CERPEN: ISTRIKU IJINKAN AKU MENCARI YANG BERHIJAB


Istriku, Ijinkan aku Mencari yang Berhijab

“Aduh masa pakai celana pendek mau keluar rumah yang?!” ujarku refleks melihat istriku memegang daun pintu.

“ah, kan hanya mau ngambil air kran di depan rumah aja mas….!” Istriku menjawab sambil membuka pintu yang memang sedari tadi dia pegang. Keluar, seolah tak mengindahkan pertanyaanku.

Aku hanya bisa termenung, sedih, bercampur rasa heran. Betapa tidak, istriku yang sedari kecil mendapat gemblengan agama islam dari ayahnya, tapi seolah tak begitu peduli dengan auratnya. Bukankah ia pun jebolan madrasah aliyah?. Bandingkan dengan diriku, yang tidak lebih dari empat tahun mengenal agama ini. Ya ….., aku seorang muallaf, baru empat tahun terakhir ini aku hijrah ke dalam agama ini. Bahkan sering ketika aku berkenalan, kemudian saling menyebut nama,dia pun akan langsung menganggap bahwa  aku bukanlah seorang muslim.

Namaku Antonius Susanto, dengan mataku yang sipit, kulitku yang lebih putih dari kebanyakan orang Indonesia, tentu menambah anggapan orang tentang apa apa yang aku anut.

Empat tahun yang lalu aku mendapat pencerahan hanya dengan hal yang sepele saja. Aku membaca sebuah terjemahan Al Quran yang bahkan aku pun tak pernah menyentuhnya sekalipun. Sebuah terjemahan Al Quran yang menegaskan bahwa islam adalah satu-satunya agama yang jelas-jelas menegaskan sebagai agama yang anti rasis.

Tidak lama kemudian, aku bertemu dengan seorang gadis berjilbab, seorang mahasiswi jurusan bahasa perancis, Muslimatun Nizar namanya. Ya..sekarang dia menjadi istriku. Aku terpesona dengan lembut tutur katanya, dan tentu saja dengan kemuslimannya. Kini dia telah menjadi istriku, bahkan Allah telah mengkaruniakan seorang putra yang gagah kepada kami berdua.

Kulihat istriku telah kembali masuk ke rumah……….

***???**

Esok harinya…., sore itu dia pulang dengan begitu sumringah. Wajahnya begitu berseri seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang special.

“mas, tahu ga?, tadi teman-teman kantorku bilang, kalau bentuk tubuhku tuh bagus banget. Bahkan mereka iri lho akan bentuk tubuhku, katanya seperti masih belum pernah melahirkan saja”. Istriku bercerita dengan senangnya. Aku hanya bisa tersenyum, getir………

ah istriku, bukannya ku tak senang engkau dipuji oleh orang lain, tapi….???. hati ini memelas. Bukankah sudah sering ku katakana wahai istriku, aku mengharapkanmu berjilbab, berhijab, dan menjaga kehormatan engkau yang merupakan kehormatan keluarga ini. Aku miris istriku.

“mas … koq diam saja…. Ngomong dong!!” istriku membuyarkan lamunanku.

“oh, ya memang tubuh kamu bagus koq de. Bukan itu saja, engkau cantik, apalagi ditunjang rambutmuyang lurus dan panjang.” Jawabku memujinya. Istriku makin “melayang”.

“ah, mas bisa aja….” Hidungnya merekah, pipinya pun makin memerah. Tapi aku miris, hati terasa teriris, dan setiap malam aku menangis istriku, mengadu pada-Nya, mengadu tentang kecantikanmu.

Yang membuatku semakin sedih, setiap kali aku menyinggung tentang hijab ataupun jilbab, satu kalimat saja aku ucapkan, tapi seolah beribu dalil engkau sampaikan. Aku memang tak sepandai engkau istriku, aku pun bahkan belum pernah membaca satupun kitab kuning yang sering ayahmu ajarkan kepadamu sejak kecil wahai istriku. Tapi mengapa ……….

Pernah aku bertanya kepadamu…

“yang, pernah kepikiran untuk pake jilbab ga yang?”

“pernah sih mas, lagian kan kalo dulu aku ke sekolah, ke pengajian ya pake jilbab juga.” Jawab istriku, “tapi… ah ribet lho mas kalo pake jilbab, mau pergi-pergi ga bisa cepet, belum lagi kalau jilbabnya kusut, kan jadi keki. Aku bahkan pernah kan bercerita sama teman-teman kalo aku pake jilbab gimana, eh mereka malah bilang sayang banget katanya kalo rambutku ditutupi.” Papar istriku.

“lagian kan mas, jilbab hanya budayanya orang arab sana saja…!!” pungkas dia yang semakin membuat hatiku terpuruk, tersungkur meratapi “kecantikanmu”.

“engkau lebih paham tentang agama istriku…” masih ku bersabar, mencari jalan untuk mengajakmu berhijab.

***!!!!***

Sebulan kemudian ….

“mas, boleh ga aku ikut kelas senam di deket kantorku?” istriku bertanya, padahal baru saja dia meletakkan tas kerjanya.

“lho, bukannya kamu sudah ikut kelas senam di tempatnya Bu Sarah?” aku balik bertanya.

“ah… bosen mas, di tempat Bu Sarah pesertanya sedikit, instrukturnya juga itu-itu saja.” Kepintaran istriku mulai muncul lagi,”kalau di klub senam deket kantorku tuh ya mas, instrukturnya setiap sesi ganti, lebih bagus juga tempatnya. Apa mas juga ikut kelas senam di sana?. disana kan banyak juga peserta putranya”.

Rasanya cukup di sini diamku.

“istriku… minumlah air ini dulu.” Aku menyosorkan segelas air putih ke depan istriku. “duduklah di depan mas.”

“ah mas ada apa? Boleh ya???” rajuk istriku.

“duduklah dulu istriku, minumlah dulu. Engkau kan baru saja pulang, cape kan?” pintaku kembali. Istriku pun duduk. Selesai air itu melewati kerongkongannya, ‘istriku, dengarkan mas…” aku mulai menyampaikan kata-kata yang telah kususun sejak awal aku menikah.

“engkau tahu siapakah aku? Engkau tahu berapa lama aku mengenal agama yang engkau anut?, ya baru saja dan tak banyak ayat maupun  hadits yang aku kuasai. Tapi istriku, tahukah engkau mengapa begitu singkat rentang waktu antara aku berkenalan denganmu hingga aku menikahimu?, sederhana saja istriku, yang aku pahami dari islam ini adalah, laki-laki harus menghargai perempuan, laki-laki harus menjaga kehormatan perempuan. Sehingga aku tak ingin mata ini menikmati yang engkau miliki pada tubuhmu  tanpa ada hak yang diberikan yang membuat aku halal melihat rambutmu, memegang tanganmu, ataupun melihat lekuk tubuhmu.

Yang aku tahu istriku, dalam islam yang baru saja aku kenal, seorang wanita tidaklah boleh memperlihatkan aurat tubuhnya kepada laki-laki yang bukan muhrimnya. Tidak boleh pula ia memperlihatkan lekuk tubuhnya kepada mereka.

Makanya istriku, begitu aku terpesona padamu, hanya dalam hitungan hari saja aku datang ke rumah orang tuamu. Ya…aku langsung melamarmu.

Tapi kenapa istriku, kini kau umbar auratmu pada laki-laki lain. Bukankah aku yang sekarang menjadi suamimu? Bukankah sejak lama aku tidak ridho jika engkau membuka hijabmu, bukankah sejak lama aku tidak ridho engkau membanggakan kecantikanmu dengan memperlihatkannya pada semua orang?.

Istriku, bukan aku tak bangga dengan cantikmu, bukannya aku tak jumawa memiliki istri dengan tubuh yang begitu sempurna. Tapi istriku, pikirkanlah, andai engkau memiliki sebatang cokelat makanan kesukaanmu, makanan yang sering kau puji-puji kelezatannya, kemudian berpuluh-puluh orang  menjilat batang cokelat yang engkau pegang, masihkah engkau mau memakannya?.

Istriku, bukankah dirimu wanita terhormat, bukankah engkau adalah wanita yang tak dapat “dibeli” dengan berapa pun? Tapi kenapa kehormatan yang engkau agung-agungkan itu malah engkau obral kepada semua orang.

Tiga tahun rasanya cukup aku memintamu dengan perlahan, tiga tahun sepertinya cukup untuk membuatmu berpikir tentang ini. Kini saatnya aku memberikan peringatan terakhir kepadamu.

Istriku, bukankah Allah yang menjadi pemilik tubuhmu memerintahkan agar aurat tubuh kita dijaga, memerintahkan agar wanita memelihara kehormatannya, memerintahkan agar wanita menjulurkan pakaiannya, memerintahkan agar lekuk tubuh tak menjadi pajangan.

Tapi engkau menganggapnya sebagai budaya, adapt, kebiasaan orang-orang arab badui.

Aku marah istriku, bahkan sejak lama. Aku malu istriku, malu tak mampu membuat dirimu memaknai dengan benar apa yang telah engkau pelajari dari agama ini bahkan sejak engkau lahir dari rahim ibumu.

Istriku,  ijinkan aku memiliki istri yang berhijab, ijinkan anakmu memiliki ibu yang akan membimbingnya ke syurga.

Karena aku takut istriku, takut dengan maharku sendiri ketika menikahimu. Tertatih-tatih aku menghapalkan  surat At-Tahrim yang bahkan membaca fatihah pun belum fasih. Terbata-bata aku membacakan ayat demi ayatnya hanya ingin menunjukkan jika aku ingin menjadi imam yang benar bagimu. Takut aku ketika mengingat salahsatu ayat dari maharku itu.

“hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….”

Takut….dan benar-benar takut istriku.

Istriku…………jawablah!”.

………………istriku hanya terisak, dan bersimpuh di pangkuanku……….

 (terima kasih untuk istriku, engkau telah banyak memberikan inspirasi kepadaku –kadar–)

3 responses to this post.

  1. Askum …………………………….

    Balas

  2. ceritanya bagus banget bu……………………….
    bisa buat plajaran bagi para istri2 tuk senantiasa memperhatikan auratnya……………

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: