Archive for the ‘Tata Bahasa’ Category

Format Pengembangan Gagasan untuk Penulisan Esai

Esai berikut ini sebagai keseluruhan ditulis dengan pola/model Inversi/Pd-Ks. Artinya, dikemukakan di dalamnya terlebih dahulu pikiran-pikiran pendukung (Pd) yang merupakan evidensi, baru akhirnya diajukan keimpulan (Ks). Esai ini terdiri dari lima paragraf: 1 paragraf pengantar sebagai pembuka, 3 paragraf pendukung,/pengembang, dan 1 paragaf  kesimpulan (yang mengutarakan gagasan pokok esai. Parageaf pendukung pertanma disusun dengan pola P-S-P; paragraf pengembang kedua, dengan pola P-D-K; paragraf pengembang ketiga, dengan pola inverse.

VIRUS MENTAL

(Paragraf Pengantar)

(PEMBUKA) Mengapa ada negara yang pertumbuhanya di bidang ekonomi dan sosial cepat, sedangkan negara lain lambat? Sejak lama pertanyaan di atas mengusik para ahli. Amerika Utara, misalnya, yang pada mulanya didiami oleh pendatang dari Inggris, ekonominya berkembang dengan cepat, sedangkan Amerika SElatan, yang pada mulanya didiamai oleh pendatang dari Spanyol, lambat sekali perkembangan ekonomiya sampai akhir-akhir ini. Contoh lain, dalam abad ka-19 Jepang melakukan take off ekonomi, sedangkan Cina tidak. Contoh-contoh serupa dapat diperbanyak , tetapi pertanyaan tetap sama: Dorongan apakan yang mengahasilkan pertumbuhan ekonomi dan sosial?

(Pragraf penukung/pengembag 1, model P-S-P)

(PENDAPAT ORANG) Banyak orang yang beranggapan bahwa kemajuna teknologi pasti akan membawa perkembangan  ekonomi dan sosial. (PERALIHAN) Realistiskah mendewa-dewakan teknologi, secanggih apapun?(PIKIRANUTAMA, manasuka) Menurut hasil penyelidikan McClelland, teknologi modern Baca lebih lanjut

PERBEDAAN BAHASA INDONESIA DAN BAHASA MALAYSIA

PERBEDAAN BAHASA INDONESIA DAN BAHASA MALAYSIA

*) Penting untuk dicatat: tulisan ini dikutip dari ensiklopedia bebas wikipediaIndonesia. Apabila akan menjadikannya sebagai referensi, harap merujuk sumber asli sebagaimana ditulis di bagian akhir tulisan ini.

Bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia adalah dua bentuk baku dalam bahasa Melayu modern (pasca-Perang Dunia II). Selain keduanya, terdapat pula bentuk baku lain yang dipakai di Brunei, namun karena penuturnya sedikit bentuk ini menjadi kurang signifikan. Artikel ini mencoba menunjukkan perbedaan di antara kedua bentuk baku utama meskipun usaha-usaha penyatuan ejaan dan peristilahan selalu dilakukan di bawah koordinasi MABBIM.

Sebenarnya tidak banyak perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Berbagai varian bahasa Melayu digunakan di berbagai wilayah Indonesia dan semua mengakui bahwa bahasa yang digunakan di Provinsi Riau dan sekitarnya adalah bahasa Melayu Standar (atau bahasa Melayu Tinggi, bahasa Melayu Piawai). Perbedaan latar belakang sejarah, politik, dan perlakuan yang berbeda menyebabkan munculnya perbedaan tata bahasa, peristilahan dan kosakata, pengucapan, serta tekanan kata pada dua bentuk standar modern yang sekarang dipakai.

Perbedaan itu secara garis besar dapat dipaparkan sebagai berikut: Baca lebih lanjut

Sarana Retorika, Bahasa Kiasan dan Diksi dalam Puisi

Bahasa puisi sebagai salah satu unsur dalam bangun struktur karya memiliki bagian-bagian antara lain; diksi, citraan, bahasa kiasan dan sarana retorika (Alternbernd dalam Sukamti Suratidja, 1990:241).

Sarana retorika yang dominant adalah tautology, pleonasme, keseimbangan, retorika retisense, paralelisme, dan penjumlahan(enumerasi), paradoks, hiperbola, pertanyaan retorik, klimaks, klimaks, kiasmus (Pradopo, 1990:241)

Telah disampaikan di atas, bahwa selain sarana retorik, dalam bahasa puisi juga dikenal bahasa kiasan atau figurative language yang menyebabkan sajak menjadi menarik, menimbulkan kesegaran, terasa hidup dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan menjelaskan atau mempersamakan suatu hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik dan hidup.

Jenis-jenis bahasa kiasan adalah:

  1. perbandingan (simile)
  2. metafora
  3. perumpamaan epos (epic simile)
  4. personifikasi
  5. metonimia
  6. sinekdok
  7. allegori

(Pradopo, 1990: 62)

Perrine dalam Waluyo (1987: 83) menerangkan bahwa bahasa figurative dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair, karena (1) bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) bahasa figuratif adalah cara untuk imaji tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih dinikmati dibaca, (3) bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair, (4) bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa singkat.

Di samping retorika dan bahasa kiasan, disinggung juga dalam wilayah bahasa puisi adalah diksi. Meskipun buku yang ditulis Gorys Keraf berjudul “Diksi dan GAya Bahas”” sehingga mengesankan kedua istilah itu  dua hal yag berbeda, namun dalam praktiknya, pendiksian yang akurat dari seorang pengarang dan penyair tidak pernah lepas dari soal berupaya habis-habisan menghasilkan ungkapan-uangkapan dan eksposisi yang benar-benar memikat, indah, mempesona, sugestif. Secara esensial ini adalah bentuk lain dari gaya bahasa juga, hanya mungkin tanpa label nama-nama sehingga stude tentang stilistika pun tidak menganggap ha lasing persoalan diksi. Kata diksi memang sering diterjemahkan dengan ketepatan pilihan kata. Dalam konsep itu terkandug unsur kecermatan, kejituan ,keefektifan sehinggadiharapkan timbul ungkapan yang benar-benar bernas, cerdas, dan selektif.

Gorys Keraf dan Widyamartaya (1995: 44) merumuskan diksi sebagai kemmpuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yangsesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbedaharaan kata bahasa itu. Sementara itu dalam bukunya ynag berjudul Diksi Gaya Bahasa, Gorys Keraf (1995: 87) berbicara tentang diksi/ketepatan pilihan kata sebagai berikut:

Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. Sebab itu, persoalan ketepatan pilihan kata akan menyangkut pula masalah makna kata dan kosakata seseorang. Kosakata yang kaya-raya memungkinkan penulis atau pembicara lebih bebas memilih-milih kata yang dianggapnya paling tepat memiliki pikiranya. Ketepatan makna kata menuntut pula kesadaran penulis atau pembicara untuk megetahui bagaimana hubungan antara bentuk bahasa (kata)dengan referensiinya.

Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperi apa yang dirasakan atau dipikirkan penulis  atau pembicara, maka setiap penulis atau pembicara harus berusaha secermat mungkin memilih kata-katanya untuk mencapau maksud tersebut.bahwa kata yang dipakai sudah tepatakan tampak dari reaksi selanjutnya, baik berupa diksi verbal maupun aksi non-verbal dari pembaca atau pendengar. Ketepatan tidak akan menimbulkan salah paham.

Beberapa butir perhatian dan persoalan berikut hendaknya diperhatikan setiap orang agar bisa mencapai ketepatan pilihan katanya itu.

(1). Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi

(2) Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim

(3) Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaan.

(4) Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri

(5) Waspadalah dengan penggunaan akhiran asing terutama kata-kata asing yang mengandung akhiran asing tersebut.

(6) Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digubakan secara ideomatis

ingat akan bukan ingat terhadap, berharap, berharap akan, mengharapkan bukan mengharap akan; berbahaya, berbahaya bagi, membahayakan sesuatu buakan memahayakan bagi sesuatu (lokatif).

(7) untuk menjamin ketepatan diksi penulis atau pembicara harus membedakan kata umum dan kata khusus

(8) Mempergunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus.

(9) Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.

(10) Memperhatikan kelangsungan pilihan kata.

(Gorys Keraf, 1995: 88-89)

Pembicaraan tentang diksi bisa kita perluas mengenai penjelasan yang bisa kit abaca dalam kamus Istilah Sastra Indonesia. Dalam buku tersebut Eddy (1991:55) menerangkan persoalan diksi sebagai berikut

Diksi adalah pilihan kata yang dilakukan oleh seorang pengarang utnuk mengungkapkan pikiran,perasaan dan poengalamannya dalam karya yang ditulisnya.

Dalam karya sastra diksi tidak hanya mengacu pada ketepatan pemilihan kata untuk mengungkapakan sesuatu, tetapi juga untuk mengundang atau ,membangkitkan imajinasi pembaca, sehingga apa yang diungkapkan terasa hidup dan memikat.

Kalau kita bandingkan diksi karya nonsastra dengan diksi karya sastra akan tampak seperti table berikut:

Diksi Karya nonsastra  Diksi Karya Sastra
Ditekankan pada pemilihan kataDiusahakan agar kata pilihan itu bermakna tunggal dan akurat

Brfokus pada makna

Di samping ketepatan pemilihan kata, juga diusahakan agar kata itu dapat membangkitkan imajinasi.Diusahakan agar kata pilihan itu bermakna ganda dan bernilai asosiatif serta imajinatif

Berfokus pada makna dan daya evokasi (daya gugah), atau lebih difokuakan pada gaya gugahnya.

Diksi dan perbedaan diksi dalam kaya sastra dan karya nonsastra akan jelas kelihatan dalam konteks kalimat yang utuh. Contoh:

1. Di atas laut. Bulan perak bergetar. (Abdul Hadi, dalam puisi “Prulude”) merupakan diksi sastra (puisi),

Dipermukaan laut, bulan yang terang benderang seakan-akan bergerak: merupakan diksi nonsastra.

2. Angin akan kembali dari buit-bukit, menyongsong malam hari. (Abdul Hadi, dalam puisi “Prelude”): diksi sastra(puisi),

Angin akan bertiup lagi dari bukit pada malam hari: diksi nonsastra.

Diksi ialah pemilihan dan penyusunan kata dalam puisi. Perkara yang diutamakan dalam pemilihan dan penyusunan diksi ialah ketepatan, tekanan, dan keistimewaan. Perhatian istimewa diberikan terhadap sifat-sifat kata seperti denotatif, konotatif, bahasa kiasan, dan sebagainya. (http://esastera.com/kursus/kepenyairan.html#Modul11). Menurut Sudjiman (1993:7) pengkajian stilistika meneliti gaya bahasa sebuah teks secara rinci secara sistematis memperhatikan preferensi penggunaan kata atau struktur bahasa, mengamati antara hubungan pilihan itu untuk mengidentifikasi ciri-ciri stilistika. Ciri yang dikatakan oleh Sudjiman dapat berupa atau bersifat fonologis (pola bunyi bahasa, mantra, rima). Leksikal (diksi), atau retoris (majas, citraan).

Jenis-jenis gaya bahasa

Poerwadarminta dalam Widyamartaya (1995: 53) menerangkan bahwa gaya umum itu dapat ditambah , diperbesar dengan salah satu cara. Tiap cara atau proses ini akan menghasilkan sejemlah corak dengan nama-nama khususnya. Panorama selayang pandang tentang gaya bahasa dapat dirinci dengan memperbesar daya tenaganya terhadap gaya umum dengan cara-cara mengadakan:

1. Perbandingan; 2. Pertentangan; 3. Pertukaran; 4. Perulangan; 5. Perurutan.

Gaya bahasa ialah cara penyair menggunakan bahsa untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu. Gaya digunakan untuk melahirkan keindahan (http://esastra.com/kurusu/kepenyairan.htm#Modul 11). Hal itu terjadi karena dalam karya sastralah ia paling sering dijumpai, sebagai wujud eksplorasi dan kreativitas sastrawan-sastrawati dalam berekspresi.

Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiranmelalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai bahasa (Gorys Keraf, 2002: 113). Suatu penciptaan puisi, juga bentuk-bentuk tulisan yang lain, misalnya cerpen, novel, naskah drama (Wacana sastra) sangat membutuhkan penguasaan gaya bahasa, agar puisi yang dihasilkan nanti lebih menarik, indah, dan berkualitas.

Pembicaraan tentang gaya bahasa sangatlah luas. Gorys Keraf (2002: xi-xii) membagi persoalan gaya bahasa, yakni:

Pengertian, sendi, jenis-jenis gaya bahasa

1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata

a. Gaya bahasa resmi

b. Gaya bahasa tak resmi

c. Gaya bahasa percakapan

2. Gaya bahasa berdasarkan nada:

a. Gaya sederhana

b. Gaya mulia dan bertenaga

c. Gaya menengah.

2. Gaya bahasa berdarkan struktur kalimat

a. Klimaks

b. Antiklimaks

c. Paralelisme

d. Antitesis

Repetisi

 

3. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna

a. Gaya bahasa retorika terdiri dari:

1) Aliterasi

2) Asonansi

3) Anastrof

4) Apofasis/preterisio

5) Apostrof

6) Asidenton

7) Polisindenton

8.) Kiasmus

9) Elipsis

10) Eufimismus

11) Litotes

12) Histeron proteron

13) Pleonasme dan tautologi

14) Perifrasis

15) Prolepsis/antisipasi

16) Erotesis/pertanyaan retoris

17) Silepsis dan Zeugma

18) Koreksio Epanotesis

19) Hiperbol

20) Paradoks

21) Oksimoton

b. Gaya bahasa kiasan

1. Persamaan/simile

2. Metafora

3. Alegori, Parabel dan Fabel

4. Personifikasi

5. Alusi

6. Eponim

7. Epitet

8. Sinekdoke

9. Metonimia

10. Antomonasia

11. Hipalase

12. Ironi

13. Satire

14. Iniendo

15. Antifrasis

16. Paronomasia

Uraian mengenai pengertian bermacam-macam gaya bahasa tersebut dan contoh-contohnya bisa dibac dalam buku “Diksi dan Gaya Bahasa” karya Gorys keraf, juga karya Henry Guntur Tarigan, Rahmat Joko Pradopo dan dijumpai di segenap buku yang membicarakan gaya bahsa untuk SMP dan SMA/SMK.

Pengertian Masing-masing Jenis Gaya Bahasa dan Contoh Pemakaiannya

Di bawah ini disampaikan pengertian dari jenis-jenis gaya bahasa di atas yang dirumuskan secara bebas oleh peneliti berdasarkan pemahaman yang penulis peroleh dari berbagai sumber:

1. Klimaks, yang disebut juga gradasi, adalah gaya bahsa berupa ekspresi dan pernyataan dalam rincian yang secara periodek makn lama makin meningkat, baik kuantitas, kualitas, intensitas, nilainya.

Contoh:

Idealnya setiap anak Indonesia pernah menempuh pendidikan formal di TK, SD, SMP, SMA/SMK, syukur S2, S3 sampai gelar Doktor dan kalau mengajar di Perguruan Tinggi bergelar Profesor/Guru Besar pula.

b. Dalam apresiasi sastra, mula-mula kita hanya membaca selayang pandang puisi yang akan kita apresiasi, lalu kita membaca berulang-ulang sampai paham maksudnya, merasakan keindahannya, terus mengkajidalami, bisa membawakannya penuh penghayatan, sampai kita mampu menghargai keberadaan dan mencintainnya, syukur juga terpangil untuk kreatif menciptakan bentuk-bentuk sastra.

2. Antiklimaks merupakan antonim dari klimaks adalah gaya bahasa berupa kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas, kuantitas intensitas. Gaya bahasa ini di mulai dari puncak makin lama makin ke bawah.

Contoh:

Bagi milyader bakhlil, jangankan menyumbang jutaan rupiah, seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, seribu rupiah pun ia enggan, masih dihitung-hitung.

b. Jauh sebelum memperoleh mendali emas dalam Olimpiade Athena 2004 cabang bulutangkis, Taufik Hidayat niscaya telah menjadi juara nasional dan sebelumnya juga tingkat propinsi, kabupaten, malahan pula tingkat kecamatan, desa, RT/RW.

3. Paralelisme adalah gaya bahasa berupa penyejajaran antara frase-frase yang menduduki fungsi yang sama.

Contoh: Kriminalitas dan kemaksiatan itu akan menyengsarakan banyakmorang, membuat menderita kurban-kurbannya.

4. Antitesis adalah gaya bahsa yang menghadirkasn kelompok-kelompok kata yang berlawanan maksudnya.

Contoh:

Kau yang berjani kau pula yang mengingkari

Kau yang mulai kau pula yang mangakhiri

Di timur matahari terbit dan di barat ia tengggelam

5. Repetisi adalah gaya bahasa dengan jalan mengulanmg pengunaan kata atau kelompok kata tertentu.

Contoh:

  • Seumpama eidelwis akulah cinta abadi yang tidak akan pernah layu
  • Seumpama merpati akulah kesetiaan yang tidak pernah ingkar janji
  • Seumpama embun akulah kesejukan yang membasuh hati yang lara
  • Seumpama samudra akulah kesabaran yang menampung keluh kesah segala muara

6. Aliterasi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi konsonan.

Contoh:

  • Widyawan Wisik Wahyu Wastika suka menekuni spiritualitas.
  • Sahabatku bernama Fajar Firman Firdaus Filosofi.
  • Jadilah jantan jujur jenius!
  • Nama mahasiswi itu Cici Cantika Cangggih Cendikiawati

7. Asonansi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal

Contoh:

Gita Cinta dari SMA, lagu rindu dari SMU

Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu

8. Anastrof adalah gaya bahasa berupa pembalikan susunan kalimat dari pola yang lazim, biasanya dari subjek-predikat jadi predikat-subjek

Contoh:

Terlalu kecil anak itu untuk bekerja seberat itu

Berbahagialah wisudawan-wisudawati dalam perayaan yang diadakan di kampus mereka.

9. Apofasis/preterisio adalah gaya bahasa yang dipakai oleh pengarang untuk menyampaikan sesuatu yang megandung unsur kontradiksi, kelihatannya menolak tapi sebenarnya menerima, kelihatannya memuji tapi sebenarnya mngejek, nampaknya membenarkan tapi sebenarnya menyalahkan, kelihatannya merahasiakan tapi sebenarnya membeberkan.

Contoh :

- Saya tidak ingin membongkar kesalahan masa silammu bahwa dulu kamu pernah melakukan pemalsuan ijazah dan menjadi plagiator.

- Jangan repotrepot membawa sesuatu ke sini, tapi tidak baik bukan kalau orang menolak rejeki?

10. Apostrof adalah gaya bahsa berupa pengalihan pembicaraan kepada benda atau sesuatu yang tidak bisa berbicara kepada kita terutama kepada tokoh yang tidak hadir atau sudah tiada, dengan tujuan lebih menarik atau memberi nuansa lain.

Contoh:

- Wahai Nabi Suci yang kami cintai dan hormati, malam ini kami berkumpul disini untuk melantunkan shalawat dan kasidah nan syahdu untukmu, terimalah sayang, kekasihku.

- Hai burung-burung betapa merdu nyanyianmu, wahai bunga-bunga betapa indah dan semerbak aromamu, wahai embun pagi, betapa jernih berkilau kamu laksana butiran-butiran intan tertimpa hangat sinar surya.

11. Asidenton adalah gaya bahsa dengan jalan menghadirkan kata/frasa yang berfungsi sama, berkedudukan sejajar tanpa menggunakan kata penghubung hanya menggunakan koma.

Contoh:

Untuk menjadi insan kamil, kita harus punya imtak yang prima, iptek yang andal, akhlak yang solid, amal salih yang semarak produktif banyak berkarya, kreatif penuh cipta.

12. Polisidenton adalah gaya bahasa berupa penyampaian sesuatu dengan menggunakan kata sambung secara berulang.

Contoh:

- Kepada bulan, kepada bintang-gemintang, kepada langit biru, kepada malam yang syahdu, aku bertanya kepadamu adakah kau lihat hamba-hamba Allah yang beriman bangun tengah malam untuk berdzikir, untuk berdoa, untuk bersujud?

- Kita harus giat menuntut ilmu dari berbagai sumber agar cerdas cendikia agar berwawasan luas agar bisa bnyak berkiprah agar tidak ketinggalan zaman.

13. Kiasmus adalah gaya bahasa yang terdiri dari dua klausa yang berimabang namun dipertentangkan satu sama lain.

Contoh:

Sebenarnya mereka orang-orang yang sabar, namun akhirnya berontak terhadap orang-orang yang terus mengencetnya.

14. Elipsis adaklah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang mengandung kata-kata yang sengaja dihilangkan yang sebenarnya bisa diisi oleh pembaca/penyimak.

Contoh:

- Pembangunan mencakup dua hal yakni pembangunan material dan …….,pembangunan lahiriah dan …….., pembangunan individual dan ……….

- Apa saja yang ada di dunia serta berpasangan ada siang ada ………, ada baik ada…….., ada terang ada ………, ada pertemuan ada …….., roda berputar kadang di atas kadang …………

15. Eufemisme adalah gaya bahasa berupa pengungkapan yang sifatnya menghaluskan supaya tidak menyinggung perasaan, tidak terasa tajam.

Contoh:

-Karena melakukan sesuatu yang kurang pas, Pak Bandot akhirnya dikenai pension dini.

(Terlibat skandal, korupsi, dipecat, di PHK)

-Anak itu tinggal kelas karena agak terlambat dalam mengikuti pelajaran.

(Bodoh)

16. Litotes adalah gaya bahasa yang sifatnya merendahkan diri, tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya namun tidak punya maksud agar orang percaya dengan hal itu, pembicara/penyimak tahu apa yang sebenarnya ia maksudkan.

Contoh:

-Kalau Anda tidak keberatan, mampirlah ke gubug kami di Jalan Pemuda No. 100 Surakarta.

- Yogya-Solo terpaksa kita tempuh 2 jam karena kita hanya naik gerobak.

17. Histeron Proteron adalah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang mengandung pembalikan dari logika yang wajar.

Contoh:

Silakan membaca terus sampai jadi kutu buku agar kebodohanmu tidak berkurang, kepandaianmu tidak bertambah.

-Pegang teguhlah sifat jujur maka kamu bakal hancur, bertindaklah adil maka justru kamu akan terpencil.

18. Tautologi adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara berulang dengan kata-kata yang maknanya sama supaya diperoleh pengertian yang lebih mendalam, misalnya:

Tak ada badai tak ada topan, tiba-tiba saja ia marah.

So pasti, buku-buku bermutu banyak memberikan manfaat bagi pembacanya.

19. Pleonasme adalah sarana retorika semacam tautologi dengan kata kedua yang sudah dijelaskan oleh kata pertama.

Contoh:

Silakan maju ke depan, setelah itu naik ke atas.

Hujan yang basah menyuburkan tanah-tanah rekah

20. Perifrasis adalah gaya bahasa sejenis pleonasme yang merupakan keterangan berulang namun proporsinya lebih banyak daripada yang sebenarnya.

Contoh:

Dengan sungguh terpaksa karena tak berdaya, tidak punya kekuatan apa-apa tidak bisa berbuat dan melakukan sesuatu saya hanya diam saja ketika kawanan perampokitu menggasak dan menguras ludes barang-barang berharga di rumah sebelah.

21. Prolepsis/antisipasi adalah gaya bahasa berupa kalimat yang diawali dengan kata-kata yang sebenarnya baru ada setelah suatu peristiwa terjadi.

Contoh:

-Keluarga yang ditimpa kemalangan itu akhirnya tercerai berai dan tewas entah di mana jenazah tersapu gelombang Tsunami hanyut bersama rumah mereka.

-Pada tahun 571 Masehi di Mekah, lahirlah seorang Nabi Besar bernama Muhammad S.A.W.

22. Erotesis/pertanyaan retoris adalah gaya bahasa berupa pengajuan pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat di sana. Gaya bahasa ini acap digunakan oleh para orator.

Contoh:

Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi sangat mahal. Bisakah rakyat kecil menyekolahkan anaknya sampai ke sana? Siapa yang bisa berkuliah kalau bukan kaum berada?

23. Silepsis dan Zeugma adalah gaya bahasa berupa konstruksi rapatan yang diikuti dengan kata-kata yang tidak sejenis atau tidak relevan atau hanya tepat untuk salah satunya.

Contoh:

Saya menyukai musik dan ketulusan hati.

Bacalah buku yang bermutu dan nyanyian sentimental yang mengalun itu.

24. Koreksio/Epanotesis adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang terkesan meyakinkan, namun disadari mengandung kesalahan. Atas kesalahan itu lalu dilakukan pembetulan.

Contoh:

Sudah setengah abad kita merdeka, eh bukan, 60 tahun malah, nah selama itu, kemajuan apasajakah yang sudah kita capai?

Dalam dunia sastra, kita mengenal Pelopor Angkatan ’45 yaitu Rendra, ah bukan, bukan Rendra, yang benar adalah Chairil Anwar.

25. Hiperbola adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang sengaja dibesar-besarkan dan dibuat berlebihan.

Contoh:

-Saya ucapkan beribu-rbu terima kasih atas perkenan Bapak dan Ibu menghadiri undangan panitia.

- Bertemu kamu sayang, wahai sahabatku yang elok dan indah, syahdu, hati berbunga-bunga sejuta rasanya terbang melayang di angkasa bahagia.

26. Paradoks adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang mengandung kontras/pertentangan, namun ternyata mengandung kebenaran.

Contoh:

-Betapa banyak orang yang dalam kesendiriannya merasa kesepian di kota sehiruk-pikuk Jakarta.

-Sebagai dosen, terus terang, saya juga banyak belajar dari mahasiswa-mahasiswi saya.

27. Oksimoran adalah gaya bahasa semacam paradoks yang lebih singkat dan padat, mengandung kata-kata yang berlawanan arti alam frase yang sama.

Contoh:

-Sang pemberang sangat khusuk menyembah Dewa Kemarahan

-Dia milyander miskin karena sangat pelitnya

-Penyair Emha pernah dijuluki Kyai Mbeling.

28. Persamaan/simile adalah bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding.

Contoh:

-Nyalakanlah semangat bagai dian nan tak kunjung padam

-Bersabarlah seperti samudra yang mampu menampug keluh kesah segala muara.

29. Metafora adalah bahasa kiasan sejenis perbandingan namun todak menggunakan kata pembanding. Di sini perbandingan dilakukan secara langsung tanpa kata sejenis bagaikan, ibarat, laksana, dan semacamnya.

Contoh:

Kesabaran adalah bumi

Kesadaran adalah matahari

Keberanian menjelma kata-kata

Dan perjuangan adalah pelaksana kata-kata(sebuah bait dalam puisi Rendra)

30. Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan, merupakan metafora yang dikembangkan.

Contoh:

Sanjak “Menuju Ke Laut” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Biasanya bersifat simbolis

31. Parabel (Parabola) adalah gaya bahasa berupa cerita-cerita fiktif dengan tokoh manusia dengan tema moral yang kental.

Contoh:

Hikayat Kalilah dan Daminah

32. Fabel adalah metafora berbentuk cerita dengan tokoh-tokoh binatang yang esensinya menggambarkan perilaku dan karakter manusia.

Contoh:

Dongeng Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau dan lain-lain.

33. Personifikasi/Penginsanan adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh manusia.

Contoh:

Angin bercakap-cakap sama daun-daun, bunga-bunga, kabut dan titik embun.

-Indonesia menangis, duka nestapa Aceh memeluk erat sanubari bangsaku.

34. Alusio adalah gaya bahasa yang menampilkan adanya persamaan dari sesuatu yang dilukiskan yang sebagai referen sudah dikenal pembaca.

Contoh:

Bandung dikenal sebagai Paris Jawa.

Bung Karno – Bung Karno kecil menunjukkan kebolehannya dalam lomba pidato membawakan fragmen “Di Bawah bendera Revolusi”.

35. Eponim adalah gaya bahasa berupa penyebutan nama-nama tertentu untuk menyatakan suatu sifat atau keberadaan.

Contoh:

-Perkenalkan, inilah Zidanenya kesebelasan kita.

\Silakan Aa Gym Ketua Rois kita menyampaikan kultum!

36. Epitet adalah gaya bahasa berupa frasa reskriptif untuk menggantikan nama seseorang, binatang, atau suatu benda.

Contoh:

Raja siang bertahta di angkasa raya (=Matahari)

Sang raja sehari mendapatkan ucapan selamat dari segenap rekan kerjanya. (=pengantin)

-Penyair si Burung Merak masih kreatif tampil membaca puisi-puisinya pada usia menjelang 70 tahun. (=Rendra)

- Di kta ukir pembuatan mebel menjadi home industri penduduk kota itu. (=Jepara)

37. Sinekdoke adalah bahasa kiasan dengan cara menyebutkan sesuatu bisa sebagian untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto), bisa pula sebaliknya keseluruhan digunakan untuk menyebut yang sebagian (totum pro parte)

Contoh totum pro parte:

Dalam copa Amerika 2004, Brazil mengalahkan Argentina.

Karya-karya menjadi cindera mata bagi dunia

Contoh pars pro toto:

Korban gelombang Tsunami 26 Desember 2004 mencapai 100 jiwa lebih.

Dalam Idul Adha tahun ini, Masjid Al-Amin berkurban 6 ekor sapi 10 ekor kambing.

38. Metonemia adalah bahasa kiasan dalam bentuk penggantian nama atas sesuatu.

Contoh:

Kita harus bersyukur tinggal di negeri Zamrud Khatulistiwa yang elok permai ini

Panda banyak terdapat di negeri Tirai Bambu.

39. Antonomasia adalah gaya bahasa berupa penyebutangelar resmi dan semacamnyauntuk menggantikan nama diri.

Contoh:

Megawati Soekarno Putrid an Meutia Hatta adalah puteri-puteri Sang Proklamator yang aktif di budang pemerintahan.

Dalam penciptaan lagu dan pentas-pentasnya, Raja Dangdut tidak pernah lupa menyisipkan pesan dakwah

40. Hipalase adalah gaya bahasa yang mengandung pemakaian karta yang menerangkan kata yang bukan sebaharsnya.

Contoh:

Di hari yang berbahagia ini jangan lupamensyukuri segenap nikmat karuna Allah.

Sudah lama mesjid Agung Baitur Rahman Banda Aceh menungu-nunggu untaian dzikir dari K.H. Muhammad Arifin Ilham.

41. Ironi/sindiran adalah gaya bahasa berupa penyampaian kata-kata denga berbeda dengan maksud dengan sesungguhnya, tapi pembaca/pendengar, di harapkan memahami maksud penyampaian itu.

contoh:

Kuakui, kutu buku yang satu ini memang berpengetahuan luas sekali.

42. Sinisme hakikatnya sama dengan ironi namun biasanya lebih keras.

Contoh:

Tanpa belajar pun, kalau anak jenius seperti kamu tentu bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan hasil memuaskan.

43. Sarkasme merupakan gaya bahasa berupa pengucapan-pengucapan yang kasar, caci maki sebagai ekspresi, amarah yang membuat yang terkena sakit hati.

Contoh:

Dasar otaku dang! Mana mungkinbisa kau kerjakan soal itu!

44. Satire adalah gaya bahasa sejenis ironi yang mengandung kritik atas kelemahan manusia agar terjadi kebaikan . tidak jarang satire muncul dalam bentuk puisi yang mengandung kegetiran tapi ada kesadaran untuk berbenah diri.

Contoh:

Aku lalai di pagi hari

Beta lengah di masa muda

Kini hidup meracun hati

Miskin ilmu miskin harta

(Bait II puisi “Menyesal” karya M. Ali Hasymi)

45. inuedo adalah gaya bahasa berupa sindiran dengan cara mengecilkan kenyataan yang sesungguhnya, mengandung kritik tidak langsung.

Contoh:

Hanya dengan sedikit melakuan KKN, banyak pejabat menjadi milyander.

Mobil yang dikemudikannya masuk jurang karena sebelum berangkat sopir itu menegak segelas miras sampai sedikit mabuk.

46. Antifrasis adalah gaya bahasa sejenis iron dengan menggunakan kata yang maknanya berlawanan dengan realita yang ada.

Contoh:

Dia dikenal jenius dikelas ini (padahal bodoh)

Alangkah abar dan penyayangnya majikan itu terhadap pembantu-pembantunya yang selalu berganti-ganti karena tidak tahan. (pemarah dan pelit)

47. Paronomasia adalah gaya bahasa dengan menggunakan permainan kata-kata yang artinya sangat berlainan.

Contoh:

Ada gempa dahsyat, suasana genting. Genting-genting rumah pun berjatuhan pecah berderai.

Anggota dewan yang pulang balik studi banding ke luar negeri itu kini kaya mendadak. Kaya keralah mereka!

Paragraf Argumentasi, Deduktif, dan Induktif

Menulis paragraf argumentasi, deduktif dan induktif

Paragraf argumentasi menitikberatkan pada penyampaian opini dilandasi alasan-alasan  rasional yang sangat meyakinkan sehingga pembaca paragraf itu merasakan hal yang masuk akal. Atas satu fenomenal bisa muncul lebih dari suatu opini dan keduanya atau ketiganya bisa diterima akal sehat karena didukung argumentasi yang meyakinkan.

