Archive for November, 2009

Gaya Bahasa dalam Bahasa Indonesia

C.Pengertian Masing-masing Jenis Gaya Bahasa dan Contoh Pemakaiannya.

Di bawah ini disampaikan pengertian dari jenis-jenis gaya bahasa di atas yang dirumuskan secara bebas oleh peneliti berdasarkan pemahaman yang penulis peroleh dari berbagai sumber:

1.Klimaks, yang disebut juga gradasi, adalah gaya bahsa berupa ekspresi dan pernyataan dalam rincian yang secara periodek makin lama makin meningkat, baik kuantitas, kualitas, intensitas, nilainya.

Contoh:

Idealnya setiap anak Indonesia pernah menempuh pendidikan formal di TK, SD, SMP, SMA/SMK, syukur S2, S3 sampai gelar Doktor dan kalau mengajar di Perguruan Tinggi bergelar Profesor/Guru Besar pula.

Dalam apresiasi sastra, mula-mula kita hanya membaca selayang pandang puisi yang akan kita apresiasi, lalu kita membaca berulang-ulang sampai paham maksudnya, merasakan keindahannya, terus mengkajidalami, bisa membawakannya penuh penghayatan, sampai kita mampu menghargai keberadaan dan mencintainnya, syukur juga terpangil untuk kreatif menciptakan bentuk-bentuk sastra.

2.Antiklimaks merupakan antonim dari klimaks adalah gaya bahasa berupa kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas, kuantitas intensitas. Gaya bahasa ini di mulai dari puncak makin lama makin ke bawah.

Contoh:

Bagi milyader bakhlil, jangankan menyumbang jutaan rupiah, seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, seribu rupiah pun ia enggan, masih dihitung-hitung.

Jauh sebelum memperoleh mendali emas dalam Olimpiade Athena 2004 cabang bulutangkis, Taufik Hidayat niscaya telah menjadi juara nasional dan sebelumnya juga tingkat propinsi, kabupaten, malahan pula tingkat kecamatan, desa, RT/RW.

3.Paralelisme adalah gaya bahasa berupa penyejajaran antara frase-frase yang menduduki fungsi yang sama.

Contoh: Kriminalitas dan kemaksiatan itu akan menyengsarakan banyakmorang, membuat menderita kurban-kurbannya.

4.Repetisi adalah gaya bahasa dengan jalan mengulanmg pengunaan kata atau kelompok kata tertentu.

Contoh:

Seumpama eidelwis akulah cinta abadi yang tidak akan pernah layu

Seumpama merpati akulah kesetiaan yang tidak pernah ingkar janji

Seumpama embun akulah kesejukan yang membasuh hati yang lara

Seumpama samudra akulah kesabaran yang menampung keluh kesah segala muara.

5.Aliterasi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi konsonan.

Contoh:

Widyawan Wisik Wahyu Wastika suka menekuni spiritualitas.

Sahabatku bernama Fajar Firman Firdaus Filosofi.

Jadilah jantan jujur jenius!

Nama mahasiswi itu Cici Cantika Cangggih Cendikiawati

6.Elipsis adaklah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang mengandung kata-kata yang sengaja dihilangkan yang sebenarnya bisa diisi oleh pembaca/penyimak.

Contoh:

– Pembangunan mencakup dua hal yakni pembangunan material dan …….,pembangunan lahiriah dan …….., pembangunan individual dan ……….

Apa saja yang ada di dunia serta berpasangan ada siang ada ………, ada baik ada…….., ada terang ada ………, ada pertemuan ada …….., roda berputar kadang di atas kadang …………

7.Eufemisme adalah gaya bahasa berupa pengungkapan yang sifatnya menghaluskan supaya tidak menyinggung perasaan, tidak terasa tajam.

Contoh:

-Karena melakukan sesuatu yang kurang pas, Pak Bandot akhirnya dikenai pension dini.

(Terlibat skandal, korupsi, dipecat, di PHK)

-Anak itu tinggal kelas karena agak terlambat dalam mengikuti pelajaran.

(Bodoh)

8.Litotes adalah gaya bahasa yang sifatnya merendahkan diri, tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya namun tidak punya maksud agar orang percaya dengan hal itu, pembicara/penyimak tahu apa yang sebenarnya ia maksudkan.

Contoh:

a. Kalau Anda tidak keberatan, mampirlah ke gubug kami di Jalan Pemuda No. 100 Surakarta.

b. Yogya-Solo terpaksa kita tempuh 2 jam karena kita hanya naik gerobak.

9.Tautologi adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara berulang dengan kata-kata yang maknanya sama supaya diperoleh pengertian yang lebih mendalam, misalnya:

Tak ada badai tak ada topan, tiba-tiba saja ia marah.

So pasti, buku-buku bermutu banyak memberikan manfaat bagi pembacanya.

10.Pleonasme adalah sarana retorika semacam tautologi dengan kata kedua yang sudah dijelaskan oleh kata pertama.

Contoh:

Silakan maju ke depan, setelah itu naik ke atas.

Hujan yang basah menyuburkan tanah-tanah rekah

11. Erotesis/pertanyaan retoris adalah gaya bahasa berupa pengajuan pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat di sana. Gaya bahasa ini acap digunakan oleh para orator.

Contoh:

Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi sangat mahal. Bisakah rakyat kecil menyekolahkan anaknya sampai ke sana? Siapa yang bisa berkuliah kalau bukan kaum berada?

12.Koreksio/Epanotesis adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang terkesan meyakinkan, namun disadari mengandung kesalahan. Atas kesalahan itu lalu dilakukan pembetulan.

Contoh:

Sudah setengah abad kita merdeka, eh bukan, 60 tahun malah, nah selama itu, kemajuan apasajakah yang sudah kita capai?

Dalam dunia sastra, kita mengenal Pelopor Angkatan ’45 yaitu Rendra, ah bukan, bukan Rendra, yang benar adalah Chairil Anwar.

13.Hiperbola adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang sengaja dibesar-besarkan dan dibuat berlebihan.

Contoh:

-Saya ucapkan beribu-rbu terima kasih atas perkenan Bapak dan Ibu menghadiri undangan panitia.

Bertemu kamu sayang, wahai sahabatku yang elok dan indah, syahdu, hati berbunga-bunga sejuta rasanya terbang melayang di angkasa bahagia.

14.Paradoks adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang mengandung kontras/pertentangan, namun ternyata mengandung kebenaran.

Contoh:

-Betapa banyak orang yang dalam kesendiriannya merasa kesepian di kota sehiruk-pikuk Jakarta.

-Sebagai dosen, terus terang, saya juga banyak belajar dari mahasiswa-mahasiswi saya.

15.Persamaan/simile adalah bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding.

Contoh:

-Nyalakanlah semangat bagai dian nan tak kunjung padam

-Bersabarlah seperti samudra yang mampu menampug keluh kesah segala muara.

16.Metafora adalah bahasa kiasan sejenis perbandingan namun todak menggunakan kata pembanding. Di sini perbandingan dilakukan secara langsung tanpa kata sejenis bagaikan, ibarat, laksana, dan semacamnya.

Contoh:

Kesabaran adalah bumi

Kesadaran adalah matahari

Keberanian menjelma kata-kata

Dan perjuangan adalah pelaksana kata-kata(sebuah bait dalam puisi Rendra)

17.Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan, merupakan metafora yang dikembangkan.

Contoh:

Sanjak “Menuju Ke Laut” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Biasanya bersifat simbolis

18.Personifikasi/Penginsanan adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh manusia.

Contoh:

Angin bercakap-cakap sama daun-daun, bunga-bunga, kabut dan titik embun.

-Indonesia menangis, duka nestapa Aceh memeluk erat sanubari bangsaku.

19.Alusio adalah gaya bahasa yang menampilkan adanya persamaan dari sesuatu yang dilukiskan yang sebagai referen sudah dikenal pembaca.

Contoh:

Bandung dikenal sebagai Paris Jawa.

Bung Karno – Bung Karno kecil menunjukkan kebolehannya dalam lomba pidato membawakan fragmen “Di Bawah bendera Revolusi”.

20.Sinekdoke adalah bahasa kiasan dengan cara menyebutkan sesuatu bisa sebagian untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto), bisa pula sebaliknya keseluruhan digunakan untuk menyebut yang sebagian (totum pro parte)

Contoh totum pro parte:

Dalam copa Amerika 2004, Brazil mengalahkan Argentina.

Karya-karya menjadi cindera mata bagi dunia

Contoh pars pro toto:

1.Korban gelombang Tsunami 26 Desember 2004 mencapai 100 jiwa lebih.

2.Dalam Idul Adha tahun ini, Masjid Al-Amin berkurban 6 ekor sapi 10 ekor kambing.

21.Metonemia adalah bahasa kiasan dalam bentuk penggantian nama atas sesuatu.

Contoh:

Kita harus bersyukur tinggal di negeri Zamrud Khatulistiwa yang elok permai ini

Panda banyak terdapat di negeri Tirai Bambu.

22.Ironi/sindiran adalah gaya bahasa berupa penyampaian kata-kata denga berbeda dengan maksud dengan sesungguhnya, tapi pembaca/pendengar, di harapkan memahami maksud penyampaian itu.

contoh:

Kuakui, kutu buku yang satu ini memang berpengetahuan luas sekali.

23.Satire adalah gaya bahasa sejenis ironi yang mengandung kritik atas kelemahan manusia agar terjadi kebaikan . tidak jarang satire muncul dalam bentuk puisi yang mengandung kegetiran tapi ada kesadaran untuk berbenah diri.

Contoh:

Aku lalai di pagi hari

Beta lengah di masa muda

Kini hidup meracun hati

Miskin ilmu miskin harta

(Bait II puisi “Menyesal” karya M. Ali Hasymi)

Menggunakan kalimat dengan inverse, imbuhan ter-/-kan, ter-/-i, -man, -wan, -wati, -is, isme, kalimat majemuk bertingkat: sehingga, baik, …. Maupun, entah …. Entah, kata asing, kata pungut/serap, yang pada kalimat fokus(penegas).

Kalimat inverse adalah kalimat yang predikatnya diletakkan di depan subjek (kalimat susun balik) karena di sini, predikat tersebut lebih dipentingkan daripada subjek.

Misalnya:

Menangislah anak itu

Sunguh mempesona Sang Diva

Baik imbuhan ter–/-kan maupun ter-/-I, keduanya digunakan untuk membentuk kalimat pasif, yang fungsinya dekat dengan di-/-kan dan di–/-u. imbuhan ter-/-kan dan ter-/-I melukiskan suatu tindakan pasif yang artinya bisa di ……. Di depan imbuhan tersebut acap digunakan kata tidak, misalnya kata tidak terpahami, tidak terlukiskan, tidak tarsalurkan, tidak teratasi, tidak terwakili, tidak tersampaikan.

Sufiks –man, -wan, -wati, dihubungkan dengan kata benda (abstrak) yang hasil gabungannya yang menunjukkan suatu persona, orang yang punya keahlian dalam bidang, punya sifat suka, ber … contoh sastrawan, seniman, budiman, sejarahwan, budayawan, sukmawa, rohaniawan.

Ada perbedaan gender antara man dan wan serta wati. Man dan wan untuk pria sedangkan wati untuk wanita.

Sufiks –is punya fungsi dengan sufik di atas. Diletakkan pada kata-kata asing namun untuk pria dan wanita. Contoh: gitaris, violis, reformis, anarkis, humanis, spiritualis, novelis, dan lain-lain.

Morfem –isme berarti paham atau aliran. Contoh: nasionalisme, feodalisme, romantisme, realisme, patriotisme, daerahisme, feminisme, dan sebagainya.

Dalam kalimat majemuk bertingkat, kita jumpai penggunaannya sehingga yang menunjukkan akibat dari suatu tindakan atau peristiwa serta baik ….. maupun ….. juga entah …… entah …..

Kata-kata yang terletak dibelakang baik dan maupun serta, entah (yang di depan) dan yang di belakang punya kesamaan keadaan (kata sifat), peristiwa (kata kerja abstrak), peristiwa(kata kerja), sesuatu yang jenisnya sama.

Contoh:

Baik tersusun rapi maupun acaka-acakan koleksi buku-bukunya tetaplah banyak memiliki nilai kegunaan.

Entah membaca dan menulis, entah menyimak dan berbicara, keempatnya punya peran penting dalam pelajaran bahasa.

Dalam bahasa kita kenal kata asing dan kata pungut atau kata serap. Dalam bahasa Indonesia yang termasuk kata asing adalah seluruh kata yang berasal dari mancanegara, dari negara di luar Indonesia. Contoh kata sing: apresiasi, politik, sosial, hukum, transparan, net work, pasca sarjana, postmodernisme, syahbandar, khusyuk, inner beauty, sukses, uswatun khasanah, refrmasi, anarkis, novelis, proklamator, presenter, dan lain-lain. Kata-kata asing tersebut kita serap dalam bahasa Indonesia dan kemudian dituliskan sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia.

Seluruh kata asing yang kemudian masuk ke dalam bahasa Indonesia memang termasuk kata pungut atau jata serapan, namaun kata pungut tidak sebatas itu. selain kata asing, termasuk kata pungut adalah kata-kata asal bahasa daerah yang masuk dalam bahasa Indonesia, misalnya dari bahasa Jawa, Sunda, Betawi, Minang, Bugis, Madura, Dayak, dan lain-lain.

Contoh:

Lestari, manunggal, rampung, rimbunana, prihatin, waskita, ngelangut, dan lain-lain.

Menggunakan Kata yang Mengalami Pergeseran Makna.

Karena perkembangan zaman dan pemakaian bahasa, makna suatu kata bisa mengalami pergeseran. Ada beberapa kemungkinan pergeseran makna kata meluas dan menyempit, citranya menurun atau naik, serta artinya berubah. Semua itu bisa dilihat dalam konteks kalimat dan dibandingkan penggunaannya pada zaman dahulu dan sekarang.

Contoh:

  1. kata sarjana, dahulu kala berate orang yang berpengetahuan luas, terpelajar, berilmu, sekarang khusus lulusan S1 suatu universitas atau perguruan tinggi.
  2. kata bapak dan ibu pada mulanya berate orang tua yang melahirkan kita, yang menjadi lantaran adanya kita, sekarang dipakai untuk menunjukkan guru, dosen, pimpinan, pejabat, para senior.
  3. kata laki-bini dulu dipakai untuk pengertian suami-isteri sekarang citra kata itu dirasa kurang halus. Demikian juga kata beranak, palacur, miskin, bodoh, gila. Sebagai gantinya digunakan kata suami-istri, melahirkan/bersalin, wanita tuna susila/pekarja seks komersial, kurang mampu, kurang pengetahuan, kurang waras.
  4. kata ulama dulu berarti orang yang berilmu pengetahuan secara luas dan umum, sekarang khususu tuk ahli agama.

Kata-kata yang mengalami pergeseran makna yang lain misalnya kata cangih, tegar, transparan, bernyanyi, aktor intelektual

B.KARYA SASTRA TERPENTING PADA TIAP PERIODE DAN CIRI-CIRI MASING-MASING ANGKATAN

Dalam sejarah sastra Indonesia, karya sastra bisa dibagi berdasarkan periodisasinya. Periodisasi adalah pembagian kronologi perjalanan sastra atas masanya, biasanya berupa dekade-dekade. Pada dekade-dekade tertentu dikenall angkatan-angkatan kesusastraan, misalnya Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan ‘66 dan Angkatan 2000.

Kedua istilah itu (dekade dan angkatan) bisa digunakan secara bersamaan, bahkan adakalanya angkatan kesusastraan tertentu diberi nama dekade tertentu.

Dimulai dari masa Balai Pustaka, sejarah kesusastraan Indonesia bisa dirinci atau dilakukan periodisasi berikut ini:

  1. Angkatan Balai Pustaka (Dekade 20-an)
  2. Angkatan Pujangga Baru (Dekade 30-an)
  3. Kesusastraan Masa Jepang
  4. Angkatan ‘45
  5. Sastra Dekade 50-an
  6. Sastra Angkatan ’66 (Generasi Manifes Kebudayaan)

  7. Sastra Dekade 70-an s.d. 80-an /Angkatan 80-an
  8. Sastra Mutakhir/Terkini

(Dekade 1990-an dan Angkatan 2000).

Dalam setiap angkatan/periodenya, kesusastraan tentu memiliki tokoh-tokoh sastrawan-sastrawati baik pengarang yang mencipta bentuk-bentuk prosa maupun penyair yang mengarang bentuk-bentuk puisi. Kadang-kadang sang pengarang juga sekaligus penyair karena ia mencipta dua bentuk sekaligus, yakni puisi dan prosa fiksi, misalnya Muhammad Yamin, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, Ayip Rosidi, Motenggo Boesye, Rendra, Kuntowijoyo, Emha Ainun Najib, Afrizal Malna, Abidah Al Khalieqy, Helvy Tiana Rosa, dan Iain-lain.

  1. Karya Sastra Terpenting dan Ciri-ciri pada Tiap-tiap Periode

Di atas telah disampaikan periodisasi kesusastraan Indonesia diawali dari Angkatan Balai Pustaka yang mulai berkiprah pada era 20-an sampai Angkatan 2000 sekarang ini. Pada masing-masing angkatan/periode muncul hasil-hasil karya sastra yang penting dan monumental yang dikarang oleh sastrawan-sastrawati terkenal, baik berbentuk prosa fiksi, puisi maupun naskah drama. Karya sastra pada masing-masing angkatan/periode memiliki ciri-ciri tertentu.

Angkatan Balai Pustaka/Dekade 20-an, tokoh-tokohnya:

a. Marah Rusli dengan karyanya roman “Siti Nurbaya”.

b. Muhammad Yamin dengan karyanya kumpulan puisi “Tanah Air”,
e. Abdul Muis dengan karyanya roman “Salah Asuhan”.

d. Rustam Efendi dengan karyanya kumpulan puisi “Percikan Permenungan”.

e. Nur Sutan Iskandar dengan karyanya roman “Katak Hendak Jadi Lembu”.

Angkatan Pujangga Baru/Dekade 30-an dengan tokoh-tokohnya:

a. Sutan Takdir Alisyahbana dengan karyanya roman “Layar Terkembang” dan
kumpulan puisi “Tebaran Mega”.

b. Amir Hamzah dengan karyanya kumpulan puisi “Buah Rindu” dan “Nyanyi Sunyi”.
e. Armijn Pane dengan karyanya roman “Belenggu”.

d. Sanusi Pane dengan kumpulan puisinya “Madah Kelana” dan drama “Manusia
Baru”

e. Y.E. Tatengkeng dengan kumpulan puisinya “Rindu Dendam”.

f. HAMKA dengan romannya “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”.

Kesusastraan Masa Jepang dan Angkatan ‘45 dengan tokoh-tokohnya:

a. Chairil Anwar dengan kumpulan puisinya “Deru Campur Debu”.

b. Usmar Ismail dengan dramanya “Citra”

e. El Hakim dengan dramanya “Taufan di Atas Asia”.

d. Achdiat Kartamihardja dengan romannya “Atheis”.

e. Pramudya Ananta Toer dengan romannya “Percikan Revolusi”

Di era sekarang Pramudya terkenal dengan caturlogi roman Pulau Buru.

Dekade 50-an dengan tokoh-tokohnya antara lain:

  1. Ayip Rosidi dengan novelnya “Sebuah Rumah Buat Hari Tua”.
  2. Motinggo Boesye dengan dramanya “Malam Jahannam”.
  3. Nh. Dini dengah novelnya “Hati yang Damai”.
  4. Rendra dengan kumpulan puisinya “Balada Orang-orang Tercinta”.
    Penyair ini masih kreatif sampai sekarang.

5. Mochtar Lubis dengan novelnya “Jalan Tak Ada Ujung”.

Angkatan ‘66 dengan tokoh-tokohnya antara lain:

  1. Taufiq Ismail dengan kumpulan puisinya “Tirani” dan “Benteng”.
  2. Sapardi Joko Damono dengan kumpulan puisinya “Duka-Mu Abadi”.
  3. Hartoyo Andangjaya dengan kumpulan puisinya “Buku Puisi”.

  4. Bur Rasuanto dengan kumpulan puisinya “Mereka Telah Bangkit”.
  5. Ramadhan KH dengan novelnya “Royan Revolusi” dan kumpulan puisi “Priangan
    Si Jelita”.

Angkatan 70-an – 80-an dengan tokoh-tokohnya antara lain:

  1. Sutardji Calzoum Bachri dengan kumpulan puisinya ”O Amuk Kapak”.
  2. Iwan Simatupang dengan novelnya “Ziarah”.
  3. Danarto dengan kumpulan cerpennya “Godlob”.
  4. Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya “Burung-burung Manyar”.
  5. Putu Wijaya dengan novelnya ”Telegram”, dan drama “Dag Dig Dug”.
  6. Kuntowijoyo dengan novelnya “Khotbah di Atas Bukit”
  7. Yudhistira Ardi Noegraha dengan novelnya “Mencoba Tidak Menyerah”.
  8. Arifin C. Noer dengan dramanya “Mega-Mega”.
  9. Umar Kayam dengan novelnya “Para Priyayi”.
  10. Ahmad Tohari dengan trilogi novel “Ronggeng Dukuh Paruk”.

Sastra Mutakhir (Dekade 90-an dan Angkatan 2000) dengan tokohnya antara lain:

  1. Emha Ainun Najib dengan kumpulan puisinya “Sesobek Buku Harian Indonesia”
    dan drama “Lautan Jilbab”.
  2. Seno Gumira Ajidarma dengan kumpulan cerpennya “Iblis Tidak Pernah Mati”.
  3. Ayu Utami dengan novelnya “Saman” dan “Larung”
  4. Jenar Mahesa Ayu dengan kumpulan cerpennya “Mereka Bilang Saya Monyet”.
  5. N. Riantiarno dengan dramanya “Opera Kecoa” dan “Republik Bagong”:.
  6. Yanusa Nugraha dengan kumpulan cerpennya “Segulung Cerita Tua” .
  7. Afrizal Malna dengan kumpulan puisinya “Abad yang Berlari”.
  8. Ahmadun Y. Herfanda dengan kumpulan puisinya “Sembahyang Rumputan”.

  9. D. Zawawi Imron dengan kumpulan puisinya “Bantalku Ombak, Selimutku Angin”.
  10. K.H. Ahmad Mustofa Bisri dengan kumpulan puisinya “Ohoi Puisi-puisi Balsem” dan “Gandrung”.

WARNA-WARNI PERJALANAN SASTRA INDONESIA

DAFTAR NOVEL INDONESIA MODERN 1920-1990

(DIURUTKAN BERDASARKAN TAHUN PENERBITAN CETAKAN PERTAMA)

 

1920

1. Merari Siregar, Azab dan Sangsara, Balai Pustaka

 

1922

1. Marah Rusli, Sitti nurbaya, Balai Pustaka

2. Muhammad Kasim, Muda Teruna, Balai Pustaka

3. Nur Sutan Iskandar, Apa Dayaku karena Aku Perempuan, Balai Pustaka

 

1924

1. Nur Sutan Iskandar, Korban karena Percintaan, Balai Pustaka

 

1926

1. Nur Sutan Iskandar dan Abdul Ager, Cinta yang Membawa Maut, Balai Pustaka

2. Kejora, Karam dalam Gelombang Percintaan, Balai Pustaka

 

1927

1. Adinegoro, Darah Muda, Balai Pustaka

2. Abas Dt. Pamoentjak, Pertemuan, Balai Pustaka

3. R. Soengkawa, Nyi Mas Sukmi dan Saudaranya, Balai Pustaka

 

1928

1. Abdul Muis, Salah Asuhan, Balai Pustaka

2. Adinegoro, Asmara jaya, Balai Pustaka

3. E. Joram, Emas Disangka Loyang, Balai Pustaka

4. Nur Sutan Iskandar, Salah Pilih, Balai Pustaka

5. Zainuddin, Jeumpa Aceh, Balai Pustaka

 

1929

1. S. Takdir Alisjahbana, Tak Putus Dirundung Malang, Balai Pustaka

2. Tulis Sutan Sati, Sengsara Membawa Nikmat, Balai Pustaka

3. Tulis Sutan Sati, Tak Disangka, Balai Pustaka

4. Suman Hs., Kasih Tak Terlarai, Cetakan IV, Nusantara

1930

1. MW Asmawinangun, Merak Kena Jebak, Balai Pustaka

2. Hamka, Dijemput Mamaknya, Cetakan III, Megabook Store

 

1931

1. Abdul Muis dan Memed Sastrahadiprawira, Pangeran Kornel, Balai Pustaka

2. Suman Hs., Percobaan Setia, Balai Pustaka

3. M.R. Dayoh, Peperangan Orang Minahasa dan Orang Spanyol, Balai Pustaka

 

1932

1. Tulis Sutan Sati, Memutuskan Pertalian, Balai Pustaka

2. Abdul Muis, Pertemuan Jodoh, Balai Pustaka

3. S. Takdir Alisjahbana, Dian yang Tak Kunjung Padam, Balai Pustaka

4. Tulis Sutan Sati, Tidak Membalas Guna, Balai Pustaka

5. Paulus Supit, Kasih Ibu, Balai Pustaka

6. Nur Sutan Iskandar, Karena Mertua, Balai Pustaka

7. Ener, Sebabnya Menjadi Hina, Balai Pustaka

8. O.R. Mandank, Narumalina, Balai Pustaka

9. Habib Sutan Maharadja, Nasib, Balai Pustaka

1933

1. Selasih, Kalau Tak Untung, Balai Pustaka

2. Nur Sutan Iskandar/M. Dahlan, Dewi Rimba, Balai Pustaka

3. Nur Sutan Iskandar, Tuba Dibalas Dengan Susu, Balai Pustaka

 

1934

1. Suman Hs., Pencuri Anak Perawan, Balai Pustaka

2. Nur Sutan Iskandar, Hulubalang Raja, Balai Pustaka

3. Aman Dt. Madjoindo/S. Hardjosomarto, Rusmala Dewi, Balai Pustaka

4. M.R. Dayoh, Pahlawan Minahasa, Balai Pustaka

5. Aman Dt. Madjoindo/S. Hardjosumarto, Sebabnya Rafi’ah Tersesat, Balai Pustaka

 

1935

1. A. Damhuri, Mencari Jodoh, Balai Pustaka

2. Hamidah, Kehilangan Mestika, Balai Pustaka

3. Nur Sutan Iskandar, Katak Hendak Menjadi Lembu, Balai Pustaka

4. A.A. Panji Tisna, Ni Rawit Ceti Penjual Orang, Balai Pustaka

5. Aman Dt. Madjoindo, Menebus Dosa, Balai Pustaka

6. Aman Dt. Madjoindo, Sampaikan Salamku Kepadanya, Balai Pustaka

7. Muhamad Syah, Dia dan Aku, Balai Pustaka

8. H.S.D. Muntu, Pembalasan, Balai Pustaka

 

1936

1. A.A. Pandji Tisna, Sukreni Gadis Bali, Balai Pustaka

2. S. Takdir Alisjahbana, Layar Terkembang, Balai Pustaka

 

 

 

1937

1. Nur Sutan Iskandar, Neraka Dunia, Balai Pustaka

2. Selasih, Pengaruh Keadaan, Balai Pustaka

3. M. Nazir, Sapu Tangan Fantasi, Balai Pustaka

1938

1. Hamka, Di Bawah Lindungan Kabah, Balai Pustaka

2. Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Balai Pustaka

3. A.A. Pandji Tisna, / Swasta Setahun di Bedaluhu, Balai Puslaka

4. Hamka, Karena Fitnah, Balai Puslaka

5. A.A. Pandji Tisna, Dcwi Karunia

 

1939

1. Ardi Soma, Cincin Setempel, Balai Pustaka

2. Hamka, Merantau ke Deli

3. Hamka, Tuan Direktur

4. Nur Sutan Iskandar, Cinta dari Deli, Balai Pustaka

5. Suman Hs., Tebusan Darah, Balai Pustaka

 

1940

1. Nur Sutan Iskandar/L. Wairata, Cinta dan Kewajiban, Balai Pustaka

2. S. Takdir Alisjahbana, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Balai Pustaka

3. Armijn Pane, Belenggu, Dian Rakyat

4. M.K. Dayoh, Putera Budiman, Balai Pustaka

5. H.S.D. Muntu, Karena Kerendahan Budi, Balai Pustaka

6. Asmara Hadi, Dalam Lingkungan Kawat Berduri

 

1941

  1. Sutomo Djauhar Arifin, Andang Teruna, Balai Pustaka

 

1945

  1. Nur Sutan Iskandar, Cinta Tanah Air, Balai Pustaka
  2. Karim Halim, Palawija, Balai Pustaka

 

1946

1. Nur Sutan Iskandar, Mutiara, Balai Pustaka

2. Nur Sutan Iskandar, Jangir Bali, Balai Pustaka

3. Nur Sutan Iskandar, Cobaan, Balai Pustaka

4. Bagindo Saleh, Adat Muda Menanggung Rindu, Balai Pustaka

 

1948

1. Arti Purbani, Widiyawati, Balai Pustaka

 

1949

1. Achdiat K. Mihardja, Atheis, Balai Pustaka

2. Utuy T. Sontani, Tambera, Balai Pustaka

1950

1. Abdul Muis, Surapati, Balai Pustaka

2. Idrus, Aki, Balai Pustaka

3. Mochtar Lubis, Tak Ada Esok, Gapura

4. Mochtar Lubis, Si Jamal, Balai Pustaka

5. Rivai Marlaut, Dokter Haslinda, Gapura

6. Pramoedya Ananta Toer, Dia yang Menyerah, Balai Pustaka

7. Matu Mona, Akibat Perang

8. Matu Mona, Zaman Gemilang, Gapura

9. Pramoedya Ananta Toer, Keluarga Gerilya, Pembangunan
10. Pramoedya Ananta Toer, Perburuan, Balai Rakyat

11. Muhamad Dimyati, Yogya Diduduki, Gapura

12. Kotot Sukardi, Bengawan Solo, Gapura

13. Hamka, Menunggu Beduk Berbunyi

14. S. Rukiah, Kejatuhan dan Hati, Balai Pustaka

15. Zubaedah Subro, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Balai Pustaka

16. Andjar Asmara, Nusa Penida

 

1951

1. Pramoedya Ananta Toer, Di Tepi Kali Bekasi, Gapura

2. Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam, Balai Pustaka

3. Pramoedya Ananta Toer, Mereka yang Dilumpuhkan, Balai Pustaka

4. Waluyati Supangat, Pujani, Gapura

5. Hamka, Kenang-kenangan Hidup

6. Abdul Muis, Hendak Berbakti

 

1952

1. Mundingsari, Jayawijaya, Balai Pustaka

2. Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung, Balai Pustaka

3. El Hakim, Doktei Rimbu

4. Nur Sutan Iskandar, Ujian Masa, Balai Pustaka

 

1953

1. Abdul Muis, Robert Anak Surapati, Balai Pustaka

2. Pramoedya Ananta Toer, Gulat di Jakarta, Balai Pustaka

3. Nursiah Dahlan, Ami, Balai Pustaka

4. Marah Rusli, La Hami, Balai Pustaka

 

1954

1. Pramoedya Ananta Toer, Korupsi, Balai Pustaka

2. Pramoedya Ananta Toer, Midali Si Manis Bergigi Emas, Nusantara

3. A.A. Pandji Tisna, Kembali Kepada Tuhan

1955

1. Muhammad Ali, Kubur tak Bertanda, Surabaya

2. Muhammad Ali, Perselujuan dengan Iblis, Surabaya

1956

1. A. Damhuri, Telaga Darali

2. Marah Rusli, Anak dan Kemenakan, Balai Pustaka

 

1958

1. Ajip Rosidi, Perjalanan Pengantin

2. Toha Mohtar, Pulang, Pembangunan

 

1959

1. Alexander Tobing, Mekar karena Memar, Balai Pustaka

 

1961

1. Trisnoyuwono, Pagar Kawat Berduri, Djambatan

 

1962

1. Motinggo Busye, Tidak Menyenh, Nusantara

2. Nh. Dini, Hati yang Damai, Nusantara

3. Trisnoyuwono, Bulan Madu

4. D. Suradji, Kemboja

5. Toha Mohtar, Gugurnya Komandan Gerilya

6. Matia Madjiah, Kasih di Mednn Perang, Balai Puslaka

7. Purnawan Tjondronegoro, Meiidarat Kembali, Balai Pustaka

 

1963

1. Purnawan Tjondronegoro, Mabuk Sake, Balai Pustaka

2. Nasjah Djamin, Hilanguya Si Anak Hilang, Pustaka Jaya

3. Djamil Suherman, Perjalanan ke Aktierat, Pembangunan

4. Rivai Ali, Daralt dan Nasib

5. Alexandre Leo, Mendung, Pembangunan

 

1964

1. Toha Mohtar, Dacrali Tak Bertuan, Pembangunan

2. B. Soelarto, Tanya Nama, Pembangunan

3. Satyagraha Hurip, Sepasang Suami Istai, Pembangunan

4. Soewardi Idris, Di Puncak Bukit Talang,

5. Gerson Poyk, Hari-Hari Pertama

6. Mochtar Lubis, Tanah Gersang, Pembangunan

1965

1. Bokor Hutasuhut, Penakluk Ujung Dunia, Pembangunan

2. Bokor Hutasuhut, Tanali Kesayangan, Pembangunan

3. M. Balfas, Retak

4. Idrus, Hati Nurani Manusia, Pembangunan

5. S.M. Ardan, Nyai Dasima

6. Nasjah Djamin, Helai-Helai Sakura Gugur, Pustaka Jaya

7. Djumri Obeng, Dunia Beluni Kianiat

 

1966

I. Trisnoyuwono, Surat-Surat Cinta

 

1967

1. A.A. Navis, Kemarau, Pembangunan

2. Rosihan Anwar, Raja Kecil

3. Dt. B. Jacub, Panggilan Tanah Kelahiran, Balai Pustaka

 

1968

1. Iwan Simatupang, Meralinya Merah, Gunung Agung

2. Iwan Simatupang, Ziarah, Gunung Agung

3. Nasjah Djamin, Gairati untuk Hidup dan untuk Mati, Pustaka Jaya

4. Nasjah Djamin, Malam Kuala Lumpur, Pustaka Jaya

5. Mochtar Lubis, Senja di Jakarta, Pustaka Jaya

6. Toha Mohtar, Kabul Rendah

7. Toha Mohtar, Bukan Karena Kau

8. Kirdjomuljo, Di saat Rambutnya Terurai

9. Enny Sumargo, Sekeping Hati Peranpuan, Pustaka Jaya

10. Misbach Jusa Biran, Maiyusur Jejak Berdarali, Pustaka Jaya

11. Toha Mohtar, Salali Langkali

1969

1. Mohayus Abukomar, Kota Palopo Terbakar

2. Ras Siregar, Terima Kasih

3. Tahi Simbolon, Ibu, Pembangunan

1970

1. S. Takdir Alisjahbana, Grotta Azzura, Dian Rakyat

2. Luwarsih Pringgoadisurjo, Menyongswig Badai, Pembangunan

1971

1. Ramadhan K.H. Royan Rcvolusi, Gunung Agung

2. Putu Wijaya, Bila Malam Beiiambaii Malam, Pustaka Jaya

3. Harijadi S. Hartowardojo, Chang Buangan, Pustaka Jaya

4. Ali Audah, Jalati Terbuka, Litera

1972

1. Iwan Simatupang, Kering, Gunung Agung

 

