Archive for Februari, 2014

O. Seno Gamira Ajidarma : Manusia Kamar

Nama yang layak di catat sebagai pengarang avanta garde setelah periode danarto adalah Seno Gumira Ajidarma, disamping Hamsad Rangkuti, Hamid Jabbar, dan lain-lain. Manusia Kamar, cerpen Seno yang juga digunakan sebagai judul buku kumpulan cerpen, memperlihatkan tragedi manusia modern yang selalu merasa terteror oleh keadaan sekeliling yang dianggap penuh penipuan, kemunafikan, kriminalitas dan kemaksiatan. Jadilah sang pelaku utama sebagai manusia yang terbelenggu oleh dirinya sendiri, karena ia selalu berikhtiar sesedikit dan sesebentar mungkin berkomunikasi dengan orang lain. Ia tenggelamkan dirinya di kamar untuk waktu tidak terbatas.

Namun, tinggal di kamar di sebuah rumah yang hanya berpintu satu, sang tokoh ternyata sempat mencatat prestasi cemerlang dan meraih keterkenalan dalam bidang penulisan dan karang-mengarang, sesuatu yang rasanya nyaris nonsens. Disamping itu ia pun tidak pernah ketinggalan zaman. Ia bisa hidup mewah dengan peralatan rumah tangga serba modern serta tak pernah mengalami kesulitan dalam hal-hal keseharian. Ia selalu aktif menyerap lalu-lint Baca lebih lanjut

Iklan

Sekilas J. Iwan Simantupang

J. Iwan Simantupang

Kejutan lain tentu kita rasakan manakala kita menekuni novel-novel Iwan Simantupang. Novel-novel Iwan adalah novelisme, pengaruh pikiran-pikiran barat ( Nietshe, Albert Camas, Y.P. Sastra. Sikap radikal dan njlist menghadapi hidup, sikap jumawa menghadapi penderitaan dan keterasingan, sehingga tragedi pun terasa indah, diungkapkan sang novelis dalam bahasa yang pada, sugestif, efektif, ekspresif, dengan maju mundur dan meloncat-loncat.

Novel Iwan adalah novel keindahan tragedi. Tokoh utama novel-novel Iwam adalah orang-orang yang dipencundangi nasib celaka dan babak belur oleh gencatan kehidupan yang keras, namum mereka tidak memelangsai semua itu. Tokoh kita ciptaan Iwan adalah orang-orang yang tetap survive kendati tidak makan berminggu-minggu, sanggup melakukan hal-hal yang tidak umum, bisa secara mutlak menyertai prinsip hidup yang nyleneh. Ketaataan beribadah memang tidak nampak dalam perjalanan hidup tokoh-tokoh Iwan,- kecuali Maris pada penghujung novel Merahnya Merah yang menjadi biarawati itu – namum pengakuan keterbatasan manusia dihadapkan ALKhalikm tetap kita jumpai di sana. Di samping kediriaanya yang perkasa, tokoh-tokoh Iwan juga terbuka berbagai kelemahan.

Iwan memang tepat disebut sebagai masternya fiksi susastra absur Indonesia. Telah ia ciptakan sastra sebagai duna jungkir balik dan terror mental sebelum Budi Darma dan PutuWijaya melakukannya. Kehadirannya telah Baca lebih lanjut

Puisi: Perahu Kertas

PERAHU KERTAS

Sapardi Djoko Damono

 

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan

kaulayarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang,

dan perahumu bergoyang menuju lautan.

 

“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang

lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan ber-

bagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau

pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang

tak pernah lepas dari rindumu itu.

 

Akhirnya kaudengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir

besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Cerpen: TIGA SAHABAT HEBAT

TIGA SAHABAT HEBAT

Karya: Aprilia Diah Ayu Kusumaningrum*)

            Sang surya mulai menampakkan wajahnya. Perlahan merayap ke tepian langit. Kemilau cahaya menerangi langit, embun membasahi dedaunan, ayam jantan mulai bersahutan menyapa pagi ini. Seolah menyapa Atifa.

Atifa tinggal di Desa Maringgai, ayahnya bernama pak Joko bekerja sebagai petani, sementara ibunya, Bu Sri sehari-harinya berdagang sayuran di pasar. Seringkali Atifa membantu ibunya berjualan. Mereka adalah keluarga yang sederhana namun penuh kebahagiaan.

Atifa sudah ditunggu oleh teman-temannya, Sheril dan Arya. Mereka menamakan diri sebagai Tiga Serangkai.

“Atifa berangkat dulu. Assalamualaikum!” Atifa berpamitan

waalaikum salam, hati-hati di jalan!” jawab ibu Atifa.

