Archive for Februari, 2011

NASIBMU BAHASAKU…

Tulisan ini hanya sebagian dari rasa lucuku pada bahasa yang telah mempersatukan bangsa ini. Bukan karena tidak bangga, atau pula merasa bosan untuk menggunakan bahasa tercinta ini. Namun, semata-mata rasa lucu itu muncul serta-merta ketika saya membaca kata demi kata yang tertulis pada lembar jawaban siswa-siswa saya.

Entah karena terburu waktu atau mungkin efisiensi tinta pulpen yang mereka pakai, karena hampir semua kompak menulis kata “Yang” dengan “yg”, atau kata “Dengan” disingkat saja “dg”, bahkan parah lagi “Karena” menjadi “krn” atau pula “Sudah” berubah menjadi “sdh”. Duh,…batin tertawa namun campur ngilu, lucu tapi bingung maksud jawabannya apa karena jadinya multi-persepsi.

Jika sudah demikian siapa yang patut disalahkan? ah, itu mah tanggung jawab guru bahasa-nya donk!, ada yang berkata seperti itu. Padahal, saya kira ini merupakan tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia, yang tentu saja harus merasa memiliki bahasa kebanggaan kita ini. Apa terus guru matematika tak peduli dengan anak yang kebelinger menggunakan kata-kata (tepatnya huruf-huruf) konyol seperti itu pada lembar jawaban ulangannya, ataupula apakah seorang guru IPA tak merasa bingung untuk menterjemahkan jawaban anak yang menggunakan bahasa tingkat tinggi?, tak perlu dijawab, tapi harus dipikirkan.

Lalu kenapa anak-anak sekarang lebih suka menyingkat kata-kata? seperti biasanya, semua karena kebiasaan. Bukankah bahasa seperti itu muncul setelah merebaknya SMS, Facebook, IRC, IM, dan sebangsanya? Tapi, apakah faktor kebiasaan harus terus mendarah daging?.

Jika hal di atas tetap dibiarkan, bukan tidak mungkin akan merusak tatanan bahasa kita. Degradasi bahasa (meminjam istilah degradasi moral) akan menjadikan bahasa ini mati di negerinya sendiri. Kita malu dengan orang australia yang dengan gigihnya mempelajari bahasa indonesia, kita tentunya harus miris bahasa indonesia justru pasih didendangkan oleh orang belanda. Kiranya cukup bila bahasa indonesia yang baik hanya ditulis oleh para penerbit buku. Sudah saatnya mengembalikan atau mungkin mengenalkan kembali BAHASA INDONESIA pada anak-anak kita, agar bahasa ini tetap menjadi bahasa yang menjadi kebanggaan kita bersama.

GURINDAM: GURINDAM BERKAIT

Gurindam berkait atau disebut pula gurindam berangkai adalah gurindam yang kata pertama tiap-tiap baris pertamanya sama.

Contoh:

Cahari olehmu sahabat

Yang boleh djadikan obat.

Cahari olehmu akan guru

Yang boleh lakukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan abdi

Yang ada baik budi sedikit.

 

tulisan terkait:

Gurindam XII Karya Raja Ali Haji (klik disini)

PUISI: RAKYAT

oleh: Hartoyo Andangjaya (dari Angkatan ’66)

RAKYAT


Rakyat adalah kita

Jutaan tangan yang mengayun dalam kerja

Di bumi di atanah tercinta

Jutaan tangan mengayun bersama

Membuka hutan ilalang menjadi ladang-ladang berbunga

Mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota

Menaikan layar menebar jala

Meraba kelam di tambang logam dan batu bata

Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita

Otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka

yang  selalu berkata dua adalah dua

yang bergerak di simpang-siur garis niaga

Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita

Beragam suara di langit tanah tercinta

Suara bangsi di rumah berjenjang bertangga

Suara kecapi di pegunungan jelita

Suara bonang mengambang di pendapa

Suara kecak di muka pura

suara tifa di hutan kebun pala

rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ilaha kita

Puisi kaya makna di wajah semesta

Di darat

Hari yang berkeringat

Gunung batu berwarna coklat

Di laut

Angin yang menyapu kabut

Awan menyimpan topan

Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita

Darah di tubuh bangsa

Debar sepanjang masa

Sumber : Buku Puisi halaman 31

TATA BAHASA: PENGGUNAAN TANDA BACA

Penggunaan tanda baca pada tulisan sepertinya hal yang sepele. Namun, sebenarnya penggunaan tanda baca yang kurang tepat akan menyebabkan suatu tulisan mengalami distorsi dalam makna. Singkatnya penggunaan tanda baca yang baik dan benar merupakan hal yang mutlak. Berikut ini adalah pedoman  penggunaan tanda baca sesuai  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan edisi kedua berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.

Pemakaian Tanda Baca

A. Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:

  • Ayahku tinggal di Solo.
  • Biarlah mereka duduk di sana.
  • Dia menanyakan siapa yang akan datang.
  • Hari ini tanggal 6 April 1973.
  • Marilah kita mengheningkan cipta.
  • Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.
2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Baca lebih lanjut

SASTRA: TEKS DRAMA TERPENTING DARI TIAP PERIODE SASTRA

TEKS-TEKS DRAMA TERPENTING DARI TIAP PERIODE

Kiranya kita mengenal sejarah perkembangan drama di Indonesia dari masa ke masa, dari awal pertumbuhannya dekade 20-an hingga sekarang. Dalam realitasnya, sejarah pertumbuhan dan perkembangan naskah drama dan karya sastra bentuk prosa fiksi dan puisi bisa dirasakan bersamaan dan sering sejalan. Dimulai pada sekitar dekade 20-an, namun embrionya lebih awal lagi. Banyak pentas drama diselenggarakan dari awal abad XX hingga awal abad XXI, namun mendapatkan naskah drama di pasaran, di penerbitan-penerbitan umum jauh lebih sulit daripada memperoleh novel, cerpen, kumpulan cerpen, ataupun kumpulan puisi. Namun dari Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin dan pusat-pusat dokumentasi sastra yang lain di Dewan Kesenian Jakarta, kesulitan itu relatif bisa diatasi.

Berikut disampaikan judul-judul naskah drama dari periode awal hingga kini:

Baca lebih lanjut

SASTRA: ANTARA PENGADILAN PUISI DAN KREDO PUISI

ANTARA PENGADILAN PUISI DAN KREDO PUISI

Diantara sekian banyak peristiwa yang berkaitan dengan sejarah sastra indonesia, ada dua kisah yang ingin saya angkat disini

“Pengadilan Puisi dan Kredo Puisi”

1. Pengadilan Puisi (1974).

Pengadilan Puisi merupakan ”pemberontakan” terhadap dunia perpuisian Indonesia. Pemberontakan tersebut ditujukan kepada kritikus sastra Indonesia, para penyair mapan dan majalah sastra yang ada di Indonesia. Kritikus yang dibidik dalam konteks ini adalah H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, keduanya dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mereka dianggap tidak mampu lagi mengikuti perkembangan puisi Indonesia mutakhir. Penyair mapan yang dihujat adalah Subagio Sastrowardoyo, Rendra, dan Goenawan Mohamad. Mereka bertiga  dianggap menghambat kewajaran perkembangan puisi Indonesia. Adapun. majalah sastra yang dijadikan terdakwa adalah Horison, yang dianggap tidak lagi menampung aspirasi orang banyak karena telah menjadi majalah keluarga atau majalah klik. Baca lebih lanjut