Archive for Februari, 2010

SASTRA: SEKILAS ANGKATAN BALAI PUSTAKA (PERIODE 30-AN)

Lahirnya kesusastraan Indonesia modern serta perkembangan dalam kurun waktu yang awal begitu erat hubungannya dengan sejarah kebangkitan nasional, sehingga hampir-hampir tak mungkin membicarakan yang satu tanpa menyinggung yang lain. Pada umumnya para pengamat sastra bersepakat bahwa kesusastraan Indonesia Modern berawal di sekitar 1920.

Pada tahun tiga puluhan masalah bahasa Indonesia senantiasa merupakan pokok pembicaraan yang banyak menguras emosi karena keanekaan pendapat, baik yang konservatif maupun yang menghendaki kemajuan yang lebih pesat. Sutan Takdir Alisyahbana telah memberikan sumbangan berharga dalam esai-esainya..

Sebagian kaum nasionalis, antara lain Muhammad Yamin dan Sanusi Pane suka mengenang kejayaan masa lampau dan seakan-akan menimba inspirasi untuk menciptakan masa depan yang jaya pula. Sanusi Pane mempunyai batin yang kuat dalam dunia ketimuran. Dalam karya-karyanya, ia mencari hubungan dengan jiwa kesusastraan timur  seperti India dan Persia. Keduanya menggarap pokok-pokok dari sejarah Indonesia.

Sebaliknya Sutan Takdir berpendapat bahwa Indonesia harus berkiblat ke barat untuk dapat mencapai kemajuan yang didambakan bagi jutaan penduduknya. Kejayaan masa lampau bukanlah sesuatu yang patut kita bangkitkan kembali, karena itu sudah “mati sematinya”. Tak mungkin ia berguna sebagai landasan untuk masa depan.

Perdebatan ini memperlihatkan betapa dari awal mula pembinaan bangsa telah menarik minat para pemikir Indonesia. Sebagian karangan-karangan tentang kebudayaan ini kemudian dikumpulkan dalam suatu buku berjudul Polemik Kebudayaan.

ANGKATAN BALAI PUSTAKA

Roman karya Merari Siregar berjudul Azab dan Sengsara terbit pada tahun 1920, diterbitkan oleh PN Balai Pustaka. Buku ini ditunjuk sebagai awal kebangkitan Angkatan Balai Pustaka. Karena itu, Angkatan Balai Pustaka pun juga dinamai Angkatan 20.

Apakah roman Azab dan Sengsara yang bahasanya banyak unsur bahasa Melayu, mendayu-dayu dan diselingi pantun dan pepatah-pepitih merupakan buku pertama kesusastraan Indonesia? Ada kontroversi di sini.

Ayip Rosidi dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia menyatakan bahwa karya sastra Indonesia adalah segala karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sedangkan perbedaan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu terletak pada adanya semangat dan kesadaran nasionalisme Indonesia, suatu kesadaran untuk merdeka dalam persatuan kebangsaan Indonesia. Semenjak kebangkitan bangsa Indonesia melawan penjajah dengan menjunjung tinggi suatu bahasa persatuan itulah kita menggunakan bahasa Indonesia. Sebelum bangkitnya kesadaran keindonesiaan itu, bahasa yang menjadi cikal bakal dan sumber utama bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu. Jadi, menurut Ayip Rosidi, bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang dijiwai oleh nasionalisme Indonesia. Tanpa jiwa dan semangat tersebut, bahasa tersebut tetaplah merupakan bahasa Melayu.

Sebetulnya, tidak ada benang merah dan relevansi antara Angkatan Balai Pustaka dengan pembinaan nasionalisme, aspirasi kemerdekaan Indonesia, menegakkan keadilan kebenaran dan memerangi kemungkaran dalam maknanya yang militan, apalagi semangat berkobar-kobar mengusir penjajah laknat. Sebagai penerbit pemerintah, Balai Pustaka tidak mau buku-buku yang diterbitkannya menjadi bumerang yang mendeskreditkan boss mereka. Roman-roman Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, serta Katak Hendak Jadi Lembu, Salah Pilih, Karena Mertua, Apa Dayaku Karena Aku Perempuan karya Nur Sutan Iskandar dan yang sejenis dengan itu yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan mengisi khazanah Angkatan Balai Pustaka, karena buku-buku tersebut hanya berbicara tentang pernik-pernik kehidupan rumah tangga biasa, adat kawin paksa, cinta muda-mudi tempo dulu, keculasan dan keserakahan versus kebaikhatian, sama sekali tidak pernah menyinggung penindasan pembodohan, pemiskinan, sekularisasi yang dilakukan oleh penguasa-penguasa kolonial.

Kalau kita membaca roman Siti Nurbaya, kita justru menemukan sesuatu yang agak janggal jika dipersepsi dengan nasionalisme Indonesia. Nilai didik apa sajakah yang kita temukan dengan penokohan Syamsul Bachri? Begitu putih cinta-kasihnya pada Siti Nurbaya, namun ketika ia menghadapi kenyataan yang sangat getir, yakni karena tak berdaya, dengan sungguh terpaksa kekasihnya menikah dengan Datuk Maringgih, Syamsul Bachri justru “mencari mati” dengan bertindak menjadi Letnan Mas, anggota tentara kerajaan Belanda yang gigih memerangi kaum pemberontak bangsanya sendiri. Demi dendam-kesumat Syamsul Bachri, pengarang, yakni Marah Rusli, merekayasa suatu skenario duel-meet antara Letnan Mas versus Datuk Maringgih yang berakhir dengan maut keduanya. Dengan gagah beraninya Letnan Mas alias Syamsul Bachri yang sakit hati pada Datuk Maringgih yang merebut kekasihnya, menumpas Datuk Maringgih beserta komplotannya yang membelot membayar pajak pada pemerintah kolonial. Apa pun motivasinya, bahwa Syamsul menyerang Sang Jagoan Tua dalam kapasitasnya sebagai tentara Belanda yang berusaha menghancurkan pemberontakan Datuk Maringgih, niscaya tidak bisa dinilai sebagai tindakan terpuji sang patriot dari kacamata Indonesia. Kalau kita cermati, episode ini justru menampakkan sikap pengarang yang kompromistis terhadap aturan main atas karya-karya yang memenuhi syarat Nota Rinkes. Hanya karena kecewa soal cinta, Syamsul Bachri frustrasi berat ingin dijemput maut, lalu masuk dinas militer dan kemudian terkenal sebagai Letnan Mas, lalu merasa berpeluang emas bisa memimpin pasukan untuk menindas pemberontakan yang disulut oleh Datuk Maringgih, musuh besarnya.

Meskipun Datuk Maringgih sendiri tidak digambarkan sebagai pejuang yang militan menghujat pemerintah kolonialis Belanda, namun sebenarnya, ia lebih Indonesia daripada Syamsul Bachri, karena sikap anti terhadap Belanda yang menjajah tanah airnya itu. Tidak peduli pembelotannya membayar pajak pada Belanda itu didorong oleh hasrat agar harta-bendanya tidak berkurang dan semacamnya, namun dengan sikap membelotnya itu, ia sudah menunjukkan keberaniannya untuk tidak taat pada perintah Sang Penjajah, satu sikap yang sebenarnya jauh lebih nasionalistik daripada sikap Syamsul Bachri yang sengaja bergabung dengan Belanda dan sempat menjadi tentara kerajaan sang penjajah. Hanya sayang, Datuk Maringgih bertabiat jelek, licik, menipu temannya sendiri.

Di samping tampil dengan sikap politik yang kompromistis dan berbaik-baik dengan pemerintah kolonial (mungkin ini dilakukan oleh pengarang semata agar karya-karyanya bisa diterbitkan), roman-roman Balai Pustaka didominasi oleh tema-tema sekitar adat kawin paksa, sikap otoriter orang tua dalam menentukan jodoh sang anak, konflik Generasi Muda versus Generasi Tua yang dimenangkan oleh pihak orang tua. Tokoh-tokoh cerita umumnya dilukiskan secara dikotomis hitam-putih, ekstrim; tokoh baik dilukiskan serta sempurna, fisik, penampilan, pandangan hidup, sikap dan moralnya serba baik dan ideal, sebaliknya, tokoh-tokoh jahatnya digambarkan serba jelek dan memuakkan, baik tampang lahiriah maupun moralitasnya, sampai-sampai, penyakit yang diidap tokoh antagonis ini pun merupakan penyakit kotor (tokoh Kasibun dalam Azab dan Sengsara). Pengarang dengan seadanya memotret realitas-realitas sosial yang terjadi ketika itu, dengan visi dan misi yang sejalan dengan politik pemerintah kolonial. Umumnya mereka berani menentang arus atau menjadi oposisi. Mereka menyikapi adat kawin paksa, dominasi orang tua, sistem pendidikan, pola hidup dan budaya bangsa-bangsa Eropa yang menjajah di sini sebagai sesuatu yang wajar, positif, nyaris tanpa sikap kritis, meskipun hati nurani mereka berkata yang sebaliknya.

Situasi itulah yang dominan di antara roman-roman yang model cerita dan karakter tokoh-tokohnya yang sangat stereotip dan klise itu, masih ada sebenarnya novel-novel yang menampakkan kemajuan cara berpikir pengarangnya, dengan wawasan hidupnya yang lebih luas, dengan sikapnya yang moderat dan terbuka, kritis dan proporsional. Darah Muda dari Jamaluddin Adinegoro dan Mencari Pencuri Anak Perawan karya Suman Hs., adalah contoh novel/roman dari angkatan Balai Pustaka yang menghadirkan sikap dan citra baru, benar-benar sudah beranjak dari model cerita roman-roman seangkatan mereka.

Sementara itu, Abdul Muis tampil secara cemerlang dengan tema cerita dan wawasan estetik baru dalam roman Salah Asuhan, yang menampakkan beberapa kemajuan dan keistimewaan dibandingkan Siti Nurbaya dan Azab dan Sengsara, pendahulunya. Di sana dikisahkan Hanafi, pemuda Indonesia, yang mengalami salah asuhan, karena kegila-gilaannya pada yang serba barat, yang menjebaknya untuk hanya sampai pada hal-hal yang lahiriah, hanya pada kulit luar dan permukaan, bukan pada substansinya. Muncullah di sana Hanafi yang kebelanda-belandaan dalam gaya dan cara berpakaiannya, hobi dan seleranya. Ini sangat berbeda dengan nilai-nilai barat yang ditransformasikan secara cukup kreatif oleh Sutan Takdir Alisyahbana, pelopor Angkatan Pujangga Baru yang menangkap barat lebih pada jiwa dan intelektualitasnya.

Bahasa, lukisan setting dan peristiwa dalam Salah Asuhan termasuk baru. Ia tidak lagi berasyik-asyik dengan jiwa kemelayuan yang penuh pepatah-petitih sebagaimana Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat. Ia tidak hanyut oleh selera massa dan kemauan penguasa, berani tampil mandiri menentang arus mengunjukkan diri sebagai karya yang berpribadi. Salah Asuhan merupakan novel hati nurani, karena dalam novel ini, pengarang yang juga salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, berhasil tampil otentik, mampu menyuarakan kebenaran sesuai aspirasi hati-nuraninya, jauh dari sekadar upaya agar karangannya bisa naik cetak di Balai Pustaka.

PUISI : SELAYAKNYA

SELAYAKNYA

(Desember 2009)

sebagai raja

tak pantas kau membuatku terhina

sebagai penguasa

lancang bila kau menjadikanku ternista

apa yang kau hendak

macam apa lagi yang akan kau perbuat

tipu muslihat, adu domba, hasutan bahkan cacian

kau sebar ke seluruh penjuru pijakan

sebagai seorang kerabat

tak adakan rasa hormat

yang mampu kau haturkan

atau sedikit saja kau berikan

walau hanya sebatas hormatnya manusia

terhadap sesamanya

Karya Putra Putri Tersayang 2

Karya Putra Putri Tersayang 2

Dan Riris Riva Istanti

Dunia mulai nampak

Akan kekuasaan yang tak terkira

Naluri hati lihat semua

Rasa itu hadir menemani

Iringi langkah seorang insan

Raut muka tak karuan

Ikut sedih dalam pangkuan

Sang guru pujaan

Rasa kasih kau beri

Ikut dalam hati ini

Variasi kata yang bermakna

Atas semua yang berguna

Indah elok parasmu

Sifat cantik melekat padamu

Tanpa terpikir akan akhir

Antara kita dalam keluarga

Namun semua takdir tuhan

Karya Putra Putri Tersayang

Bunga

Bunga

Begitu eloknya engkau

Wahai bunga penghias alam

Kau tebarkan keindahanmu

Pada taman kota ilmu

Kau tebarkan keharumanu

Pada setiap sudut kota para kyai

Bunga…

Kau tangguhkan dirimu

Dari badai maupun petir

Dari kumbang maupun rumput-rumput liar

Kau pun tak pernah gentar

Dalam menjaga keelokkanmu

Wahai bunga yang terindah

Kini…

Ketika semua orang mengagumi keindahanmu

Kau pun layu dan tiada lagi merekah

Seolah lenyap terhempas musim

SASTRA: SASTRAWAN ANGKATAN 66

PARA PENGARANG DAN PENYAIR ANGKATAN ’66 :

Taufiq Ismail, dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1937, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan UI, redaktur senior Horison. Penerima Anugerah Seni dari pemerintah RI tahun 1970 dan Sastra ASEAN tahun 1994 ini telah berjasa besar dalam memasyarakatkan, mengembangkan dan memajukan sastra Indonesia bersama tokoh-tokoh lain seperti Sutarji Calzoum Bachri, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Abdul Hamid Jabbar (almarhum) melalui program SBSB (Sastrawan Buicara Siswa Bertanya) di sekolah-sekolah (SMA/MAN/SMK) di seluruh Indonesia tahun 2000 – 2004. Karena jasa-jasanya dan prestasinya, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memberinya gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang sastra.

Penyair ini terkenal dengan kumpulan sanjak Tirani dan Benteng, tertbit tahun 1966. Sanjak berjudul Seorang Tukang Rambutan dan Istrinya, Karangan Bunga, Sebuah Jaket Berlumur Darah, Kami adalah Pemilik Sah Republik Ini, Yang Kami Minta Hanyalah…bisa dijumpai dalam buku-buku tersebut. Kumpulan sanjaknya yang lain, Sajak Ladang Jagung (1973) terbit setelah ia pulang dari Amerika. Dalam buku tersebut, kita bisa membaca Kembalikan Indonesia Padaku, Beri Daku Sumba, Bagaimana Kalau ….. Sejak puluhan tahun yang lalu (1974) Taufiq bekerja sama dengan Bimbo Group dalam penulisan lirik lagu. Kita bisa dengar nikmati lagu dan lirik Aisyah Adinda Kita, Sajadah Panjang, Balada Nabi-nabi, Bermata tapi Tak Melihat, Ibunda Swarga Kita, dan lain-lain dari dirinya. Taufiq Ismail juga menulis Sajak-sajak Si Toni, Balai-balai, Membaca Tanda-tanda, Abad ke-15 Hijriah, Rasa Santun yang Tidur, Puisi-puisi Langit.

Pada awal tahun 1994 diluncurkan buku antologi puisi berjudul Tirani dan Benteng cetak ulang dua kumpulan puisinya yang terkenal itu. Buku tersebut diberi pengantar oleh sang penyair secara cukup panjang dan mendalam. Di antara kata pengantar dan dua kumpulan sanjak tersebut disertakan pula dalam buku ini Sajak-sajak Menjelang Tirani dan Benteng. Pada tahun-tahun seputar Reformasi ditulisnya puisi berjudul Takut 98 dan antologi puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia (MAJOI) terbit tahun 1998. Bersama DS Mulyanto, rekan sastrawan Angkatan ’66, Taufiq Ismail mengeditori buku tebal berjudul Prahara Budaya (antologi esai, 1995), bersama LK Ara dan Hasyim Ks menyusun buku tebal juga berjudul Seulaweh Antologi Sastra Aceh (1995).

Bur Rasuanto, dilahirkan di Palembang, 6 April 1937, adalah pengarang, penyair, wartawan. Ia menulis kumpulan cerpen Bumi yang Berpeluh (1963) dan Mereka Akan Bangkit (1963). Bur Rasuanto juga menulis roman Sang Ayah (1969);  Manusia Tanah Air (1969) dan novel Tuyet (1978).

Goenawan Mohamad, dilahirkan di Batang, 29 Juni 1941. Penyair, esais, wartawan, yang sampai sekarang menjadi pimpinan umum majalah Tempo  ini termasuk penanda tangan Manifes Kebudayaan. GM adalah juga penerima Anugerah Seni pemerintah RI, penerima Hadiah A. Teeuw tahun 1992 dan Hadiah Sastra ASEAN tahun 1981.Di samping prestasi-prestasi di atas, GM pernah menjadi wartawan Harian KAMMI, anggota DKJ, pimred Express, pimred majalah Zaman, redaktur Horison, anggota Badan Sensor Film.

Ia menulis kumpulan sanjak Interlude, Parikesit (1971);kumpulan esai Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malinkundang (1972); Catatan Pinggir I (1982), Catatan Pinggir 2 (1989), Catatan Pinggir 3  yang dihimpun dari majalah Tempo. Karyanya yang lain: Asmaradahana (kumpulan puisi, 1992); Seks, Sastra, Kita (kumpulan esai); Revolusi Belum Selesai” (kumpulan esai); Misalkan Kita di Serayewo (antologi puisi, 1998).

Subagio Sastrawardoyo, dilahirkan di Madiun, 1 Febuari 1924, meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995. Penyair, pengarang, esais ini, pernah menjadi redaktur Balai Pustaka, dosen bahasa Indonesia di Adelaide, dosen FS UGM, SESKOAD Bandung, Universitas Flinders, Australia Selatan. I menulis kumpulan sanjak Simphoni (1957); Daerah Perbatasan, Kroncong Motenggo (1975). Kumpulan esainya berjudul Bakat Alam dan Intelektualisme (1972); ManusiaTerasing di Balik Simbolisme Sitor, Sosok Pribadi dalam Sajak (1980); antologi puisi Hari dan Hara; kumcerpen Kejantanan di Sumbing (1965). Cerpennya Kejantanan di Sumbing dan puisinya Dan Kematian Makin Akrab meraih penghargaan majalah Kisah dan Horison.

Sapardi Joko Damono, dilahirkan di Solo, 20 maret 1940, adalah penyair, esais, dosen dan Guru Besar FSUI. Ia menulis Duka-Mu Abadi (1969); Akwarium (1974); Mata Pisau (1974); Perahu Kertas (1983); Suddenly the Night (1988);Hujan Bulan Ini (1994). Semuanya kumpulan puisi. Ia juga penerjemah yang mengalihbahasakan The Old Man and The Sea nya Ernest Hermingway menjadi Lelaki Tua dan Laut (1973). Karya terjemahannya yang lain Lirik Persi Klasik (1977); Puisi Klasik Cina (1976);  Puisi Brazilia Modern. Kumpulan esainya Novel Indonesia Sebelum Perang (1979); Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978); Kesusastraan Indonesia Modern, Beberapa Catatan (1983); Sihir Rendra: Permainan Makna (1999); Politik Iodeologi dan sastra Hibrida (1999). Merefleksikan saat-saat Reformasi yang diterpa kerusuhan, penjarahan dan pembakaran gedung-gedung dan supermarket, sampai ada ratusan jiwa yang tewas terpanggang, Sapardi mengabadikan tragedi tersebut lewat antologi puisi Ayat-ayat Api (2000).

Titie Said Sadikun, dilahirkan di Bojonegoro, 11 Juli 1935. Pengarang dan  wartawati yang pernah menjadi redaktur majalah Wanita, Hidup, Kartini, Famili ini menulis kumpulan cerpen Perjuangan dan Hati Perempuan (1962), novel Jangan Ambil Nyawaku (1977), Lembah Duka, Fatimah yang difilmkan menjadi Budak Nafsu, Reinkarnasi, Langit Hitam di Atas Ambarawa.

Arifin C. Noer, dilahirkan di Cirebon 10 Maret         1941, meninggal di Jakarta 28 Mei 1995. Penyair yang juga  dramawan dan sutradara film ini menulis sanjak Dalam Langgar, Dalam Langgar Purwadinatan, naskah drama Telah Datang Ia, Telah Pergi Ia , Matahari di Sebuah Jalan Kecil , Monolog Prita Istri Kita dan Kasir Kita (1972, Tengul (1973), Kapai-kapai (1970), Mega-mega (1966), Umang-umang (1976), Sumur Tanpa Dasar (1975), Orkes Madun, Aa Ii Uu, Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi, Ozon. Karya-karyanya yang lain: Nurul Aini (1963); Siti Aisah (1964); Puisi-puisi yang Kehilangan Puisi-puisi (1967); Selamat pagi, Jajang (1979); Nyanyian Sepi (1995); drama Lampu Neon (1963); Sepasang Pengantin (1968); Sandek,Pemuda Pekerja (1979)

Selain penyair dan dramawan yang memimpin Teater Kecil, Arifin C. Noer juga penulis skenario dan sutradara film yang andal. Karya skenarionya antara lain: G 30 S/PKI; Serangan Fajar; Taksi; Taksi Juga; Bibir Mer.

Film-film yang disutradarinya: Pemberang (1972); Rio Anakku (1973); Melawan badai (1974); Petualang-petualang (1978); Suci Sang Primadona (1978); Harmonikaku (1979). Pada tahun 1972 Arifin menerima Hadiah Seni dari Pemerintah RI dan pada tahun 1990 menerima Hadiah Sastra ASEAN.

Hartoyo Andangjaya, dilahirkan di Solo 4 Juli 1930, meninggal di kota ini juga pada 30 Agustus 1990. Penyair yang pernah menjadi guru SMP dan SMA di Solo dan Sumatra Barat ini menulis sanjak-sanjak terkenal berjudul Perempuan-perempuan Perkasa, Rakyat, juga Sebuah Lok Hitam, Buat Saudara Kandung. Sanjak-sanjak tersebut bisa dijumpai dalam bukunya Buku Puisi (1973). Musyawarah Burung (1983) adalah karya terjemahan liris prosaya tokoh sufi Fariduddin Attar. Seratusan puisi karya penyair sufi terbesar sepanjang sejarah, Maulana Jalaluddin Rumi, diambil dari Diwan Syamsi Tabriz, diterjemahkan dan dihimpunnya di bawah judul buku Kasidah Cinta.

Hartoyo juga menulis antologi puisi Simponi Puisi (bersama DS Mulyanto, 1954), Manifestasi (bersama Goenawan Mohamad dan Taufiq Ismail, 1963), kumpulan syair Dari Sunyi ke Bunyi (1991).Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (Tagore, 1976), Kubur Terhormat bagi Pelaut (antologi puisi J. Slauerhoff, 1977), Rahasia hati (novel Natsume Suseki,1978); Puisi Arab Modern (1984).Hartoyo Andangjaya termasuk penanda tangan Manifes Kebudayaan.

Slamet Sukirnanto, dilahirkan di Solo 3 Maret 1941. Penyair ini menulis buku kumpulan puisi Kidung Putih(1967); Gema Otak Terbanting; Jaket Kuning (1967), Bunga Batu (1979), Catatan Suasana (1982), Luka Bunga (1991). Bersama A. Hamid Jabbar, Slamet mengeditori buku Parade Puisi Indonesia (1993). Dalam buku itu, termuat sanjak-sanjaknya: Rumah, Rumah Anak-anak Jalanan, Kayuh Tasbihku, Gergaji, Aku Tak Mau; Bersama Sutarji Calzoum Bachri dan Taufiq Ismail, Slamet menjadi editor buku Mimbar Penyair Abad 21.

Mohammad Diponegoro, dilahirkan di Yogya 28 Juni 1928, meninggal di kota yang sama 9 Mei 1982. Pengarang, dramawan, pendiri Teater Muslim, penyiar radio Australia ini menulis cerpen Kisah Seorang Prajurit, roman Siklus, terjemahan puitis juz Amma Pekabaran/Kabar Wigati (1977), kumpulan esai ketika ia menjadi redaktur Suara Muhammadiyah berjudul Yuk, Nulis Cerpen, Yuk (1985). Mohammad Diponegoro juga menulis antologi puisi bersama penyair lain bertajuk Manifestasi (1963), drama Surat pada Gubernur, Iblis (1983), buku esai Percik-percik Pemikiran Iqbal (1984), antologi cerpen Odah dan Cerita Lainnya (1986).

Hariyadi Sulaiman Hartowardoyo, dilahirkan di Prambanan, 18 Maret 1930, meninggal di Jakarta, 9 April 1984, mengarang roman Orang Buangan (1971), dan Perjanjian dengan Maut (1975), kumpulan sanjak Luka Bayang (1964), menerjemahkan epos Mahabharata. Hariyadi juga menulis buku astrologi Teropong Cinta (1984)

Satyagraha Hurip, dilahirkan di Lamongan 7 April 1934, meninggal di Jakarta 14 Oktober 1998, mengarang cerpen Pada Titik Kulminasi, kumcerpen Tentang Delapan Orang, novel Sepasang Suami Istri (1964), Resi Bisma (1960), serta menyunting antologi esai Sejumlah Masalah Sastra (1982). Karya-karyanya yang lain: Burung Api (cerita anak-anak, 1970); Sarinah Kembang Cikembang (kumcerpen, 1993). Satyagraha adalah editor buku Cerita Pendek Indonesia I – IV (1979) dan penulis terjemahan Keperluan Hidup Manusia (novel Leo Tolstoy, 1963).

Cerpen-cerpennya dimuat di Kompas, Republik, Matra, antara lain: Surat Kepada Gubernur, Sang Pengarang. Ia juga menulis kumpulan cerpen Gedono-Gedini (1990) dan Sesudah Bersih Desa (1989).

Titis Basino PI, dilahirkan di Magelang 17 Januari 1939, menulis cerpen Rumah Dara, novel Pelabuhan Hati (1978); Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983); Bukan Rumahku (1983); Welas Asih Merengkuh Tajali (1997);  Menyucikan Perselingkuhan (1998), Dari Lembah ke Coolibah (1997); Tersenyum pun Tidak untukku Lagi (1998); Aku Supiyah Istri Hardian (1998); Bila Binatang Buas Pindah Habitat (1999); Mawar Hitam Milik Laras (2000); Hari yang Baik (2000). Pada tahun 1999 Titis menerima Hadiah Sastra Mastera.

Bambang Sularto, dilahirkan di Purworejo 11 September 1934, meninggal di Yogyakarta tahun 1992, terkenal dengan dramanya Domba-domba Revolusi (1962). Juga ditulisnya novel Tanpa Nama (1963); Enam Jam di Yogya,drama tak Terpatahkan (1967); buku Teknik Menulis Lakon (1971)

Jamil Suherman, dilahirkan di Surabaya 24 April 1924, meninggal di Bandung 39 November 1985,  mengarang roman Perjalanan ke Akhirat;  kumcerpen Ummi Kulsum(1963), kumpulan sanjak Nafiri (1983), novel Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984); Sarip Tambak Oso (1985) . Juga menulis drama yang sangat terkenal berjudul Mahkamah di Seberang Maut;

Umar Kayam, dilahirkan di Ngawi 30 Maret 1932, Guru Besar UGM  sang budayawan dan pameran Bung Karno yang menulis kumcerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972) dan Sri Sumarah dan Bawuk (1975).

Novelnya yang sangat terkenal berjudul Para Priyayi (1992) dan Jalan Menikung (2000). Karyanya yang lain berjudul Ke Solo ke Jati dan Bi Ijah, keduanya berbentuk cerpen, kumcerpen Parta Krama (1997), kumpulan esai Seni, Tradisi, Masyarakat  (1981); kumpulan kolom Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Bandha, Madhep Ngalor Madhep Ngidul. Pada tahun 1987 Umar Kayam memperoleh Hadiah Sastra ASEAN

Budiman S. Hartoyo, dilahirkan di Solo 5 Desember 1938 menulis antologi puisi Lima Belas Puisi (1972)  ; Sebelum Tidur (1977). Banyak menulis puisi-puisi religius, di antaranya puisi tentang pengalaman spiritualnya ketika ia beribadah haji ke Tanah Suci. Dalam bunga rampai Laut Biru Langit Biru susunan Ayip Rosidi bisa dibaca sanjak-sanjak sufistiknya antara lain: Jarak Itu pun Makin Menghampir, Bukalah Pintu Itu, Di depan-Mu Aku Sirna Mendebu.

Gerson Poyk, dilahirkan di Pulau Rote Timor 16 Juni 1931 mengarang novel Sang Guru (1971), kumcerpen Matias Anankari (1975), novelet Surat Cinta Rajagukguk, Cinta Pertama, Kecil Itu Indah Kecil Itu Cinta. Gerson juga menulis cerpen berjudul Bombai, Puting Beliung, Pak Begowan Filsuf Hati Nurani;.

Ramadhan K.H., dilahirkan di Bandung, 15 Maret 1927, meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 15 Maret 2006, adalah penyair, novelis, penerjemah. Sebentar berkuliah di ITB, pindah ke Akademi Dinas Luar Negeri, pernah bekerja di Sticusa Amsterdam, pernah menjadi redaktur majalah Kisah, Siasat, Budaya Jaya, anggota DKJ, direktur pelaksana DKJ., mengikuti Festival Penyair Internasional di Amsterdam tahun 1992, mewakili Indonesia dalam Kongres Penyair Sedunia dfi Taipeh tahun 1993, pernah bermukim di Falencia, Spanyol, Paris, Los Angeles, Jenewa, Bonn.

Ramadhan menulis kumpulan sanjak Priangan Si Jelita. Terkenal dengan romannya Royan Revolusi, novelnya Kemelut Hidup mengangkat tema sosial dengan mengetengahkan sebuah figur yang jujur, seperti Si Mamad nya Syuman Jaya. Novelnya yang lain berjudul Keluarga  Permana, dari perjalanan cinta Inggit Ganarsih dengan Bung Karno, ditulisnya roman biografi Kuantar Ke Gerbang. Karya-karya Frederico Garsia Lorca, sastrawan Spanyol, diterjemahkan menjadi Romansa Kaum Gitana.

Ramadhan menulis novel yang mengasosiasikan pembaca pada korupsi yang terjadi di Pertamina berjudul Ladang Perminus Bersama G. Dwipayana, Ramadhan menulis otobiografi Suharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindak Saya.

Muhammad Saribi Afn, dilahirkan di Klaten 15 Desember 1936,  penyair dengan kumpulan sanjaknya Gema Lembah Cahaya (1963). Karyanya yang lain, sebuah antologi bersama penyair-penyair Islam berjudul Manifestasi. Di Panji Masyarakat, ia menulis puisi panjang Yang Paling Manis ialah Kata. Dari mendengarkan kuliah subuh Buya HAMKA, lahirlah bukunya Hamka Berkisah tentang Nabi dan Rasul.

Mansur Samin, dilahirkan di Batangtoru Sumatra Utara 29 April 1930,  penyair, pengarang cerita kanak-kanak, wartawan, guru. Kumpulan sanjaknya Perlawanan (1966) dan Tanah Air (1969) merupakan sanjak-sanjak demonstrasi atau rekaman peristiwa kebangkitan Orde Baru, sebagaimana Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail dan Mereka Telah Bangkit karya Bur Rasuanto. Juga menulis antologi puisi Dendang Kabut Senja (1969), Sajak-sajak Putih (1996), drama Kebinasaan Negeri Senja (1968) Cerkan-cerkannya antara lain: Si Bawang, Telaga di Kaki Bukit, Gadis Sunyi, Empat Saudara, Berlomba dengan Senja.

Rahmat Joko Pradopo, dilahirkan di Klaten 3 November 1939,   penyair yang juga Guru Besar dari Fakultas Sastra UGM. Ditulisnya antologi puisi Matahari Pagi di Tanah Air (1967), Hutan Bunga (1990); Jendela Terbuka (1993). Sebagai ahli sastra, Rahmat menulis buku berjudul Pengkajian Puisi (1987); Bahasa Puisi Nyanyi Sunyi dan Deru Campur Debu (1982); Beberapa Teori Sastra, Metode Kreitik dan Penerapannya (1995). .

(dari IKHTISAR SEJARAH SASTRA INDONESIA penulis Yant Mujiyanto, dkk. diterbitkan oleh UNS Press)

SASTRAWAN-SASTRAWATI PERIODE KISAH (DEKADE 50-AN)

SASTRAWAN-SASTRAWATI GENERASI KISAH/DEKADE 50-AN

Di bawah ini dideretkan beberapa nama aktivis Generasi Kisah berikut karya mereka :

Ayip Rosidi, dilahirkan di Jatiwangi, Cirebon, 31 Januari 1938. Inilah sastrawan yang menjadi Profesor Tamu pada Osaka Gaidai Jepang, untuk mengajarkan Indonesiologi. Sejak usia 13 tahun sudah memimpin majalah sekolah, usia 16 tahun menerbitkan buku. Ia pernah menjadi redaktur majalah Suluh Pelajar, Prosa, Majalah Sunda, Budaya Jaya, Direktur Penerbit Cupumanik, Duta Rakyat. Juga pernah menjadi dosen luar biasa FS Unpad Bandung, Direktur Penerbit Pustaka Jaya, Ketua IKAPI, Ketua DKJ, peraih Hadiah Sastera Nasional BMKN.

Ditulisnya  kumpulan-kumpulan sanjak Pesta (1956, Cari Muatan (1959); Surat Cinta Enday Rasidin (1960); Jeram (1970); antologi cerpen dan novelet Tahun-tahun Kematian (1955);  Di Tengah Keluarga (1956); Sebuah Rumah buat Hari Tua (1957); Pertemuan Kembali , penceritaan kembali sastra daerah Purba Sari Ayu Wangi (1962) dan Lutung Kasarung (19058); Candra Kirana (1962); Rara Mendut (1961). Ia pun menulis Perjalanan Penganten (kisah, 1958)) serta Masyitoh (drama/novel, 1969).

Pada pasca-G 30 S/PKI Ayip Rosidi antara lain menulis: Ular dan Kabut (kumpulan puisi, 1973);  Sajak-sajak Anak Matahari (kumpulan puisi, 1979), Anak Tanah Air (roman, 1979). Pada sekitar awal dekaded 90-an Ayip Rosidi memelopori pemberian Hadiah Sastra Rancage khusus sastrawan-sastrawati yang dianggap berprestasi luar biasa dalam Sastra Daerah tiap tahun sejak dekade 90-an sampai sekarang. Pada tahun 2000 Ayip menerim,a Bintang Jasa The Order of the Secred Treasure Gold Ray with Neck Ribbon pemerintah Jepang. .

Karya-karya lain penulis segala bentuk karangan ini: bunga rampai Laut Biru Langit Biru (1977); Cerita Pendek Indonesia ( 1959); Kapankah Kesusatraan Indonesia Lahir (1964); Ikhtisar sejarah sastra Indonesia (1969); antologi puisi Sajak-sajak Anak Matahari ( 1979); Ular dan Kabut (1973); novel Anak Tanah Air (1979); buku umum Mengenal Jepang (1981); Manusia Sunda (1984); Undang-undang Hak Cipta 1982: Pandangan Seorang Awam (1984); terjemahan bersama Matsuoka Kunio: Penari Jepang(1985) dan Daerah Salju (1987), kumcerpen dan novel Yasunari Kawabata.

Muchtar Lubis, dilahirkan di Padang, 7 Maret 1922, meninggal di Jakarta, 2 Juli 2004, menulis novel  terkenal berjudul  Jalan Tak Ada Ujung (1952). Juga ditulisnya novel Tak Ada Esok (1951), Senja di Jakarta (1970), kumpulan cerpen Si Jamal dan Cerita-cerita lain (1951) dan Perempuan (1956). Di atas tahun 60-an, darinya bisa kita baca roman Tanah Gersang (1966), Harimau! Harimau! (1975), Maut dan Cinta (1977), cerita anak-anak Berkelana dalam Rimba (1980) dan Sinbad Sang Pelaut serta kumpulan cerpen Kuli Kontrak (1982) dan Bromocorah (1983).

Di samping terkenal sebagai pengarang, Mochtar Lubis juga tersohor sebagai wartawan yang pernah memimpin surat kabar Indonesia Raya. Ia pernah meraih hadiah Ramon Magsaysay untuk karya jurnalistik ketika meliput Perang Korea. Yacob Utama dari Kompas menjulukinya sebagai Wartawan Jihad karena kegigihannya memperjuangkan hak azasi manusia. Pada tahun 1993 ia menerima Hadiah Sastra Chairil Anwar.

Selain menulis karya sastra ia juga menulis buku ilmiah berjudul Manusia Indonesia (1977) dan Transformasi Budaya untuk Masa Depan. Pengalamannya dalam tahanan zaman Orde Lama mengilhaminya menulis buku tebal Catatan Subversif.

Karya-karyanya yang lain: Catatan Perang Korea (1951); Terklnik Mengarang (1951); Teknik Mengarang Skenario Film (1952); Indonesia di Mata Dunia (1955); cernak Harta Karun (1964); Penyamun dalam Rimba (1972).

Selain terkenal sebagai pengarang, wartawan, budayawan, Mochtar Lubis adalah juga editor dan penerjemah beberapa  uku, yakni: Pelangi 70 Tahun S.T.A. ; Bunga Rampai Korupsi; Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-surat Bung Hatta kepada Presiden Sukarno ; terjemahan Tiga Ceita dari Negeri Dollar (kumcerpen Jophn Steinbeck, dll., 1950); Kisah-kisah dari Eropa (1950), Cerita dari Tiongkok (1953).

Toto Sudarto Bachtiar, dilahirkan di Cirebon, 12 Oktober 1929. Penyair ini menulis kumpulan sanjak Suara (1956) dan Etsa(1958). Di dalam kedua buku tersebut bisa kita jumpai Pahlawan Tak Dikenal, Ibukota Senja, Gadis Peminta-minta, Tentang Kemerdekaan, dan lain-lain.Toto Sudarto juga menerjemahkan novel karya Leo Tolstoy berjudul Hati yang Bahagia; drama Sanyasi ( karya Tagore,1979); Pelacur (karya J.P. Sartre, 1954); Sulaiman yang Agung (karya Harold Lamb, 1958); Mal;am teakhir (karya Yushio Misima, 1979);  novel Bayangan Memudar (karya Breton de Nijs, 1975); Pertempuran Penghabisan (karya Ernest Hemingway, 1974);

Toha Muchtar, dilahirkan di Kediri, 17 September 1926, meninggal di Jakarta, 19 Mei 1992. Novelis yang melukis ini adalah pemenang lomba yang menulis novel berjudul Pulang (1958). Juga ditulisnya novel Daerah Tidak Bertuan (1963), Bukan Karena Kau dan Kabut Rendah, keduanya terbit tahun 1968.

Juga ditulisnya buku  berjudul Jayamada (bersama Sukanto S.A.,1971), serta kumcerpen Antara Wilis dan Gunung Kelud (1989); novel Berita dari Pinggiran (1999, tujuh tahun setelah ia meninggal).

Utuy Tatang Sontani, dilahirkan di Cianjur, 31 Mei 1920), meninggal di  Moskwa, 17 September 1979. Ia merintis karier sajak zaman Jepang dan berhasil menciptakan Tambera (roman, 1949), Suling (drama, 1948) dan Bunga Rumah Makan(1948) ; Awal dan Mira (1952), Manusia Iseng (1953); Sayang Ada Orang Lain (1954) serta Si Kabayan. Utuy juga menulis drama-drama propaganda politiknya Lekra Si Kampeng (1964), serta sebuah kritik sosial yang tajam dalam drama Selamat Jalan Anak Kufur! (1956).

Karya-karya Utuy yang lain: drama Saat yang Genting (1958); Di Muka Kaca (1957); kumcerpen Orang-orang Sial (1951); Manusia Kota (1961); Segumpal daging Bernyawa (12961); Tak Pernah Menjadi Tua (1963). Utuy menerjemahkan karya Jean de la Fontaine menjadi Selusin Dongeng (1949).

Sitor Situmorang, dilahirkan di Tapanuli, 2 Oktober 1924. Penyair ini menulis kumpulan sanjak Surat Kertas Hijau (1953); Dalam Sajak (1955); Wajah Tak Bernama (1956);  Zaman Baru (1961). Ia juga menulis Jalan Mutiara (drama, `1954), Pertempuran dan Salju di Paris (1956) dan Pangeran, keduanya kumpulan cerpen. Sekeluar dari enam tahun penahanan (karena Ketua  Lembaga Kebudayaan Nasionalnya PNI (LKN) yang dekat dengan Lekra), Sitor menulis kumpulan sanjak Dinding Waktu (1976), Peta Perjalanan (1977), Danau Toba (1981). Sitor terkenal dengan haiku (sanjak mungil)nya yang berjudul Malam Lebaran.  Puisi ini hanya berisi satu baris/larik yang berbunyi ”Bulan di atas kuburan”.

Di samping sebagai penyair yang banyak menulis sanjak-sanjak tentang alam, Sitor Situmorang pernah menjadi menjadi redaktur harian Suara Nasional, Waspada, Berita Nasional, Warta Dunia, pernah pula menjadi dosen ATNI, anggota Dewan Perancang Nasional,  MPRS, serta pernah bermukim di Amsterdam, Paris, Den Hag, Islamabad.

Karya-karyanya selain yang di atas: antologi puisi Zaman Baru (1961); Bunga di Atas Batu (1989); Rindu Kelana (1994) serta buku ilmiah Sastra Revolusioner (1965).

Karya-karya terjemahannya: drama Hari Kemenangan (karya M. Nijhoff, 1955); Bethlehem (karya M. Nijhoff, 1955); Jalan ke Joljuta (karya D.I. Sayersm, 1956)

Kirjomulyo, dilahirklan di Yogya, 1930, meninggal di sana,, 19 Januari 2000. Ia terkenal dengan Romance Perjalanan(1955) nya. Ia juga  menulis lakon Nona  Maryam (1955) , Penggali Kapur (1957); Puisi Rumah Bambu; Dusta yang Manis; Puisi di Langit Merah, serta novel pada tahun 1968 Cahaya di Mata Emi (1968) dan Di Saat Rambutnya Terurai (1968) serta Dari Lembah Pualam.

A.A. Navis, dilahirkan di Padangpanjang, Sumatra Barat, 17 November 1924, meninggal di sana pada tahun 2002.. Pengarang alumni Perguruan INS Kayutanam pernah menjadi pemred harian Semangat Padang, Anggota DPRD Sumatra Barat, Ketua Yayasan INS Kayutanam. Ia  terkenal sebagai pengarang kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami (1956). Kumpulan cerpennya yang lain Bianglala (1963) dan Hujan Panas (1964).  . Novelnya antara lain Kemarau (1967) dan Gerhana. Ia juga menulis buku nonfiksi Alam Terkembang Jadi Guru (1984). Cerpennya berjudul Jodoh memenangkan sayembara Kincir Emas yang diadakan oleh Radio Nederland.

A.A. Navis pernah menerima Hadiah Seni Depdikbud  RI tahun 1980, Hadiah Sastra ASEAN (SEA Award) tahun 1972 dan Satya Lencana Kebudayaan Pemerintah RI tahun 2000.

Muhammad Ali, dilahirkan di Surabaya, 23 April 1927, meninggal di kota yang sama, 2 Juni 1998. Pengarang ini banyak menulis cerpen atau lakon dengan tema para papa. Terkenal dengan dramanya Lapar; Hitam atas Putih (1959) berisi cerpen, sanjak, sandiwara. Novelet-noveletnya antara lain Lima Tragedi (1952);  Kubur Tak Bertanda (1953). Pada pasca 70-an, terbit kumpulan cerpennya Buku Harian Seorang Penganggur (1972);  novel Ibu Kita Raminten (1982); Puitisasi Terjemahan Al Qur’an, sanjak Muhammad. Muhammad Ali yang banyak menggarap tema-tema kerakyatan juga menulis cerpen Ajal dan Bejo, Manusia Kaki Lima. Ia juga menulis buku kumpulan makalah  berjudul Biarkan Kami Bicara dan Sastra dan Manusia (1986).

Pengarang yang pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS), dosen tamu Fakulas Sastra Universitas Jember ini juga menulis: novel Persetujuan dengan Iblis (1956); Tirai Besi (1955); Di Bawah Naungan Al Quran (1957);Qiamat (1971); drama Si Gila (1969); Kembali kepada Fitrah (1969); antologi puisi Bintang Dini (1975). Juga ditulisnya buku-buku: Aktor dan Aktris (1981); Teknik Penghayatan Puisi (1`983); Puitisasi Juz Amma (1983); 1816 Peribahasa Indonesia (1984); kumcerpen Gerhana (1996).

Nasyah Jamin, dilahirkan di Perbaungan, Sumatra Utara, 24 Desember 1924, meninggal di Yogyakarta, 4 Desember 1994. Pengarang yang juga pelukis ini  menulis drama Sekelumit Nyanyian Sunda (1962); Titik-titik Hitam (1956); Jembatan Gondolayu, serta novel Hilanglah Si Anak Hilang (1963) dan Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1969). Nasyah yang cukup dekat Chairil Anwar, menulis buku Hari-hari Terakhir Sang Penyair (1962) semacam biografi pelopor Angkatan ’45 itu.

Nasyah Jamin yang pernah memperdalam art and setting di Tokyo, menjadi redaktur majalah Budaya, Pendiri Angkatan Seni Rupa Indonesia , Gabungan Pelukis Indonesia, juga mengarang cernak Anak Si Pai Bengal (1952), Hang Tuah (1952), novel Helai-helai Sakura Gugur (1964); Malam Kualalumpur (1968); Dan Senja pun Turun (1982); Bukit Harapan (1984); Tiga Puntung Rokok (1985); Ombak dan Pasir (1988); Ibu (1988); kumcerpen Di Bawah Kaki Pak Dirman (1967) dan Sebuah Perkawinan (1974).

Riyono Pratikto, dilahirkan di Ambarawa, 27 Agustus 1932, mengarang kumpulan cerpen Api dan Cerpen Lain (1951) dan Si Rangka dan Cerpen Lain (1958). Di Horison tahun 1986 dimuat cerpennya Dalam Kereta Api Perjalanan Hidup. Cerpen Melalui Biola dinilai terbaik oleh majalah Kisah tahun 1954. Buku  terjemahannya Keempat Puluh Satunya (karya Boris Lavrenyov, 1983).

Ali Audah, dilahirkan di Bondowoso, 14 Juli 1924. Pengarang ini lebih terkenal sebagai penerjemah sastra Arab. Kumpulan cerpennya Malam Bimbang (1961). Terjemahan-terjemahannya Suasana Bergema (1959), Peluru dan Asap (1963); Di Bawah Jembatan Gantung (1983); Sejarah Hidup Muhammad (karya Heikal); Lampu Minyak Ibu Hasyim (novel Yahya Hakki, 1976); Kisah-kisah Mesir (1977); Setan dalam Bahaya (1978); Saat Lonceng Berebunyi (1982); Hari-hari sudah Berlalu (karya Toha Husewin, 1985).

Nugroho Notosusanto, dilahirkan di Rembang, 15 Juli 1931, meninggal di Jakarta, 3 Juni 1985. Pengarang yang pernah menjabat Mendikbud RI dan Rektor UI ini menulis kumpulan cerpen Tiga Kota (1959); Rasa Sayange (1961); Hujan Kepagian (1958). Buku-buku nonfiksi yang ditulisnya Sejarah Kemerdekaan Indonesia, 30 Tahun Indonesia Merdeka, Wawasan Almamater.

Trisno Yuwono, dilahirkan di Yogyakarta, meninggal di Bandung, 24 Oktober 1996. Pengarang yang juga penerjun dan pernah menjadi anggota Tentara Rakyat Mataram, Korps Mahasiswa Magelang dan Jombang dan redaktur koran Pikiran Rakyat ini menulis kumpulan cerpen Laki-laki dan Mesiu (1957); Di Medan Perang (1962); novel Di Bawah Kawat Berdur (1961), kumpulan cerpen Angin Laut (1958) dan Kisah-kisah Revolusi (1963) serta roman Bulan Madu (1962); Biarkan Cahaya Matahari Membersihkanku Dulu (1966); Petualang (1981).

Motenggo Boesye, dilahirkan di Kupangkota, Lampung, 21 November 1937, meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999. Pengarang yang juga pelukis dan dramawan ini tetap aktif menulis hingga akhir hayatnya. Karya-karyanya yang berbentuk drama Malam Jahanam (1958); Badai Sampai Sore (1962); Nyonya dan Nyonya (1963); Malam Penganten di Bukit Kera (1963); Matahari dalam Kelam (1963);  Keberanian Manusia (1962); Perempuan itu Bernama Barabah (1962); novel Dia Musuh Keluarga (1968); Titisan Dosa di Atasnya (1964); Sejuta Matahari (1963). Karya-karyanya yang terbit tahun 80-an: Rindu Ibu adalah Rinduku, Perempuan-Perempuan Impian, Debu-debu Kalbu, Cintaku Selalu Padamu, Akulah Pemberontak Itu, Ibu!, Dalam Kelembutan dan menyutradarai film layar lebar Cintaku Jauh di Pulau, Sejuta Duka Ibu, Putri Seorang Jendral, Di Balik Pintu Dosa. Pada tahun 1985 ditulisnya novel sufistik Sanu Infinita Kembar.

Ternyata Motenggo Boesye juga seorang penyair Buku kumpulan puisinya berjudul Aurora Para Aulia.

Karya-karya Motenggo Boesye yang lain: kumcerpen Dua Tengkorak Kepala (1999); Nasihat untuk Anakku (1963); novel Dosa Kita Semua (1963); Hari Ini Tidak Ada Cinta; Cross Mama; novel trilogi Tante Maryati (1967); Sri Ayati (1968); Retno Lestari (1968). Pada tahun 1963, terbit legenda-legendanya: Buang Tonjam; Ahim Ha; Batu Serompak.

Iwan Simatupang, dilahirkan di Sibolga, Sumatra Utara, 18 Juni 1928, meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970, terkenal dengan karya-karyanya yang absurd, penuh pemikiran inkonvensional, menyimpang dari jalur logika biasa, tampil berabsurd-absurd lebih awal daripada Sutarji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Budi Darma, Danarto, Yudhistira Ardi Noegraha, Ikranegara. Karya-karya Iwan Simatupang: drama Bulan Bujur Sangkar (1960);  Petang di Taman (1966);  RT 0 RW 0 (1960) cerpen Lebih Hitam dari Hitam, kumpulan cerpen Tegak Lurus dengan Langit (1982) Novel-novelnya sangat terkenal dan dijadikan tolok ukur kualitas sastra absurd Indonesia: Kering (1972);  Merahnya Merah ( 1968); Ziarah (1969); Kooong (1975)

Iwan  memperoleh SEA Award dengan novel Ziarah-nya.

S. Rukiah, dilahirkan di Purwakarta, 25 April 1927. Sastrawati ini  menulis Kejatuhan dan Hati (1950); Tandus (kumpulan puisi, 1952); Kisah Perjalanan Si Apin ; Jaka Tingkir (1962);  Teuku Hasan Johan Pahlawan (1957); Dongeng-dongeng Kutilang (1962); Taman Sanjak Si Kecil (1959).

N.H. Dini, dilahirkan di Semarang, 29 September 1936, masih aktif hingga kini. Pengarang wanita ini menulis kumcerpen Dua Dunia (1956); roman Hati yang Damai (1961); Namaku Hiroko (novel, 1977)). Kreativitasnya justru lebih menonjol pada tahun-tahun 70-an ke atas. Roman-romannya: Pada Sebuah Kapal (1973); La Barka (1975); Keberangkatan; novel-novelnya Sekayu (1981); Sebuah Lorong di Kotaku (1978); Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979).  Biografi Amir Hamzah ditulisnya di bawah judul  Pangeran dari Seberang (1981). Kumcerpennya yang lain Segi dan Garis. Juga menulis novel Jalan Bandungan (1989) dan Tirai Menurun (1993); Orang-orang Tran (1985)..

Novelnya yang berjudul Pertemuan Dua Hati yang mengisahkan tentang perjuangan Bu Suci, seorang guru SD dalam membimbing Waskito adalah muridnya yang berkepribadian sulit, novel ini telah disinetronkan. N. H. Dini mempunyai pengalaman bersuamikan diplomat asal Perancis dan bertahun-tahun tinggal di negeri itu. Latar belakang itu mendorongnya menerjemahkan karya pengarang eksistensialis Albert Camus berjudul Sampar (dari La Pest, 1985).

Karya-karya Dini yang lain: Di Pondok Salju cerpen runner up majalah Sastra 1963, Panggilan Dharma Seorang Bhikku (1997); Tanah Baru Tanah Air Kedua (1997); Kemayoran (2000); Jepun Negerinya Hiroko (2000).

Rendra, dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Penyair dan dramawan ini dulu lebih dikenal dengan nama W.S. Rendra (Willibordus Surendra). Setelah beragama Islam, penyair burung merak ini menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Rendra yang kini meroket lagi, dikenal sebagai pembaca sanjak termahal di dunia. (3 juta di TIM, Bandung, Semarang, 12 juta di Senayan, dekade 90-an). Karya-karyanya: Empat Kumpulan Sajak  terdiri dari Kakawin-Kawin, Malam Stanza, Nyanyian dari Jalanan, Sajak-sajak Duabelas Perak, kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta (1956); Sajak-sajak Sepatu Tua (1971); Blues untuk Bonnie (1975); Potret Pembangunan dalam Puisi (1980).. Dua yang terakhir ini ditulisnya sepulang dari Amerika tahun 1968.

Rendra juga menulis kumcerpen Ia Sudah Bertualang (1963); menulis skenario dan mementaskan Orang-orang di Tikungan Jalan; Mastodon dan Burung Kondor;  Kasidah Berjanji, Kisah Perjuangan Suku Naga, Sekda, drama terjemahan Oedipus Sang Raja (1976); Oedipus di Kolonus (1976); Oedipus Berpulang; Antigone (1976); drama saduran Perampok;  drama kolosal Panembahan Reso (1988);  juga Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Pada dekade 90-an, Rendra menerbitkan antologi puisi “Orang-orang Rangkasbitung (1993) dan Disebabkan oleh Angin (1993).

Rendra memimpikan Bengkel Teater dan menulis buku Tentang Bermain Drama (1976). Sebagai budayawan, ditulisnya buku Mempertimbangkan Tradisi (1983) dan Memberi Makna pada yang Fana. Rendra pernah bermain dalam film AL Kautsar, Yang Muda yang Bercinta, Cintaku Jauh di Pulau.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.