Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Angkatan pujangga Baru’

SASTRAWAN-SASTRAWATI ANGKATAN PUJANGGA BARU

Di tulisan sebelumnya, saya menyampaikan sedikit tentang karakteristik Angkatan Pujangga Baru. Sempat ada keinginan untuk merevisi tulisan itu dengan memasukkan  penjelasan tentang beberapa tokoh yang dikategorikan sebagai angkatan pujangga baru lengkap dengan beberapa judul karyanya. Tapi, sepertinya akan menjadi terlalu panjang, oleh karena itu tulisan tentang sastrawan-sastrawati angkatan pujangga baru saya posting terpisah. Semoga bermanfaat!.

SASTRAWAN-SASTRAWATI ANGKATAN PUJANGGA BARU

Kwartet berikut dikenal sebagai ujung tombak Angkatan Pujangga Baru:

Sutan Takdir Alisyahbana, kelahiran Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, meninggal di Jakarta, 17 Juli 1986. Pujangga ini seorang ilmuwan dan filsuf bergelar Sarjana Hukum, Doktor Honoris Causa dan professor. Ia sangat terkenal dengan roman bertendennya Layar Terkembang(1936). Roman-romannya yang lain: Dian nan Tak Kunjung Padam(1932), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940). Tebaran Mega (1935) merupakan kumpulan sanjak yang menandai kepenyairannya. Ternyata, Sutan Takdir tidak hanya hebat di zamannya. Pada masa pascakemerdekaan, bahkan setelah tergulungnya Lekranya PKI, Sutan Takdir pun ikut Baca lebih lanjut

SASTRA: SEKILAS TENTANG ANGKATAN PUJANGGA BARU

ANGKATAN PUJANGGA BARU

Terciptanya suatu angkatan di dalam kesusastraan selalu mendukung karakteristik tertentu. Karena itu jika pada suatu massa timbul suatu kelompok kerja yang mendukung karakteristik yang berbeda dari yang telah ada, ini bisa ditunjuk sebagai telah timbul angkatan baru. Demikianlah terjadi dalam perjalanan kesusastraan kita. Berdiri dan berkembangnya Angkatan Balai Pustaka ternyata disambung dengan berdiri dan berkembangnya Angkatan Pujangga Baru.

Para pelopor Angkatan Pujangga Baru punya tekad bahwa bahasa dan kesusastraan Indonesia harus dibuat maju, berkembang, membawakan ciri keindonesiaan yang lebih merdeka, dinamis, dan intelektual. Angkatan ini dimotori oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armin Pane, lalu diperkuat oleh Sanusi Pane, Y.E. Tatengkeng, Asmara Hadi, dua pengarang wanita Selasih dan Fatimah H. Delais. Ketiga tokoh yang disebut terdahulu itu memiliki konsepsi-konsepsi yang ditujukan bagi pembinaan bahasa dan sastra Indonesia.

Sutan Takdir merupakan tokoh yang sangat energetik dalam majalah Pujangga Baru. Semangat kerjanya itu tetap keras menggebu-gebu hingga akhir hayatnya. Ia mempunyai konsep, bahwa kalau kita ingin maju, ingin modern, maka kita harus mau menggali tenaga dan mereguk roh berat, kita harus mau banyak belajar dari barat. Barat menurut citra Sutan Takdir ialah ilmu pengetahuan dan teknologi yang super, yang sanggup menjawab berbagai tantangan zaman, karena merekalah yang selalu mengutamakan intelektualisme, materialisme, dan modernisasi. Kerja yang dinamik dan kreativitas Barat memiliki tokoh Faust yang berjiwa besar dan selalu bergelora dalam usaha menggapai kebahagiaan duniawi.

Amir Hamzah dan Armijn Pane lebih berpaling pada dunia timur. Keindonesiaan menurut mereka haruslah berakar pada budaya asli kita yang menyandarkan pada potensi kerohanian. Orang tidak perlu memburu materi atau menjadi materialistik karena menurut mereka, yang lebih hakiki ialah batin yang bahagia. Faktor perasaan jangan sampai ditinggalkan dan kehidupan akhirat pun harus pula dipikirkan.

Sanusi Pane menginginkan keseimbangan antara barat dan timur.  Menurut Sanusi Pane, hendaknya cara berpikir Indonesia merupakan gabungan antara Arjuna yang suka mengolah kehidupan spiritual dan Faust yang memiliki semangat keduniaan yang tinggi. Bila kedua tokoh itu digabung, maka terjadilah satu kehidupan yang seimbang dan paripurna. Jiwa-raga material spiritual terpenuhi secara seimbang.

Angkatan Pujangga Baru banyak dipengaruhi Angkatan 80 (1880) dari Nederland. Menilik seri sifat keromantikan dan idealismenya, pendapat itu tidaklah berlebihan. Yang jelas para sastrawan pendukung Angkatan Pujangga Baru adalah orang-orang yang banyak membaca. Bacaan-bacaan yang digeluti tentang perkembangan sastra dunia. Para pengarang dan penyair pun tidak lagi menunjukkan dominasi Sumatera sebagaimana Angkatan Balai Pustaka. Kesadaran masyarakat untuk menghargai dan mengembangkan kehidupan kesusastraan cukup menyenangkan.

Pujangga Baru merupakan nama:

- Majalah yang terbit pada sekitar pada sekitar tahun 1933-1942.

- Kelompok sastrawan yang berkarya pada periode di atas.

- Nama salah satu angkatan sastra Indonesia yang penuh semangat baru dalam memajukan kebudayaan, mempermantap penggunaan dan eksistensi bahasa Indonesia.

Angkatan Pujangga Baru bercorak romantis idealistis, artinya kesusastraan diwujudkan sebagai buah kreativitas yang penuh keindahan dan sarat idealisme. Beberapa tokohnya terpengaruh romantisme Angkatan 1880 Negeri Belanda. Mereka berpendapat bahwa untuk menjadi bangsa yang maju kita harus meruak ruh barat, menomorwahidkan individualisme, intelektualisme, dan materialisme (misalnya Sutan Takdir). Ada pula yang menitiktekankan filsafat timur (Sanusi Pane), berusaha menggali kekuatan Indonesia dari bumi sendiri, yang diwujudkan dalam karya-karya yang menghidupkan kembali kata-kata langka dari khazanah Melayu klasik (Amir Hamzah).

(dari: Ikhtisar Sastra Indonesia, Yant Mujiyantono:2006)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.