Analisis Sastra: Struktur Fisik Puisi Indonesia Periode 70 hingga 80-an


Dibandingkan dengan puisi-puisi Periode ’66 dan sebelumnya, puisi-puisi Indonesia dekade 70 hingga 80-an ini memiliki struktur lahir yang sangat beraneka ragam. Di samping bentuk-bentuk yang masih punya keterikatan kuat dengan konvensi penulisan puisi yang telah ada, di sini kita jumpai juga bentuk-bentuk yang lain, yang setengah konvensional dan inkonvensional. Segala bentuk tipografis dan pencapaian wawasan estetik baru dicobaterapkan di sini. Pada periode ini, unsur-unsur seni rupa ikut mewarnai bentuk-bentuk sanjak yang ada yang sebetulnya telah dirintis oleh para penyair dekade 70-an, mengisyaratkan kepada kita bahwa kekuatan struktur puisi mutakhir tidak semata-mata pada kata.

Perbandingan antara bentuk-bentuk puisi yang konvensional dengan yang di luar konvensi boleh dikatakan imbang. Kecenderungan berbeda dengan yang konvensional memang ada. Penciptaan karya sastra bukanlah semata persoalan bentuk tata wajah. Itu tidak lagi mengacu pada konvensi penulisan yang ada, tetapi lebih merupakan perjuangan sang penyair mengedepankan nilai-nilai estetik baru. Oleh karena itu, struktur lahir yang konvensional masih tetap digunakan oleh para penyair periode ini ketika mereka berkarya.

Secara global, kita bisa membagi struktur lahir puisi Indonesia dekade 70 hingga 80-an atas tiga jenis, yakni puisi berstruktur fisik konvensional, puisi berstruktur lahir semikonvensional, puisi berstruktur lahir inkonvensional. Masing-masing bisa dirinci sebenarnya. Akan tetapi, mengingat keterbatasan segalanya, rincian itu terutama lebih difokuskan pada jenis yang ketiga.

Demikianlah, maka secara agak lengkap, struktur lahir puisi Indonesia mutakhir, bisa kita urai sebagai demikian.

PuisiKonvensional

Puisi yang menggunakan struktur lahir demikian, memiliki berpuluh baris yang dibagi dalam beberapa bait. Larik-larik dalam bait itu ditulis selalu dari tepi, terdiri atas beberapa kata yang ditata secara harmonis. Dalam pembarisan dan pembaitan itu selalu kita temukan keserasian, persamaan bunyi yang menciptakan kemerduan dan persajakan. Pendiksian yang dilakukan penyair cenderung mengacu pada makna konvensional.

Contoh puisi jenis ini bisa kita baca antara lain pada buku kumpulan puisi Tanda karya Heru Emka, Catatan Suasana oleh Slamet Sukirnanto, Bulan Tertusuk Lalang oleh D. Zawawi Imron, Para Penziarah oleh Soni Farid Maulana, serta sanjak-sanjak lepas karya Nirwan Dewanto, Dorothea Rosa Herliani, Acep Zamzam Noor, Leon Agusta (Burung, Bisikan di Pengasingan, Kita Muliakan Para Fakir, Ulang Tahun, Nyanyian Buat Salju) dan lain-lain.

Semi Konvensional

Di sini juga kita jumpai adanya judul, persanjakan, pembarisan, pembaitan. Akan tetapi, penataan baris-barisnya tidak selalu dimulai dari tepi. Baris-baris tertentu ditulis lebih ke kanan, kata-kata yang seharusnya berderet dalam satu baris dibuat beberapa baris, tetapi dengan jalan disusun vertikal ke kanan. Kadang-kadang satu baris hanya diisi dengan satu kata, yang mengingatkan kita pada 1943 karya Chairil. Terkadang ada perhentian di tengah baris, lalu kata berikutnya dimulai dengan huruf kapital, membentuk frasa dengan baris berikutnya tanpa menghabiskan baris itu, yang mengasosiasikan kita pada Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil.

Kadang-kadang semua kata di dalam sanjak itu ditulis dengan huruf kecil dan seluruhnya hanya dituang dalam satu bait. Pada prinsipnya, struktur sanjak jenis ini dalam banyak hal masih konvensional, tetapi dalam hal-hal tertentu sudah meninggalkan konvensi. Contohnya bisa kita baca pada Cita-cita Simbok bagi Indonesia oleh Nurdien Haka, Wajah Kita oleh Hamid Jabbar, sanjak-sanjak Abrar Yusra, H.S. Justatap, Anis Saleh Baashin, Hamdy Salad, Linus Suryadi, Emha Ainun Najib, dan lain-lain.

Puisi yang Prosais dan seperti Paragraf

Puisi jenis ini tidak dibuat atas larik-larik yang membentuk bait, tetapi atas kalimat-kalimat yang membentuk paragraf. Hanya, dibandingkan dengan kalimat-kalimat prosa, ia jauh lebih padat dan lebih puitis,  serta makna yang ditampilkan kebanyakan simbolik. Contoh konkretnya bisa kita jumpai dalam buku: Perahu Kertas karya Sapardi Joko Damono, sanjak-sanjak Afrizal Malna berjudul Asia, Dunia yang Bercintaan, Alang-alang di Pinggir Jalan, Hujan Pagi Hari, dan sebagainya.

Puisi Simetris

Pembarisan sanjak yang dimaksud tidak dimulai dari tepi yang sama, tetapi dari bagian yang berbeda pada tiap barisnya, tergantung pada panjang pendeknya baris itu. Setiap baris dibuat berada di tengah, sehingga kalau baris-baris itu kita bagi secara vertikal, akan kita temukan kenyataan bahwa bagian sebelah kiri sama dengan bagian sebelah kanan. Contoh: kumpulan puisi 99 untuk Tuhanku karya Emha Ainun Najib, karya-karya Ibrahim Sattah berjudul Jejak, Sembilu, Wa Wa, Kau, Hai Ti, Sebab, Sansauna, Kaki, Perahu, dan lain-lain.

Kata yang Membentuk Lukisan

Lukisan tertentu tersebut lukisan apa, itulah yang perlu kita tafsirkan. Dari sana, kita lalu berusaha menafsirkan maknanya. Ada yang berbentuk tanda tanya, lingkaran, piramid, pohon terang, jalan zigzag, pohon beringin, bunga, dan seterusnya. Kadang-kadang ia begitu konkret sehingga dinamakan puisi konkret. Ia pun sebenarnya tidak salah jika disebut sebagai lukisan. Contoh: Viva Pancasila oleh Jeihan Suksmantoro, Keluarga Hadiah Puisi DKJ tahun 76 – 77 oleh Ikranegara, Tragedi Winka dan Sihka,  Q oleh Sutarji C.B.

Judul Puisi Sangat Panjang

Padahal puisi yang dijudulinya termasuk pendek.  Adakesan, ini tidak imbang, tetapi persoalannya bukanlah masalah imbang dan tidak imbang. Di sini pun sebenarnya kita bisa menemukan citraan-citraan baru. Contoh: sanjak-sanjak Adri Darmaji Woko berjudul Cerita tentang Bapak Tua yang Meninggal Dunia di Pagi Tadi Disampaikan oleh Seorang Teman yang Katanya Mau Jadi Penyair; Uah, Uah, Seekor Angsa Berenang dalam Kolam, Sunyi Telah Menaboki Batok Kepalanya, Makanya Angsa itu Perlu Mencelupkan Kepalanya ke dalam Air; Aku Mendengar Suara Sisir Dimainkan Pelan-pelan, Justru di Saat itu Aku Percaya dengan Pasti Engkau Sedang Tidur, dan lain-lain, juga karya-karya Hendrawan Nadesul Akan Jadi Bagaimana Nasib Anak-anakku Kalau Nanti Juga Hanya Ada Semangkok Bubur Jagung untuknya, seperti Pagi ini Aku Tengah Mengunyahnya” dan Seperti Kulihat Boneka Kakakku Dahulu Ketika Seseorang Ramah di Hadapanku .

Puisi dengan Bahasa Multilingual

Secara resmi, puisi-puisi disebut puisi Indonesia, namun ternyata kosakata yang digunakan terdiri atas berbagai bahasa. Contoh: karya-karya Darmanto Jatman berjudul Main Cinta Model Kwang Wung, Marto Klungsu dari Leiden, Anak, Ki Blakasuta Bla Bla.

Puisi dengan Kata Main-main

Disini penyair menggunakan kata secara seenaknya, spontan, sehingga yang muncul adalah kata-kata yang terasa binal, kotor, lucu atau aneh. Penyair yang menulis sanjak-sanjak demikian tidak mengakui adanya moral kata. Contoh: Biarin karya Yudhistira Ardi Noegraha, Pot, Sang Hai karya Sutarji C.B., bagian tertentu dari Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi A.G., kumpulan puisi Sumpah WTS, dan Catatan Harian Sang Koruptor karya F. Rahardi.

Puisi Berbentuk Bujur Sangkar dan Segi Delapan

Beberapa sanjak karya Afrizal Malna dan Sutarji C.B. mengacu pada bentuk ini.Juga sanjak-sanjak Dasri Al Mubarri dan Ibrahim Sattah.

Puisi Pendek Seperti Haiku

Puisi yang sangat hemat dalam penggunaan kata disebut Haiku. Contohnya: Harapan dan Pertemuan karyaLeonAgusta, beberapa nomor karya Yudhistira,HendrawanNadesul,JawahirMuhammad. .

Puisi dengan Pemenggalan Suku Kata

Kata-kata dipenggal atau suku katanya secara sengaja, sedangkan penggalan lanjutan diletakkan pada baris berikutnya.

Puisi dengan Penyebaran Kata Secara Bebas

Kata-kata seolah ditabur secara bebas, tanpa judul, tanpa pembarisan dan pembaitan. Sutarji C.B. pernah menulis puisi yang demikian.

Puisi dengan Kata-kata Purba

Menggunakan kata-kata yang mengesankan kepurbaan dan tidak ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia. Dalam bahasa non Indonesiapun, belum tentu ada juga. Sangat mungkin, kata atau morfem-morfem tersebut adalah ciptaan sang penyair sendiri, yang maknanya, seharusnyalah diketahui secara pasti oleh penyair bersangkutan. Contoh: puisi karya Sides Sudarto Ds. berjudul Puisi Zaman Bahari Girisa serta Amuk karya Sutarji khusus yang termuat pada hal. 68 buku O Amuk Kapak.

Puisi Berbentuk Mantra

Puisi mantra mengandunggayadan jiwa kemantraan yang kelewat kental. Sebagian besar puisi karya Sutarji dan sebagian besar puisi karyaIbrahimSattahbisa dimasukkan ke dalam jenis puisi ini.

Puisi dengan Simbolisme Personal

Menggunakan simbolisme yang kelewat personal artinya pilihan kata-katanya sangat dipengaruhi oleh persepsi dan imajinasi pribadi, sehingga bagi orang lain, kata-kata itu sulit ditafsirkan maknanya. Contoh: sanjak-sanjak Afrizal Malna dalam buku Abad yang Berlari, Kalung dari  Teman, puisi-puisi lepas karya D. Zawawi Imron, Leon Agusta, Kriapur,  Dorothea Rosa Herliany, Ajamuddin Tifani, Ahmad Nurullah, Mathori A. Elwa, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana.

Puisi Berbentuk Balada

Balada atau sanjak biasa yang bergaya balada banyak ditulis karena ada cerita, penokohan, setting, dan plottingnya. Ini sekaligus membuktikan bahwa dalam sastra Indonesia, penyair balada tidaklah hanya Rendra, Mansur Samin, Ayip Rosidi. Ikranegara menulis puisi sepanjang 45 halaman berjudul Kasidah Adam Khalifah, Linus Suryadi menulis Pengakuan Pariyem lebih 200 halaman. Contoh lain: Lelaki yang Sangsai karya Syafrial Arifin, Ken Arok oleh Andrik Purwasita, Lautan Jilbab karya Emha Ainun Najib yang divisualisasikan itu (digubah menjadi karya teater).

Adanya struktur fisik yang bermacam-macam itu, pada gilirannya akan membuat pembaca tidak merasa jenuh. Kita merasa disuguhi sesuatu yang segar, menarik, kreatif. Dengan tipografi, pilihan idiom dan aspek bunyi yang kaya itu, maka suasana, makna, wawasan estetik, dan interpretasi yang diketengahkan lebih luas pula.

Bibliografi:

Yant Mujiyantono. 2006. Ikhtisar Sejarah Sastra

About these ads

5 responses to this post.

  1. Posted by sakrilegi on 9 Desember 2011 at 23:46

    blognya informatif sekali…
    pengen dong mbak bahas tentang gaya bahasa alias majas..
    terutama metafora… saya sedang nulis kayak gitu.. makasih
    salam kenal dan intens

    Balas

    • salam kenal juga. terima kasih atas kunjungannya. iya mudah-mudahan bisa intens lagi menulis, maklum ibu rumah tangga harus bagi waktu dg anak dan suami ;)

      Balas

  2. Posted by putra on 1 Februari 2012 at 10:20

    i like it

    Balas

  3. Posted by meka on 29 Juli 2012 at 10:27

    boleh dong mba sharing mengenai gaya bahasa dan makna dalam puisi, soalnya saya sedang mengkaji itu.
    terima kasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: