

Abdul Muis, dilahirkan di Solok, Sumatera Barat, 1886, meninggal di Bandung, 17 Juli 1959, terkenal dengan romannya Salah Asuhan (1928), yang kemudian difilmkan oleh Asrul Sani pada tahun 1952. Karya-karyanya yang lain: Suropati(1950) dan Robert Anak Suropati (1953), keduanya roman sejarah, novel Pertemuan Jodoh (1933). Abdul Muis yang pernah menjadi tokoh dalam Perhimpunan Indonesia dan juga mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional ini pernah aktif sebagai penerjemah. Buku-buku terjemahannya antara lain: novel Don Kisot (karya Cervantes, 1923), Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932), Tom, Sawywer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928), Tanah Airku (karya C. Swaan Korpman, 1950)

Muhammad Kasim, kelahiran Muara Sipongi, Sumatera Utara, 1886. Terkenal dengan buku kumpulan cerpennya Teman Duduk (1936) serta Si Samin yang mendapat hadiah dalam Sayembara Buku Anak-Anak Balai Pustaka tahun 1924. Pada tahun 1928, buku ini terbit lagi dengan judul Pemandangan dalam Dunia Kanak-kanak.

Dianggap sebagai pelopor penulisan cerpen Indonesia, Muhammad Kasim juga menulis kumpulan cerpen Bertengkar Berbisik dan Buah di Kebun Kopi. Ia juga menulis novel Muda Teruna(1922), serta menerjemahkan Niki Bahtera (1920) dan Pangeran Hindi (1931).

Aman Datuk Madjoindo, lahir di Solok, Sumatera Barat, 1896, meninggal di Jakarta, 16 September 1969. Aman menulis roman Si Doel Anak Betawi(1956), difilmkan oleh Syumanjaya tahun 1972 dan Si Cebol Rindukan Bulan(1934). Karya-karyanya yang lain antara lain, novel Menebus Dosa (1932), Sampaikan Salamku Padanya(1935), Hikayat Si Miskin (1958), Cindur Mata(1951), Sejarah Melayu (1959).

Jamaluddin Adinegoro, dilahirkan di Tawali, Sumatera Barat 14 Agustus 1904, meninggal di Jakarta 8 Januari 1967. Terkenal sebagai Bapak Wartawan Indonesia (oleh karena itu penghargaan untuk prestasi bidang jurnalistik disebut Hadiah Adinegoro). Ia menulis kisah Melawat ke Barat (1930). Sebagai cendekiawan, ia menulis karya ilmiah Revolusi dan Kebudayaan (1954), Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia(1954), Ilmu Karang-Mengarang, dan Falsafah Ratu Dunia. Novel-novelnya yang terkenal berjudul Darah Muda (1927) dan Asmara Jaya (1928).

Tulis Sutan Sati lahir di Bukittinggi, 1989, meninggal di Jakarta 1942 menceritakan kembali Sabai nan Aluih(1929) dan menulis roman Sengsara Membawa Nikmat(1928) dan Memutuskan Pertalian(1932). Karya-karyanya yang lain: novel Tak Disangka (1929), Tidak Membalas Guna(1933), Syair Siti Murhumah yang Saleh (1930).

Nur Sutan Iskandar, dilahirkan di Sungai Batang Maninjau, Sumatera Barat, 3 November 1893, meninggal di Jakarta, 28 November 1975. Di samping pengarang, juga redaktur Balai Pustaka dan penerjemah. Buku-buku yang ditulisnya antara lain :

Karena Mentua (roman adat, 1932)

Katak Hendak Jadi Lembu (roman simbolik, 1934)

Hulubalang Raja (roman sejarah, 1934)

Apa Dayaku Karena Aku Perempuan (roman sosial, 1922)

Neraka Dunia (roman sosial, 1937)

Salah Pilih (roman adat, 1928)

Mutiara (novel, 1946)

Jangir Bali (novel, 1946)

Ujian Masa (1932)

Bersama pengarang-pengarang lain Nur Sutan Iskandar  menulis roman:

Tuba Dibalas dengan Air Susu (bersama Asmaradewi, 1933)

Dewi Rimba (bersama M. Dahlan, 1935)

Cinta dan Kewajiban (bersama L. Wairata, 1944)

Sebagai penerjemah, Nur Sutan Iskandar meluncurkan buku:

Abu Nawas

Belut Kena Ranjau (karya Baronese Orczy, 1928)

Tiga Panglima Perang (karya Alexander Dumas, 1925)

Gudang Intan Nabi Sulaiman (karya Rider Haggord)

Lantaran produktivitasnya yang sangat tinggi, untuk ukuran masa itu, Nur Sutan Iskandar diberi julukan “Raja Pengarang Angkatan Balai Pustaka”

sumber:

1. Simandjutak, B. Simorangkir. 1953. Kesusasteraan Indonesia 2. Jakarta: Yayasan Pembangunan Jakarta

2. Simandjutak, B. Simorangkir. 1961. Kesusasteraan Indonesia 3. Jakarta: Yayasan Pembangunan Jakarta

3. Soetarno. 1967. Dasar Seni: Sastra Indonesia (Teori Sastra). Surakarta: Widya Duta

4. Mujiyantono, Yan dan Amir Fuadi. 2006. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Surakarta: UNS Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: