Archive for September, 2011

Puisi Angkatan 20-an (Angkatan Balai Pustaka): Mengeluh

MENGELUH

 

Bukanlah beta berpijak bunga,

melalui hidup menuju makam.

Setiap saat disimbur sukar

bermandi darah dicucurkan dendam

 

Menangis mata melihat makhluk,

berharta bukan berhakpun bukan.

Inilah nasib negeri anda,

memerah madu menguruskan badan.

 

Ba’mana beta bersuka cita,

ratapun rakyat riuhan gaduh,

membobos masuk menyapu kalbuku.

 

Ba’mana boleh berkata beta,

suara sebat sedanan rusuh,

menghimpit masah, gubahan cintaku.

 

II

 

Bilakah bumi bertabur bunga,

disebarkan tangan yang tiada terikat,

dipetik jari, yang lemah lembut,

ditanai sayap kemerdekaan rakyat?

 

Bilakah lawang bersinar Bebas,

ditinggalkan dera yang tiada berkata?

Bilakah susah yang beta benam,

dihembus angin kemerdekaan kita?

 

Disanalah baru bermohon beta,

supaya badanku berkubur bunga,

bunga bingkisan, suara syairku.

 

Disitulah baru bersuka beta,

pabila badanku bercerai nyawa,

sebab menjemput Manikam bangsaku.

 

Dari: Percikan Permenungan

Oleh: Rustam Effendi (Angkatan Balai Pustaka)

 

 

Seri Kesusastraan Indonesia: Syair

Selalu menarik ketika kita membahas perkembangan Indonesia dari masa ke masa. Membaca pantun, mempelajati talibun, gurindam, ataupun puisi baru, seolah kita mengikuti sejarah perjuangan bangsa ini. Syair merupakan salah satu dari sekian banyak karya sastra yang lahir dalam sejarah perkembangan bangsa ini. Berbeda dengan gurindam yang muncul karena akulturasi budaya bangsa dengan hindu, syair muncul setelah agama Islam menyebar di nusantara (Simorangkir, 1952: 41). Diterangkan oleh Dr. Hooykaas bahwa syair yang tertua dalam bahasa melayu terdapat di sebuah batu nisan tua di Minye Tujoh Aceh, berangka tahun 781 H atau sekitar 1380 Masehi.  Kata syair sendiri berasal dari bahasa arab yang bermakna Baca lebih lanjut

SASTRAWAN-SASTRAWATI ANGKATAN PUJANGGA BARU

Di tulisan sebelumnya, saya menyampaikan sedikit tentang karakteristik Angkatan Pujangga Baru. Sempat ada keinginan untuk merevisi tulisan itu dengan memasukkan  penjelasan tentang beberapa tokoh yang dikategorikan sebagai angkatan pujangga baru lengkap dengan beberapa judul karyanya. Tapi, sepertinya akan menjadi terlalu panjang, oleh karena itu tulisan tentang sastrawan-sastrawati angkatan pujangga baru saya posting terpisah. Semoga bermanfaat!.

SASTRAWAN-SASTRAWATI ANGKATAN PUJANGGA BARU

Kwartet berikut dikenal sebagai ujung tombak Angkatan Pujangga Baru:

Sutan Takdir Alisyahbana, kelahiran Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, meninggal di Jakarta, 17 Juli 1986. Pujangga ini seorang ilmuwan dan filsuf bergelar Sarjana Hukum, Doktor Honoris Causa dan professor. Ia sangat terkenal dengan roman bertendennya Layar Terkembang(1936). Roman-romannya yang lain: Dian nan Tak Kunjung Padam(1932), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940). Tebaran Mega (1935) merupakan kumpulan sanjak yang menandai kepenyairannya. Ternyata, Sutan Takdir tidak hanya hebat di zamannya. Pada masa pascakemerdekaan, bahkan setelah tergulungnya Lekranya PKI, Sutan Takdir pun ikut Baca lebih lanjut