***

            Tepat pukul 07.00, ketiganya pun bersegera masuk ke dalam kelas. Hari ini Baca lebih lanjut

“Sulalatu’ssalatina” Sejarah Melayu Lama

SULALATU’SSALATINA
Malam ini, tergoda saya untuk membongkar kembali isi rak buku yang di dalamnya tersusun buku-buku berwarna coklat karena usia. Sebuah buku dengan ukuran biasa terbitan tahun ’67 akhirnya menjadi pilihan untuk menjadi pengantar awal malam ini.
*****]-[*****
Sulalat’ssalatina atau sejarah melayu merupakan salah satu karya sastra yang berkategori Sejarah. Ditulis  pada tahun 1612 oleh Tun Muhammad seorang bendahara malaka yang terkenal juga sebagai Tun Seri Lanang.
Sebenarnya, ada yang berpendapat bahwa inti sejarah melayu telah terkarang sejak tahun 1511, akan tetapi baru secara lisan. Tercatat baru pada tahun 1536 sejarah melayu telah terbentuk menjadi sebuah manuskrip yang dikenal dengan Raffles manuscript 18 atau Codexorientalis 1704 [London].
Isi dari “sulalatu’ssalatina” dapat dikelompokkan menjadi dua bagian:
a. Sepertiga bagian pertama berupa dongeng tentang asal-usul bangsa melayu yang dihubungkan dengan Sultan Iskandar Zulkarnain dari Macedonia [mistis].
b. Dua pertiga bagian selanjutnya menceritakan tentang terbentuknya kerajaan malaka, masa keemasan malaka, dan kejatuhan kerajaan malaka karena penyerangan oleh Portugis pada tahun 1511 [historis]. Di dalam bagian ini pula, banyak terdapat dongeng-dongeng yang beredar di masyarakat setempat [legenda] seperti cerita berdirinya malaka, asal nama singapura, cerita batu-belah, dal sebagainya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam buku sejarah melayu terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
– Cerita mistis
– Cerita historis
– Cerita legenda
Dalam buku ini disebut-sebut pula tokoh Hang Tuah. Secara keseluruhan, buku ini terdiri dari 34 pasal dan 4 pasal tambahan oleh anak Tun Seri Lanang.
Meskipun berkategori sejarah, buku ini bukanlah buku sejarah dalam arti sekarang. Sulalatu’ssalatina banyak mencampuradukkan cerita sejarah dengan cerita mistis dan legenda. Bahkan buku ini tidak memuat penanggalan dalam alur cerita sejarahnya. Meskipun demikian,  buku ini merupakan salah satu buku yang mengasyikkan untuk dibaca, karena dengan jabatannya, Tun Muhammad mampu menceritakan seluk beluk kehidupan dan keadaan melayu pada saat itu.
Untuk generasi sekarang, Sulalat’ssalatina memiliki peranan penting, karena menjadi salah satu sumber pokok dari penulisan sejarah dan kebudayaan melayu lama.

Sumber: Peristiwa Sastra Melayu Lama oleh Drs. Soetarno

“SALAH ASUHAN” Barat vs Timur Ala Abdul Muis

“SALAH ASUHAN”  BARAT VS TIMUR ALA ABDUL MUIS

Sangat berbeda dengan roman-roman Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya dan semacamnya, karya Asbdul Muis yang cemerlang ini tidak lagi mengacu ke ciri-ciri kemelayuan. Tema yang digarap Abdul Muis sudah menjurus ke persoalan sosial-politik dengan sudut pandang seorang nasionalis.
Tampil dengan sikap politik dan budaya yang jelas memihak bangsanya, Abdul Muis menyulut api konflik dan benturan kultural antara barat yang liberal dan longgar moral dengan timur yang masih setia menjaga adat, akhlak dan iman. Barat diwakili oleh masyarakat Belanda, kehidupan keluarga Corrie, gaya hidup dan tingkah polah Hanafi yang lebih barat daripada orang barat sendiri. Sedangkan timur diwakili oleh ibu Hanafi, Rapiah istrinya, ninik-mamak Hanafi dan orang-orang kampung yang memegang teguh adat yang bersendi syarak dan kitabullah. Di satu sisi, Abdul Muis mencuatkan citra, bahwa kehidupan ibu Hanafi dan Rapiah begitu sederhana, kuna, kolot, ketinggalan zaman, namun di balik pencitraan yang demikian, ada nada sinis terhadap liberalitas dan gaya hidup hedonistik yang

Baca lebih lanjut

BALAI PUSTAKA DAN PERBENTURAN BUDAYA

Pada hakikatnya masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan besar terhadap cerita dalam berbagai bentuk, lisan dan tertulis, baik dari pihak pencerita maupun publiknya. Ketika bentuk-bentuk sastra Barat seperti novel, seni, biografi dan sebagainya diperkenalkan dan digelorakan oleh Balai Pustaka, pihak editor tidak kekurangan bahan. Di samping terjemahan bacaan Barat populer, timbul novel-novel asli yang pertama yang kemudian diikuti dengan puluhan yang lain.

            Novel-novel kurun waktu ini kebanyakan mempunyai latar belakang masyarakat Minangkabau. Di atas telah diungkapkan bahwa sebagian besar pengarang pada waktu itu berasal dari daerah tersebut. Sebagai pencerminan daripada masalah-masalah yang hangat dalam masyarakat, novel-novel itu menceritakan tentang pembenturan antara yang kuna dengan yang baru, tua dengan muda, kungkungan adat dengan kebebasan dalam memiliki teman hidup. Novel-novel seperti Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Karena Mentua dan banyak lagi yang lain, semuanya membahas tema tersebut. Sebagian memberi pemecahan yang positif, di mana adat akhirnya dapat dipadukan dengan tuntutan zaman, misalnya dengan jalan musyawarah dan mufakat, tetapi banyak juga yang berakhir dengan nasib yang menyedihkan bagi Baca lebih lanjut