Archive for Februari 4th, 2010

SASTRA: SASTRAWAN ANGKATAN 66

PARA PENGARANG DAN PENYAIR ANGKATAN ’66 :

Taufiq Ismail, dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1937, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan UI, redaktur senior Horison. Penerima Anugerah Seni dari pemerintah RI tahun 1970 dan Sastra ASEAN tahun 1994 ini telah berjasa besar dalam memasyarakatkan, mengembangkan dan memajukan sastra Indonesia bersama tokoh-tokoh lain seperti Sutarji Calzoum Bachri, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Abdul Hamid Jabbar (almarhum) melalui program SBSB (Sastrawan Buicara Siswa Bertanya) di sekolah-sekolah (SMA/MAN/SMK) di seluruh Indonesia tahun 2000 – 2004. Karena jasa-jasanya dan prestasinya, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memberinya gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang sastra.

Penyair ini terkenal dengan kumpulan sanjak Tirani dan Benteng, tertbit tahun 1966. Sanjak berjudul Seorang Tukang Rambutan dan Istrinya, Karangan Bunga, Sebuah Jaket Berlumur Darah, Kami adalah Pemilik Sah Republik Ini, Yang Kami Minta Hanyalah…bisa dijumpai dalam buku-buku tersebut. Kumpulan sanjaknya yang lain, Sajak Ladang Jagung (1973) terbit setelah ia pulang dari Amerika. Dalam buku tersebut, kita bisa membaca Kembalikan Indonesia Padaku, Beri Daku Sumba, Bagaimana Kalau ….. Sejak puluhan tahun yang lalu (1974) Taufiq bekerja sama dengan Bimbo Group dalam penulisan lirik lagu. Kita bisa dengar nikmati lagu dan lirik Aisyah Adinda Kita, Sajadah Panjang, Balada Nabi-nabi, Bermata tapi Tak Melihat, Ibunda Swarga Kita, dan lain-lain dari dirinya. Taufiq Ismail juga menulis Sajak-sajak Si Toni, Balai-balai, Membaca Tanda-tanda, Abad ke-15 Hijriah, Rasa Santun yang Tidur, Puisi-puisi Langit.

Pada awal tahun 1994 diluncurkan buku antologi puisi berjudul Tirani dan Benteng cetak ulang dua kumpulan puisinya yang terkenal itu. Buku tersebut diberi pengantar oleh sang penyair secara cukup panjang dan mendalam. Di antara kata pengantar dan dua kumpulan sanjak tersebut disertakan pula dalam buku ini Sajak-sajak Menjelang Tirani dan Benteng. Pada tahun-tahun seputar Reformasi ditulisnya puisi berjudul Takut 98 dan antologi puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia (MAJOI) terbit tahun 1998. Bersama DS Mulyanto, rekan sastrawan Angkatan ’66, Taufiq Ismail mengeditori buku tebal berjudul Prahara Budaya (antologi esai, 1995), bersama LK Ara dan Hasyim Ks menyusun buku tebal juga berjudul Seulaweh Antologi Sastra Aceh (1995).

Bur Rasuanto, dilahirkan di Palembang, 6 April 1937, adalah pengarang, penyair, wartawan. Ia menulis kumpulan cerpen Bumi yang Berpeluh (1963) dan Mereka Akan Bangkit (1963). Bur Rasuanto juga menulis roman Sang Ayah (1969);  Manusia Tanah Air (1969) dan novel Tuyet (1978).

Goenawan Mohamad, dilahirkan di Batang, 29 Juni 1941. Penyair, esais, wartawan, yang sampai sekarang menjadi pimpinan umum majalah Tempo  ini termasuk penanda tangan Manifes Kebudayaan. GM adalah juga penerima Anugerah Seni pemerintah RI, penerima Hadiah A. Teeuw tahun 1992 dan Hadiah Sastra ASEAN tahun 1981.Di samping prestasi-prestasi di atas, GM pernah menjadi wartawan Harian KAMMI, anggota DKJ, pimred Express, pimred majalah Zaman, redaktur Horison, anggota Badan Sensor Film.

Ia menulis kumpulan sanjak Interlude, Parikesit (1971);kumpulan esai Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malinkundang (1972); Catatan Pinggir I (1982), Catatan Pinggir 2 (1989), Catatan Pinggir 3  yang dihimpun dari majalah Tempo. Karyanya yang lain: Asmaradahana (kumpulan puisi, 1992); Seks, Sastra, Kita (kumpulan esai); Revolusi Belum Selesai” (kumpulan esai); Misalkan Kita di Serayewo (antologi puisi, 1998).

Subagio Sastrawardoyo, dilahirkan di Madiun, 1 Febuari 1924, meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995. Penyair, pengarang, esais ini, pernah menjadi redaktur Balai Pustaka, dosen bahasa Indonesia di Adelaide, dosen FS UGM, SESKOAD Bandung, Universitas Flinders, Australia Selatan. I menulis kumpulan sanjak Simphoni (1957); Daerah Perbatasan, Kroncong Motenggo (1975). Kumpulan esainya berjudul Bakat Alam dan Intelektualisme (1972); ManusiaTerasing di Balik Simbolisme Sitor, Sosok Pribadi dalam Sajak (1980); antologi puisi Hari dan Hara; kumcerpen Kejantanan di Sumbing (1965). Cerpennya Kejantanan di Sumbing dan puisinya Dan Kematian Makin Akrab meraih penghargaan majalah Kisah dan Horison.

Sapardi Joko Damono, dilahirkan di Solo, 20 maret 1940, adalah penyair, esais, dosen dan Guru Besar FSUI. Ia menulis Duka-Mu Abadi (1969); Akwarium (1974); Mata Pisau (1974); Perahu Kertas (1983); Suddenly the Night (1988);Hujan Bulan Ini (1994). Semuanya kumpulan puisi. Ia juga penerjemah yang mengalihbahasakan The Old Man and The Sea nya Ernest Hermingway menjadi Lelaki Tua dan Laut (1973). Karya terjemahannya yang lain Lirik Persi Klasik (1977); Puisi Klasik Cina (1976);  Puisi Brazilia Modern. Kumpulan esainya Novel Indonesia Sebelum Perang (1979); Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978); Kesusastraan Indonesia Modern, Beberapa Catatan (1983); Sihir Rendra: Permainan Makna (1999); Politik Iodeologi dan sastra Hibrida (1999). Merefleksikan saat-saat Reformasi yang diterpa kerusuhan, penjarahan dan pembakaran gedung-gedung dan supermarket, sampai ada ratusan jiwa yang tewas terpanggang, Sapardi mengabadikan tragedi tersebut lewat antologi puisi Ayat-ayat Api (2000).

Titie Said Sadikun, dilahirkan di Bojonegoro, 11 Juli 1935. Pengarang dan  wartawati yang pernah menjadi redaktur majalah Wanita, Hidup, Kartini, Famili ini menulis kumpulan cerpen Perjuangan dan Hati Perempuan (1962), novel Jangan Ambil Nyawaku (1977), Lembah Duka, Fatimah yang difilmkan menjadi Budak Nafsu, Reinkarnasi, Langit Hitam di Atas Ambarawa.

Arifin C. Noer, dilahirkan di Cirebon 10 Maret         1941, meninggal di Jakarta 28 Mei 1995. Penyair yang juga  dramawan dan sutradara film ini menulis sanjak Dalam Langgar, Dalam Langgar Purwadinatan, naskah drama Telah Datang Ia, Telah Pergi Ia , Matahari di Sebuah Jalan Kecil , Monolog Prita Istri Kita dan Kasir Kita (1972, Tengul (1973), Kapai-kapai (1970), Mega-mega (1966), Umang-umang (1976), Sumur Tanpa Dasar (1975), Orkes Madun, Aa Ii Uu, Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi, Ozon. Karya-karyanya yang lain: Nurul Aini (1963); Siti Aisah (1964); Puisi-puisi yang Kehilangan Puisi-puisi (1967); Selamat pagi, Jajang (1979); Nyanyian Sepi (1995); drama Lampu Neon (1963); Sepasang Pengantin (1968); Sandek,Pemuda Pekerja (1979)

Selain penyair dan dramawan yang memimpin Teater Kecil, Arifin C. Noer juga penulis skenario dan sutradara film yang andal. Karya skenarionya antara lain: G 30 S/PKI; Serangan Fajar; Taksi; Taksi Juga; Bibir Mer.

Film-film yang disutradarinya: Pemberang (1972); Rio Anakku (1973); Melawan badai (1974); Petualang-petualang (1978); Suci Sang Primadona (1978); Harmonikaku (1979). Pada tahun 1972 Arifin menerima Hadiah Seni dari Pemerintah RI dan pada tahun 1990 menerima Hadiah Sastra ASEAN.

Hartoyo Andangjaya, dilahirkan di Solo 4 Juli 1930, meninggal di kota ini juga pada 30 Agustus 1990. Penyair yang pernah menjadi guru SMP dan SMA di Solo dan Sumatra Barat ini menulis sanjak-sanjak terkenal berjudul Perempuan-perempuan Perkasa, Rakyat, juga Sebuah Lok Hitam, Buat Saudara Kandung. Sanjak-sanjak tersebut bisa dijumpai dalam bukunya Buku Puisi (1973). Musyawarah Burung (1983) adalah karya terjemahan liris prosaya tokoh sufi Fariduddin Attar. Seratusan puisi karya penyair sufi terbesar sepanjang sejarah, Maulana Jalaluddin Rumi, diambil dari Diwan Syamsi Tabriz, diterjemahkan dan dihimpunnya di bawah judul buku Kasidah Cinta.

Hartoyo juga menulis antologi puisi Simponi Puisi (bersama DS Mulyanto, 1954), Manifestasi (bersama Goenawan Mohamad dan Taufiq Ismail, 1963), kumpulan syair Dari Sunyi ke Bunyi (1991).Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (Tagore, 1976), Kubur Terhormat bagi Pelaut (antologi puisi J. Slauerhoff, 1977), Rahasia hati (novel Natsume Suseki,1978); Puisi Arab Modern (1984).Hartoyo Andangjaya termasuk penanda tangan Manifes Kebudayaan.

Slamet Sukirnanto, dilahirkan di Solo 3 Maret 1941. Penyair ini menulis buku kumpulan puisi Kidung Putih(1967); Gema Otak Terbanting; Jaket Kuning (1967), Bunga Batu (1979), Catatan Suasana (1982), Luka Bunga (1991). Bersama A. Hamid Jabbar, Slamet mengeditori buku Parade Puisi Indonesia (1993). Dalam buku itu, termuat sanjak-sanjaknya: Rumah, Rumah Anak-anak Jalanan, Kayuh Tasbihku, Gergaji, Aku Tak Mau; Bersama Sutarji Calzoum Bachri dan Taufiq Ismail, Slamet menjadi editor buku Mimbar Penyair Abad 21.

Mohammad Diponegoro, dilahirkan di Yogya 28 Juni 1928, meninggal di kota yang sama 9 Mei 1982. Pengarang, dramawan, pendiri Teater Muslim, penyiar radio Australia ini menulis cerpen Kisah Seorang Prajurit, roman Siklus, terjemahan puitis juz Amma Pekabaran/Kabar Wigati (1977), kumpulan esai ketika ia menjadi redaktur Suara Muhammadiyah berjudul Yuk, Nulis Cerpen, Yuk (1985). Mohammad Diponegoro juga menulis antologi puisi bersama penyair lain bertajuk Manifestasi (1963), drama Surat pada Gubernur, Iblis (1983), buku esai Percik-percik Pemikiran Iqbal (1984), antologi cerpen Odah dan Cerita Lainnya (1986).

Hariyadi Sulaiman Hartowardoyo, dilahirkan di Prambanan, 18 Maret 1930, meninggal di Jakarta, 9 April 1984, mengarang roman Orang Buangan (1971), dan Perjanjian dengan Maut (1975), kumpulan sanjak Luka Bayang (1964), menerjemahkan epos Mahabharata. Hariyadi juga menulis buku astrologi Teropong Cinta (1984)

Satyagraha Hurip, dilahirkan di Lamongan 7 April 1934, meninggal di Jakarta 14 Oktober 1998, mengarang cerpen Pada Titik Kulminasi, kumcerpen Tentang Delapan Orang, novel Sepasang Suami Istri (1964), Resi Bisma (1960), serta menyunting antologi esai Sejumlah Masalah Sastra (1982). Karya-karyanya yang lain: Burung Api (cerita anak-anak, 1970); Sarinah Kembang Cikembang (kumcerpen, 1993). Satyagraha adalah editor buku Cerita Pendek Indonesia I – IV (1979) dan penulis terjemahan Keperluan Hidup Manusia (novel Leo Tolstoy, 1963).

Cerpen-cerpennya dimuat di Kompas, Republik, Matra, antara lain: Surat Kepada Gubernur, Sang Pengarang. Ia juga menulis kumpulan cerpen Gedono-Gedini (1990) dan Sesudah Bersih Desa (1989).

Titis Basino PI, dilahirkan di Magelang 17 Januari 1939, menulis cerpen Rumah Dara, novel Pelabuhan Hati (1978); Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983); Bukan Rumahku (1983); Welas Asih Merengkuh Tajali (1997);  Menyucikan Perselingkuhan (1998), Dari Lembah ke Coolibah (1997); Tersenyum pun Tidak untukku Lagi (1998); Aku Supiyah Istri Hardian (1998); Bila Binatang Buas Pindah Habitat (1999); Mawar Hitam Milik Laras (2000); Hari yang Baik (2000). Pada tahun 1999 Titis menerima Hadiah Sastra Mastera.

Bambang Sularto, dilahirkan di Purworejo 11 September 1934, meninggal di Yogyakarta tahun 1992, terkenal dengan dramanya Domba-domba Revolusi (1962). Juga ditulisnya novel Tanpa Nama (1963); Enam Jam di Yogya,drama tak Terpatahkan (1967); buku Teknik Menulis Lakon (1971)

Jamil Suherman, dilahirkan di Surabaya 24 April 1924, meninggal di Bandung 39 November 1985,  mengarang roman Perjalanan ke Akhirat;  kumcerpen Ummi Kulsum(1963), kumpulan sanjak Nafiri (1983), novel Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984); Sarip Tambak Oso (1985) . Juga menulis drama yang sangat terkenal berjudul Mahkamah di Seberang Maut;

Umar Kayam, dilahirkan di Ngawi 30 Maret 1932, Guru Besar UGM  sang budayawan dan pameran Bung Karno yang menulis kumcerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972) dan Sri Sumarah dan Bawuk (1975).

Novelnya yang sangat terkenal berjudul Para Priyayi (1992) dan Jalan Menikung (2000). Karyanya yang lain berjudul Ke Solo ke Jati dan Bi Ijah, keduanya berbentuk cerpen, kumcerpen Parta Krama (1997), kumpulan esai Seni, Tradisi, Masyarakat  (1981); kumpulan kolom Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Bandha, Madhep Ngalor Madhep Ngidul. Pada tahun 1987 Umar Kayam memperoleh Hadiah Sastra ASEAN

Budiman S. Hartoyo, dilahirkan di Solo 5 Desember 1938 menulis antologi puisi Lima Belas Puisi (1972)  ; Sebelum Tidur (1977). Banyak menulis puisi-puisi religius, di antaranya puisi tentang pengalaman spiritualnya ketika ia beribadah haji ke Tanah Suci. Dalam bunga rampai Laut Biru Langit Biru susunan Ayip Rosidi bisa dibaca sanjak-sanjak sufistiknya antara lain: Jarak Itu pun Makin Menghampir, Bukalah Pintu Itu, Di depan-Mu Aku Sirna Mendebu.

Gerson Poyk, dilahirkan di Pulau Rote Timor 16 Juni 1931 mengarang novel Sang Guru (1971), kumcerpen Matias Anankari (1975), novelet Surat Cinta Rajagukguk, Cinta Pertama, Kecil Itu Indah Kecil Itu Cinta. Gerson juga menulis cerpen berjudul Bombai, Puting Beliung, Pak Begowan Filsuf Hati Nurani;.

Ramadhan K.H., dilahirkan di Bandung, 15 Maret 1927, meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 15 Maret 2006, adalah penyair, novelis, penerjemah. Sebentar berkuliah di ITB, pindah ke Akademi Dinas Luar Negeri, pernah bekerja di Sticusa Amsterdam, pernah menjadi redaktur majalah Kisah, Siasat, Budaya Jaya, anggota DKJ, direktur pelaksana DKJ., mengikuti Festival Penyair Internasional di Amsterdam tahun 1992, mewakili Indonesia dalam Kongres Penyair Sedunia dfi Taipeh tahun 1993, pernah bermukim di Falencia, Spanyol, Paris, Los Angeles, Jenewa, Bonn.

Ramadhan menulis kumpulan sanjak Priangan Si Jelita. Terkenal dengan romannya Royan Revolusi, novelnya Kemelut Hidup mengangkat tema sosial dengan mengetengahkan sebuah figur yang jujur, seperti Si Mamad nya Syuman Jaya. Novelnya yang lain berjudul Keluarga  Permana, dari perjalanan cinta Inggit Ganarsih dengan Bung Karno, ditulisnya roman biografi Kuantar Ke Gerbang. Karya-karya Frederico Garsia Lorca, sastrawan Spanyol, diterjemahkan menjadi Romansa Kaum Gitana.

Ramadhan menulis novel yang mengasosiasikan pembaca pada korupsi yang terjadi di Pertamina berjudul Ladang Perminus Bersama G. Dwipayana, Ramadhan menulis otobiografi Suharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindak Saya.

Muhammad Saribi Afn, dilahirkan di Klaten 15 Desember 1936,  penyair dengan kumpulan sanjaknya Gema Lembah Cahaya (1963). Karyanya yang lain, sebuah antologi bersama penyair-penyair Islam berjudul Manifestasi. Di Panji Masyarakat, ia menulis puisi panjang Yang Paling Manis ialah Kata. Dari mendengarkan kuliah subuh Buya HAMKA, lahirlah bukunya Hamka Berkisah tentang Nabi dan Rasul.

Mansur Samin, dilahirkan di Batangtoru Sumatra Utara 29 April 1930,  penyair, pengarang cerita kanak-kanak, wartawan, guru. Kumpulan sanjaknya Perlawanan (1966) dan Tanah Air (1969) merupakan sanjak-sanjak demonstrasi atau rekaman peristiwa kebangkitan Orde Baru, sebagaimana Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail dan Mereka Telah Bangkit karya Bur Rasuanto. Juga menulis antologi puisi Dendang Kabut Senja (1969), Sajak-sajak Putih (1996), drama Kebinasaan Negeri Senja (1968) Cerkan-cerkannya antara lain: Si Bawang, Telaga di Kaki Bukit, Gadis Sunyi, Empat Saudara, Berlomba dengan Senja.

Rahmat Joko Pradopo, dilahirkan di Klaten 3 November 1939,   penyair yang juga Guru Besar dari Fakultas Sastra UGM. Ditulisnya antologi puisi Matahari Pagi di Tanah Air (1967), Hutan Bunga (1990); Jendela Terbuka (1993). Sebagai ahli sastra, Rahmat menulis buku berjudul Pengkajian Puisi (1987); Bahasa Puisi Nyanyi Sunyi dan Deru Campur Debu (1982); Beberapa Teori Sastra, Metode Kreitik dan Penerapannya (1995). .

(dari IKHTISAR SEJARAH SASTRA INDONESIA penulis Yant Mujiyanto, dkk. diterbitkan oleh UNS Press)

SASTRAWAN-SASTRAWATI PERIODE KISAH (DEKADE 50-AN)

SASTRAWAN-SASTRAWATI GENERASI KISAH/DEKADE 50-AN

Di bawah ini dideretkan beberapa nama aktivis Generasi Kisah berikut karya mereka :

Ayip Rosidi, dilahirkan di Jatiwangi, Cirebon, 31 Januari 1938. Inilah sastrawan yang menjadi Profesor Tamu pada Osaka Gaidai Jepang, untuk mengajarkan Indonesiologi. Sejak usia 13 tahun sudah memimpin majalah sekolah, usia 16 tahun menerbitkan buku. Ia pernah menjadi redaktur majalah Suluh Pelajar, Prosa, Majalah Sunda, Budaya Jaya, Direktur Penerbit Cupumanik, Duta Rakyat. Juga pernah menjadi dosen luar biasa FS Unpad Bandung, Direktur Penerbit Pustaka Jaya, Ketua IKAPI, Ketua DKJ, peraih Hadiah Sastera Nasional BMKN.

Ditulisnya  kumpulan-kumpulan sanjak Pesta (1956, Cari Muatan (1959); Surat Cinta Enday Rasidin (1960); Jeram (1970); antologi cerpen dan novelet Tahun-tahun Kematian (1955);  Di Tengah Keluarga (1956); Sebuah Rumah buat Hari Tua (1957); Pertemuan Kembali , penceritaan kembali sastra daerah Purba Sari Ayu Wangi (1962) dan Lutung Kasarung (19058); Candra Kirana (1962); Rara Mendut (1961). Ia pun menulis Perjalanan Penganten (kisah, 1958)) serta Masyitoh (drama/novel, 1969).

Pada pasca-G 30 S/PKI Ayip Rosidi antara lain menulis: Ular dan Kabut (kumpulan puisi, 1973);  Sajak-sajak Anak Matahari (kumpulan puisi, 1979), Anak Tanah Air (roman, 1979). Pada sekitar awal dekaded 90-an Ayip Rosidi memelopori pemberian Hadiah Sastra Rancage khusus sastrawan-sastrawati yang dianggap berprestasi luar biasa dalam Sastra Daerah tiap tahun sejak dekade 90-an sampai sekarang. Pada tahun 2000 Ayip menerim,a Bintang Jasa The Order of the Secred Treasure Gold Ray with Neck Ribbon pemerintah Jepang. .

Karya-karya lain penulis segala bentuk karangan ini: bunga rampai Laut Biru Langit Biru (1977); Cerita Pendek Indonesia ( 1959); Kapankah Kesusatraan Indonesia Lahir (1964); Ikhtisar sejarah sastra Indonesia (1969); antologi puisi Sajak-sajak Anak Matahari ( 1979); Ular dan Kabut (1973); novel Anak Tanah Air (1979); buku umum Mengenal Jepang (1981); Manusia Sunda (1984); Undang-undang Hak Cipta 1982: Pandangan Seorang Awam (1984); terjemahan bersama Matsuoka Kunio: Penari Jepang(1985) dan Daerah Salju (1987), kumcerpen dan novel Yasunari Kawabata.

Muchtar Lubis, dilahirkan di Padang, 7 Maret 1922, meninggal di Jakarta, 2 Juli 2004, menulis novel  terkenal berjudul  Jalan Tak Ada Ujung (1952). Juga ditulisnya novel Tak Ada Esok (1951), Senja di Jakarta (1970), kumpulan cerpen Si Jamal dan Cerita-cerita lain (1951) dan Perempuan (1956). Di atas tahun 60-an, darinya bisa kita baca roman Tanah Gersang (1966), Harimau! Harimau! (1975), Maut dan Cinta (1977), cerita anak-anak Berkelana dalam Rimba (1980) dan Sinbad Sang Pelaut serta kumpulan cerpen Kuli Kontrak (1982) dan Bromocorah (1983).

Di samping terkenal sebagai pengarang, Mochtar Lubis juga tersohor sebagai wartawan yang pernah memimpin surat kabar Indonesia Raya. Ia pernah meraih hadiah Ramon Magsaysay untuk karya jurnalistik ketika meliput Perang Korea. Yacob Utama dari Kompas menjulukinya sebagai Wartawan Jihad karena kegigihannya memperjuangkan hak azasi manusia. Pada tahun 1993 ia menerima Hadiah Sastra Chairil Anwar.

Selain menulis karya sastra ia juga menulis buku ilmiah berjudul Manusia Indonesia (1977) dan Transformasi Budaya untuk Masa Depan. Pengalamannya dalam tahanan zaman Orde Lama mengilhaminya menulis buku tebal Catatan Subversif.

Karya-karyanya yang lain: Catatan Perang Korea (1951); Terklnik Mengarang (1951); Teknik Mengarang Skenario Film (1952); Indonesia di Mata Dunia (1955); cernak Harta Karun (1964); Penyamun dalam Rimba (1972).

Selain terkenal sebagai pengarang, wartawan, budayawan, Mochtar Lubis adalah juga editor dan penerjemah beberapa  uku, yakni: Pelangi 70 Tahun S.T.A. ; Bunga Rampai Korupsi; Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-surat Bung Hatta kepada Presiden Sukarno ; terjemahan Tiga Ceita dari Negeri Dollar (kumcerpen Jophn Steinbeck, dll., 1950); Kisah-kisah dari Eropa (1950), Cerita dari Tiongkok (1953).

Toto Sudarto Bachtiar, dilahirkan di Cirebon, 12 Oktober 1929. Penyair ini menulis kumpulan sanjak Suara (1956) dan Etsa(1958). Di dalam kedua buku tersebut bisa kita jumpai Pahlawan Tak Dikenal, Ibukota Senja, Gadis Peminta-minta, Tentang Kemerdekaan, dan lain-lain.Toto Sudarto juga menerjemahkan novel karya Leo Tolstoy berjudul Hati yang Bahagia; drama Sanyasi ( karya Tagore,1979); Pelacur (karya J.P. Sartre, 1954); Sulaiman yang Agung (karya Harold Lamb, 1958); Mal;am teakhir (karya Yushio Misima, 1979);  novel Bayangan Memudar (karya Breton de Nijs, 1975); Pertempuran Penghabisan (karya Ernest Hemingway, 1974);

Toha Muchtar, dilahirkan di Kediri, 17 September 1926, meninggal di Jakarta, 19 Mei 1992. Novelis yang melukis ini adalah pemenang lomba yang menulis novel berjudul Pulang (1958). Juga ditulisnya novel Daerah Tidak Bertuan (1963), Bukan Karena Kau dan Kabut Rendah, keduanya terbit tahun 1968.

Juga ditulisnya buku  berjudul Jayamada (bersama Sukanto S.A.,1971), serta kumcerpen Antara Wilis dan Gunung Kelud (1989); novel Berita dari Pinggiran (1999, tujuh tahun setelah ia meninggal).

Utuy Tatang Sontani, dilahirkan di Cianjur, 31 Mei 1920), meninggal di  Moskwa, 17 September 1979. Ia merintis karier sajak zaman Jepang dan berhasil menciptakan Tambera (roman, 1949), Suling (drama, 1948) dan Bunga Rumah Makan(1948) ; Awal dan Mira (1952), Manusia Iseng (1953); Sayang Ada Orang Lain (1954) serta Si Kabayan. Utuy juga menulis drama-drama propaganda politiknya Lekra Si Kampeng (1964), serta sebuah kritik sosial yang tajam dalam drama Selamat Jalan Anak Kufur! (1956).

Karya-karya Utuy yang lain: drama Saat yang Genting (1958); Di Muka Kaca (1957); kumcerpen Orang-orang Sial (1951); Manusia Kota (1961); Segumpal daging Bernyawa (12961); Tak Pernah Menjadi Tua (1963). Utuy menerjemahkan karya Jean de la Fontaine menjadi Selusin Dongeng (1949).

Sitor Situmorang, dilahirkan di Tapanuli, 2 Oktober 1924. Penyair ini menulis kumpulan sanjak Surat Kertas Hijau (1953); Dalam Sajak (1955); Wajah Tak Bernama (1956);  Zaman Baru (1961). Ia juga menulis Jalan Mutiara (drama, `1954), Pertempuran dan Salju di Paris (1956) dan Pangeran, keduanya kumpulan cerpen. Sekeluar dari enam tahun penahanan (karena Ketua  Lembaga Kebudayaan Nasionalnya PNI (LKN) yang dekat dengan Lekra), Sitor menulis kumpulan sanjak Dinding Waktu (1976), Peta Perjalanan (1977), Danau Toba (1981). Sitor terkenal dengan haiku (sanjak mungil)nya yang berjudul Malam Lebaran.  Puisi ini hanya berisi satu baris/larik yang berbunyi ”Bulan di atas kuburan”.

Di samping sebagai penyair yang banyak menulis sanjak-sanjak tentang alam, Sitor Situmorang pernah menjadi menjadi redaktur harian Suara Nasional, Waspada, Berita Nasional, Warta Dunia, pernah pula menjadi dosen ATNI, anggota Dewan Perancang Nasional,  MPRS, serta pernah bermukim di Amsterdam, Paris, Den Hag, Islamabad.

Karya-karyanya selain yang di atas: antologi puisi Zaman Baru (1961); Bunga di Atas Batu (1989); Rindu Kelana (1994) serta buku ilmiah Sastra Revolusioner (1965).

Karya-karya terjemahannya: drama Hari Kemenangan (karya M. Nijhoff, 1955); Bethlehem (karya M. Nijhoff, 1955); Jalan ke Joljuta (karya D.I. Sayersm, 1956)

Kirjomulyo, dilahirklan di Yogya, 1930, meninggal di sana,, 19 Januari 2000. Ia terkenal dengan Romance Perjalanan(1955) nya. Ia juga  menulis lakon Nona  Maryam (1955) , Penggali Kapur (1957); Puisi Rumah Bambu; Dusta yang Manis; Puisi di Langit Merah, serta novel pada tahun 1968 Cahaya di Mata Emi (1968) dan Di Saat Rambutnya Terurai (1968) serta Dari Lembah Pualam.

A.A. Navis, dilahirkan di Padangpanjang, Sumatra Barat, 17 November 1924, meninggal di sana pada tahun 2002.. Pengarang alumni Perguruan INS Kayutanam pernah menjadi pemred harian Semangat Padang, Anggota DPRD Sumatra Barat, Ketua Yayasan INS Kayutanam. Ia  terkenal sebagai pengarang kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami (1956). Kumpulan cerpennya yang lain Bianglala (1963) dan Hujan Panas (1964).  . Novelnya antara lain Kemarau (1967) dan Gerhana. Ia juga menulis buku nonfiksi Alam Terkembang Jadi Guru (1984). Cerpennya berjudul Jodoh memenangkan sayembara Kincir Emas yang diadakan oleh Radio Nederland.

A.A. Navis pernah menerima Hadiah Seni Depdikbud  RI tahun 1980, Hadiah Sastra ASEAN (SEA Award) tahun 1972 dan Satya Lencana Kebudayaan Pemerintah RI tahun 2000.

Muhammad Ali, dilahirkan di Surabaya, 23 April 1927, meninggal di kota yang sama, 2 Juni 1998. Pengarang ini banyak menulis cerpen atau lakon dengan tema para papa. Terkenal dengan dramanya Lapar; Hitam atas Putih (1959) berisi cerpen, sanjak, sandiwara. Novelet-noveletnya antara lain Lima Tragedi (1952);  Kubur Tak Bertanda (1953). Pada pasca 70-an, terbit kumpulan cerpennya Buku Harian Seorang Penganggur (1972);  novel Ibu Kita Raminten (1982); Puitisasi Terjemahan Al Qur’an, sanjak Muhammad. Muhammad Ali yang banyak menggarap tema-tema kerakyatan juga menulis cerpen Ajal dan Bejo, Manusia Kaki Lima. Ia juga menulis buku kumpulan makalah  berjudul Biarkan Kami Bicara dan Sastra dan Manusia (1986).

Pengarang yang pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS), dosen tamu Fakulas Sastra Universitas Jember ini juga menulis: novel Persetujuan dengan Iblis (1956); Tirai Besi (1955); Di Bawah Naungan Al Quran (1957);Qiamat (1971); drama Si Gila (1969); Kembali kepada Fitrah (1969); antologi puisi Bintang Dini (1975). Juga ditulisnya buku-buku: Aktor dan Aktris (1981); Teknik Penghayatan Puisi (1`983); Puitisasi Juz Amma (1983); 1816 Peribahasa Indonesia (1984); kumcerpen Gerhana (1996).

Nasyah Jamin, dilahirkan di Perbaungan, Sumatra Utara, 24 Desember 1924, meninggal di Yogyakarta, 4 Desember 1994. Pengarang yang juga pelukis ini  menulis drama Sekelumit Nyanyian Sunda (1962); Titik-titik Hitam (1956); Jembatan Gondolayu, serta novel Hilanglah Si Anak Hilang (1963) dan Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1969). Nasyah yang cukup dekat Chairil Anwar, menulis buku Hari-hari Terakhir Sang Penyair (1962) semacam biografi pelopor Angkatan ’45 itu.

Nasyah Jamin yang pernah memperdalam art and setting di Tokyo, menjadi redaktur majalah Budaya, Pendiri Angkatan Seni Rupa Indonesia , Gabungan Pelukis Indonesia, juga mengarang cernak Anak Si Pai Bengal (1952), Hang Tuah (1952), novel Helai-helai Sakura Gugur (1964); Malam Kualalumpur (1968); Dan Senja pun Turun (1982); Bukit Harapan (1984); Tiga Puntung Rokok (1985); Ombak dan Pasir (1988); Ibu (1988); kumcerpen Di Bawah Kaki Pak Dirman (1967) dan Sebuah Perkawinan (1974).

Riyono Pratikto, dilahirkan di Ambarawa, 27 Agustus 1932, mengarang kumpulan cerpen Api dan Cerpen Lain (1951) dan Si Rangka dan Cerpen Lain (1958). Di Horison tahun 1986 dimuat cerpennya Dalam Kereta Api Perjalanan Hidup. Cerpen Melalui Biola dinilai terbaik oleh majalah Kisah tahun 1954. Buku  terjemahannya Keempat Puluh Satunya (karya Boris Lavrenyov, 1983).

Ali Audah, dilahirkan di Bondowoso, 14 Juli 1924. Pengarang ini lebih terkenal sebagai penerjemah sastra Arab. Kumpulan cerpennya Malam Bimbang (1961). Terjemahan-terjemahannya Suasana Bergema (1959), Peluru dan Asap (1963); Di Bawah Jembatan Gantung (1983); Sejarah Hidup Muhammad (karya Heikal); Lampu Minyak Ibu Hasyim (novel Yahya Hakki, 1976); Kisah-kisah Mesir (1977); Setan dalam Bahaya (1978); Saat Lonceng Berebunyi (1982); Hari-hari sudah Berlalu (karya Toha Husewin, 1985).

Nugroho Notosusanto, dilahirkan di Rembang, 15 Juli 1931, meninggal di Jakarta, 3 Juni 1985. Pengarang yang pernah menjabat Mendikbud RI dan Rektor UI ini menulis kumpulan cerpen Tiga Kota (1959); Rasa Sayange (1961); Hujan Kepagian (1958). Buku-buku nonfiksi yang ditulisnya Sejarah Kemerdekaan Indonesia, 30 Tahun Indonesia Merdeka, Wawasan Almamater.

Trisno Yuwono, dilahirkan di Yogyakarta, meninggal di Bandung, 24 Oktober 1996. Pengarang yang juga penerjun dan pernah menjadi anggota Tentara Rakyat Mataram, Korps Mahasiswa Magelang dan Jombang dan redaktur koran Pikiran Rakyat ini menulis kumpulan cerpen Laki-laki dan Mesiu (1957); Di Medan Perang (1962); novel Di Bawah Kawat Berdur (1961), kumpulan cerpen Angin Laut (1958) dan Kisah-kisah Revolusi (1963) serta roman Bulan Madu (1962); Biarkan Cahaya Matahari Membersihkanku Dulu (1966); Petualang (1981).

Motenggo Boesye, dilahirkan di Kupangkota, Lampung, 21 November 1937, meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999. Pengarang yang juga pelukis dan dramawan ini tetap aktif menulis hingga akhir hayatnya. Karya-karyanya yang berbentuk drama Malam Jahanam (1958); Badai Sampai Sore (1962); Nyonya dan Nyonya (1963); Malam Penganten di Bukit Kera (1963); Matahari dalam Kelam (1963);  Keberanian Manusia (1962); Perempuan itu Bernama Barabah (1962); novel Dia Musuh Keluarga (1968); Titisan Dosa di Atasnya (1964); Sejuta Matahari (1963). Karya-karyanya yang terbit tahun 80-an: Rindu Ibu adalah Rinduku, Perempuan-Perempuan Impian, Debu-debu Kalbu, Cintaku Selalu Padamu, Akulah Pemberontak Itu, Ibu!, Dalam Kelembutan dan menyutradarai film layar lebar Cintaku Jauh di Pulau, Sejuta Duka Ibu, Putri Seorang Jendral, Di Balik Pintu Dosa. Pada tahun 1985 ditulisnya novel sufistik Sanu Infinita Kembar.

Ternyata Motenggo Boesye juga seorang penyair Buku kumpulan puisinya berjudul Aurora Para Aulia.

Karya-karya Motenggo Boesye yang lain: kumcerpen Dua Tengkorak Kepala (1999); Nasihat untuk Anakku (1963); novel Dosa Kita Semua (1963); Hari Ini Tidak Ada Cinta; Cross Mama; novel trilogi Tante Maryati (1967); Sri Ayati (1968); Retno Lestari (1968). Pada tahun 1963, terbit legenda-legendanya: Buang Tonjam; Ahim Ha; Batu Serompak.

Iwan Simatupang, dilahirkan di Sibolga, Sumatra Utara, 18 Juni 1928, meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970, terkenal dengan karya-karyanya yang absurd, penuh pemikiran inkonvensional, menyimpang dari jalur logika biasa, tampil berabsurd-absurd lebih awal daripada Sutarji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Budi Darma, Danarto, Yudhistira Ardi Noegraha, Ikranegara. Karya-karya Iwan Simatupang: drama Bulan Bujur Sangkar (1960);  Petang di Taman (1966);  RT 0 RW 0 (1960) cerpen Lebih Hitam dari Hitam, kumpulan cerpen Tegak Lurus dengan Langit (1982) Novel-novelnya sangat terkenal dan dijadikan tolok ukur kualitas sastra absurd Indonesia: Kering (1972);  Merahnya Merah ( 1968); Ziarah (1969); Kooong (1975)

Iwan  memperoleh SEA Award dengan novel Ziarah-nya.

S. Rukiah, dilahirkan di Purwakarta, 25 April 1927. Sastrawati ini  menulis Kejatuhan dan Hati (1950); Tandus (kumpulan puisi, 1952); Kisah Perjalanan Si Apin ; Jaka Tingkir (1962);  Teuku Hasan Johan Pahlawan (1957); Dongeng-dongeng Kutilang (1962); Taman Sanjak Si Kecil (1959).

N.H. Dini, dilahirkan di Semarang, 29 September 1936, masih aktif hingga kini. Pengarang wanita ini menulis kumcerpen Dua Dunia (1956); roman Hati yang Damai (1961); Namaku Hiroko (novel, 1977)). Kreativitasnya justru lebih menonjol pada tahun-tahun 70-an ke atas. Roman-romannya: Pada Sebuah Kapal (1973); La Barka (1975); Keberangkatan; novel-novelnya Sekayu (1981); Sebuah Lorong di Kotaku (1978); Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979).  Biografi Amir Hamzah ditulisnya di bawah judul  Pangeran dari Seberang (1981). Kumcerpennya yang lain Segi dan Garis. Juga menulis novel Jalan Bandungan (1989) dan Tirai Menurun (1993); Orang-orang Tran (1985)..

Novelnya yang berjudul Pertemuan Dua Hati yang mengisahkan tentang perjuangan Bu Suci, seorang guru SD dalam membimbing Waskito adalah muridnya yang berkepribadian sulit, novel ini telah disinetronkan. N. H. Dini mempunyai pengalaman bersuamikan diplomat asal Perancis dan bertahun-tahun tinggal di negeri itu. Latar belakang itu mendorongnya menerjemahkan karya pengarang eksistensialis Albert Camus berjudul Sampar (dari La Pest, 1985).

Karya-karya Dini yang lain: Di Pondok Salju cerpen runner up majalah Sastra 1963, Panggilan Dharma Seorang Bhikku (1997); Tanah Baru Tanah Air Kedua (1997); Kemayoran (2000); Jepun Negerinya Hiroko (2000).

Rendra, dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Penyair dan dramawan ini dulu lebih dikenal dengan nama W.S. Rendra (Willibordus Surendra). Setelah beragama Islam, penyair burung merak ini menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Rendra yang kini meroket lagi, dikenal sebagai pembaca sanjak termahal di dunia. (3 juta di TIM, Bandung, Semarang, 12 juta di Senayan, dekade 90-an). Karya-karyanya: Empat Kumpulan Sajak  terdiri dari Kakawin-Kawin, Malam Stanza, Nyanyian dari Jalanan, Sajak-sajak Duabelas Perak, kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta (1956); Sajak-sajak Sepatu Tua (1971); Blues untuk Bonnie (1975); Potret Pembangunan dalam Puisi (1980).. Dua yang terakhir ini ditulisnya sepulang dari Amerika tahun 1968.

Rendra juga menulis kumcerpen Ia Sudah Bertualang (1963); menulis skenario dan mementaskan Orang-orang di Tikungan Jalan; Mastodon dan Burung Kondor;  Kasidah Berjanji, Kisah Perjuangan Suku Naga, Sekda, drama terjemahan Oedipus Sang Raja (1976); Oedipus di Kolonus (1976); Oedipus Berpulang; Antigone (1976); drama saduran Perampok;  drama kolosal Panembahan Reso (1988);  juga Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Pada dekade 90-an, Rendra menerbitkan antologi puisi “Orang-orang Rangkasbitung (1993) dan Disebabkan oleh Angin (1993).

Rendra memimpikan Bengkel Teater dan menulis buku Tentang Bermain Drama (1976). Sebagai budayawan, ditulisnya buku Mempertimbangkan Tradisi (1983) dan Memberi Makna pada yang Fana. Rendra pernah bermain dalam film AL Kautsar, Yang Muda yang Bercinta, Cintaku Jauh di Pulau.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.