1973

1. Putu Wijaya, Telegram, Pustaka Jaya

2. Nh. Dini, Pada Sebuali Kapal, Pustaka Jaya, Jakarta

3. Gerson Poyk, Sang Guru, Pustaka Jaya

4. Idrus, Hikayat Puteri Penelope, Balai Pustaka, Jakarta

 

1974

1. Wildan Yatim, Pergolakan, Pustaka Jaya

2. Totilawati Tjitrawasita, Hadiali Ulang Tafiun, Pustaka Jaya

 

1975

1. Aoh K. Hadimadja, Dan Terhamparlaii Darat yang Kuning, haul yang Biru, Pustaka Jay

2. Iwan Simatupang, Kooong, Pustaka Jaya

3. Mochtar Lubis, Harimau! Harimau!, Pustaka Jaya

4. Mahbub Djunaidi, Dari Hari ke Hari, Pustaka Jaya

5. Nh. Dini, La Barka, Pustaka Jaya

6. Putu Wijaya, Pabrik, Pustaka Jaya

7. Mohamad Diponegoro, Siklus, Pustaka Jaya

8. Harijadi S. Hartowardojo, Perjanjian dengan Maut, Pustaka Jaya

9. Totilawati Tjitrawasita, Sinta Sasanti, Pustaka Jaya

 

1976

1. Aspar, Arus, Bhakti Baru

2. Aspar, Pulau, Bhakti Baru

3. Iskasiah Sumarto, Astiti Raliayu, Pustaka Jaya

4. Idrus, Hati Nurani Manusia, Pustaka Jaya

5. Kuntowijoyo, Kliotbali di Atas Bukit, Pustaka Jaya

6. Ramadhan K.H., Kenielut Hidup, Pustaka Jaya, Jakarta

7. S. Sinansari Ecip, Perjalanan, Bhakti Baru

 

1977

  1. Aoh K. Hadimadja, Sepi Terasing, Pustaka Jaya Arswendo Atmowiloto, Ttic Circus,
  2. Nusa Indah

3. Mochtar Lubis, Maut dan Cinta, Pustaka Jaya

4. Nh. Dini, Namaku Hiroko, Pustaka Jaya

5. Nh. Dini, Keberangkatati, Pustaka Jaya

6. Putu Wijaya, Stasiun,. Pustaka Jaya

7. Canny R. Talibonso, Tunas-Tunas Luruh Selagi Tumbuti, Pustaka Jaya

8. Arswendo Atmowiloto, Seviesra Merapi Mcibabu, Cypress

9. Marianne Katoppo, Raumanen, Gaya Favorit Press, Jakarta

 

1978

1. Arswendo Atmowiloto, Bayang-bayang Haur, Nusa Indah

2. Bur Rasuanto, Tuyet, Gramedia

3. Jasso Winarto, Dua Manusia, Indira

4. Korrie Layun Rampan, Upacara, Pustaka Jaya

5. Nh. Dini, Sebuah Lorong di Kotaku, Pustaka Jaya

6. Ramadhan K.H., Keluarga Permana, Pustaka Jaya

7. Suparto Brata, Surabaya, Tumpah Daraliku, Surya Raya

8. Titis Basino P.I., Pelabutian Hati, Pustaka Jaya

9. Th. Sri Rahayu Prihatmi, Di Atas Puing-Puing, Pustaka Jaya

10. S. Takdir Alisjahbana, Kalali dan Meming, Dian Rakyat

11. Marianne Katoppo, Dunia Tak Bermusim, Cypress

12. Putu Wijaya, Keok, Pustaka Jaya

13. Aryanti, Selembut Bunga, Gaya Favorit Press

 

1979

1. Ashadi Siregar, Jentera Lepas, Cypress

2. Chairul Harun, Warisan, Pustaka Jaya

3. Gerson Poyk, Cumbuan Sabana, Nusa Indah

4. Ismail Maharamin, Dan Perang pun Usai, Pustaka Jaya

5. Muspa Endow, Perjalanan Hitani, Pustaka Jaya

6. Marianne Katoppo, Anggrek Tak Pernali Berdusta, Gaya Favorit Press

7. Musytari Jusuf, Jatuhnya Benteng Batu Pulih, Pustaka Jaya

8. Nh. Dini, Padang Ilalang di Belakang Rumali, Pustaka Jaya

9. Parakitri, Si Bangkok, Gramedia

10. Suprapto Brata, Mata-Mata, Pustaka Jaya

11. Wildan Yatim, Petualangan Tarn, Gaya Favorit Press

12. Yudhistira ANM, Mencoba Tidak Menyerah, Gramedia

13. Nh. Dini, Langit dan Bumi Sahabat Kami, Pustaka Jaya

1980

1. Ahmad Tohari, Kubah, Pustaka Jaya

2. Arswendo Atmowiloto, Martubi dan Juminten, Gramedia

3. Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia,, Hasta Mitra

4. Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, Hasta Mitra

5. Nh. Dini, Sekayu, Pustaka Jaya

 

1981

1. Garut Kusumo, Pita Merah di Lengan Kiri, Sinar Harapan

2. Hardjana, HP, Yang Tak Tergoyahkan, Balai Pustaka

3. Nasjah Djamin, Dan Senja pun Turun, Sinar Harapan

4. Pipiet Senja, Sepotong Hati di Sudut Kamar, Sinar Harapan

5. Putu Wijaya, Sobat, Sinar Harapan

6. Sori Siregar, Awal Musim Gugur, Nusa Indah

7. Sori Siregar, Susan, Nusa Indah

8. Suparto Brata, Getierasi yang Hilang, Kartini Group

9. Wildan Yatim, Tak Ada Lagi Bayang-Bayang

10. Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar, Djambatan

11. Y.B. Mangunwijaya, Romo Rahadi, Pustaka Jaya

 

1982

1. Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuli Pmuk, Gramedia

2. A.D. Donggo, Di Persimpangan jalan, Balai Pustaka

3. Gerson Poyk, Giring-giring

4. Gerson Poyk, Seutas Benang Cinta

5. Hardjana HP, Pijar-Pijar Api Perang, Balai Pustaka

6. Matia Madjiah, Liku-Liku Jalan Kdiidupan, Balai Pustaka

7. Moerwanto, Lembah Dendam, Balai Pustaka

8. Muhammad Ali, Ibu Kita Raminten, Sinar Harapan

9. Noorca M. Massardi, Mereka Berdua, Gramedia

10. Putu Wijaya, Lho, Balai Pustaka

11. S. Baya, Rindu Kubawa Pulang, Balai Pustaka

12. S. Sinansari Ecip, Kursi Pemilu

13. Sori Siregar, Reuni, Nusa Indah

14. Sori Siregar, Telepon, Balai Pustaka

15. Sori Siregar, Wanita Itu Adalali Ibu, Balai Pustaka

16. Umar Nur Zain, Belantara Ibu Kota, Sinar Harapan

17. Umar Nur Zain, Bu Guru Dwisari, Sinar Harapan

18. Umar Nur Zain, Namaku Wage, Sinar Harapan

 

1983

1. Budi Darma, Olenka, Balai Pustaka

2. Darman Moenir, Bako, Balai Pustaka

3. Edijushanan, Jeritan Hati di Balik Deburan Ombak

4. Bagin, Topan Menjelang Fajar, Balai Pustaka

5. Gerson Poyk, Requiem untuk Seorang Perempuan

6. M.K. Prayitno, Magelang Kembali, Balai Pustaka

7. Nasjah Djamin, Tresna Atas Tresna

8. Pandir Kelana, Kadarwali, Sinar Harapan

9. Putu Wijaya, Nyali, Balai Pustaka

10. Titis Basino P.I., Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu, Pustaka Jayt

12. Y.B. Mangunwijaya, Roro Mendut, Gramedia

 

1984

1. Djamil Suherman, Pejuang-Pejuang Kali Pepe

2. Nasjah Djamin, Bukit Harapan, Pustaka Jaya

3. Pandir Kelana, Rintinan Burung Kedasih, Sinar Harapan

4. Sindhunala, Anak Bajang Meriggiring Angin, Gramedia

5. Y.B. Mangunwijaya, Ikan-lkan Hiu, Ido, Homa, Djambatan

 

1985

1. Ahmad Tohari, Lintang Kanukus Dini Hari. Gramedia

2. Ajip Rosidi, Anak Tanaiiair, Gramedia

3. Mahbub Djunaidi, Angin Musint, Gunung Agung

4. Moerwanto, Lembali Membara, Pustaka Jaya

6. Motinggo Busye, Matiu Proliant, Balai I’ustaka

7. Motinggo Busye, Sanu Infinita Kembar, Gunung Agung

8. Nasjah Djamin, Tiga Punlung Rokok, Pustaka Jaya

9. Nh. Dini, Orang-Oratig Tran

10. R. Sukxi Kasean, Terlepas Sebelum Terusap, Sinar Harapan

11. Sori Siregar, Awal Pendakian, Balai Pustaka

12. Wilson Nadeak, Pengadilan Cinla dan Hati Nurani

13. Y.B. Mangunwijaya, Bulada Bccak, Balai Pustaka

14. Djamil Suherman, Sakcrali

15. Djamil Suherman, Sarip Tandmkoso

 

1986

1. Ahmad Tohari, Di Kaki Bukit Cibalak, Pustaka Jaya

2. Ahmad Tohari, Jatitera Bianglala, Gramedia

3. Arswendo Atmowiloto, Canting, Gramedia

4. Motinggo Busye, Dosa Kita Setnua, Balai Pustaka

5. Nh. Dini, Pertemuan Dua Hati, Gramedia

6. Putu Wijaya, Dor, Balai Pustaka

7. Sides Sudyarto D.S., Rona Hati Kekasih

8. Titis Basino P.I., Bukan Rumaliku, Pustaka Jaya

9. Y.B. Mangunwijaya, Genduk Duku, Gramedia

 

1987

1. Ediruslan PE Amanriza, Panggil Aku Sakai, Balai Pustaka

2. Putu Wijaya, Pol, Pustaka Utama Grafiti

3. Y.B. Mangunwijaya, Lusi Undri, Gramedia

 

1988

1. Budi Darma, Rafilus, Balai Pustaka

2. Darman Moenir, Dendang, Balai Pustaka

3. Dukut Imam Widodo, Sang Penumpas, Djambatan

4. Gerson Poyk, Poli Woli, Pustaka Umum Grafiti

5. Gerson Poyk, Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal, Pustaka Utama Grafiti

6. Hamsad Rangkuti, Lampu Meraii, Sinar Harapan

7. Motinggo Busye, Keberanian Manusia, Balai Pustaka

8. Motinggo Busye, Mataliari dalam Kelam, Balai Pustaka

9. Nasjah Djamin, Ombak dan Pasir

10. Nasjah Djamin, Ibu

11. Ras Siregar, Di Simpang Jalan, Pustaka Karya Grafika Utama

12. Titis Basino P.I., Dataran Terjal, Pustaka Jaya

13. Tunjung Seto, Terbangnya Elang, Balai Pustaka

 

1989

1. Edijushanan, Jantan, Gramedia

2. Nh. Dini, Jalan Bandungan, Djambatan

3. Pandir Kelana, Tusuk Sanggul Pundak Wangi, Balai Pustaka

4. Luwarsih Pringgoadisuryo, Yang Miuia yang Menentukan, Pustaka Utama Crafiti

 

1990

1. Abdullah Hussain, Peristiwa Kemerdekaan di Aceh, Balai Pustaka

2. Putu Wijaya, Perang, Pustaka Utama Grafiti

3. Ramadhan K.H., Ladang Perminua, Pustaka Utama Grafiti

4. Haryati Subadio, Getaran-Gctaran, Djambatan

5. Suparto Brata, Tak Ada Nasi Lain

 

Sumber: “Ringkasan Roman Indonesia” karya Maman S. Mahayana