Archive for Januari, 2010

CERPEN: ISTRIKU IJINKAN AKU MENCARI YANG BERHIJAB

Istriku, Ijinkan aku Mencari yang Berhijab

“Aduh masa pakai celana pendek mau keluar rumah yang?!” ujarku refleks melihat istriku memegang daun pintu.

“ah, kan hanya mau ngambil air kran di depan rumah aja mas….!” Istriku menjawab sambil membuka pintu yang memang sedari tadi dia pegang. Keluar, seolah tak mengindahkan pertanyaanku.

Aku hanya bisa termenung, sedih, bercampur rasa heran. Betapa tidak, istriku yang sedari kecil mendapat gemblengan agama islam dari ayahnya, tapi seolah tak begitu peduli dengan auratnya. Bukankah ia pun jebolan madrasah aliyah?. Bandingkan dengan diriku, yang tidak lebih dari empat tahun mengenal agama ini. Ya ….., aku seorang muallaf, baru empat tahun terakhir ini aku hijrah ke dalam agama ini. Bahkan sering ketika aku berkenalan, kemudian saling menyebut nama,dia pun akan langsung menganggap bahwa  aku bukanlah seorang muslim.

Namaku Antonius Susanto, dengan mataku yang sipit, kulitku yang lebih putih dari kebanyakan orang Indonesia, tentu menambah anggapan orang tentang apa apa yang aku anut.

Empat tahun yang lalu aku mendapat pencerahan hanya dengan hal yang sepele saja. Aku membaca sebuah terjemahan Al Quran yang bahkan aku pun tak pernah menyentuhnya sekalipun. Sebuah terjemahan Al Quran yang menegaskan bahwa islam adalah satu-satunya agama yang jelas-jelas menegaskan sebagai agama yang anti rasis.

Tidak lama kemudian, aku bertemu dengan seorang gadis berjilbab, seorang mahasiswi jurusan bahasa perancis, Muslimatun Nizar namanya. Ya..sekarang dia menjadi istriku. Aku terpesona dengan lembut tutur katanya, dan tentu saja dengan kemuslimannya. Kini dia telah menjadi istriku, bahkan Allah telah mengkaruniakan seorang putra yang gagah kepada kami berdua.

Kulihat istriku telah kembali masuk ke rumah……….

***???**

Esok harinya…., sore itu dia pulang dengan begitu sumringah. Wajahnya begitu berseri seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang special.

“mas, tahu ga?, tadi teman-teman kantorku bilang, kalau bentuk tubuhku tuh bagus banget. Bahkan mereka iri lho akan bentuk tubuhku, katanya seperti masih belum pernah melahirkan saja”. Istriku bercerita dengan senangnya. Aku hanya bisa tersenyum, getir………

ah istriku, bukannya ku tak senang engkau dipuji oleh orang lain, tapi….???. hati ini memelas. Bukankah sudah sering ku katakana wahai istriku, aku mengharapkanmu berjilbab, berhijab, dan menjaga kehormatan engkau yang merupakan kehormatan keluarga ini. Aku miris istriku.

“mas … koq diam saja…. Ngomong dong!!” istriku membuyarkan lamunanku.

“oh, ya memang tubuh kamu bagus koq de. Bukan itu saja, engkau cantik, apalagi ditunjang rambutmuyang lurus dan panjang.” Jawabku memujinya. Istriku makin “melayang”.

“ah, mas bisa aja….” Hidungnya merekah, pipinya pun makin memerah. Tapi aku miris, hati terasa teriris, dan setiap malam aku menangis istriku, mengadu pada-Nya, mengadu tentang kecantikanmu.

Yang membuatku semakin sedih, setiap kali aku menyinggung tentang hijab ataupun jilbab, satu kalimat saja aku ucapkan, tapi seolah beribu dalil engkau sampaikan. Aku memang tak sepandai engkau istriku, aku pun bahkan belum pernah membaca satupun kitab kuning yang sering ayahmu ajarkan kepadamu sejak kecil wahai istriku. Tapi mengapa ……….

Pernah aku bertanya kepadamu…

“yang, pernah kepikiran untuk pake jilbab ga yang?”

“pernah sih mas, lagian kan kalo dulu aku ke sekolah, ke pengajian ya pake jilbab juga.” Jawab istriku, “tapi… ah ribet lho mas kalo pake jilbab, mau pergi-pergi ga bisa cepet, belum lagi kalau jilbabnya kusut, kan jadi keki. Aku bahkan pernah kan bercerita sama teman-teman kalo aku pake jilbab gimana, eh mereka malah bilang sayang banget katanya kalo rambutku ditutupi.” Papar istriku.

“lagian kan mas, jilbab hanya budayanya orang arab sana saja…!!” pungkas dia yang semakin membuat hatiku terpuruk, tersungkur meratapi “kecantikanmu”.

“engkau lebih paham tentang agama istriku…” masih ku bersabar, mencari jalan untuk mengajakmu berhijab.

***!!!!***

Sebulan kemudian ….

“mas, boleh ga aku ikut kelas senam di deket kantorku?” istriku bertanya, padahal baru saja dia meletakkan tas kerjanya.

“lho, bukannya kamu sudah ikut kelas senam di tempatnya Bu Sarah?” aku balik bertanya.

“ah… bosen mas, di tempat Bu Sarah pesertanya sedikit, instrukturnya juga itu-itu saja.” Kepintaran istriku mulai muncul lagi,”kalau di klub senam deket kantorku tuh ya mas, instrukturnya setiap sesi ganti, lebih bagus juga tempatnya. Apa mas juga ikut kelas senam di sana?. disana kan banyak juga peserta putranya”.

Rasanya cukup di sini diamku.

“istriku… minumlah air ini dulu.” Aku menyosorkan segelas air putih ke depan istriku. “duduklah di depan mas.”

“ah mas ada apa? Boleh ya???” rajuk istriku.

“duduklah dulu istriku, minumlah dulu. Engkau kan baru saja pulang, cape kan?” pintaku kembali. Istriku pun duduk. Selesai air itu melewati kerongkongannya, ‘istriku, dengarkan mas…” aku mulai menyampaikan kata-kata yang telah kususun sejak awal aku menikah.

“engkau tahu siapakah aku? Engkau tahu berapa lama aku mengenal agama yang engkau anut?, ya baru saja dan tak banyak ayat maupun  hadits yang aku kuasai. Tapi istriku, tahukah engkau mengapa begitu singkat rentang waktu antara aku berkenalan denganmu hingga aku menikahimu?, sederhana saja istriku, yang aku pahami dari islam ini adalah, laki-laki harus menghargai perempuan, laki-laki harus menjaga kehormatan perempuan. Sehingga aku tak ingin mata ini menikmati yang engkau miliki pada tubuhmu  tanpa ada hak yang diberikan yang membuat aku halal melihat rambutmu, memegang tanganmu, ataupun melihat lekuk tubuhmu.

Yang aku tahu istriku, dalam islam yang baru saja aku kenal, seorang wanita tidaklah boleh memperlihatkan aurat tubuhnya kepada laki-laki yang bukan muhrimnya. Tidak boleh pula ia memperlihatkan lekuk tubuhnya kepada mereka.

Makanya istriku, begitu aku terpesona padamu, hanya dalam hitungan hari saja aku datang ke rumah orang tuamu. Ya…aku langsung melamarmu.

Tapi kenapa istriku, kini kau umbar auratmu pada laki-laki lain. Bukankah aku yang sekarang menjadi suamimu? Bukankah sejak lama aku tidak ridho jika engkau membuka hijabmu, bukankah sejak lama aku tidak ridho engkau membanggakan kecantikanmu dengan memperlihatkannya pada semua orang?.

Istriku, bukan aku tak bangga dengan cantikmu, bukannya aku tak jumawa memiliki istri dengan tubuh yang begitu sempurna. Tapi istriku, pikirkanlah, andai engkau memiliki sebatang cokelat makanan kesukaanmu, makanan yang sering kau puji-puji kelezatannya, kemudian berpuluh-puluh orang  menjilat batang cokelat yang engkau pegang, masihkah engkau mau memakannya?.

Istriku, bukankah dirimu wanita terhormat, bukankah engkau adalah wanita yang tak dapat “dibeli” dengan berapa pun? Tapi kenapa kehormatan yang engkau agung-agungkan itu malah engkau obral kepada semua orang.

Tiga tahun rasanya cukup aku memintamu dengan perlahan, tiga tahun sepertinya cukup untuk membuatmu berpikir tentang ini. Kini saatnya aku memberikan peringatan terakhir kepadamu.

Istriku, bukankah Allah yang menjadi pemilik tubuhmu memerintahkan agar aurat tubuh kita dijaga, memerintahkan agar wanita memelihara kehormatannya, memerintahkan agar wanita menjulurkan pakaiannya, memerintahkan agar lekuk tubuh tak menjadi pajangan.

Tapi engkau menganggapnya sebagai budaya, adapt, kebiasaan orang-orang arab badui.

Aku marah istriku, bahkan sejak lama. Aku malu istriku, malu tak mampu membuat dirimu memaknai dengan benar apa yang telah engkau pelajari dari agama ini bahkan sejak engkau lahir dari rahim ibumu.

Istriku,  ijinkan aku memiliki istri yang berhijab, ijinkan anakmu memiliki ibu yang akan membimbingnya ke syurga.

Karena aku takut istriku, takut dengan maharku sendiri ketika menikahimu. Tertatih-tatih aku menghapalkan  surat At-Tahrim yang bahkan membaca fatihah pun belum fasih. Terbata-bata aku membacakan ayat demi ayatnya hanya ingin menunjukkan jika aku ingin menjadi imam yang benar bagimu. Takut aku ketika mengingat salahsatu ayat dari maharku itu.

“hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….”

Takut….dan benar-benar takut istriku.

Istriku…………jawablah!”.

………………istriku hanya terisak, dan bersimpuh di pangkuanku……….

 (terima kasih untuk istriku, engkau telah banyak memberikan inspirasi kepadaku –kadar–)

Iklan

Cerita Pendek: Andai Saja

Andai Saja

(oleh: kadar)

Kubuka inbox suamiku. Satu persatu pesan didalamnya aku baca. Marahkah suamiku? Sepertinya tidak, karena tiap kali ada sms yang masuk ke telepon genggamnya tiap kali itu juga ku baca seluruh pesannya.

Terkadang ada sms yang lucu, tapi terkadang pula ada sms yang membuat mataku memicingkan mata. Tapi kali ini ada sebuah pesan yang benar-benar membuat jantungku berdebar karena terkejut, membuat hatiku teriris karena merasa miris, bahkan kepalaku terasa ditimpa beban yang begitu berat begitu kubaca tiap kata dalam pesan yang satu ini.

Ya… ada kata sayang dari seorang wanita dalam pesan yang diterima oleh suamiku. Bila pesan itu berasal dari nomorku, tak akan aku seterkejut ini. Tapi ini wanita lain, wanita yang mungkin takkan kusangka seberani ini mengirimkan pesan pada suamiku. Sejenak aku mencoba untuk berbaik sangka pada pesan itu, mungkinlah ini hanya candaan seorang teman pada sejawatnya. Karena ku tahu suamiku paling suka bercanda dengan siapa saja. Walau tak kupungkiri, semalaman aku tak bias tidur dengan tenang karena pesan itu.

Seperti biasanya, pagi kusiapkan sarapan untuk suamiku tercinta. Dan seperti biasanya pula suamiku malah bercanda seolah tak ada hal yang telah membuat hatiku terluka, ah suamiku andai saja engkau tahu hatiku yang sedang gundah tentunya kau takkan seperti orang yang seolah tak punya salah dan dosa.

Dia pun berangkat setelah memberikan ciuman dikening dan mengucapkan slam. Selamat jalan suamiku, semoga keselamatan dan keberkahan menyertai perjalananmu. Maka, hatiku harus kembali bersabar hari ini menanti sebuah penjelasan.

Sembari memupuk kesabaran, aku berangkat ke tempat kerjaku……

Sesampainya di kantor, tak lupa aku segera membuka layar HP-ku dan mengetik beberapa kata:” ayah sayang, jangan lupa sarapannya di tas, love you so much…”. Sebuah balasan ku terima:”terima kasih Yang, sudah mas makan…”.  Sedikit membuatku merasa tenang.

Hari itu kulewati dengan rasa yang gundah menunggu kedatangan suamiku.

Malam itu, kembali berpuluh pesan tanpa isi masuk dalam inbox suamiku, tapi suamiku masih bungkam tanpa memberikan penjelasan, entah pura-pura tidak peduli atau merasa bahwa aku tak memberikan respon apa-apa, tapi tahukah suamiku hatiku tercabik-cabik. Dan hartus senantiasa kutata kembali dengan perekat kesabaran yang seolah kau manfaatkan untuk tetap tak berkata apa-apa.

Ah suamiku kau malah  sibuk didepan komputer kemudian tertidur pulas di samping anak kita.

Esoknya…. Kau hanya tersenyum dan pergi ke tempat kerja, tanpa memberikan yang aku tunggu sejak kemarin…sebuah penjelasan…….

*=*?=**?

Sore itu, anak kita tertidur kau duduk disampingku:” Yang, engkau mungkin bertanya-tanya dengan isi inbox mas, tapi mas merasa dua hari kemarin semua masih wajar karena itu dikirimkan oleh teman mas yang selama ini mas pikir tak mungkin memiliki rasa selain rasa seorang teman. Tapi ternyata mas salah. Setelah pesan-pesannya yang janggal, hari ini mas melihat sikap yang janggal pula. Sepertinya benar, dia ada rasa yang lain yang sebenarnya tidak wajar untuk seorang wanita yang telah bersuami bahkan memiliki anak.”

Ada sedikit senyum sinis dari bibirku, tak terlihat olehnya…

Dia masih dengan penjelasannya:”Namun mas harap engkau tak berpikir terlalu jauh tentang suamimu ini, andai saja mas punya pikiran untuk berselingkuh, kenapa tidak dari kemarin mas lakukan ketika ada seorang wanita lajang, cantik, dan memiliki kedudukan mengucapkan kata cinta pada mas…. Sungguh meski sering ku bersikap egois padamu, bahkan banyak pula kata-kata kasar kuucapkan ketika aku marah, namun tak sekali pun dalam hati ini terlintas untuk memberikan ruang untuk kumasukan wanita lain dalam hidupku setelah memilkimu.

Istriku, bisa jadi kemesraan sedikit pudar diantara kita, namun ikatan suci takkan pernah kurusak oleh syahwatku terhadap wanita lain. bisa jadi diri mas tak seromantis dulu, tapi tak sedikit pun cinta ini berkurang padamu. Istriku boleh kau ragu akan cintaku, tapi jangan kau ragukan kesetiaanku padamu.”.

???**??!!**

Ah suamiku, mengapa baru sekarang kau jelaskan, mengapa baru sore ini kau memberikan ketenangan itu, mengapa kau biarkan hati ini sempat curiga padamu, mengapa kau biarkan pikiran ini menduga-duga. tapi terima kasih suamiku, engkau telah memberikan pelajaran dengan diammu, engkau memberikan pelajaran tentang kesabaran yang selalu berbuah manis. Andai saja sabar itu tak ada, tentu rasa damai takkan pernah ada, andai saja buruk sangka membuat amarahku membuncah, tentu rumah ini takkan berisi canda dan tawa….

Ah Suamiku, aku pun cinta padamu………

Teknik Membaca Puisi

Ada banyak puisi pilihan  yang dikedepankan dari para siswa diharapkan bisa memanfaatkannya. Secara optimal  untuk aktivitas membaca estetis, sama dengan membaca apresiatif. Membaca estetis ini sangat mengolah unsur keindahan/estetika, dimanfaatkan untuk pembinaanapresiasi sastra, sama-sama memasuki ranahpsikomotorik, serta menggunakan objek kajian seluruh bentuk dan jenis karya sastra. . Bukan karya sastra  namun ditulis dalam bahasa yang indah dan menyentuh dengan isi yang elok-elok  seperti kitab suci, dan karya-karya filsafat, karya-karya renungan dan karya-karya psikologi, pendidikan, humaniora,bisa digunaka untuk aktivitas membaca , estetis dan  apresiatif.Bedanya membaca apresiatif dilaksanakan di dalam hati, sedangkan membaca estetis dilafalkan/disuarakan,biasanya dihadapan audiens.

Karena dihadapan audiens,membaca estetis hendaknya sangat memperhatikan faktor orang-orang yang mendangarkan pembacaan itu. Pembaca estetis karya sastra( puisi,cerpen, fragmen novel,teks drama, liris prosa )harus mengusahakan agar pembacaannya diterima bagi penyimak,cukup komunikatif. Ia bisa membacakan teks sastra secara hidup dan mempesona. Para penyimak ikut merasakan dan menikmati keindahan karya sastra yang disampaikan serta memahami kedalaman maknanya. Jadi, mereka bisa memperoleh sesuatu dari karya sastra berupa nilai-nilai etis dan estetis,pengalaman batin/khasanah spiritual,untaian  cerita yang elok-elok, hampir sama dengan yang didapatkan oleh pembaca atau dengan yang diperoleh apabila mereka membaca sendiri  karya sastra yang mereka simak itu.

Untuk itu, sang pembaca estetis harus memperhatikan faktor-faktor berikut:

  1. Penghayatan, penjiwaan, pemahaman,  atas teks yang dibacanya.
  2. Pemvokalan yang jelas dan fasih, lancar, tidak salah baca, tidak tersendat-sendat.
  3. Lagu pengucapan kalimat/ baris-baris puisi atau intonasi dan penjedaan yang tepat. Intonasi meliputi kuat lemahnya tekanan, tinggi rendahnya nada, cepat lambatnya tempo. Penjedaan adalah pemenggalan dan pengelompokan kata berdasarkan aspek pemaknaan.
  4. Karena acap dalam pentas, maka membaca estetis juga memperhatiakn aspek penampilan yang etis namun menarik, tenang penuh konsentrasi, sangat mendukung isi materi puisi yang dibacakan.

Segi-Segi Negatif Kencongkakan Intelektual

Ada yang merasa, kencongkakan intelektual hanyalah masalah pribadi,hak asasi yang tidak boleh diintervensi . Tapi benarkan demikian. Padahal kalau dicermati, segi-segi negatif berikut dapat ditemukan:

1.   Dalam kesenyangan keehidupan intelektul dengan masyarakat. Dalam prakteknya , ilmuwan perlu hidup bermasyarakat.Mereka tidak bisa dipisahkan dari masyarakat yang melahirkannya.Dalam mencapai tingkat yang tinggi, ia tak mungkin langsung melompat.Dilewatinya tahapan-tahapan yang sangat mungkin daritingkat paling rendah.

2.. Putusnya kerja sama sosial. Dipasangnya jarak yang sangat jauh dengan masyarakat mengakibatkan putusnya komunikasi mereka.Ia pun kehilangan simpati dan dukungan masyarakat.

3.   Putusnya komunikasi Ilahiah.Pengkultusan sains dan teknologi,membuat orang memasabodohkan bahkan memunafikkan Tuhan. Segalanya diukur dengan otak dan dari demensi dumiawi,kecongkakan intelektual pun dari sikap memasabodohkan Tuhan .

4.   Berbuat tanpa kendali. Bertolak dari kecongkakan intelektual orang tak lagi memperhitungkan nilai-nilai, kemanusian, apalagi ketuhanan. .Perang, eksploitasi ekonomi,kapitalisme penghancuran sumber daya alam,dan lingkungan hidup tertentu, penjajahan ideologi, peracunan moral generasi muda bangsa lain, acap berangkat dari kecongkakan intelektul. Bertindak brutal destruktif dan tidak manusiawi bukan masalah , asal diri dab negeri sendiri jaya.

Puisi: Berat Untuk Kuungkapkan

Berat untuk kuungkapkan
Kaki terlalu menganggap jurang itu sangat lebar, sehingga sulit untuk menghubungkan antara pada kehidupan di kedua tepinya. Entah karena takut, malu, atau seperti apa tergambarkan semuanya dengan menyimpan sikap dalam kegelapan.
Setiap pesan yang tertangkap dalam gerak adalah kebingungan yang menyebabkan hancurnya sisi-sisi kepercayaan. Entah karena malu, takut, atau apakah semuanya telah tergambar jelas dari rona wajah yang kian memerah melebihi terbakarnya amarah oleh api katarsis.