Paragraf argumentasi ditulis dengan menggunakan penalaran induktif atau deduktif. Dalam paragraf induktif, penulis memulainya dari uraian yang mengerucut ke kalaimat inti/kesimpulan. Paragraf deduktif sebaliknya. Paragraf ini dimulai dari kristal pembicaraan, pernyataan inti berupa kalimat terletak pada posisi awal dalam paragraf. Kalimat-kalimat selanjutnya merupakan uraian ide pokok yang sifatnya menerangjelaskan.

Sebuah karangan yang berbentuk paragraf yang terdiri dari kalimat-kalimat utama dan kalimat-kalimta penjelas/pendukung bisa diawali dengan penulisan kerangka paragraf. Kerangka karangan/paragraf ditulis dengan menggunakan kata-kata kunci, frase atau kalimat singkat padat, yang nantinya diuraikan menjadi kalimat-kalimat paragraf. Dalam kerangka paragraf sudah terbayang bentuk penalaran paragrafnya, induktif atau deduktif, karena memang sudah disusun urutannya untuk menjadi paragraf indutif atau deduktif. Letak kalimat utamanya sudah jelas terbaca dalam kerangka paragraf yang ditulis.

NASIBMU BAHASAKU…

Tulisan ini hanya sebagian dari rasa lucuku pada bahasa yang telah mempersatukan bangsa ini. Bukan karena tidak bangga, atau pula merasa bosan untuk menggunakan bahasa tercinta ini. Namun, semata-mata rasa lucu itu muncul serta-merta ketika saya membaca kata demi kata yang tertulis pada lembar jawaban siswa-siswa saya.

Entah karena terburu waktu atau mungkin efisiensi tinta pulpen yang mereka pakai, karena hampir semua kompak menulis kata “Yang” dengan “yg”, atau kata “Dengan” disingkat saja “dg”, bahkan parah lagi “Karena” menjadi “krn” atau pula “Sudah” berubah menjadi “sdh”. Duh,…batin tertawa namun campur ngilu, lucu tapi bingung maksud jawabannya apa karena jadinya multi-persepsi.

Jika sudah demikian siapa yang patut disalahkan? ah, itu mah tanggung jawab guru bahasa-nya donk!, ada yang berkata seperti itu. Padahal, saya kira ini merupakan tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia, yang tentu saja harus merasa memiliki bahasa kebanggaan kita ini. Apa terus guru matematika tak peduli dengan anak yang kebelinger menggunakan kata-kata (tepatnya huruf-huruf) konyol seperti itu pada lembar jawaban ulangannya, ataupula apakah seorang guru IPA tak merasa bingung untuk menterjemahkan jawaban anak yang menggunakan bahasa tingkat tinggi?, tak perlu dijawab, tapi harus dipikirkan.

Lalu kenapa anak-anak sekarang lebih suka menyingkat kata-kata? seperti biasanya, semua karena kebiasaan. Bukankah bahasa seperti itu muncul setelah merebaknya SMS, Facebook, IRC, IM, dan sebangsanya? Tapi, apakah faktor kebiasaan harus terus mendarah daging?.

Jika hal di atas tetap dibiarkan, bukan tidak mungkin akan merusak tatanan bahasa kita. Degradasi bahasa (meminjam istilah degradasi moral) akan menjadikan bahasa ini mati di negerinya sendiri. Kita malu dengan orang australia yang dengan gigihnya mempelajari bahasa indonesia, kita tentunya harus miris bahasa indonesia justru pasih didendangkan oleh orang belanda. Kiranya cukup bila bahasa indonesia yang baik hanya ditulis oleh para penerbit buku. Sudah saatnya mengembalikan atau mungkin mengenalkan kembali BAHASA INDONESIA pada anak-anak kita, agar bahasa ini tetap menjadi bahasa yang menjadi kebanggaan kita bersama.

TATA BAHASA: PENGGUNAAN TANDA BACA

Penggunaan tanda baca pada tulisan sepertinya hal yang sepele. Namun, sebenarnya penggunaan tanda baca yang kurang tepat akan menyebabkan suatu tulisan mengalami distorsi dalam makna. Singkatnya penggunaan tanda baca yang baik dan benar merupakan hal yang mutlak. Berikut ini adalah pedoman  penggunaan tanda baca sesuai  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan edisi kedua berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.

Pemakaian Tanda Baca

A. Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:

  • Ayahku tinggal di Solo.
  • Biarlah mereka duduk di sana.
  • Dia menanyakan siapa yang akan datang.
  • Hari ini tanggal 6 April 1973.
  • Marilah kita mengheningkan cipta.
  • Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.
2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Baca lebih lanjut
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.