Archive for April, 2011

Sarana Retorika, Bahasa Kiasan dan Diksi dalam Puisi

Bahasa puisi sebagai salah satu unsur dalam bangun struktur karya memiliki bagian-bagian antara lain; diksi, citraan, bahasa kiasan dan sarana retorika (Alternbernd dalam Sukamti Suratidja, 1990:241).

Sarana retorika yang dominant adalah tautology, pleonasme, keseimbangan, retorika retisense, paralelisme, dan penjumlahan(enumerasi), paradoks, hiperbola, pertanyaan retorik, klimaks, klimaks, kiasmus (Pradopo, 1990:241)

Telah disampaikan di atas, bahwa selain sarana retorik, dalam bahasa puisi juga dikenal bahasa kiasan atau figurative language yang menyebabkan sajak menjadi menarik, menimbulkan kesegaran, terasa hidup dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan menjelaskan atau mempersamakan suatu hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik dan hidup.

Jenis-jenis bahasa kiasan adalah:

  1. perbandingan (simile)
  2. metafora
  3. perumpamaan epos (epic simile)
  4. personifikasi
  5. metonimia
  6. sinekdok
  7. allegori

(Pradopo, 1990: 62)

Perrine dalam Waluyo (1987: 83) menerangkan bahwa bahasa figurative dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair, karena (1) bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) bahasa figuratif adalah cara untuk imaji tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih dinikmati dibaca, (3) bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair, (4) bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa singkat.

Di samping retorika dan bahasa kiasan, disinggung juga dalam wilayah bahasa puisi adalah diksi. Meskipun buku yang ditulis Gorys Keraf berjudul “Diksi dan GAya Bahas”” sehingga mengesankan kedua istilah itu  dua hal yag berbeda, namun dalam praktiknya, pendiksian yang akurat dari seorang pengarang dan penyair tidak pernah lepas dari soal berupaya habis-habisan menghasilkan ungkapan-uangkapan dan eksposisi yang benar-benar memikat, indah, mempesona, sugestif. Secara esensial ini adalah bentuk lain dari gaya bahasa juga, hanya mungkin tanpa label nama-nama sehingga stude tentang stilistika pun tidak menganggap ha lasing persoalan diksi. Kata diksi memang sering diterjemahkan dengan ketepatan pilihan kata. Dalam konsep itu terkandug unsur kecermatan, kejituan ,keefektifan sehinggadiharapkan timbul ungkapan yang benar-benar bernas, cerdas, dan selektif.

Gorys Keraf dan Widyamartaya (1995: 44) merumuskan diksi sebagai kemmpuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yangsesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbedaharaan kata bahasa itu. Sementara itu dalam bukunya ynag berjudul Diksi Gaya Bahasa, Gorys Keraf (1995: 87) berbicara tentang diksi/ketepatan pilihan kata sebagai berikut:

Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. Sebab itu, persoalan ketepatan pilihan kata akan menyangkut pula masalah makna kata dan kosakata seseorang. Kosakata yang kaya-raya memungkinkan penulis atau pembicara lebih bebas memilih-milih kata yang dianggapnya paling tepat memiliki pikiranya. Ketepatan makna kata menuntut pula kesadaran penulis atau pembicara untuk megetahui bagaimana hubungan antara bentuk bahasa (kata)dengan referensiinya.

Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperi apa yang dirasakan atau dipikirkan penulis  atau pembicara, maka setiap penulis atau pembicara harus berusaha secermat mungkin memilih kata-katanya untuk mencapau maksud tersebut.bahwa kata yang dipakai sudah tepatakan tampak dari reaksi selanjutnya, baik berupa diksi verbal maupun aksi non-verbal dari pembaca atau pendengar. Ketepatan tidak akan menimbulkan salah paham.

Beberapa butir perhatian dan persoalan berikut hendaknya diperhatikan setiap orang agar bisa mencapai ketepatan pilihan katanya itu.

(1). Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi

(2) Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim

(3) Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaan.

(4) Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri

(5) Waspadalah dengan penggunaan akhiran asing terutama kata-kata asing yang mengandung akhiran asing tersebut.

(6) Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digubakan secara ideomatis

ingat akan bukan ingat terhadap, berharap, berharap akan, mengharapkan bukan mengharap akan; berbahaya, berbahaya bagi, membahayakan sesuatu buakan memahayakan bagi sesuatu (lokatif).

(7) untuk menjamin ketepatan diksi penulis atau pembicara harus membedakan kata umum dan kata khusus

(8) Mempergunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus.

(9) Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.

(10) Memperhatikan kelangsungan pilihan kata.

(Gorys Keraf, 1995: 88-89)

Pembicaraan tentang diksi bisa kita perluas mengenai penjelasan yang bisa kit abaca dalam kamus Istilah Sastra Indonesia. Dalam buku tersebut Eddy (1991:55) menerangkan persoalan diksi sebagai berikut

Diksi adalah pilihan kata yang dilakukan oleh seorang pengarang utnuk mengungkapkan pikiran,perasaan dan poengalamannya dalam karya yang ditulisnya.

Dalam karya sastra diksi tidak hanya mengacu pada ketepatan pemilihan kata untuk mengungkapakan sesuatu, tetapi juga untuk mengundang atau ,membangkitkan imajinasi pembaca, sehingga apa yang diungkapkan terasa hidup dan memikat.

Kalau kita bandingkan diksi karya nonsastra dengan diksi karya sastra akan tampak seperti table berikut:

Diksi Karya nonsastra  Diksi Karya Sastra
Ditekankan pada pemilihan kataDiusahakan agar kata pilihan itu bermakna tunggal dan akurat

Brfokus pada makna

Di samping ketepatan pemilihan kata, juga diusahakan agar kata itu dapat membangkitkan imajinasi.Diusahakan agar kata pilihan itu bermakna ganda dan bernilai asosiatif serta imajinatif

Berfokus pada makna dan daya evokasi (daya gugah), atau lebih difokuakan pada gaya gugahnya.

Diksi dan perbedaan diksi dalam kaya sastra dan karya nonsastra akan jelas kelihatan dalam konteks kalimat yang utuh. Contoh:

1. Di atas laut. Bulan perak bergetar. (Abdul Hadi, dalam puisi “Prulude”) merupakan diksi sastra (puisi),

Dipermukaan laut, bulan yang terang benderang seakan-akan bergerak: merupakan diksi nonsastra.

2. Angin akan kembali dari buit-bukit, menyongsong malam hari. (Abdul Hadi, dalam puisi “Prelude”): diksi sastra(puisi),

Angin akan bertiup lagi dari bukit pada malam hari: diksi nonsastra.

Diksi ialah pemilihan dan penyusunan kata dalam puisi. Perkara yang diutamakan dalam pemilihan dan penyusunan diksi ialah ketepatan, tekanan, dan keistimewaan. Perhatian istimewa diberikan terhadap sifat-sifat kata seperti denotatif, konotatif, bahasa kiasan, dan sebagainya. (http://esastera.com/kursus/kepenyairan.html#Modul11). Menurut Sudjiman (1993:7) pengkajian stilistika meneliti gaya bahasa sebuah teks secara rinci secara sistematis memperhatikan preferensi penggunaan kata atau struktur bahasa, mengamati antara hubungan pilihan itu untuk mengidentifikasi ciri-ciri stilistika. Ciri yang dikatakan oleh Sudjiman dapat berupa atau bersifat fonologis (pola bunyi bahasa, mantra, rima). Leksikal (diksi), atau retoris (majas, citraan).

Jenis-jenis gaya bahasa

Poerwadarminta dalam Widyamartaya (1995: 53) menerangkan bahwa gaya umum itu dapat ditambah , diperbesar dengan salah satu cara. Tiap cara atau proses ini akan menghasilkan sejemlah corak dengan nama-nama khususnya. Panorama selayang pandang tentang gaya bahasa dapat dirinci dengan memperbesar daya tenaganya terhadap gaya umum dengan cara-cara mengadakan:

1. Perbandingan; 2. Pertentangan; 3. Pertukaran; 4. Perulangan; 5. Perurutan.

Gaya bahasa ialah cara penyair menggunakan bahsa untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu. Gaya digunakan untuk melahirkan keindahan (http://esastra.com/kurusu/kepenyairan.htm#Modul 11). Hal itu terjadi karena dalam karya sastralah ia paling sering dijumpai, sebagai wujud eksplorasi dan kreativitas sastrawan-sastrawati dalam berekspresi.

Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiranmelalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai bahasa (Gorys Keraf, 2002: 113). Suatu penciptaan puisi, juga bentuk-bentuk tulisan yang lain, misalnya cerpen, novel, naskah drama (Wacana sastra) sangat membutuhkan penguasaan gaya bahasa, agar puisi yang dihasilkan nanti lebih menarik, indah, dan berkualitas.

Pembicaraan tentang gaya bahasa sangatlah luas. Gorys Keraf (2002: xi-xii) membagi persoalan gaya bahasa, yakni:

Pengertian, sendi, jenis-jenis gaya bahasa

1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata

a. Gaya bahasa resmi

b. Gaya bahasa tak resmi

c. Gaya bahasa percakapan

2. Gaya bahasa berdasarkan nada:

a. Gaya sederhana

b. Gaya mulia dan bertenaga

c. Gaya menengah.

2. Gaya bahasa berdarkan struktur kalimat

a. Klimaks

b. Antiklimaks

c. Paralelisme

d. Antitesis

Repetisi

 

3. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna

a. Gaya bahasa retorika terdiri dari:

1) Aliterasi

2) Asonansi

3) Anastrof

4) Apofasis/preterisio

5) Apostrof

6) Asidenton

7) Polisindenton

8.) Kiasmus

9) Elipsis

10) Eufimismus

11) Litotes

12) Histeron proteron

13) Pleonasme dan tautologi

14) Perifrasis

15) Prolepsis/antisipasi

16) Erotesis/pertanyaan retoris

17) Silepsis dan Zeugma

18) Koreksio Epanotesis

19) Hiperbol

20) Paradoks

21) Oksimoton

b. Gaya bahasa kiasan

1. Persamaan/simile

2. Metafora

3. Alegori, Parabel dan Fabel

4. Personifikasi

5. Alusi

6. Eponim

7. Epitet

8. Sinekdoke

9. Metonimia

10. Antomonasia

11. Hipalase

12. Ironi

13. Satire

14. Iniendo

15. Antifrasis

16. Paronomasia

Uraian mengenai pengertian bermacam-macam gaya bahasa tersebut dan contoh-contohnya bisa dibac dalam buku “Diksi dan Gaya Bahasa” karya Gorys keraf, juga karya Henry Guntur Tarigan, Rahmat Joko Pradopo dan dijumpai di segenap buku yang membicarakan gaya bahsa untuk SMP dan SMA/SMK.

Pengertian Masing-masing Jenis Gaya Bahasa dan Contoh Pemakaiannya

Di bawah ini disampaikan pengertian dari jenis-jenis gaya bahasa di atas yang dirumuskan secara bebas oleh peneliti berdasarkan pemahaman yang penulis peroleh dari berbagai sumber:

1. Klimaks, yang disebut juga gradasi, adalah gaya bahsa berupa ekspresi dan pernyataan dalam rincian yang secara periodek makn lama makin meningkat, baik kuantitas, kualitas, intensitas, nilainya.

Contoh:

Idealnya setiap anak Indonesia pernah menempuh pendidikan formal di TK, SD, SMP, SMA/SMK, syukur S2, S3 sampai gelar Doktor dan kalau mengajar di Perguruan Tinggi bergelar Profesor/Guru Besar pula.

b. Dalam apresiasi sastra, mula-mula kita hanya membaca selayang pandang puisi yang akan kita apresiasi, lalu kita membaca berulang-ulang sampai paham maksudnya, merasakan keindahannya, terus mengkajidalami, bisa membawakannya penuh penghayatan, sampai kita mampu menghargai keberadaan dan mencintainnya, syukur juga terpangil untuk kreatif menciptakan bentuk-bentuk sastra.

2. Antiklimaks merupakan antonim dari klimaks adalah gaya bahasa berupa kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas, kuantitas intensitas. Gaya bahasa ini di mulai dari puncak makin lama makin ke bawah.

Contoh:

Bagi milyader bakhlil, jangankan menyumbang jutaan rupiah, seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, seribu rupiah pun ia enggan, masih dihitung-hitung.

b. Jauh sebelum memperoleh mendali emas dalam Olimpiade Athena 2004 cabang bulutangkis, Taufik Hidayat niscaya telah menjadi juara nasional dan sebelumnya juga tingkat propinsi, kabupaten, malahan pula tingkat kecamatan, desa, RT/RW.

3. Paralelisme adalah gaya bahasa berupa penyejajaran antara frase-frase yang menduduki fungsi yang sama.

Contoh: Kriminalitas dan kemaksiatan itu akan menyengsarakan banyakmorang, membuat menderita kurban-kurbannya.

4. Antitesis adalah gaya bahsa yang menghadirkasn kelompok-kelompok kata yang berlawanan maksudnya.

Contoh:

Kau yang berjani kau pula yang mengingkari

Kau yang mulai kau pula yang mangakhiri

Di timur matahari terbit dan di barat ia tengggelam

5. Repetisi adalah gaya bahasa dengan jalan mengulanmg pengunaan kata atau kelompok kata tertentu.

Contoh:

  • Seumpama eidelwis akulah cinta abadi yang tidak akan pernah layu
  • Seumpama merpati akulah kesetiaan yang tidak pernah ingkar janji
  • Seumpama embun akulah kesejukan yang membasuh hati yang lara
  • Seumpama samudra akulah kesabaran yang menampung keluh kesah segala muara

6. Aliterasi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi konsonan.

Contoh:

  • Widyawan Wisik Wahyu Wastika suka menekuni spiritualitas.
  • Sahabatku bernama Fajar Firman Firdaus Filosofi.
  • Jadilah jantan jujur jenius!
  • Nama mahasiswi itu Cici Cantika Cangggih Cendikiawati

7. Asonansi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal

Contoh:

Gita Cinta dari SMA, lagu rindu dari SMU

Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu

8. Anastrof adalah gaya bahasa berupa pembalikan susunan kalimat dari pola yang lazim, biasanya dari subjek-predikat jadi predikat-subjek

Contoh:

Terlalu kecil anak itu untuk bekerja seberat itu

Berbahagialah wisudawan-wisudawati dalam perayaan yang diadakan di kampus mereka.

9. Apofasis/preterisio adalah gaya bahasa yang dipakai oleh pengarang untuk menyampaikan sesuatu yang megandung unsur kontradiksi, kelihatannya menolak tapi sebenarnya menerima, kelihatannya memuji tapi sebenarnya mngejek, nampaknya membenarkan tapi sebenarnya menyalahkan, kelihatannya merahasiakan tapi sebenarnya membeberkan.

Contoh :

– Saya tidak ingin membongkar kesalahan masa silammu bahwa dulu kamu pernah melakukan pemalsuan ijazah dan menjadi plagiator.

– Jangan repotrepot membawa sesuatu ke sini, tapi tidak baik bukan kalau orang menolak rejeki?

10. Apostrof adalah gaya bahsa berupa pengalihan pembicaraan kepada benda atau sesuatu yang tidak bisa berbicara kepada kita terutama kepada tokoh yang tidak hadir atau sudah tiada, dengan tujuan lebih menarik atau memberi nuansa lain.

Contoh:

– Wahai Nabi Suci yang kami cintai dan hormati, malam ini kami berkumpul disini untuk melantunkan shalawat dan kasidah nan syahdu untukmu, terimalah sayang, kekasihku.

– Hai burung-burung betapa merdu nyanyianmu, wahai bunga-bunga betapa indah dan semerbak aromamu, wahai embun pagi, betapa jernih berkilau kamu laksana butiran-butiran intan tertimpa hangat sinar surya.

11. Asidenton adalah gaya bahsa dengan jalan menghadirkan kata/frasa yang berfungsi sama, berkedudukan sejajar tanpa menggunakan kata penghubung hanya menggunakan koma.

Contoh:

Untuk menjadi insan kamil, kita harus punya imtak yang prima, iptek yang andal, akhlak yang solid, amal salih yang semarak produktif banyak berkarya, kreatif penuh cipta.

12. Polisidenton adalah gaya bahasa berupa penyampaian sesuatu dengan menggunakan kata sambung secara berulang.

Contoh:

– Kepada bulan, kepada bintang-gemintang, kepada langit biru, kepada malam yang syahdu, aku bertanya kepadamu adakah kau lihat hamba-hamba Allah yang beriman bangun tengah malam untuk berdzikir, untuk berdoa, untuk bersujud?

– Kita harus giat menuntut ilmu dari berbagai sumber agar cerdas cendikia agar berwawasan luas agar bisa bnyak berkiprah agar tidak ketinggalan zaman.

13. Kiasmus adalah gaya bahasa yang terdiri dari dua klausa yang berimabang namun dipertentangkan satu sama lain.

Contoh:

Sebenarnya mereka orang-orang yang sabar, namun akhirnya berontak terhadap orang-orang yang terus mengencetnya.

14. Elipsis adaklah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang mengandung kata-kata yang sengaja dihilangkan yang sebenarnya bisa diisi oleh pembaca/penyimak.

Contoh:

– Pembangunan mencakup dua hal yakni pembangunan material dan …….,pembangunan lahiriah dan …….., pembangunan individual dan ……….

– Apa saja yang ada di dunia serta berpasangan ada siang ada ………, ada baik ada…….., ada terang ada ………, ada pertemuan ada …….., roda berputar kadang di atas kadang …………

15. Eufemisme adalah gaya bahasa berupa pengungkapan yang sifatnya menghaluskan supaya tidak menyinggung perasaan, tidak terasa tajam.

Contoh:

-Karena melakukan sesuatu yang kurang pas, Pak Bandot akhirnya dikenai pension dini.

(Terlibat skandal, korupsi, dipecat, di PHK)

-Anak itu tinggal kelas karena agak terlambat dalam mengikuti pelajaran.

(Bodoh)

16. Litotes adalah gaya bahasa yang sifatnya merendahkan diri, tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya namun tidak punya maksud agar orang percaya dengan hal itu, pembicara/penyimak tahu apa yang sebenarnya ia maksudkan.

Contoh:

-Kalau Anda tidak keberatan, mampirlah ke gubug kami di Jalan Pemuda No. 100 Surakarta.

– Yogya-Solo terpaksa kita tempuh 2 jam karena kita hanya naik gerobak.

17. Histeron Proteron adalah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang mengandung pembalikan dari logika yang wajar.

Contoh:

Silakan membaca terus sampai jadi kutu buku agar kebodohanmu tidak berkurang, kepandaianmu tidak bertambah.

-Pegang teguhlah sifat jujur maka kamu bakal hancur, bertindaklah adil maka justru kamu akan terpencil.

18. Tautologi adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara berulang dengan kata-kata yang maknanya sama supaya diperoleh pengertian yang lebih mendalam, misalnya:

Tak ada badai tak ada topan, tiba-tiba saja ia marah.

So pasti, buku-buku bermutu banyak memberikan manfaat bagi pembacanya.

19. Pleonasme adalah sarana retorika semacam tautologi dengan kata kedua yang sudah dijelaskan oleh kata pertama.

Contoh:

Silakan maju ke depan, setelah itu naik ke atas.

Hujan yang basah menyuburkan tanah-tanah rekah

20. Perifrasis adalah gaya bahasa sejenis pleonasme yang merupakan keterangan berulang namun proporsinya lebih banyak daripada yang sebenarnya.

Contoh:

Dengan sungguh terpaksa karena tak berdaya, tidak punya kekuatan apa-apa tidak bisa berbuat dan melakukan sesuatu saya hanya diam saja ketika kawanan perampokitu menggasak dan menguras ludes barang-barang berharga di rumah sebelah.

21. Prolepsis/antisipasi adalah gaya bahasa berupa kalimat yang diawali dengan kata-kata yang sebenarnya baru ada setelah suatu peristiwa terjadi.

Contoh:

-Keluarga yang ditimpa kemalangan itu akhirnya tercerai berai dan tewas entah di mana jenazah tersapu gelombang Tsunami hanyut bersama rumah mereka.

-Pada tahun 571 Masehi di Mekah, lahirlah seorang Nabi Besar bernama Muhammad S.A.W.

22. Erotesis/pertanyaan retoris adalah gaya bahasa berupa pengajuan pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat di sana. Gaya bahasa ini acap digunakan oleh para orator.

Contoh:

Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi sangat mahal. Bisakah rakyat kecil menyekolahkan anaknya sampai ke sana? Siapa yang bisa berkuliah kalau bukan kaum berada?

23. Silepsis dan Zeugma adalah gaya bahasa berupa konstruksi rapatan yang diikuti dengan kata-kata yang tidak sejenis atau tidak relevan atau hanya tepat untuk salah satunya.

Contoh:

Saya menyukai musik dan ketulusan hati.

Bacalah buku yang bermutu dan nyanyian sentimental yang mengalun itu.

24. Koreksio/Epanotesis adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang terkesan meyakinkan, namun disadari mengandung kesalahan. Atas kesalahan itu lalu dilakukan pembetulan.

Contoh:

Sudah setengah abad kita merdeka, eh bukan, 60 tahun malah, nah selama itu, kemajuan apasajakah yang sudah kita capai?

Dalam dunia sastra, kita mengenal Pelopor Angkatan ’45 yaitu Rendra, ah bukan, bukan Rendra, yang benar adalah Chairil Anwar.

25. Hiperbola adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang sengaja dibesar-besarkan dan dibuat berlebihan.

Contoh:

-Saya ucapkan beribu-rbu terima kasih atas perkenan Bapak dan Ibu menghadiri undangan panitia.

– Bertemu kamu sayang, wahai sahabatku yang elok dan indah, syahdu, hati berbunga-bunga sejuta rasanya terbang melayang di angkasa bahagia.

26. Paradoks adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang mengandung kontras/pertentangan, namun ternyata mengandung kebenaran.

Contoh:

-Betapa banyak orang yang dalam kesendiriannya merasa kesepian di kota sehiruk-pikuk Jakarta.

-Sebagai dosen, terus terang, saya juga banyak belajar dari mahasiswa-mahasiswi saya.

27. Oksimoran adalah gaya bahasa semacam paradoks yang lebih singkat dan padat, mengandung kata-kata yang berlawanan arti alam frase yang sama.

Contoh:

-Sang pemberang sangat khusuk menyembah Dewa Kemarahan

-Dia milyander miskin karena sangat pelitnya

-Penyair Emha pernah dijuluki Kyai Mbeling.

28. Persamaan/simile adalah bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding.

Contoh:

-Nyalakanlah semangat bagai dian nan tak kunjung padam

-Bersabarlah seperti samudra yang mampu menampug keluh kesah segala muara.

29. Metafora adalah bahasa kiasan sejenis perbandingan namun todak menggunakan kata pembanding. Di sini perbandingan dilakukan secara langsung tanpa kata sejenis bagaikan, ibarat, laksana, dan semacamnya.

Contoh:

Kesabaran adalah bumi

Kesadaran adalah matahari

Keberanian menjelma kata-kata

Dan perjuangan adalah pelaksana kata-kata(sebuah bait dalam puisi Rendra)

30. Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan, merupakan metafora yang dikembangkan.

Contoh:

Sanjak “Menuju Ke Laut” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Biasanya bersifat simbolis

31. Parabel (Parabola) adalah gaya bahasa berupa cerita-cerita fiktif dengan tokoh manusia dengan tema moral yang kental.

Contoh:

Hikayat Kalilah dan Daminah

32. Fabel adalah metafora berbentuk cerita dengan tokoh-tokoh binatang yang esensinya menggambarkan perilaku dan karakter manusia.

Contoh:

Dongeng Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau dan lain-lain.

33. Personifikasi/Penginsanan adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh manusia.

Contoh:

Angin bercakap-cakap sama daun-daun, bunga-bunga, kabut dan titik embun.

-Indonesia menangis, duka nestapa Aceh memeluk erat sanubari bangsaku.

34. Alusio adalah gaya bahasa yang menampilkan adanya persamaan dari sesuatu yang dilukiskan yang sebagai referen sudah dikenal pembaca.

Contoh:

Bandung dikenal sebagai Paris Jawa.

Bung Karno – Bung Karno kecil menunjukkan kebolehannya dalam lomba pidato membawakan fragmen “Di Bawah bendera Revolusi”.

35. Eponim adalah gaya bahasa berupa penyebutan nama-nama tertentu untuk menyatakan suatu sifat atau keberadaan.

Contoh:

-Perkenalkan, inilah Zidanenya kesebelasan kita.

\Silakan Aa Gym Ketua Rois kita menyampaikan kultum!

36. Epitet adalah gaya bahasa berupa frasa reskriptif untuk menggantikan nama seseorang, binatang, atau suatu benda.

Contoh:

Raja siang bertahta di angkasa raya (=Matahari)

Sang raja sehari mendapatkan ucapan selamat dari segenap rekan kerjanya. (=pengantin)

-Penyair si Burung Merak masih kreatif tampil membaca puisi-puisinya pada usia menjelang 70 tahun. (=Rendra)

– Di kta ukir pembuatan mebel menjadi home industri penduduk kota itu. (=Jepara)

37. Sinekdoke adalah bahasa kiasan dengan cara menyebutkan sesuatu bisa sebagian untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto), bisa pula sebaliknya keseluruhan digunakan untuk menyebut yang sebagian (totum pro parte)

Contoh totum pro parte:

Dalam copa Amerika 2004, Brazil mengalahkan Argentina.

Karya-karya menjadi cindera mata bagi dunia

Contoh pars pro toto:

Korban gelombang Tsunami 26 Desember 2004 mencapai 100 jiwa lebih.

Dalam Idul Adha tahun ini, Masjid Al-Amin berkurban 6 ekor sapi 10 ekor kambing.

38. Metonemia adalah bahasa kiasan dalam bentuk penggantian nama atas sesuatu.

Contoh:

Kita harus bersyukur tinggal di negeri Zamrud Khatulistiwa yang elok permai ini

Panda banyak terdapat di negeri Tirai Bambu.

39. Antonomasia adalah gaya bahasa berupa penyebutangelar resmi dan semacamnyauntuk menggantikan nama diri.

Contoh:

Megawati Soekarno Putrid an Meutia Hatta adalah puteri-puteri Sang Proklamator yang aktif di budang pemerintahan.

Dalam penciptaan lagu dan pentas-pentasnya, Raja Dangdut tidak pernah lupa menyisipkan pesan dakwah

40. Hipalase adalah gaya bahasa yang mengandung pemakaian karta yang menerangkan kata yang bukan sebaharsnya.

Contoh:

Di hari yang berbahagia ini jangan lupamensyukuri segenap nikmat karuna Allah.

Sudah lama mesjid Agung Baitur Rahman Banda Aceh menungu-nunggu untaian dzikir dari K.H. Muhammad Arifin Ilham.

41. Ironi/sindiran adalah gaya bahasa berupa penyampaian kata-kata denga berbeda dengan maksud dengan sesungguhnya, tapi pembaca/pendengar, di harapkan memahami maksud penyampaian itu.

contoh:

Kuakui, kutu buku yang satu ini memang berpengetahuan luas sekali.

42. Sinisme hakikatnya sama dengan ironi namun biasanya lebih keras.

Contoh:

Tanpa belajar pun, kalau anak jenius seperti kamu tentu bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan hasil memuaskan.

43. Sarkasme merupakan gaya bahasa berupa pengucapan-pengucapan yang kasar, caci maki sebagai ekspresi, amarah yang membuat yang terkena sakit hati.

Contoh:

Dasar otaku dang! Mana mungkinbisa kau kerjakan soal itu!

44. Satire adalah gaya bahasa sejenis ironi yang mengandung kritik atas kelemahan manusia agar terjadi kebaikan . tidak jarang satire muncul dalam bentuk puisi yang mengandung kegetiran tapi ada kesadaran untuk berbenah diri.

Contoh:

Aku lalai di pagi hari

Beta lengah di masa muda

Kini hidup meracun hati

Miskin ilmu miskin harta

(Bait II puisi “Menyesal” karya M. Ali Hasymi)

45. inuedo adalah gaya bahasa berupa sindiran dengan cara mengecilkan kenyataan yang sesungguhnya, mengandung kritik tidak langsung.

Contoh:

Hanya dengan sedikit melakuan KKN, banyak pejabat menjadi milyander.

Mobil yang dikemudikannya masuk jurang karena sebelum berangkat sopir itu menegak segelas miras sampai sedikit mabuk.

46. Antifrasis adalah gaya bahasa sejenis iron dengan menggunakan kata yang maknanya berlawanan dengan realita yang ada.

Contoh:

Dia dikenal jenius dikelas ini (padahal bodoh)

Alangkah abar dan penyayangnya majikan itu terhadap pembantu-pembantunya yang selalu berganti-ganti karena tidak tahan. (pemarah dan pelit)

47. Paronomasia adalah gaya bahasa dengan menggunakan permainan kata-kata yang artinya sangat berlainan.

Contoh:

Ada gempa dahsyat, suasana genting. Genting-genting rumah pun berjatuhan pecah berderai.

Anggota dewan yang pulang balik studi banding ke luar negeri itu kini kaya mendadak. Kaya keralah mereka!

