Archive for Februari, 2015

Belenggu: Cara Armijn Pane Mendobrak “Pakem”

Belenggu_cover

Pengarang        : Armijn Pane (18 Agustus 1908 – 6 Februari 1970)

Penerbit           : Dian Rakyat

Tahun              : 1940; Cetakan Xlll, 1988

Ringkasan:

Dokter Sukartono (Tono) adalah seorang dokter yang bijaksana. Ia tak pernah meminta bayaran apabila pasiennya adalah orang tidak mampu, hingga ia dikenal sebagai dokter yang dermawan. Selain itu, ia mempunyai sifat ramah terhadap siapa saja yang dikenalnya. Namun, karena kesibukanmya sebagai dokter, Tono hampir tak mempunyai waktu untuk memberi perhatian kepada Tini (Sumartini), istrinya. Tini yang merasa tidak mendapat perhatian dari suaminya, mencari kesibukan di luar rumah. Akibat kesibukan mereka, Tono dan Tini jarang mempunyai waktu bersama-sama. Hal ini menimbulkan akibat lain, mereka tldak dapat mengkomunikasikan pikiran masing-masing. Masalah-masalah yang timbul sering hanya dipikirkan sendiri-sendiri sehingga timbul kesalahpahaman yang serlng menimbulkan pertengkaran yang mewarnai rumah tangga mereka.

Pandangan Tono dan Tini juga berbeda dalam hubungan suami-istri. Tono berpendapat, tugas seorang wanita adalah mengurus anak, suami, dan segala hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Sebaliknya, Tini menginginkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita. Bahkan, Baca lebih lanjut

Iklan

Kwartet Pujangga Baru

Pujangga baru lahir dari tekad bahwa bahasa dan kesusastraan Indonesia harus dibuat maju, berkembang, membawakan ciri keindonesiaan yang lebih merdeka, dinamis, dan intelektual.

Kwartet berikut dikenal sebagai ujung tombak Angkatan Pujangga Baru:

Sutan Takdir Alisyahbana, kelahiran Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, meninggal di Jakarta, 17 Juli 1986. Pujangga ini seorang ilmuwan dan filsuf bergelar Sarjana Hukum, Doktor Honoris Causa dan professor. Ia sangat terkenal dengan roman bertendennya Layar Terkembang(1936). Roman-romannya yang lain: Dian nan Tak Kunjung Padam(1932), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940). Baca lebih lanjut

Chairil Anwar: Derai-Derai Cemara

chairil anwar

DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari jadi akan malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah lama bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah jauh dari cinta-sekolah-rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhimya kita menyerah.

1949

Chairil Anwar

sumber: Kakilangit  6/April/1997  hal 4

Lebih Dekat Dengan Angkatan Balai Pustaka

300px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_'Kiosk_van_'Balai_Poestaka'_te_Poerwokerto.'_TMnr_10000591

Banyak yang tertarik dengan angkatan ini. Entah itu karena memang minat yang besar terhadap karya sastra atu pun sekedar tuntutan tugas kuliah :-). Agak sulit memang mencari referensi tentang perjalanan angkatan ini, karena selain jarang penerbit sekarang yang mencetak ulang karya mereka, jika ada pun harganya tentu lebih mahal dibanding karya sastra kontemporer (apalagi yang picisan).

Kiranya kita yang telah lama berkecimpung dalam dunia sastra Indonesia, juga yang baru saja mengenal dan mulai tertarik perlu mengetahui kisah perjalanan dan perkembangan sastra Indonesia. Pengetahuan akan hal ini pada gilirannya bisa dimanfaatkan untuk membuat studi banding, sekaligus mengetahui latar belakang kehidupan sosial-politik-kultural yang mendukung terciptanya cipta sastra tersebut. Dengan memahami sejarah sastra Indonesia, kita bisa memperluas wawasan kehidupan kita, mengetahui kemajuan apakah yang telah dicapai para pengarang dan penyair kita, pesatkah atau lamban-lamban saja. Baca lebih lanjut

Atheis: Sebuah Avant Garde dekade 50-an

            Akan hal roman Atheis karya Achdiat Kartamihardja yang terbit dan langsung meroket pada dekade 50-an, kita pun sungguh bisa menemukan ke-avantgarde-annya, sesuatu yang tidak kita jumpai baik pada Salah Asuhan maupun Belenggu. Tema dan ide cerita yang dikedepankan pengarang tidak tanggung-tanggung: ideologi komunisme beserta seabrek segi kenegatifannya. Komunisme dalam roman Atheis bukan sebagai latar belakang cerita, melainkan benar-benar sebagai materi pokok yang dibahas secara mendalam, demikian mendalamnya pengarapan ideologi yang punya gaung internasional itu, sehingga rasanya, Atheis bisa dijadikan sebagai salah satu referen manakala kita ingin mengadakan studi tentang komunisme.

            Untuk bisa menulis roman seberbobot Atheis, pengarang tidak mungkin hanya Baca lebih lanjut

Ulasan Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”

tenggelamnya-kapal-van-der-wijck

Poster Promo Versi Film

 

Hari Jumat dan Sabtu tanggal 13-14 Februari 2015, salah satu stasiun TV swasta Indonesia menayangkan sebuah film yang mengambil cerita dari satu novel Hamka yang cukup terkenal “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Awalnya, saya tidak tertarik untuk menonton film ini sewaktu pertama kali ditayangkan di bioskop. Namun, ketika mengetahui film ini ditayangkan di TV (gratis tentunya), saya pun “terpaksa menonton meskipun tidak secara penuh.

Begitu mengikuti beberapa scene film ini, saya pun teringat dengan novelnya yang saya baca sekitar 12 tahun yang lalu semasa masih aktif kuliah. Hmmm, filmnya memang menarik, tapi rasanya lebih gereget novelnya (kalau gak percaya, sila baca saja sendiri). Ya, seperti biasanya ketika sebuah novel dibuat versi filmnya, tentu sisi entertain-komersilnya lebih dikedepankan meski tidak merusak alur tentunya). Seperti halnya film Soekarno yang (maaf) “menjijikkan” bagi saya. Bahkan, film ini pun mendapat protes keras dari salah satu putri Presiden RI pertama ini.

Kembali ke “Kapal Van Der Wijck”. Untuk yang penasaran atau ingin mengingat kembali seperti apa cerita “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, berikut ringkasan dari novel karya Hamka ini: Baca lebih lanjut