Archive for Maret, 2010

PUISI: LAHIR UNTUK MENJADI KELABU

LAHIR UNTUK MENJADI KELABU

(Maret 2010)

Kang, mengapa engkau tetap dengan janji itu

merenda asa dengan ucapan dan niat

melejitkan cita-cita hingga pucuk yang tak terjangkau

Bukankah sudah ku tegaskan

akang jangan lagi menjadi putih

akang usah pula menjadi kapas yang tak ternoda

lantaran semua sia-sia saja

Aku tak sudi menerima kesucian

tidak pula untuk mendapatkan kepantasan

darimu kang

cukup sudah kang

usah lagi kau katakan itu

karena aku terlahir untuk menjadi kelabu

Iklan

PUISI: PESAN UNTUKMU

PESAN UNTUKMU

Kutitipkan teduhnya belaian raga
kusandarkan segala asa
yang bertiup terbangkan rindu
karena ku tahu
shinta tegar karena dipandu kesetiaan
yang tak kenal usang

lihatlah setiap lapisan awan
selimuti cinta kita
rasakan belaian angin
lembut temani rindu sang mentari

dengarlah
niscaya sayang yang tak terdengar
akan kau rasakan

PUISI: DOA DI JAKARTA (RENDRA)

DOA DI JAKARTA

(Rendra)

Tuhan Yang Maha Esa

alangkah tegangnya

melihat hidup yang tergadai

pikiran yang dipabrikkan

dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.

Di manakah harapan akan dikaitkan

bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?

Dendam diasah di kolong yang basah

siap untuk terseret dalam gelombang edan

Perkelahian dalam hidup sehari-hari

telah menjadi kewajaran

Pepatah dan petitih

tak akan menyelesaikan masalah

bagi hidup yang bosan,

terpenjara, tanpa jendela

Tuhan Yang Maha Faham

alangkah tak masuk akal

jarang selangkah

yang berarti empat puluh tahun gaji seorang buruh

yang memisahkan

sebuah halaman bertaman tanaman hias

dengan rumah-rumah tanpa sumur dan wc

Hati manusia telah menjadi baja

Bagai dash-board yang tak acuh

panser yang angkuh

traktor yang dendam

Tuhan Yang Maha Rahman

ketika air mata menjadi gombal

dan kata-kata menjadi lumpur becek

aku menoleh ke utara dan ke selatan

di manakah Kamu?

Di manakah tabungan keramik untuk uang logam?

Di manakah catatan belanja harian?

Di manakah peradaban?

Tuhan Yang Maha Hakim

Harapan kosong, optimisme hampa

Hanya akal sehat, dan daya hidup

Menjadi peganganku yang nyata.

PUISI: INDONESIA TUMPAH DARAHKU (M. YAMIN)

Muhammad Yamin (dari Angkatan Balai Pustaka)

INDONESIA TUMPAH DARAHKU

Bersatu kita teguh
Bercerai kita runtuh

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya

Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-cerai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejar bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya. Tanah airku

Tanahku bercerai seberang-menyeberang
Merapung di air, malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kiambang
Sejak malam diberi kelam
Sampai purnama terang-benderang
Di sanalah bangsaku gerangan menompang
Selama berteduh di alam nan lapang

Tumpah darah Nusa India
Dalam hatiku selalu mulia
Dijunjung tinggi atas kepala
Semenjak diri lahir ke bumi
Sampai bercerai badan dan nyawa
Karena kita sedarah-sebangsa
Bertanah air di Indonesia
Sumber: Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
Oyon Sofyan, editor halaman 15.

PUISI: JANGAN KAU PANGGIL AKU BUNGA

JANGAN PANGGIL AKU BUNGA

terkadang aku merasa tersanjung
melambung,
terbang bagaikan sang merpati

kau buat aku seperti bidadari
sungguh kau agungkan aku

memujiku setinggi anganmu
kau puja aku

mulia seperti sinta
terpuji layaknya kunthi

tapi,
sungguh itu tak layak bagiku
aku tidaklah seperti yang kau kira
terlalu banyak daunku melayu
tak terhitung rantingku yang patah
terlalu banyak wangiku terhisap

aku bukanlah sinta
setia menanti rama
diriku lainlah dengan kunthi
sabar membimbing pandawa-kurawa

terlalu naif jika kau samakan aku
dengan mawar yang merekah
karena itu,
jangan pernah kau panggil aku bunga………

PUISI: PERCUMA

PERCUMA
(5 januari 2007)

lirih kau menangis
padahal telah ku katakan
tangismu terlambat tersampaikan

aku telah menapak gelombang
di atas langit yang penuh angan

lalu buat apa air mata
mengalir hingga sudut bawah sadar
karena semua tak lagi ku dengar
rintihan yang terasa hambar

PUISI: JANGAN SALAHKAN AKU

JANGAN SALAHKAN AKU

Jika aku datang melumatmu
Mencengkram paksa atau suka
Menerkam benci atau nggemesi
Jangan salahkan aku

Kau pun tahu predator seperti aku
Kerap tak tahan melihat gempalnya tubuh kijang
Mudah tergoda bila temukan gemulainya tubuh menjangan
Jangan salahkan aku

Karena kau kini mengusikku
Dengan tarian di pelupuk mataku
Karena kau mengganggu tidurku
Dengan suara syahdumu

Maka jangan salahkan aku
Bila kini aku semakin rajin
Untuk menjengukmu