Drama: Republik Bagong (Teater Koma)


REPUBLIK BAGONG

(Sandiwara Teater Koma berjudul”Republik Bagong” bagian 8)

BERANDA RUMAH SEMAR. SIANG

(GARENG, PETRUK TIDUR-TIDUR AYAM KETIKA ARJUNA DAN GATUT KACA DATANG)

GATOT KACA : Petruk, Gareng, kami datang. Uwak semar ada?

GARENG                            : Lho, ada apa mas Gatut menclorot dari langit. Truks, Petruks, bangun! Adam mas Gatut dan juga denmas Arjuna. Pasti penting ini. Kita temtu akan dipanggi ke Amarta lagi.

PETRUK                             : Wah, seperti kejatuhan bintang. Salam sembah kami. Ada keperluan penting apa ya, kok para denmas datang mendadak?

GATOT KACA                   :  Jangan banyak basa basi lagi. Jawab saja, uwak Semar ada?

SEMAR                               :  (KELUAR TERGOPOH)

Ada, den Gatot, ada. Sembahku Raden Arjuna. Ada apa?

ARJUNA                             :  Kakang Semar, saya tidak akan berpanjang lebar. Paduka   Begawan Kalapati, Penasehat Agung Amarta, menugaskan saya untuk membunuh Bagong.

Ini suatu kehormatan yang patut disyukuri, sebab Bagong   terpilih sebagai tumbal bagi kesejahteraan masa depan Amarta.

SEMAR                               :  Mohon diulang sekali lagi, raden. Tumbal jenis apa itu?

ARJUNA                             :  Kakang tahu, belakangan ini Amarta banyak dilanda bencana. Paduka Begawan Kalapati memberitahu, jika ingin Amarta kembali tata tentram kerta-raharja, gemah ripah loh jinawi, maka beberapa syarat harus kami penuhi. Pemecatan kakang Semar adalah syarat pertama. Syarat lain, Pandawa harus mengendalikan impian rakyat dengan disiplin yang sangat keras, tanpa ampun, tanpa pandang bulu.

ARJUNA                             :  Dan kami sudah melakukannya.

 

Selain itu kakang, ada syarat lain yang harus dilakukan meski hati kami menangis; tumbal manusia dari trah Semar.

Kami boleh memilih, atau yang tertua yakni kakang Semar sendiri, atau yang termuda yaitu Bagong. Dan Pandawa sepakat memilih untuk membunuh Bagong.

GARENG                            :  Truks, aku tahu sekarang. Itu alasan room mengusir Bagong

PETRUK                             :  Ssttt dengar dulu tho ..

SEMAR                               :  Raden, mengapa tidak memilih yang tertua saja? Semar?

ARJUNA                             :  Tidak. Kanda Yudhistira tidak memilih Kakang Semar. Semua sepakat memilih Bagong. Mohon diikhlaskan saja. Satu manusia untuk kesejahteraan masa depan jutaan rakyat Amarta. Syarat yang masuk akal.

SEMAR                               : Itu syarat edan , dari Begawan yang juga edan. Satu atau jutaan, tetap manusia juga. Hak hidupnya harus sama-sama dilindungi. Oo Pandawa sudah makin tersesat. Oo, prihatin. Semar tidak akan ikut-ikutan edan

 

(MENANGIS PILU)

Oo, zaman apa ini? Para satria mendadak jadi makhluk barbar. Tumbal manusia itu cuma dilakukan oleh para raksasa dan setan-setan. Satria wajib mencegah tradisi sesat itu dengan segenap daya. Ini malah ingin melakukan. Oo, Semar tidak akan ikut-ikutan. Oo, nasibmu Bagong, anakku. Oo, nasib kita. Oo, hati semar pecah berkeping-keping. Sia-sia (TERSEDU-SEDU. LALU KEN-TUT. DAN MASUK RUMAH DENGAN SEMPOYONGAN)

GATOT KACA                   : Gareng, apa Bagong ada di dalam rumah?

GARENG                            : Di atas lantai rumah jelas tidak ada. Tapi kalau seluruh Amarta membawa alat untuk mengebor lantai rumah, mungkin Bagong ada bersembunyi di bawah tanah. Di dalam bunker beton baja. Cari saja!

PETRUK                             : Ngawur kamu, Reng. Jangan guyonan, keadaannya sangat serius ini. Tidak mas Gatut, denmas Arjuna, Bagong tidak ada di sini. Sudah pulang ke rumahnya sendiri. Sumpah.

ARJUNA                             : Kalau begitu, maukah kalian menunjukakan jalan ke rumah Bagong?

GARENG                            : Kami? Jadi penunjuk jalan makhluk kejam yang terang-terangan berniat membunuh saudara kami? Edan apa? Itu politik adu domba namanya. Sambel asem. Pelecehan terhadap trah Semar. Biar kami disiksa atau dibunuh, tidak sudi. Sialan. Heran, satria kok bisa berubah jadi sadis begini? Sesudah dipecat malah akan dibunuh.

GARENG                            : Kemasukan setan apa mereka … (PERGI DENGAN MENGGERUTU)

GATUT KACA                   :  Kamu, Petruk? Bagaimana? Sedia jadi penunjuk jalan kami?

PETRUK                             :  Harap dipahami. Pandawa punya solidaritas. Punakawan juga punya. Cuma, bedanya, mungkin, solidaritas Pandawa lebih distir oleh otak dan lemahnya sistem peringkay yang bersifat seperti peringkat ayam, yang di bawah wajib patuh kepada yang di atas secara membuta. Solidaritas para panakawan dipandu oleh hati dan rasa.

 

Solidaritas tanpa gaki dan komisi. Solidaritas yang tidak diikat oleh uang atau   ambisi untuk menguasai

 

Maaf, kami tidak akan ikut ambil bagian dalam teror yang dipimpin Begawan Kalapati. Kami punya jalannya sendiri. Mau cari Bagong? Silakan cari sendiri.

PETRUK                             :  Mas Gatut dan denmas Arjuna pasti satria yang tahu segala macem; dari mulai urusan senjata sampai ilmu sepak bola. Mau cari alamat Bagong? Wooo, gampang. Semua rakyat kecil yang miskin pasti mengaku bernama Bagong. Tapi kalau denmas bingung, ya’kan ada buku Who’s who? Mungkin ada di situ plus alamat lengkapnya. Atau silakan bertanya pada Paduka Begawan Kalapati. Pasti beliau tahu, Penasehat Agung Amarta,je?

 

Maaf, maaf, permisi.

(PERGI DENGAN KALEM)

GATOT KACA                   :  Kurang ajar kamu Petruk, mengejek ya, mengejek?

ARJUNA                             :  Raden, sudahlah. Kita cari sendiri rumah Bagong. Ke mana pun Bagong sembunyi, kita pasti bisa menemukannya. Ayo, jangan buang waktu.

GATOT KACA                   : Baik, Oom.

 

(KEDUANYA PERGI BERGEGAS)

2 responses to this post.

  1. punya versi lengkapnya ndak mba?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: