Archive for Desember, 2009

PUISI: PEMAHAMAN YANG KU MINTA

Pemahaman yang Ku Minta

Takkan terlepas dari padangan mata tentang sebuah perubahan, meski tak semua perubahan mampu terekam dengan jelas dalam tatapan para pecundang. Karena perubahan bukanlah sesuatu yang mudah dicerna dengan sanubari yang penuh dengan debu.

Bagaimana dapat merasakan perubahan sementara tak ada yang mampu lagi dirasakan oleh hati, bahkan mata pun tak terkoneksi lagi dengan kalbu. Sepertinya tak ada lagi syaraf-syaraf motorik yang peduli dengan perasaan sehingga berlalulah setiap emosi yang bergejolak dalam benak.

Jika memang perbedaan itu memaksa aku untuk mengatakan tak ada lagi yang perlu dibicarakan tentang perbedaan, maka biarlah aku berlalu dengan asaku yang mungkin takkan pernah lagi peduli dengan segala perubahan yang membayang dibelakangku.

Andai perbedaan itu memaksa aku untuk mengubah segala hal yang menyangkut kepentingan hatiku untuk mampu merasakan kejernihan dunia, sepertinya aku tak mampu untuk mempertahankan berbelok dari jalan ini. Walau memang keindahan itu ada dalam benakku ketika kau katakan keelokan dunia, akan tetapi mampukah kita menghilangkan keluhan yang seringkali diungkapkan karena merasa ada batas antara huruf-huruf percaya dan yakin.

Setiap aku meminta sebuah kepahaman, sepertinya tak ada yang tercerna dari saluran yang berada dalam vestibulamu. Karena ia hanyalah terinspirasi dari setiap kata-kata yang sesuai dengan asamu.

PUISI: AKU DI ANTARA HIMPITAN WAKTU

Setumpuk kain menghiasi rona kamarku yang semakin kusut karena telah tersentuh berbagai kotoran yang selama ini tak pernah aku bersihkan. Lupa atau lalai, mungkin tak mampu lagi aku bedakan. Seperti tak mampu lagi membedakan antara kenyataan dan mimpi.
Apakah aku terlalu banyak tidur sehingga aku senantiasa bermimpi yang menyebabkan aku lupa kapan aku terbangun ?, entahlah semua ternyata telah ada dalam ruangan kamarku yang telah penuh sesak dengan tumpukan kain usang. Bukan saja pakaian ku yang tak pernah aku cuci lagi, tapi ternyata kamar ini menyimpan beribu masalah yang aku ambil dari kamar sebelah.
Mimpi… lebih dekat dengan kehidupanku, bukan karena aku telah lelah untuk hidup di alam nyata, tapi ternyata bermimpi lebih membuatku tenang daripada berada di alam nyata yang telah banyak meracuni perjalanan cintaku.
Cinta…apa yang mampu aku maknai dari kata itu, rasanya belum saatnya aku mampu mengungkapkan tentang cinta dalam mimpiku, karena belum ada mimpiku yang berbicara tentang definisi cinta, yang ada dalam mimpiku adalah jalan pelampiasan segala kekecewaanku terhadap tubuhku sendiri yang telah banyak menyebabkan hatiku hancur.
Biarlah aku bermain dengan mimpiku yang semakin membuatku terlelap memasuki ruangan kusam kamarku. Walau ternyata aku menyadari kamar ini telah membuatku mati.
(ryks, 2008)

PARAGRAF ARGUMENTASI INDUKTIF-DEDUKTIF

Paragraf argumentasi induktif deduktif

Berbeda dengan jenis-jenis paragraf/wacana yang lain, argumentasi memfokuskan pada penyampaian alasan-alasan rasional yang meyakinkan atas opini yang dikedepankan. Dengan argumentasi tersebut diharapkan pembaca membenarkan pendapat tersebut, bisa menerima gagasan yang disampaikan sebagai sesuatu yang masuk akal.

Perbedaan antara paragraf induktif dengan paragraf deduktif lebih terletak pada posisi kalimat inti atau kalimat utama atau ide-ide pokoknya sebagai kristal pembicaraan. Paragraf induktif dimulai dari kalimat-kalimat uraian yang lalu mengerucut menjadi inti senagai kesimpulan. Dalam paragraf deduktif dihadirkan terlebih dulu pernyataan umum yang maknanya luas yang dirumuskan dalam kalimat utama/kalimat inti. Kalimat-kalimat yang hadir selanjutnya merupakan penjelasan atas kalimat inti tersebut

Itulah ciri-ciri paragraf induktif dan deduktif. Berangkat dari pemahaman ciri-ciri tersebut, hendaknya bisa disusun kerangka paragraf yang akan ditulis.

Membaca Cepat Naskah Non-Sastra

Membaca Cepat Teks Nonsastra dengan Memperhatikan Tekniknya.

Membaca cepat sering digunakan untuk memahami dalam waktu singkat dan tepat teks-teks nonsastra, utamanya berita dan repeortase (laporan utama) di media massa. Dengan sistem memindai/scanning, membaca cepat dilaksanakan hanya dengan cara memfokuskan pada kata-kata kunci, dan istilah-istilah khusus. Kata-kata biasa dilewati begitu saja.

Supaya berlangsung cepat, membaca jenis ini hampir-hampir tidak berlangsung horizontal, tetapi vertical bahkan zigzag, tidak mendatar, tapi berkelok menurun. Ini perlu proses dan latihan yang terus-menerus, melaksanaknnya cepat namun penuh konsentrasi agar pemahamannya juga tepat. Lama kelamaan 250 kata permenit bukan termasuk membaca cepat lagi.

Meski berlangsung cepat dan dengan pemahaman yang tepat, sehingga usai melaksanakan aktivitas tersebut, diharapkan siswa bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diambil dari dalam tentang isi bacaan. Bukan hanay itu, mereka pun mampu pula membuat ringkasan isi teks secara spontan dalam beberapa kalimat yang runtut.

PUISI: PERTANYAANKU

Pertanyaanku

(Oktober 2007)

 

Apa yang merasukimu

Hingga tak lagi kau ingat

Siapa dirimu yang berada dalam jasadmu

Tak ku kenal lagi jati dirimu

Apakah dirimu

Yang kini mati hati

Tak miliki cinta kasih

Untuk berbagi kedamaian

PUISI: SEPERCIK KISAH UNTUK KEKASIH

Sepercik kisah untuk kekasih

(sebuah renungan masa lalu)

 

Kelak saat mata hati terbuka, kau akan paham kenapa lidah ini begitu tega melepaskan anak panah menusuk lubuk hatimu yang lembut saat rona wajah menemukan harapan untuk memiliki selamanya.

Suatu saat kau akan mengerti betapa teganya aku mencaci diriku sendiri atas segala kebodohan masa laluku yang senantiasa memikirkan kesenangan sesaat dalam kefanaan yang dimiliki.

Duhai buah hati yang hancur karena hantaman badai kehidupan, ku tahu kenapa labuhan itu kembali kutemukan dalam langkahku yang tertatih saat kebenaran mereka tawarkan kepadaku. Sungguh ia aku terima, namun belum mampu untuk melepaskan apa yang telah menjadi tambatan perahu hatiku selama ini. Aku menginginkan keduanya bersama perjalananku, namun kenyataan pahit telah menawarkan pisau tajam kepadamu untuk mengerat kesadaran yang lembut itu.

Seakan tak ada lagi harapan kala kau sambut dingin lambaian maaf hati ini, pengharapan yang tak terjerat oleh perangkap zaman yang telah dimiliki orang lain.

Tak apa akan kuterima segala makian yang diberikan jika ia untuk kemenangan, tak harus sejalan dan tak pula harus dimiliki seluruhnya. Semua adalah ujian yang harus aku lalui dalam mencari cinta-Nya.

Duhai pengharapan biarlah aku berharap semua menjadi kebaikan yang akan mempertemukan berjuta kebaikan, bukan hanya keinginan sesaat untuk saling berdusta pada kata hati yang teramat suci untuk kita nodai.

Dalam prinsip kedewasaan yang mulai kau kecap, kelak akan mengerti akan arti sebuah pengorbanan yang ditebus dengan kasih sayang.

Sebuah pelajaran, hati tak mesti memiliki, mungkinkah kembali dalam genggaman angan yang kini semakin menjauh terbang hingga tak ada lagi dalam jangkauan pandangan kasar ini.

( akhir 2005)