Puisi Determinisme Rendra

Puisi karya Rendra berikut ini dijadikan contoh determinisme (juga puisi-puisi Rendra yang lain seperti Aminah, Nyanyian Angsa, dan semacamnya). Teknik pengungkapan yang transparan, menafikan moral kata, melantarankan puisi ini cukup relevan untuk dijadikan contoh naturalisme juga :

 

NYANYIAN ADINDA UNTUK SAIJAH

 

Di Kalijodo aku menyanyi di dalam hati

Kawih asih seperti pohon tanpa daun

Mengandung duka seperti pohon tanpa akar

Saat adalah malam menanti pagi

Saijah, Akang!

Tanpa petunjuk dan jejak yang nyata

Tembang cintaku yang berdebu

Mencari kamu

 

Sebelum sepuluh tahun yang lalu

Cintaku tabah lagunya menderu

Tapi kini ia jengah

Merayap dengan penuh rasa malu

 

Akang, aku telah berdosa

Tanpa daya aku nodai cinta

Tak lama setelah Akang berangkat ke Sumatera

Aku gelisah dalam jaring rindu asmara

Setiap menjelang masa datang bulan

Wajahmu selalu membayang

Rasanya seperti menjadi gila

 

Setiap kali memuncak rasa rindu

Rasa gatal menjalar ke puting-puting susu

Rasa geli yang lembut di seluruh kulit perut

Sungai darah di tubuhku bergolak

Aku terengah-engah

Dan bernafas lewat mulut

Akang, alangkah berat rasanya

Bila jantungku berdetak

Jauh dari jantungmu

 

Pada suatu hari

Di masa aku linglung oleh rindu kepadamu

Aku kenal lelaki seperti seorang bapa

Di balai desa

Ia mandor proyek jalan raya

 

Di desa yang dirundung kemiskinan

Ia menjadi harapan dan hiburan

Suka berbagi rokok

Mampu memberi pekerjaan

Royal dalam pergaulan

Dan kata-katanya mengandung keramahan

 

Waktu itu aku berjualan kue ketan

Pisang rebus dan nasi dengan sayuran

Ia selalu memborong sisa dagangan

Kepada buruhnya dibagi-bagikan

Aku terpesona kepada kemampuan uangnya

Dan sikapnya yang seperti bapa

Kepadaku ia selalu berkata

Jangan ragu nyusul akang ke Sumatera

Dan bila di balik rumpun pisang

Ia memeluk pundakku

Tangannya terasa hangat dan nikmat

Membuat hidupku jadi sentosa

 

Lalu datang surat Akang dari Menggala

Akang bilang mau membuka ladang di Karta

Aku kembali linglung dan gila

Dada menjadi tungku dan rindu menjadi bara

Kepada Pak Mandor aku bercerita semuanya

Kembali pundakku merasakan pelukannya

Dalam kedamaian yang hangat ia berkata :

“ Siapkah dirimu

seminggu lagi kuantar kamu

menyusul Saijah ke Sumatera “

 

Ya Allah, seumur hidup belum pernah keluar desa

Kini gerbang dunia menjadi goda yang mempesona

 

Seluruh warga desa memberi restu

Waktu kami pamit berangkat ke Sumatera

Di dalam bis ia genggam tanganku

Rasanya sirna hidup yang miskin dan sengsara

Kami melaju ke arah surya

 

Apa tahuku tentang jalan ke Sumatera!

Tapi toh aku ada pandu, ada bapa

Ia mengajak nginap di Karawaci

 

Di waktu malam ia mengetuk pintu

Ia memberiku kain, selendang dan baju baru

Ketika aku meluap oleh rasa gembira

Ia memelukku dengan tiba-tiba

Tubuhnya rapat ke seluruh tubuhku

Susuku yang kenyal tertekan ke dadanya

Menyebabkan darahku bergelora

Tak bisa bilang tidak

Kepalaku hilang di dalam kemabukan

Ketika ia bertubu-tubi

Menciumi wajah dan leherku

 

Malam itu ia ambil perawanku

Keperkasaannya menindih kesadaranku

 

AkAng, sejak malam itu di Karawaci

Aku telah menodai cinta kita

Aku telah menjamah dosa

Dan melengkapkannya ke dadaku

Ya, Akang, aku telah menikmati candu dunia

 

Malam itu sambil terlentang dengan lunglai

Dan mendengar ia mendengkur di sampingku

Aku telah bertekad

Untuk menyerahkan jiwa ragaku

Kepada lelaki itu

 

Aku pikir aku akan jadi istrinya

Ternyata ia hanya ingin menjadi tuan

Dan menikmati diriku selama sebulan

Tetapi aku ikhlas mengabdi

Tanpa melawan

 

Selanjutnya pada suatu hari

Ia bawa aku ke Cikupa

Di mana semua orang mengenalnya

Memang benar ia mandor

Tetapi rupanya

Ia juga majikan pelacuran

 

Bagaikan tertenung

Menikmati cinta dan derita

Aku selalu mematuhinya

Aku menjadi pelacur kesayangan

Di antara para sopir truk menjadi rebutan

 

Aku menjadi dagangan yang menguntungkan

Diedarkan ke Karawaci

Cimone, Cikupa, dan Balaraja

Di Cilegon aku diantri

 

Dari karawaci sampai ke Merak

Di sepanjang jalur jalan pembangunan

Dari desa yang porak-poranda

Muncullah gadis-gadis remaja

Menjadi bunga di warung-warung pelacuran

 

Pabrik dan pelacuran

Adalah satu pasangan

Orang Korea, Jepang dan Jerman

Semua sudah aku rasakan

Adalah di Cilegon

Aku pertama terkena rajasinga

 

Dengan tabah aku lawan penyakitku

Di jagat raya tidak kurang obat-obatan

Dan ketika kembali seperti sediakala

Majikan membawa aku ke Ancol, Jakarta

 

Jakarta, oh, Jakarta!

Pohon lampu-lampu neon

Sungai raya dengan arus mobil dan bis kota

Langganan yang bersih dan kaya

Setiap subuh sarapan di restoran

Bangun siang terus ke toko berbelanja

 

Hidup rasanya seperti mimpi

Tanpa bumi

Banyak yang terjadi

Tanpa ada yang masuk ke hati

Aku hanyut di dalam aneka pengalaman

Di mana selalu bukan aku yang berkuasa

 

Segala ingatan kepadamu, Akang

Segera aku singkirkan

Rasa malu kepadamu

Aku benamkan ke dalam batin kebal rasa

 

Rajasinga demi rajasinga aku kalahkan

Sampai pada suatu hari

Aku merasa demam tinggi

Dan tubuhku terasa tanpa tulang

Sejak saat itu

Aku dirundung sakit tak tersembuhkan

Rasa lemas tanpa daya

Kanker rahim

Berulang kali keputihan

 

Bagaikan barang rongsokan

Nilaiku merosot

Menjadi pelacur ketengan

Mengembara ke Kalideres

Muara Angke, Tanah Abang Bongkaran

Dan Jati Petamburan

 

Sebagai mahluk setengah bangkai

Aku terlindung di tempat-tempat ini

Yang sudah sah

Menjadi gua-gua sampah

Aku bercampur dengan mereka

Cendawan-cendawan kehidupan

Menghibur para lelaki kumuh

Yang pura-pura lupa kemiskinan

 

Akhirnya, Akang

Aku tersingkir ke Kalijodo

Tanpa rumah

Tanpa kesehatan

Tanpa perlindungan

 

Kini, di malam hari

Teronggok di tepi jalan raya ini

Sambil menghadap kiblat arah desa kita

Aku merasa mengambang

Di udara yang gelap gulita

Seakan aku mabuk dan mati rasa

Jasadku tak berdaya

Dunia lenyap

Segala macam peristiwa berlalu

Namun tanpa aku duga

Di dalam senyap muncul wajahmu

 

Ada kehangatan terasa di jidatku

Kepada bayangan wajahmu

Aku tembangkan kawih asih yang berdebu

Dengan mulutku yang bisu, biru, ternganga, dan kaku

 

Akang, kamu seperti dewa

Sangat jauh dan mulia

Maafkan, aku sudah berdosa

Tembangku ini, Akang

Ingin bergayut di pucuk bambu

Sia-sia

Ia disambar truk gandeng yang lewat menderu

 

Bila tembangku ini selesai, Akang

Aku mati

 

Depok, 14 Januari 1991

 

(dari kumpulan puisi “ Orang-orang Rangkasbitung”, hal 42 – 51)

Puisi Ekspresionisme Impresionisme

Contoh ekspresionisme

 

Chairil Anwar

 

1943

 

Racun berada di reguk pertama

Membusuk rabu terasa di dada

Tenggelam darah dalam nanah

Jalan kaku lurus. Putus

Candu

Tumbang

Terbenam

Hilang

Lumpuh

Lahir

Tegak

Berderak

Rubuh

Runtuh

Mengguruh

Menentang. Menyerang

Kuning

Merah

Hitam

Kering

Tandas

Rata

Rata

Rata

Dunia

Kau

Aku terpaku

 

Contoh impresionisme :

 

Toto Sudarto Bachtiar

 

IBUKOTA SENJA

 

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari

Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi

Di singai kesayangan, kota kekasih

Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan

 

Gedung-gedung dan kepala mengabur  dalam senja

Mengurai dan layung-layung membara di langit barat daya, kata kekasih

Tekankan aku pada pusat hatimu

Di  tengah-tengah kesibukan dan penderitaanmu

 

Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia

Sumber-sumber yang murni terpendam

Senantiasa diselimuti bumi keabuan

Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas

Menunggu waktu mengangkut maut

 

Aku tidak tahu apa-apa, di luar yang sederhana

Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan

Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dini hari

Serta di keabadian mimpi-mimpi manusia

 

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran

Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari

Antara kuli-kuli yang kembali

Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan

 

Serta anak-anak berenang tertawa tak berdosa

Di bawah bayangan samar istana kejang

Layung-layung senja melambang hilang

Dalam hutan malam terjular tergesa

 

Sumber-sumber murni menetap terpendam

Senantiasa diselaputi bumi keabuan

Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas

O, kota kekasih setelah senja

Kota kediamanku, kota kerinduanku

Cerpen Aliran Surrealisme

Contoh sastra Surrealisme

 

KECUBUNG PENGASIHAN

Oleh : Danarto

KEMBANG-KEMBANG di taman bunga yang indah harum semerbak itu pun jauh-jauh sudah menyambut bersama-sama dengan senyum mesra kepada perempuan bunting yang berjalan gontai seolah-olah beban di dalam perutnya lebih berat dari keseluruhan tubuhnya hingga orang melihatnya terkesan bahwa ia lebih tampak menggelinding daripada berjalan dengan kedua belah kakinya, yang mana tentulah merupakan pemandangan yang jenaka, manapula pakaiannya compang-camping hingga kerepotan sekali ia untuk menutupi perutnya yang bundar buncit itu dengan selayaknya, hingga ia di jalan-jalan raya, di restoran-restoran, di pasar, di stasiun, di tong-tong sampah, membangkitkan gairah orang-orang untuk meletuskan hasrat hati yang peka seperti senar-senar lembut : laki-laki tersenyum kurang ajar, anak-anak tertawa mengejek, wanita-wanita melengos. Dan kembang-kembang di taman bunga yang menyambut perempuan bunting dengan senyum mesranya itu pun tentulah di hatinya terselip perasaan geli juga.

Taman bunga itu indah harum semerbak. Banyak orang beristirahat di sana. Orang-orang tua, laki-laki dan perempuan, anak-anak muda yang berpasangan dan sendirian, bocah-bocah cilik yang bermain kejar-kejaran atau yang tenang duduk-duduk di bangku. Para pensiunan, para pegawai, para buruh, para petani yang habis belanja ke kota dan mau pulang lagi ke desanya, para profesor dan kaum cerdik pandai, para mahasiswa, para seniman yang lusuh, para pedagang, para tukang jual obat, para tukang catut, para tukang becak, para gelandangan dan pengemis yang kotor, kelaparan dan compang-camping. Yah, semuanya perlu duduk-duduk di taman itu. Tidak perlu menggagas apa yang perlu diperbuat. Yah, pokoknya ketaman bunga itu dulu dan lantas mau apa ! Ngomong? Menikmati bunga-bunga yang jelita-jelita ? Melihat yang melihat ? Cuci mata (kotor hati) ? Cari jodoh ? Bercerai ? Bertengkar ? Merencanakan siasat? Menghitung keuntungan ? Menemukan rumus ? Mencari ilham ? Ngobrol cabul ? Menggapai-gapai Tuhan di mana adanya ? Ya, segalanya diperbuat orang di taman itu. Perempuan bunting itu sudah memasuki bagian taman bunga yang dikenalnya. Ia tiap hari ke situ. Ia makan kembang-kembang itu. Sebagai orang gelandangan, ia paling sengsara. Ia kalah rebutan sisa-sisa makanan di tong sampah, sebab pengemis-pengemis lain lebih cekatan. Ia tak pernah mendapatkan apa-apa dalam bak sampah. Kemudian diputuskannya untuk memakan kembang. Berhari-hari ia memakan kembang-kembang di taman itu. Mula-mula ia tak tahan. Tapi lama-lama biasa juga. Tiap harinya makan bertangkai-tangkai kembang. Di sana ada kelompok Mawar, kelompok Melati, Sedap Malam, Anggrek dan sebagainya.

“ Selamat siang, perempuan bunting “, sambut kelompok-kelompok itu bersama-sama, seperti anak-anak sekolah kepada ibu gurunya.

“ Selamat siang, sayangku “, sahut perempuan bunting itu sambil mendekati mereka. Ia berkeliling mengitari kelompok-kelompok itu dan terpana.

“ Kandunganmu semakin besar rupanya”, kata Mawar

“ Awas, awas, kau bisa terjungkir ”, kata Melati

“ Rasain kalau nanti meledak, wahai perempuan ayu “, sambung Sedap Malam.

Perempuan itu terkekeh-kekeh keras hingga buah dadanya terpental-pental dan perut buncitnya bergetar seperti ada gempa bumi. Sekalian kelompok-kelompok kembang itu pun ikut tertawa.

“ Bentukmu tampak semakin lucu kalau kau tertawa keras. Saya ingat Rangda “, sela Anggrek.

“ Ah, orang-orang baik pun akan tertawa geli melihatmu “, kata Melati.

“ Hayo ! Macam apalagi kiranya?” tukas Kamboja.

“ Bungkahan batu ! “, teriak Kenanga.

“ Ah, terlalu biasa. Tidak kena “.

“ Trasi bau ! “.

“ Tong yang mbludag ! “

“ Hampir ! “

“ Padas gempal ! “

“ Bukan main! Kena! Kena! “

Perempuan bunting itu terkekeh-kekeh terus, kelompok-kelompok kembang mengikutinya, dengan tertawa dan bergoyang.

“ Mana suka kia “, sahut mereka dengan genit.

(dari kumpulan cerpen “Godlob”)

ALIRAN-ALIRAN DALAM KESUSASTRAAN

Aliran-aliran dalam kesusastraan memiliki kesamaan dengan aliran dalam kesenian yang lain, misalnya dalam seni lukis, seni drama, bahkan dalam dunia filsafat dan kehidupan sosial. Aliran dalam kesusastraan berhubungan erat dengan pandangan hidup dan kejiwaan pengarang dan penyair, serta biasanya terekspresikan dalam karya-karya mereka. Artinya, kita memasukkan seorang sastrawan/sastrawati ke dalam aliran tertentu,  hendaknya berdasarkan buah cipta mereka. Dengan demikian, seorang pengarang bisa dimasukkan ke dalam beberapa aliran, karena corak karyanya yang bermacam-macam. Sementara itu, sebuah novel, cerpen, puisi  atau teks drama bisa dijadikan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa seorang pengarang menganut beberapa aliran.

Ambillah contoh “Nyanyi Sunyi” karya Amir Hamzah, “Ziarah”, “Merahnya Merah”, dan “Kering” karya Iwan Simatupang, “Gadlob” dan “Adam Makrifat” karya Danarto, “Harimau! Harimau!”, “Jalan Tak Ada Ujung” dan “Maut dan Cinta” karya Muchtar Lubis. Antologi puisi “Nyanyi Sunyi” bisa digunakan contoh untuk romantisme, mistisme, atau religiusme, tiga novel Iwan yang tadi telah disebut untuk absurdisme dan eksistensialisme, karya-karya Danarto untuk mistisisme, simbolisme dan absurdisme, karya-karya Muchtar Lubis untuk idealisme, humanisme, psikolonialisme.

Aoh. K.Hadimadja dalam bukunya “Aliran-aliran Klasik Romantik, dan Realisme dalam Kesusastraan” mengatakan bahwa “aliran itu tidak lain daripada keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham, ditimbulkan karena menentang paham-paham lama. Adakalanya para penganut aliran yang sama tidak sepaham benar-benar, akan tetapi pada dasarnya mereka tidak bertentangan, dan ciri-cirinya pengarang membawa pembawaan dan kepribadian yang khas atau ada seorang karena ciri-ciri yang umum itu, mereka dapat digolongkan ke dalam aliran tertentu”.

Sementara itu H.B. Jassin dalam bukunya “Tifa Penyair dan Daerahnya” menyatakan bahwa aliran dalam sastra dapat “ mengenai cara pengucapan daripada isi yang diucapkan, “ tetapi “ ada pula aliran-aliran yang menyatakan isi“.

Dari penjelasan di atas dapatlah kita pahami bahwa aliran dalam sastra sebenarnya berpangkal pada kesadaran sastrawan untuk menentang paham atau aliran sebelumnya. Perlawanan menentang paham atau aliran lama itu diwujudkan dalam bentuk ciptaan yang menunjukkan ciri lain daripada yang ada sebelumnya. Ingatkah Anda pada kumpulan sanjak “Tiga Menguak Takdir”? Kumpulan sajak itu sebenarnya merupakan bukti perlawanan kelompok penyair muda (Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani) terhadap Sutan Takdir Alisjahbana. Perlawanan itu bertolak dari konsepsi kesenian yang berbeda antara dua kelompok sastrawan itu (Pujangga Baru versus Angkatan ‘45).

Di Indonesia sebenarnya adanya aliran yang secara sadar diperjuangkan untuk menentang paham atau aliran sebelumnya belum banyak terjadi. Hal ini salah satu di antaranya disebabkan oleh usia sejarah sastra Indonesia yang belum begitu lama.

Salah satu indikator (petunjuk) adanya golongan yang menentang kelompok sastrawan sebelumnya adalah : adanya suatu manifestasi yang menyatakan pendirian kelompok itu dalam memperjuangkan gagasan-gagasan barunya. Angkatan ‘45 misalnya dengan manifestasi yang tercantum pada “ Surat Kepercayaan Gelanggang “ menyatakan pendirian kelompok tersebut, yang berbeda pendirian dari kelompok sastrawan Pujangga Baru, sementara itu              “ Manifes Kebudayaan “ (17 agustus 1963) lebih banyak merupakan sikap politik dari sastrawan kelompok bebas (Manifes) terhadap sastrawan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), daripada pernyataan melawan kelompok sastrawan generasi sebelumnya. Hal ini disebabkan sastrawan kelompok Manifes dan kelompok Lekra hidup sezaman.

Berikut ini akan kita pelajari beberapa aliran dalam sastra. Hendaknya dipahami bahwa aliran-aliran yang disebutkan di sini tidak menjamin bahwa sastrawannya secara sadar ingin memperjuangkan gagasan-gagasan aliran, dengan konsep atau pengertian aliran. Dapat kita indentifikasi karya sastra tertentu termasuk ke dalam kategori aliran sastra tertentu. Hendaknya kita sadari bahwa masalah aliran ini bukan merupakan monopoli bidang sastra. Aliran-aliran itu dapat berlaku dalam bidang seni lainnya, terutama pada seni lukis. Demikianlah jika kita berbicara tentang aliran realisme, maka aliran itu tidak hanya khusus berlaku pada sastra, tetapi juga berlaku pada seni lukis. Penjelasan berikut ini tidak berdasarkan pada urutan sejarah kelahirannya.

REALISME

Aliran ini mengutamakan realitas kehidupan. Sastra realis merupakan kutub seberang dari sastra imajis. Apa yang diungkapkan para pengarang realis adalah hal-hal yang nyata, yang pernah terjadi, bukan imajinatif belaka. Biografi, otobiografi, true-story, album kisah nyata, roman sejarah, bisa kita masukkan ke sini. Sastra realis juga berbeda dengan berita surat kabar atau laporan kejadian, karena ia tidak semata-mata realistik. Sebagai karya sastra, ia pun dihidupkan oleh pijar imajinasi dan plastis bahasa yang memikat.

Novel “Fatimah“ karya Titie Said, “Rindu Ibu adalah Rinduku” karya Motinggo Boesye, “Bilik-bilik Muhammad” karya A.R.Baswedan, skenario  “Arie Anggara“ karya Arswendo Atmowiloto, novel biografis “Pangeran dari Seberang“ karya N.H.Dini tentang Amir Hamzah, novel “Dari Hari ke Hari“ Mahbub Junaidi, “ Guruku Orang Pesantren “ Syaifuddin Zuhri merupakan sekadar contoh sastra realis ini. Ia berusaha berjujur terhadap kenyataan, tetapi hal-hal yang peka, diungkapkan dengan cukup etis dan sublim.

M.H. Abrams dalam kamusnya “ Glossary of Literary Terms “ menyebutkan bahwa realisme digunakan dalam 2 pengertian :

a. Untuk mengidentifikasi gerakan sastra pada abad XIX, khususnya prosa fiksi.

b. Menunjukkan cara penggambaran kehidupan di dalam sastra. Fiksi realistik sering dioposisikan dengan fiksi romantik. Di dalam romantik disajikan kehidupan yang lebih indah, lebih berani mengambil resiko, dan lebih heroik, dari pada yang nyata.

 

SURREALISME

Aliran yang terlalu mengagungkan kebebasan kreatif dan berimajinasi sehingga hasil yang dicapai menjadi antilogika dan antirealitas. Bisa jadi apa yang terungkap itu pada mulanya berangkat dari kenyataan sekitar, tetapi karena desain imajinasinya itu sudah demikian sarat, kuat dan jauh, ia terasa ekstrim dan radikal. Ada semacam keadaan trans (hanyut/kesurupan) di sana, sesuatu yang tidak kita temukan dalam realisme maupun naturalisme.

Surrealisme lebih dekat terhadap absurdisme daripada terhadap realisme. Dari sisi tertentu sanjak-sanjak Rendra “ Khotbah “, “ Nyanyian Angsa “,             “ Mencari Bapa “, cerpen-cerpen Danarto “ Godlob “, “ Kecubung Pengasihan “, “ Rintrik “, “ Sanu, Infinita Kembar “ Motenggo Boesye bisa ditunjuk sebagai contoh surrealisme.

Surrealisme merupakan gerakan di kalangan pengarang dan pelukis di Perancis, yang dimulai sekitar tahun 1920 an. Gerakan ini menghendaki adanya kebebasan dalam kreativitas artistik, mengungkapkan bawah sadar dengan imaji-imaji tanpa adanya urutan atau koherensi (seperti di dalam mimpi), membebaskan diri dari alasan yang logis, standar moralitas, konvensi dan norma-norma sosial dan artistik.

Surrealisme dapat diartikan sebagai melebihi realisme, karena surrealisme juga mengagung-agungkan asosiasi yang bebas serta penulisan secara otomatis, fantasi yang tak terkendali serta asosiasi yang bebas mewakili suatu dunia yang lebih realistis daripada kenyataan yang riil. Surrealisme mencoba mengeksploatasi materi-materi di dalam mimpi, keadaan jiwa antara tidur dan jaga, dan menyerahkan penafsirannya kepada pembaca.

H.B. Jassin menyatakan bahwa “Surrealisme menghendaki keseluruhan dan kesewaktuan…Sebab itu hasil kesusastraan surrealisme jadi sukar untuk menurutkannya, logika hilang, alam benda dan alam pikiran dan angan-angan bercampur baur dalam keseluruhan dan kesewaktuan.

 

ABSURDISME

Aliran dalam kesusastraan yang menonjolkan hal-hal yang di luar jalur logika, satu kehidupan dan bentang peristiwa imajinatif, dari alam bawah sadar, suasan trans. Pengarang aliran ini punya kesan mengada-ada, sengaja menyimpang dari konvensi kehidupan dan pola penulisan, tetapi pada super starnya, nampak kuat kebaruan dan kesegaran kreativitas mereka, bahkan kegeniusan mereka. Umumnya, mereka ini pernah pula sukses sebagai pengarang konvensional, sebagaimana para pelukis abstrak yang sempat meroket dan malang melintang di langit dunia mereka, bukan sunyi dari penciptaan lukisan-lukisan naturalis. Dramawan kontemporer/absurd yang tersohor, misalnya Putu Wijaya, N. Riantiarno dan Arifin C. Noer, juga punya seabrek karya  konvensional.

Di langit sastra Indonesia, absurdisme sudah memancar dan mendarah daging pada karya-karya Iwan Simatupang di dasawarsa 60 an, baik dalam dramanya “ Petang di Sebuah Taman “, dan “ RT 0 RW 0 “, cerpen-cerpennya yang terakit dalam “ Tegak Lurus dengan Langit “, maupun dalam empat novel monumentalnya : “ Kering “, “ Merahnya Merah “, “ Ziarah “, “ Koooong “. Ternyata, kehidupan yang serba mungkin dan dirias renda-renda absurditas ini banyak mengilhami lahirnya sastra absurd, sebagai bisa diciptakan oleh penyair Sutarji Calzoum Bachri dalam “ O  Amuk  Kapak “, “ Yudhistira Ardi Noegraha dalam “ Omong Kosong “, dan “ Sajak Sikat Gigi “, serta  oleh Ibrahim Sattah dan Sides Sudiarto Ds. dalam sanjak-sanjak mereka, oleh pengarang Budi Darma dalam kumcerpen “ Orang-orang Bloomington” “, oleh Putu Wijaya dalam karya-karya sastranya “ Telegram “, “ Stasiun “, “ Lho “, “ Keok “, “ Sobat “, “ Gres “, di samping drama-dramanya “ Anu “, “ Dag Dig Dug “, “ Aduh “, “ Zat “, oleh Arifin C. Noer dalam “ Kapai-kapai “, “ Mega-mega “, “ Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi “, oleh N. Riantarno dalam “ Bom Waktu “, “ Opera Kecoak “ dan naskah saduran “ Perempuan-perempuan Parlemen “.

 

PSIKOLOGISME

Aliran yang mengutamakan pembahasan masalah kejiwaan dalam kaitannya dengan berbagai peristiwa dalam cerita. Dalam novel, suasana jiwa dan konflik batin para pelaku disoroti dengan tajam, detail dan mendalam. “ Belenggu” Armijn Pane, “ Atheis “ Achdiat Kartamiharja, “ Royan Revolusi “ dan “ Kemelut hidup “ Ramadhan K.H., “ Damai dalam Badai “ dan “ Cintaku Selalu Padamu “ Motenggo Boesye, “ Bila Malam Bertambah Malam “ Putu Wijaya, novel-novel N.H. Dini, Titie Said, La Rose, Ike Supomo, Marga T., Ashadi Siregar, Ahmad Tohari, bisa disebut sebagai novel psikologi.

 

ALIRAN ROMANTIK

Sastra romantik ditandai dengan ciri-ciri : keinginan untuk kembali ke tengah alam, kembali kepada sifat-sifat yang asli, alam yang belum tersentuh dan terjamah tangan-tangan manusia. Istilah ini juga mencakup ciri-ciri adanya : keterpencilan, kesedihan, kemurungan, dan kegelisahan yang hebat. Kecuali itu romantik juga cenderung untuk kembali kepada zaman yang sudah menjadi sejarah, masa lampau yang terkadang melahirkan manusia-manusia besar. Pengungkapan yang romantis sering dikaitkan dengan percintaan yang asyik dunia muda-mudi yang masih hijau dan belum banyak pengalaman. Tokoh-tokoh dalam fiksi romantik sering digambarkan dengan sangat dikuasai oleh perasaannya dalam merumuskan segala persoalan. Dikisahkan juga tokoh-tokoh yang tak tahan menghadapi hidup yang keras dan kejam. Mereka itu kemudian ada yang lari kegunung atau tempat terpencil lainnya yang dirasakannya jauh dari kekerasan hidup.

Aoh K. Hadimadja menyatakan bahwa salah satu ciri alam romantik tokoh-tokohnya suka membunuh diri, karena terlalu kuat dihinggapi perasaan.

Romantisme, aliran yang mementingkan curahan perasaan yang indah dan menggetarkan yang diungkapkan dalam estetika diksi dan gaya bahasa yang mendayu-dayu membuai sukma. Contoh : puisi-puisi Amir Hamzah “ Buah Rindu“, “ Karena Kasihmu “, “ Memuji Dikau “, “ Mengawan “, “ Do’a “, karya-karya Hamka “ Tenggelamnya Kapal Van der Wijk “, “ Di Bawah Lindungan Ka’bah “, “ Di dalam Lembah Kehidupan “, roman “ Upacara “ dan kumpulan sanjak “ Nyanyian Ibadah “ nya Korrie Layun Rampan, kumpulan sanjak              “ Romance Perjalanan “ Kirjomulyo, “ Buku Puisi “ nya Hartoyo Andangjaya.

 

EKSISTENSIALISME

Liaw Yock Fang dalam bukunya “Ikhtisar Kritik Sastra” menyatakan bahwa “Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang kemudian menjadi landasan suatu aliran sastra.”

Ajaran yang pokok dari eksistensialisme ialah bahwa manusia adalah apa yang diciptakannya sendiri. Manusia tidak ditakdirkan oleh Tuhan. Jika ia menolak memilih atau membiarkan dirinya dipengaruhi oleh kekuatan luar, itu adalah kesalahannya sendiri. Karena itu, karya sastra eksistensialisme sangat mementingkan perbuatan –termasuk perbuatan kemauan- sebagai unsur-unsur yang menentukan. Unsur-unsur dasar dari manusia seperti irrasionalitas, ketidak sadaran dan kebawahsadaran juga dipentingkan. Kehidupan dipandang sebagai sesuatu yang dinamis, yang terus mengalir sedangkan kehidupan manusia adalah rentetan saat-saat yang berurutan”.

 

Fuad Hasan dalam bukunya “Berkenalan dengan Eksistensialisme” mencoba memprkenalkan suatu alam pikiran yang dewasa ini dikenal dengan nama eksistensialisme, dengan membutiri pendapat filsuf eksistensialis melalui hasil-hasil karya sastranya. Beberapa pikiran tokoh eksistensialisme itu dikutipkan berikut ini :

Manusia adalah pengambil keputusan dalam eksistensinya. Apapun keputusan yang diambilnya tak pernah ia mantap sempurna (Kiergaard).

Manusia akan terus menerus dihadapkan pada pilihan-pilihan (Kiergaard).

Dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, maka kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan, apa yang baik, harus kuat ; sebaliknya segala yang lemah adalah buruk dan salah (Niezseche).

Dalam pergaulan antara manusia maka yang harus ditumbuhkan dalam manusia-manusia agung yaitu manusia yang oleh kekuatan tak bisa mengatasi kumpulan manusia-manusia dalam massa (Nietzseche).

 

FILSAFATISME

Aliran yang mengedapankan hadirnya nilai-nilai filsafati, suatu pemikiran mendalam makna hidup, yang biasanya berangkat dari penghayatan personal. Para pengarang dan penyair yang karya-karyanya kental berkadar filsafat disebut pujangga. Tidak sedikit di antara mereka sekaligus filsuf.

Dari R.A. Kartini, R. Ng. Ronggowarsito, Muhammad Iqbal, Kahlil Gibran, Frans Kafka, Iwan Simatupang, Subagio Sastrowardoyo, Putu Wijaya, Emha Ainun Najib, banyak terlahir sastra filosofis.

Sastra filosofis ada yang berkadar humanis, adapula yang religius. Di sisi lain kita temukan spiritualisme, aliran yang mementingkan nilai-nilai ruhani, kehidupan batiniah, yang menuju kebajikan dan kesempurnaan. Spiritualisme berbeda dengan psikologisme, karena spiritualisme sudah mengacu ke moral luhur, sedang psikologisme membahas kehidupan dari segi jiwanya, lepas dari masalah atau tanpa keharusan penyampaian-penyampaian nilai-nilai dan akhlak mulia.

Sanjak-sanjak ruhani bisa merupakan bagian dari filsafatisme, di samping ia sendiri merupakan perwujudan spiritualisme. Filsafatisme bisa berangkat dari pikiran, bisa pula diilhami wahyu atau mewujudkan renungan hati nurani. Contoh-contoh di bawah ini bisa dimasukkan ke dalam filsafatisme, tetapi juga benar untuk dimasukkan ke dalam spritualisme.

 

EKSPRESIONISME DAN IMPRESIONISME

M.H. Abrams menyatakan bahwa ekspresionisme adalah gerakan dalam sastra dan seni di Jerman yang mencapai puncaknya pada periode 1910 – 1952. Para pelopornya seniman dan pengarang yang dengan bermacam cara menyimpang dari penggambaran yang realistik tentang kehidupan dan dunia. Mereka mengekspresikan pandangan seni mereka atau emosi secara kuat. Ekspresionisme tidak pernah merupakan suatu gerakan yang dirancang secara baik. Dapat dikatakan bahwa ciri utama ekspresionisme adalah pemberontakan melawan tradisi realisme dalam bidang sastra dan seni, baik dalam hal pokok persoalannya (subyect matter) maupun gayanya (style).

 

A.F. Scott dalam kamusnya Current Literary Terms A Concis Dictionary menyatakan bahwa impresionisme merupakan cara menulis karangan yang tidak memperlakukan realitas secara obyektif, tetapi menyajikan kesan-kesan (impressions) dari pengarangnya. Istilah impressionisme ini berasal dari dunia seni lukis pad paruh pertama abad ke 19 di Perancis.

Sementara itu H.B. Jassin menyebutkan bahwa “ suatu lukisan yang impresiomistis kelihatannya seperti belum selesai. Baru hanya skets. Segala sesuatu tidak dilukiskan pikiran-pikiran yang sudah masak dipikirkannya,…..dia hanya mau melukiskan kesannya sepintas lalu, kesan pertama yang segar “.

 

MELANKHOLISME

Aliran dengan karya-karya penuh warna muram, sendu, kehidupan yang getir dan tragis, sarat ratapan dan rintihan. Kisah cinta klasik, drama-drama dalam film India, cerita-cerita dengan tema kemiskinan, kemalangan hidup dan penderitaan termasuk melankholisme. “ Di dalam Lembah Kehidupan “, “ Tenggelamnya Kapal Van der Wijk “, “ Di bawah Lindungan Ka’bah “ karya Hamka,    “ Buku Harian Seorang Penganggur “ dan cerpen-cerpen serta drama-drama Muhammad Ali, puisi-puisi Amir Hamzah dalam “ Buah Rindu “, kebanyakan sanjak-sanjak Leon Agusta, merupakan sastra melankholik. Lagu-lagu Rinto Harahap, Charles Hutagalung, Benny Panjaitan, A. Riyanto bisa dimasukkan ke sini.

 

IRONISME

Aliran yang mementingkan nada mengejek, kadang terus terang, kadang melalui sindiran-sindiran. Bisa juga, karya itu sebenarnya merupakan kritik tajam terhadap kondisi sosial atau perilaku tokoh tertentu. “ Melaut Benciku “ Amal Hamzah, “ Kisah Sebuah Celana Pendek “ Idrus, beberapa cerpen Hamsad Rangkuti dan  “ Sumpah WTS “ dan “ Catatan Harian Seorang Koruptor “ F. Rahardi merupakan contoh ironisme.

 

NIHILISME

Aliran yang mengekspos peristiwa atau pemikiran-pemikiran, bisa saja sampai tingkat filsafat, tanpa landasan moral kemanusiaan, apalagi Keilahian. Cerita-cerita yang ateistik, komunistik, sekuleristik, chauvinistik bisa dimasukkan ke dalam fiksi nihilis. Ada memang, cerita yang menghadirkan paham-paham penafian Tuhan, pemasabodohan agama dan penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan, misalnya “ Atheis “ nya Achdiat Kartamihardja, tetapi karena tenden pengarang tidak ke sana sebagai justru terlihat dalam sikap Achdiat yang mengkritik tokoh-tokoh ceritanya itu, maka karangan tersebut tidak bisa digolongkan ke dalam nihilisme.

 

NATURALISME

Aliran yang mementingkan pengungkapan secara terus-terang, tanpa mempedulikan baik buruk dan akibat negatif. Pengarang naturalis dengan tenangnya menulis tentang skandal para penguasa atau siapapun, dengan bahasa yang bebas dan tajam. Pornografi, karya mereka jatuh menjadi picisan, bukan tabu bagi mereka. Biasanya, hal ini benar-benar mereka sadari, bahkan mereka pun sempat membanggakan naturalisme ini sebagai gaya mereka. Kumpulan sanjak F. Rahardi, “ Catatan Harian Sang Koruptor “ dan “ Sumpah WTS “, beberapa sanjak Rendra “ Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta “, “ Rick dari Corona “, “ Sajak Gadis dan Majikan “, Sajak SLA “ bisa ditunjuk sebagai contoh pengibar aliran ini. Dari khazanah lama “ Surabaya “ nya Idrus bisa digunakan sebagai  contoh meskipun tidak seseru punya F. Rahardi dan Rendra.

 

DETERMINISME

Istilah determinisme berasal dari doktrin filsafat yang menyatakan bahwa setiap kejadian atau peristiwa itu ada penyebabnya. Dalam sastra, determinisme mencoba menggambarkan tokoh-tokoh cerita dikuasai oleh nasibnya, sehingga tokoh tersebut tidak sanggup dan tidak mampu lagi ke luar dari takdir yang telah jatuh pada dirinya.

Takdir yang dimaksudkan di sini bukanlah takdir dari Tuhan sesuai dengan konsepsi yang berlaku pada agama langit, melainkan takdir yang lebih tepat dikatakan sebagai akibat yang tak dapat dielakkan karena peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya, berupa faktor-faktor biologis, lingkungan dan sosial.

H.B. Jassin menyatakan bahwa nasib itu “ ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitar, kemiskinan, penyakit, darah keturunan, dalam hubungan sebab akibat. Menurut ilmu keturunan, ayah atau ibu yang jahat akan menurunkan sifat-sifat jahatnya pada anaknya atau cucu-cucunya, biarpun keturunannya itu bermaksud baik, mau memperbaiki dirinya……….Apabila si orang tua jahat, maka itu bukan pula karena sudah ditakdirkan Tuhan demikian, tetapi karena keadaan masyarakat yang serba bobrok, orang hidup dalam kemiskinan yang sangat, pembagian harta kekayaan antara manusia tidak adil “.

(contoh novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” oleh Hamka)

Determinisme berpendapat bahwa tragedi hidup manusia sudah tercetak dalam kemutlakan, merupakan paksaan nasib yang tak bisa ditembus oleh segenap daya dan ikhtiar sang pelaku. Orang sadar dengan kodratnya, sebagai wong cilik, sebagai hamba sahaya, sebagai sang kurban, sehingga tidak akan banyak menuntut. Ia legawa-legalila nrima ing pandum menerima suratan nasib, seperti yang terjadi pada Maria Magdalena Pariyem dalam liris prosanya Linus Suryadi Ag. . Atau, seperti skenario semula, memang tragis penuh tangis. Determinisme bisa dijumpai dalam “ Trilogi Oedipus “ nya Sophokles, “ Tragedi Sangkuriang “, “ Pengakuan Pariyem “ nya Linus Suryadi AG, novel “ Kuterima Penderitaan Ini, Ibu “ Motenggo Boesye,  tokoh-tokoh cerita Iwan Simatupang,  Putu Wijaya, Arifin C yang papa. (baca “Merahnya Merah” dan “Kering” karya Iwan, “Pol” dan “Stasiun” karya Putu, “Mega-mega”, “Kapai-kapai”, “Umang-umang” klarya Arifin.

 

SIMBOLISME

Pengungkapan simbolis tidak secara harfiah, melainkan dengan simbol-simbol. Sebuah simbol berarti sesuatu yang bermakna sesuatu yang lain. Bunga mawar sebagai simbol dari kecantikan.

Simbolisme merupakan aliran dalam sastra yang mencoba mengungkapkan ide-ide dan emosi lebih dengan sugesti-sugesti daripada menggunakan ekspresi langsung, melalui objek-objek, kata-kata dan bunyi. Aliran ini merupakan reaksi terhadap  realisme dan naturalisme yang hanya berpijak pada kenyataan semata. Sastra simbolik banyak menggunakan simbol atau lambang dalam mengungkapkan pemikiran, emosi, secara samar-samar dan misterius.

Karya simbolik terkadang sukar dipahami dan hanya secara samar-samar ditangkap maknanya.

Penyair simbolik bahkan menyukai yang samar-samar itu, oleh karena bagi mereka puisi harus merupakan teka-teki bagi orang biasa, tetapi sebenarnya merupakan musik yang indah bagi yang dapat menghayati dan menikmatinya. Puisi simbolik mencapai keindahannya dengan mengungkapkan objek secara tidak langsung, secara sugestif, dan dengan memperhitungkan efek musiknya yang mengandung makna.

Simbolisme, banyak menggunakan kata-kata kias, lambang-lambang, kata-kata yang bermakna simbolik untuk melukiskan sesuatu. Sesungguhnya, semua fabel (misalnya “Serial Kancil”, “Hikayat Kalilah dan Daminah”) adalah contoh tepat simbolisme ini. “ Dengar Keluhan Pohon Mangga “, karya Maria Amin,                “ Musyawarah Burung “ karya Fariduddin Attar, “ Kucing “ sanjak Sutardji Q.B., “ Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa “ karya Y.B. Mangunwijaya, “Ular  dan  Kabut“ sanjak Ayip Rosidi, “Sebuah Lok Hitam“ puisi Hartoyo Andangjaya, hanya sekadar contoh sastra simbolik ini.

 

IDEALISME

Aliran dalam kesusastraan yang mengungkapkan hal-hal yang ideal, pengarangnya penuh perasaan dan cita-cita. Mereka berpendapat, sastra punya peran untuk suatu perubahan sosial ke arah yang positif. Sastra bertenden, sebutan untuk karya-karya pengarang idealis, diharapkan mampu mengubah sikap hidup masyarakat atau pembaca dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang statis menjadi dinamis, dari yang malas menjadi rajin, dan seterusnya.

Contoh : “Habis Gelap Terbitlah Terang“ karya  R.A. Kartini;

“Layar Terkembang“ karya  Sutan Takdir Alisjahbana

“Kemarau“ karya A.A. Navis, cerpen “Kadis“ karya Muhammad Diponegoro.

Cerpen  “Sisifus” karya Muhammad Fudoli Zaini

 

HEROISME

Aliran yang mencuatkan nilai-nilai kepahlawanan, kecintaan terhadap tanah air dan figur teladan bangsa, serta semangat membela tanah air. “Bende Mataram“ karya Muhammad Yamin, “Diponegoro“ karya Chairil Anwar,  “Monginsidi“ karya Subagio Sastrowadojo, “Tanah Tumpah Darah“ karya Sitor Situmorang, “Stasiun Tugu“ karya  Taufik Ismail, “Ode bagi Proklamator“ karya  Leon Agusta, dan tentu saja lagu kebangsaan “Indonesia Raya“ dan lagu-lagu nasional “Ibu Kita Kartini“, “Satu Nusa Bangsa“, “Padamu Negeri“, “Rayuan Pulau Kelapa“, juga lagu-lagu “Sepasang Mata Bola“, “Melati Tapal Batas“,  “Pantang Mundur“, merupakan contoh-contoh heroisme ini. “Percikan Revolusi“ dan “Cerita-cerita dari Blora“ karya Pramudya serta cerpen-cerpen revolusi Trisno Yuwono “Di Medan Perang“ dan “Laki-laki dan Mesiu“ bisa dimasukkan ke sini. Heroisme pun kita temukan pada lagu-lagu tertentu ciptaan Leo Kristi dan Gombloh almarhum.

 

RELIGIUSISME

Religiusme, aliran yang mementingkan nilai-nilai keagamaan atau renungan tentang Tuhan dan manusia di hadapan-Nya. Sastra religius dimiliki oleh setiap agama, juga oleh sastrawan yang punya penghayatan personal terhadap Tuhan. “Gitanyali“ karya Rabindranath Tagore, “Rindu Dendam“ karya Y.E. Tatengkeng,    “Kata Hati“ karya Samadi, beberapa sanjak Rendra dalam “Sajak-sajak Sepatu Tua“, “Balai-balai“, “Sajadah Panjang“, “Aisyah Adinda Kita“ karya Taufik Ismail, “99 untuk Tuhanku“ karya Emha Ainun Najib, “Nyanyian Ibadah” karya Korrie Layun Rampan, cerpen “Di dalam Kereta Api Perjalanan Hidup“ karya Riyono Pratikto, novel “Rindu Ibu adalah Rinduku“ dan “Perempuan-perempuan Impian“ karya Motenggo Boesye, “Wirid“ karya Ikranegara, novel “Ibuku Sayang“ karya Teguh Esha adalah sekadar contoh sastra religius yang bisa dijumpai.

 

TRANSENDENTALISME

Aliran yang mengetengahkan nilai-nilai transendental, renungan-renungan hidup yang mendalam, yang metafisis (di atas hal-hal yang fisik/nampak). Kalau sastra sufi merupakan katarsisme, maka sastra aliran ini kebanyakan bersifat kontemplatif. Sanjak-sanjak Afrizal Malna dalam “Abad yang Berlari”,

“Isyarat“ dan “Suluk Awang-uwung“ karya Kuntowijoyo, cerpen-cerpen Danarto dan Hamid Jabbar, serta Ahmad Tohari, sanjak-sanjak Umbu Langgu Peranggi dan Goenawan Mohamad, juga “Sejuta Milyar Satu“ karya Eka Budianta, merupakan contoh Transendentalisme.

 

KOMEDIALISME

Penuh suasana ceria, kocak, menganggap hidup penuh optimisme dan rasa humor, berbeda dengan determinisme dan melankolisme yang pessimistis. Tetapi ia tidak identik dengan lawak. Gaya bahasa Mahbub Junaidi dan Slamet Suseno, bahkan Y.B. Mangunwijaya dalam “Puntung-puntung Rara Mendut“ mengacu ke sini. Drama “Tuan Kondektur“, “Pinangan“, “Orang-orang Kasar“ karya  Anton Chekov, “Kejarlah Daku kau Kutangkap“ karya Asrul Sani, novel “Dari Hari ke Hari“ karya Mahbub Junaidi, “Arjuna Mencari Cinta“ dan “Yudhistira Duda“ oleh Yudhistira Ardi Noegraha merupakan sebagian contoh komedialisme.

 

(Dari berbagai sumber, ditulis pertama kali 27 Juni 2007  – danriris)

 

Paragraf Argumentasi, Deduktif, dan Induktif

Menulis paragraf argumentasi, deduktif dan induktif

Paragraf argumentasi menitikberatkan pada penyampaian opini dilandasi alasan-alasan  rasional yang sangat meyakinkan sehingga pembaca paragraf itu merasakan hal yang masuk akal. Atas satu fenomenal bisa muncul lebih dari suatu opini dan keduanya atau ketiganya bisa diterima akal sehat karena didukung argumentasi yang meyakinkan.

Paragraf argumentasi ditulis dengan menggunakan penalaran induktif atau deduktif. Dalam paragraf induktif, penulis memulainya dari uraian yang mengerucut ke kalaimat inti/kesimpulan. Paragraf deduktif sebaliknya. Paragraf ini dimulai dari kristal pembicaraan, pernyataan inti berupa kalimat terletak pada posisi awal dalam paragraf. Kalimat-kalimat selanjutnya merupakan uraian ide pokok yang sifatnya menerangjelaskan.

Sebuah karangan yang berbentuk paragraf yang terdiri dari kalimat-kalimat utama dan kalimat-kalimta penjelas/pendukung bisa diawali dengan penulisan kerangka paragraf. Kerangka karangan/paragraf ditulis dengan menggunakan kata-kata kunci, frase atau kalimat singkat padat, yang nantinya diuraikan menjadi kalimat-kalimat paragraf. Dalam kerangka paragraf sudah terbayang bentuk penalaran paragrafnya, induktif atau deduktif, karena memang sudah disusun urutannya untuk menjadi paragraf indutif atau deduktif. Letak kalimat utamanya sudah jelas terbaca dalam kerangka paragraf yang ditulis.