Posts Tagged ‘Sastrawan Angkatan 50’

SASTRAWAN-SASTRAWATI PERIODE KISAH (DEKADE 50-AN)

SASTRAWAN-SASTRAWATI GENERASI KISAH/DEKADE 50-AN

Di bawah ini dideretkan beberapa nama aktivis Generasi Kisah berikut karya mereka :

Ayip Rosidi, dilahirkan di Jatiwangi, Cirebon, 31 Januari 1938. Inilah sastrawan yang menjadi Profesor Tamu pada Osaka Gaidai Jepang, untuk mengajarkan Indonesiologi. Sejak usia 13 tahun sudah memimpin majalah sekolah, usia 16 tahun menerbitkan buku. Ia pernah menjadi redaktur majalah Suluh Pelajar, Prosa, Majalah Sunda, Budaya Jaya, Direktur Penerbit Cupumanik, Duta Rakyat. Juga pernah menjadi dosen luar biasa FS Unpad Bandung, Direktur Penerbit Pustaka Jaya, Ketua IKAPI, Ketua DKJ, peraih Hadiah Sastera Nasional BMKN.

Ditulisnya  kumpulan-kumpulan sanjak Pesta (1956, Cari Muatan (1959); Surat Cinta Enday Rasidin (1960); Jeram (1970); antologi cerpen dan novelet Tahun-tahun Kematian (1955);  Di Tengah Keluarga (1956); Sebuah Rumah buat Hari Tua (1957); Pertemuan Kembali , penceritaan kembali sastra daerah Purba Sari Ayu Wangi (1962) dan Lutung Kasarung (19058); Candra Kirana (1962); Rara Mendut (1961). Ia pun menulis Perjalanan Penganten (kisah, 1958)) serta Masyitoh (drama/novel, 1969).

Pada pasca-G 30 S/PKI Ayip Rosidi antara lain menulis: Ular dan Kabut (kumpulan puisi, 1973);  Sajak-sajak Anak Matahari (kumpulan puisi, 1979), Anak Tanah Air (roman, 1979). Pada sekitar awal dekaded 90-an Ayip Rosidi memelopori pemberian Hadiah Sastra Rancage khusus sastrawan-sastrawati yang dianggap berprestasi luar biasa dalam Sastra Daerah tiap tahun sejak dekade 90-an sampai sekarang. Pada tahun 2000 Ayip menerim,a Bintang Jasa The Order of the Secred Treasure Gold Ray with Neck Ribbon pemerintah Jepang. .

Karya-karya lain penulis segala bentuk karangan ini: bunga rampai Laut Biru Langit Biru (1977); Cerita Pendek Indonesia ( 1959); Kapankah Kesusatraan Indonesia Lahir (1964); Ikhtisar sejarah sastra Indonesia (1969); antologi puisi Sajak-sajak Anak Matahari ( 1979); Ular dan Kabut (1973); novel Anak Tanah Air (1979); buku umum Mengenal Jepang (1981); Manusia Sunda (1984); Undang-undang Hak Cipta 1982: Pandangan Seorang Awam (1984); terjemahan bersama Matsuoka Kunio: Penari Jepang(1985) dan Daerah Salju (1987), kumcerpen dan novel Yasunari Kawabata.

Muchtar Lubis, dilahirkan di Padang, 7 Maret 1922, meninggal di Jakarta, 2 Juli 2004, menulis novel  terkenal berjudul  Jalan Tak Ada Ujung (1952). Juga ditulisnya novel Tak Ada Esok (1951), Senja di Jakarta (1970), kumpulan cerpen Si Jamal dan Cerita-cerita lain (1951) dan Perempuan (1956). Di atas tahun 60-an, darinya bisa kita baca roman Tanah Gersang (1966), Harimau! Harimau! (1975), Maut dan Cinta (1977), cerita anak-anak Berkelana dalam Rimba (1980) dan Sinbad Sang Pelaut serta kumpulan cerpen Kuli Kontrak (1982) dan Bromocorah (1983).

Di samping terkenal sebagai pengarang, Mochtar Lubis juga tersohor sebagai wartawan yang pernah memimpin surat kabar Indonesia Raya. Ia pernah meraih hadiah Ramon Magsaysay untuk karya jurnalistik ketika meliput Perang Korea. Yacob Utama dari Kompas menjulukinya sebagai Wartawan Jihad karena kegigihannya memperjuangkan hak azasi manusia. Pada tahun 1993 ia menerima Hadiah Sastra Chairil Anwar.

Selain menulis karya sastra ia juga menulis buku ilmiah berjudul Manusia Indonesia (1977) dan Transformasi Budaya untuk Masa Depan. Pengalamannya dalam tahanan zaman Orde Lama mengilhaminya menulis buku tebal Catatan Subversif.

Karya-karyanya yang lain: Catatan Perang Korea (1951); Terklnik Mengarang (1951); Teknik Mengarang Skenario Film (1952); Indonesia di Mata Dunia (1955); cernak Harta Karun (1964); Penyamun dalam Rimba (1972).

Selain terkenal sebagai pengarang, wartawan, budayawan, Mochtar Lubis adalah juga editor dan penerjemah beberapa  uku, yakni: Pelangi 70 Tahun S.T.A. ; Bunga Rampai Korupsi; Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-surat Bung Hatta kepada Presiden Sukarno ; terjemahan Tiga Ceita dari Negeri Dollar (kumcerpen Jophn Steinbeck, dll., 1950); Kisah-kisah dari Eropa (1950), Cerita dari Tiongkok (1953).

Toto Sudarto Bachtiar, dilahirkan di Cirebon, 12 Oktober 1929. Penyair ini menulis kumpulan sanjak Suara (1956) dan Etsa(1958). Di dalam kedua buku tersebut bisa kita jumpai Pahlawan Tak Dikenal, Ibukota Senja, Gadis Peminta-minta, Tentang Kemerdekaan, dan lain-lain.Toto Sudarto juga menerjemahkan novel karya Leo Tolstoy berjudul Hati yang Bahagia; drama Sanyasi ( karya Tagore,1979); Pelacur (karya J.P. Sartre, 1954); Sulaiman yang Agung (karya Harold Lamb, 1958); Mal;am teakhir (karya Yushio Misima, 1979);  novel Bayangan Memudar (karya Breton de Nijs, 1975); Pertempuran Penghabisan (karya Ernest Hemingway, 1974);

Toha Muchtar, dilahirkan di Kediri, 17 September 1926, meninggal di Jakarta, 19 Mei 1992. Novelis yang melukis ini adalah pemenang lomba yang menulis novel berjudul Pulang (1958). Juga ditulisnya novel Daerah Tidak Bertuan (1963), Bukan Karena Kau dan Kabut Rendah, keduanya terbit tahun 1968.

Juga ditulisnya buku  berjudul Jayamada (bersama Sukanto S.A.,1971), serta kumcerpen Antara Wilis dan Gunung Kelud (1989); novel Berita dari Pinggiran (1999, tujuh tahun setelah ia meninggal).

Utuy Tatang Sontani, dilahirkan di Cianjur, 31 Mei 1920), meninggal di  Moskwa, 17 September 1979. Ia merintis karier sajak zaman Jepang dan berhasil menciptakan Tambera (roman, 1949), Suling (drama, 1948) dan Bunga Rumah Makan(1948) ; Awal dan Mira (1952), Manusia Iseng (1953); Sayang Ada Orang Lain (1954) serta Si Kabayan. Utuy juga menulis drama-drama propaganda politiknya Lekra Si Kampeng (1964), serta sebuah kritik sosial yang tajam dalam drama Selamat Jalan Anak Kufur! (1956).

Karya-karya Utuy yang lain: drama Saat yang Genting (1958); Di Muka Kaca (1957); kumcerpen Orang-orang Sial (1951); Manusia Kota (1961); Segumpal daging Bernyawa (12961); Tak Pernah Menjadi Tua (1963). Utuy menerjemahkan karya Jean de la Fontaine menjadi Selusin Dongeng (1949).

Sitor Situmorang, dilahirkan di Tapanuli, 2 Oktober 1924. Penyair ini menulis kumpulan sanjak Surat Kertas Hijau (1953); Dalam Sajak (1955); Wajah Tak Bernama (1956);  Zaman Baru (1961). Ia juga menulis Jalan Mutiara (drama, `1954), Pertempuran dan Salju di Paris (1956) dan Pangeran, keduanya kumpulan cerpen. Sekeluar dari enam tahun penahanan (karena Ketua  Lembaga Kebudayaan Nasionalnya PNI (LKN) yang dekat dengan Lekra), Sitor menulis kumpulan sanjak Dinding Waktu (1976), Peta Perjalanan (1977), Danau Toba (1981). Sitor terkenal dengan haiku (sanjak mungil)nya yang berjudul Malam Lebaran.  Puisi ini hanya berisi satu baris/larik yang berbunyi ”Bulan di atas kuburan”.

Di samping sebagai penyair yang banyak menulis sanjak-sanjak tentang alam, Sitor Situmorang pernah menjadi menjadi redaktur harian Suara Nasional, Waspada, Berita Nasional, Warta Dunia, pernah pula menjadi dosen ATNI, anggota Dewan Perancang Nasional,  MPRS, serta pernah bermukim di Amsterdam, Paris, Den Hag, Islamabad.

Karya-karyanya selain yang di atas: antologi puisi Zaman Baru (1961); Bunga di Atas Batu (1989); Rindu Kelana (1994) serta buku ilmiah Sastra Revolusioner (1965).

Karya-karya terjemahannya: drama Hari Kemenangan (karya M. Nijhoff, 1955); Bethlehem (karya M. Nijhoff, 1955); Jalan ke Joljuta (karya D.I. Sayersm, 1956)

Kirjomulyo, dilahirklan di Yogya, 1930, meninggal di sana,, 19 Januari 2000. Ia terkenal dengan Romance Perjalanan(1955) nya. Ia juga  menulis lakon Nona  Maryam (1955) , Penggali Kapur (1957); Puisi Rumah Bambu; Dusta yang Manis; Puisi di Langit Merah, serta novel pada tahun 1968 Cahaya di Mata Emi (1968) dan Di Saat Rambutnya Terurai (1968) serta Dari Lembah Pualam.

A.A. Navis, dilahirkan di Padangpanjang, Sumatra Barat, 17 November 1924, meninggal di sana pada tahun 2002.. Pengarang alumni Perguruan INS Kayutanam pernah menjadi pemred harian Semangat Padang, Anggota DPRD Sumatra Barat, Ketua Yayasan INS Kayutanam. Ia  terkenal sebagai pengarang kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami (1956). Kumpulan cerpennya yang lain Bianglala (1963) dan Hujan Panas (1964).  . Novelnya antara lain Kemarau (1967) dan Gerhana. Ia juga menulis buku nonfiksi Alam Terkembang Jadi Guru (1984). Cerpennya berjudul Jodoh memenangkan sayembara Kincir Emas yang diadakan oleh Radio Nederland.

A.A. Navis pernah menerima Hadiah Seni Depdikbud  RI tahun 1980, Hadiah Sastra ASEAN (SEA Award) tahun 1972 dan Satya Lencana Kebudayaan Pemerintah RI tahun 2000.

Muhammad Ali, dilahirkan di Surabaya, 23 April 1927, meninggal di kota yang sama, 2 Juni 1998. Pengarang ini banyak menulis cerpen atau lakon dengan tema para papa. Terkenal dengan dramanya Lapar; Hitam atas Putih (1959) berisi cerpen, sanjak, sandiwara. Novelet-noveletnya antara lain Lima Tragedi (1952);  Kubur Tak Bertanda (1953). Pada pasca 70-an, terbit kumpulan cerpennya Buku Harian Seorang Penganggur (1972);  novel Ibu Kita Raminten (1982); Puitisasi Terjemahan Al Qur’an, sanjak Muhammad. Muhammad Ali yang banyak menggarap tema-tema kerakyatan juga menulis cerpen Ajal dan Bejo, Manusia Kaki Lima. Ia juga menulis buku kumpulan makalah  berjudul Biarkan Kami Bicara dan Sastra dan Manusia (1986).

Pengarang yang pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS), dosen tamu Fakulas Sastra Universitas Jember ini juga menulis: novel Persetujuan dengan Iblis (1956); Tirai Besi (1955); Di Bawah Naungan Al Quran (1957);Qiamat (1971); drama Si Gila (1969); Kembali kepada Fitrah (1969); antologi puisi Bintang Dini (1975). Juga ditulisnya buku-buku: Aktor dan Aktris (1981); Teknik Penghayatan Puisi (1`983); Puitisasi Juz Amma (1983); 1816 Peribahasa Indonesia (1984); kumcerpen Gerhana (1996).

Nasyah Jamin, dilahirkan di Perbaungan, Sumatra Utara, 24 Desember 1924, meninggal di Yogyakarta, 4 Desember 1994. Pengarang yang juga pelukis ini  menulis drama Sekelumit Nyanyian Sunda (1962); Titik-titik Hitam (1956); Jembatan Gondolayu, serta novel Hilanglah Si Anak Hilang (1963) dan Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1969). Nasyah yang cukup dekat Chairil Anwar, menulis buku Hari-hari Terakhir Sang Penyair (1962) semacam biografi pelopor Angkatan ’45 itu.

Nasyah Jamin yang pernah memperdalam art and setting di Tokyo, menjadi redaktur majalah Budaya, Pendiri Angkatan Seni Rupa Indonesia , Gabungan Pelukis Indonesia, juga mengarang cernak Anak Si Pai Bengal (1952), Hang Tuah (1952), novel Helai-helai Sakura Gugur (1964); Malam Kualalumpur (1968); Dan Senja pun Turun (1982); Bukit Harapan (1984); Tiga Puntung Rokok (1985); Ombak dan Pasir (1988); Ibu (1988); kumcerpen Di Bawah Kaki Pak Dirman (1967) dan Sebuah Perkawinan (1974).

Riyono Pratikto, dilahirkan di Ambarawa, 27 Agustus 1932, mengarang kumpulan cerpen Api dan Cerpen Lain (1951) dan Si Rangka dan Cerpen Lain (1958). Di Horison tahun 1986 dimuat cerpennya Dalam Kereta Api Perjalanan Hidup. Cerpen Melalui Biola dinilai terbaik oleh majalah Kisah tahun 1954. Buku  terjemahannya Keempat Puluh Satunya (karya Boris Lavrenyov, 1983).

Ali Audah, dilahirkan di Bondowoso, 14 Juli 1924. Pengarang ini lebih terkenal sebagai penerjemah sastra Arab. Kumpulan cerpennya Malam Bimbang (1961). Terjemahan-terjemahannya Suasana Bergema (1959), Peluru dan Asap (1963); Di Bawah Jembatan Gantung (1983); Sejarah Hidup Muhammad (karya Heikal); Lampu Minyak Ibu Hasyim (novel Yahya Hakki, 1976); Kisah-kisah Mesir (1977); Setan dalam Bahaya (1978); Saat Lonceng Berebunyi (1982); Hari-hari sudah Berlalu (karya Toha Husewin, 1985).

Nugroho Notosusanto, dilahirkan di Rembang, 15 Juli 1931, meninggal di Jakarta, 3 Juni 1985. Pengarang yang pernah menjabat Mendikbud RI dan Rektor UI ini menulis kumpulan cerpen Tiga Kota (1959); Rasa Sayange (1961); Hujan Kepagian (1958). Buku-buku nonfiksi yang ditulisnya Sejarah Kemerdekaan Indonesia, 30 Tahun Indonesia Merdeka, Wawasan Almamater.

Trisno Yuwono, dilahirkan di Yogyakarta, meninggal di Bandung, 24 Oktober 1996. Pengarang yang juga penerjun dan pernah menjadi anggota Tentara Rakyat Mataram, Korps Mahasiswa Magelang dan Jombang dan redaktur koran Pikiran Rakyat ini menulis kumpulan cerpen Laki-laki dan Mesiu (1957); Di Medan Perang (1962); novel Di Bawah Kawat Berdur (1961), kumpulan cerpen Angin Laut (1958) dan Kisah-kisah Revolusi (1963) serta roman Bulan Madu (1962); Biarkan Cahaya Matahari Membersihkanku Dulu (1966); Petualang (1981).

Motenggo Boesye, dilahirkan di Kupangkota, Lampung, 21 November 1937, meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999. Pengarang yang juga pelukis dan dramawan ini tetap aktif menulis hingga akhir hayatnya. Karya-karyanya yang berbentuk drama Malam Jahanam (1958); Badai Sampai Sore (1962); Nyonya dan Nyonya (1963); Malam Penganten di Bukit Kera (1963); Matahari dalam Kelam (1963);  Keberanian Manusia (1962); Perempuan itu Bernama Barabah (1962); novel Dia Musuh Keluarga (1968); Titisan Dosa di Atasnya (1964); Sejuta Matahari (1963). Karya-karyanya yang terbit tahun 80-an: Rindu Ibu adalah Rinduku, Perempuan-Perempuan Impian, Debu-debu Kalbu, Cintaku Selalu Padamu, Akulah Pemberontak Itu, Ibu!, Dalam Kelembutan dan menyutradarai film layar lebar Cintaku Jauh di Pulau, Sejuta Duka Ibu, Putri Seorang Jendral, Di Balik Pintu Dosa. Pada tahun 1985 ditulisnya novel sufistik Sanu Infinita Kembar.

Ternyata Motenggo Boesye juga seorang penyair Buku kumpulan puisinya berjudul Aurora Para Aulia.

Karya-karya Motenggo Boesye yang lain: kumcerpen Dua Tengkorak Kepala (1999); Nasihat untuk Anakku (1963); novel Dosa Kita Semua (1963); Hari Ini Tidak Ada Cinta; Cross Mama; novel trilogi Tante Maryati (1967); Sri Ayati (1968); Retno Lestari (1968). Pada tahun 1963, terbit legenda-legendanya: Buang Tonjam; Ahim Ha; Batu Serompak.

Iwan Simatupang, dilahirkan di Sibolga, Sumatra Utara, 18 Juni 1928, meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970, terkenal dengan karya-karyanya yang absurd, penuh pemikiran inkonvensional, menyimpang dari jalur logika biasa, tampil berabsurd-absurd lebih awal daripada Sutarji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Budi Darma, Danarto, Yudhistira Ardi Noegraha, Ikranegara. Karya-karya Iwan Simatupang: drama Bulan Bujur Sangkar (1960);  Petang di Taman (1966);  RT 0 RW 0 (1960) cerpen Lebih Hitam dari Hitam, kumpulan cerpen Tegak Lurus dengan Langit (1982) Novel-novelnya sangat terkenal dan dijadikan tolok ukur kualitas sastra absurd Indonesia: Kering (1972);  Merahnya Merah ( 1968); Ziarah (1969); Kooong (1975)

Iwan  memperoleh SEA Award dengan novel Ziarah-nya.

S. Rukiah, dilahirkan di Purwakarta, 25 April 1927. Sastrawati ini  menulis Kejatuhan dan Hati (1950); Tandus (kumpulan puisi, 1952); Kisah Perjalanan Si Apin ; Jaka Tingkir (1962);  Teuku Hasan Johan Pahlawan (1957); Dongeng-dongeng Kutilang (1962); Taman Sanjak Si Kecil (1959).

N.H. Dini, dilahirkan di Semarang, 29 September 1936, masih aktif hingga kini. Pengarang wanita ini menulis kumcerpen Dua Dunia (1956); roman Hati yang Damai (1961); Namaku Hiroko (novel, 1977)). Kreativitasnya justru lebih menonjol pada tahun-tahun 70-an ke atas. Roman-romannya: Pada Sebuah Kapal (1973); La Barka (1975); Keberangkatan; novel-novelnya Sekayu (1981); Sebuah Lorong di Kotaku (1978); Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979).  Biografi Amir Hamzah ditulisnya di bawah judul  Pangeran dari Seberang (1981). Kumcerpennya yang lain Segi dan Garis. Juga menulis novel Jalan Bandungan (1989) dan Tirai Menurun (1993); Orang-orang Tran (1985)..

Novelnya yang berjudul Pertemuan Dua Hati yang mengisahkan tentang perjuangan Bu Suci, seorang guru SD dalam membimbing Waskito adalah muridnya yang berkepribadian sulit, novel ini telah disinetronkan. N. H. Dini mempunyai pengalaman bersuamikan diplomat asal Perancis dan bertahun-tahun tinggal di negeri itu. Latar belakang itu mendorongnya menerjemahkan karya pengarang eksistensialis Albert Camus berjudul Sampar (dari La Pest, 1985).

Karya-karya Dini yang lain: Di Pondok Salju cerpen runner up majalah Sastra 1963, Panggilan Dharma Seorang Bhikku (1997); Tanah Baru Tanah Air Kedua (1997); Kemayoran (2000); Jepun Negerinya Hiroko (2000).

Rendra, dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Penyair dan dramawan ini dulu lebih dikenal dengan nama W.S. Rendra (Willibordus Surendra). Setelah beragama Islam, penyair burung merak ini menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Rendra yang kini meroket lagi, dikenal sebagai pembaca sanjak termahal di dunia. (3 juta di TIM, Bandung, Semarang, 12 juta di Senayan, dekade 90-an). Karya-karyanya: Empat Kumpulan Sajak  terdiri dari Kakawin-Kawin, Malam Stanza, Nyanyian dari Jalanan, Sajak-sajak Duabelas Perak, kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta (1956); Sajak-sajak Sepatu Tua (1971); Blues untuk Bonnie (1975); Potret Pembangunan dalam Puisi (1980).. Dua yang terakhir ini ditulisnya sepulang dari Amerika tahun 1968.

Rendra juga menulis kumcerpen Ia Sudah Bertualang (1963); menulis skenario dan mementaskan Orang-orang di Tikungan Jalan; Mastodon dan Burung Kondor;  Kasidah Berjanji, Kisah Perjuangan Suku Naga, Sekda, drama terjemahan Oedipus Sang Raja (1976); Oedipus di Kolonus (1976); Oedipus Berpulang; Antigone (1976); drama saduran Perampok;  drama kolosal Panembahan Reso (1988);  juga Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Pada dekade 90-an, Rendra menerbitkan antologi puisi “Orang-orang Rangkasbitung (1993) dan Disebabkan oleh Angin (1993).

Rendra memimpikan Bengkel Teater dan menulis buku Tentang Bermain Drama (1976). Sebagai budayawan, ditulisnya buku Mempertimbangkan Tradisi (1983) dan Memberi Makna pada yang Fana. Rendra pernah bermain dalam film AL Kautsar, Yang Muda yang Bercinta, Cintaku Jauh di Pulau.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.