Analisis Sastra: Struktur Fisik Puisi Indonesia Periode 70 hingga 80-an

Dibandingkan dengan puisi-puisi Periode ’66 dan sebelumnya, puisi-puisi Indonesia dekade 70 hingga 80-an ini memiliki struktur lahir yang sangat beraneka ragam. Di samping bentuk-bentuk yang masih punya keterikatan kuat dengan konvensi penulisan puisi yang telah ada, di sini kita jumpai juga bentuk-bentuk yang lain, yang setengah konvensional dan inkonvensional. Segala bentuk tipografis dan pencapaian wawasan estetik baru dicobaterapkan di sini. Pada periode ini, unsur-unsur seni rupa ikut mewarnai bentuk-bentuk sanjak yang ada yang sebetulnya telah dirintis oleh para penyair dekade 70-an, mengisyaratkan kepada kita bahwa kekuatan struktur puisi mutakhir tidak semata-mata pada kata.

Perbandingan antara bentuk-bentuk puisi yang konvensional dengan yang di luar konvensi boleh dikatakan imbang. Kecenderungan berbeda dengan yang konvensional memang ada. Penciptaan karya sastra bukanlah semata persoalan bentuk tata wajah. Itu tidak lagi mengacu pada konvensi penulisan yang ada, tetapi lebih merupakan Continue reading

Puisi: Surat Terakhir Sang Dewa

SURAT  TERAKHIR SANG DEWA

Oleh: Danriris KS

 

Waktu telah menunjukkan jam delapan

Kala ku berbisik di telingamu

“aku akan pergi…, menembus gelap yang melambai-lambai!”

Lirih….

 

Kau hanya tersenyum getir

Mirip yang kulihat ketika ku bercerita

Tentang mimpi membangun bahtera mewah

Di tengah hidup kita yang terengah-engah

 

Aku melangkah melepas dekapan sore tadi

Berat tangan ini membuka

Tapi tubuh kian melayang

Dan senyum getirmu kian mengembang

Dihiasi buliran permata beruntai di sudut jendela

 

Tak banyak yang kuharap dewiku…

Hanya doa agar gelap malam tak memakan putihku

Menghilangkan bekal yang tak seberapa

Semoga angin malam tak membawa nyawaku dalam sesatnya alam semesta

Kuharap cahaya yang setitik itu menuntunku

Menghadap Dia yang telah memanggilku

 

 

Puisi Angkatan 20-an (Angkatan Balai Pustaka): Mengeluh

MENGELUH

 

Bukanlah beta berpijak bunga,

melalui hidup menuju makam.

Setiap saat disimbur sukar

bermandi darah dicucurkan dendam

 

Menangis mata melihat makhluk,

berharta bukan berhakpun bukan.

Inilah nasib negeri anda,

memerah madu menguruskan badan.

 

Ba’mana beta bersuka cita,

ratapun rakyat riuhan gaduh,

membobos masuk menyapu kalbuku.

 

Ba’mana boleh berkata beta,

suara sebat sedanan rusuh,

menghimpit masah, gubahan cintaku.

 

II

 

Bilakah bumi bertabur bunga,

disebarkan tangan yang tiada terikat,

dipetik jari, yang lemah lembut,

ditanai sayap kemerdekaan rakyat?

 

Bilakah lawang bersinar Bebas,

ditinggalkan dera yang tiada berkata?

Bilakah susah yang beta benam,

dihembus angin kemerdekaan kita?

 

Disanalah baru bermohon beta,

supaya badanku berkubur bunga,

bunga bingkisan, suara syairku.

 

Disitulah baru bersuka beta,

pabila badanku bercerai nyawa,

sebab menjemput Manikam bangsaku.

 

Dari: Percikan Permenungan

Oleh: Rustam Effendi (Angkatan Balai Pustaka)

 

 

Seri Kesusastraan Indonesia: Syair

Selalu menarik ketika kita membahas perkembangan Indonesia dari masa ke masa. Membaca pantun, mempelajati talibun, gurindam, ataupun puisi baru, seolah kita mengikuti sejarah perjuangan bangsa ini. Syair merupakan salah satu dari sekian banyak karya sastra yang lahir dalam sejarah perkembangan bangsa ini. Berbeda dengan gurindam yang muncul karena akulturasi budaya bangsa dengan hindu, syair muncul setelah agama Islam menyebar di nusantara (Simorangkir, 1952: 41). Diterangkan oleh Dr. Hooykaas bahwa syair yang tertua dalam bahasa melayu terdapat di sebuah batu nisan tua di Minye Tujoh Aceh, berangka tahun 781 H atau sekitar 1380 Masehi.  Kata syair sendiri berasal dari bahasa arab yang bermakna Continue reading

SASTRAWAN-SASTRAWATI ANGKATAN PUJANGGA BARU

Di tulisan sebelumnya, saya menyampaikan sedikit tentang karakteristik Angkatan Pujangga Baru. Sempat ada keinginan untuk merevisi tulisan itu dengan memasukkan  penjelasan tentang beberapa tokoh yang dikategorikan sebagai angkatan pujangga baru lengkap dengan beberapa judul karyanya. Tapi, sepertinya akan menjadi terlalu panjang, oleh karena itu tulisan tentang sastrawan-sastrawati angkatan pujangga baru saya posting terpisah. Semoga bermanfaat!.

SASTRAWAN-SASTRAWATI ANGKATAN PUJANGGA BARU

Kwartet berikut dikenal sebagai ujung tombak Angkatan Pujangga Baru:

Sutan Takdir Alisyahbana, kelahiran Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, meninggal di Jakarta, 17 Juli 1986. Pujangga ini seorang ilmuwan dan filsuf bergelar Sarjana Hukum, Doktor Honoris Causa dan professor. Ia sangat terkenal dengan roman bertendennya Layar Terkembang(1936). Roman-romannya yang lain: Dian nan Tak Kunjung Padam(1932), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940). Tebaran Mega (1935) merupakan kumpulan sanjak yang menandai kepenyairannya. Ternyata, Sutan Takdir tidak hanya hebat di zamannya. Pada masa pascakemerdekaan, bahkan setelah tergulungnya Lekranya PKI, Sutan Takdir pun ikut Continue reading

Membaca Efektif

Membaca merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh kita. Namun, sering kali kita merasa malas, jengah, dan jenuh ketika harus membaca sebuah teks yang panjang. Bahkan, setelah selesai membaca seluruh teks ternyata kita belum memahami isi bacaan tersebut, yang kemudian memaksa kita untuk membacanya berulang kali. Tapi, apakah dengan membaca berulang kali akan menambah pemahaman kita? mungkin, seberapa efektifkah cara membaca kita?.

Setiap individu mungkin memiliki kemampuan yang berbeda untuk Continue reading

Catatan Hari Ini

Hups…..!, ada rasa lelah di dada setelah menempuh perjalanan hampir 30 km. Ya, kini aku telah duduk di ruang perpustakaan sekolah tempat setiap hari aku menunggu bertemu anak-anak didikku, ruangan yang kerap menyaksikan betapa rindunya aku terhadap celotehan siswa yang berulang kali membuat keningku berkerut.

Hari ini tepat 22 hari ramadhan tahun ini kulalui. baru sebulan saja efektif bertemu anak-anak di kelas. Esok dan dua minggu ke depan ada jarak membentang dan waktu yang sepertinya akan membuat benteng baru dalam ruang yang seharusnya membuat aku dan siswaku berpadu, bersama belajar tentang bahasa tercinta. Ah, lagi-lagi libur. Senang, girang, dan lega, rasa itu ada dalam diriku bahkan mungkin itu pula yang dirasakan oleh siswaku. Siapa yang tak senang berlibur, lepas dari rutinitas. Tapi, lepas malam biasanya ketika aku terjaga ada bermacam pikiran dan pertanyaan yang menghampiri labirin otakku. Continue reading

IKLAN: Dalam Tinjauan Bahasa

Iklan atau dalam bahasa Indonesia formalnya pariwara adalah promosi barang,  jasa,  perusahaan dan ide yang harus dibayar oleh sebuah sponsor. Pemasaran melihat iklan sebagai bagian dari strategi promosi secara keseluruhan. Komponen lainnya dari promosi termasuk publisitas, relasi publik, penjualan, dan promosi penjualan.

Gaya bahasa yang digunakan dalam iklan ini adalah gaya bahasa klimaks yaitu gaya bahasa iklan yang dimulai dari hal-hal yang bersifat tidak penting menuju kepada hal-hal yang lebih penting. Dari definisi tersebut terdapat definisi lain tentang iklan menurut American Marketing Association (AMA), iklan adalah Continue reading

PERBEDAAN BAHASA INDONESIA DAN BAHASA MALAYSIA

PERBEDAAN BAHASA INDONESIA DAN BAHASA MALAYSIA

*) Penting untuk dicatat: tulisan ini dikutip dari ensiklopedia bebas wikipediaIndonesia. Apabila akan menjadikannya sebagai referensi, harap merujuk sumber asli sebagaimana ditulis di bagian akhir tulisan ini.

Bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia adalah dua bentuk baku dalam bahasa Melayu modern (pasca-Perang Dunia II). Selain keduanya, terdapat pula bentuk baku lain yang dipakai di Brunei, namun karena penuturnya sedikit bentuk ini menjadi kurang signifikan. Artikel ini mencoba menunjukkan perbedaan di antara kedua bentuk baku utama meskipun usaha-usaha penyatuan ejaan dan peristilahan selalu dilakukan di bawah koordinasi MABBIM.

Sebenarnya tidak banyak perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Berbagai varian bahasa Melayu digunakan di berbagai wilayah Indonesia dan semua mengakui bahwa bahasa yang digunakan di Provinsi Riau dan sekitarnya adalah bahasa Melayu Standar (atau bahasa Melayu Tinggi, bahasa Melayu Piawai). Perbedaan latar belakang sejarah, politik, dan perlakuan yang berbeda menyebabkan munculnya perbedaan tata bahasa, peristilahan dan kosakata, pengucapan, serta tekanan kata pada dua bentuk standar modern yang sekarang dipakai.

Perbedaan itu secara garis besar dapat dipaparkan sebagai berikut: Continue reading

Kebahasaan: Resensi Buku Kumpulan Cerpen

Resensi Buku Kumpulan Cerpen

Menjelaskan isi buku kumpulan cerpen berdasarkan kelebihan dan kekurangannya  dengan alasan.

Salah satu jenis menulis adalah menulis karya-karya resensi.  Resensi bisa ditujukan pada buku-buku fiksi dan non-fiksi. Terhadap buku-buku fiksi resensi bisa diterapkan pada buku kumpulan cerpen.

Karya resensi kebanyakan dimuat  di media masa cetak. Oleh karena itu,   harus memperhatikan  aktualitas buku-buku yang diresensi. Kebanyakan tahun terbit  buku yang diresensi sama dengan saat penulisan karya resensi. Paling jauh setahun sebelumnya.

Resensi buku dimulai dengan penulisan identitas buku yang terdiri dari;

  1. judul buku
  2. nama pengarang
  3. nama penerbit dan kota penerbitan
  4. tahun terbit
  5. jumlah halaman buku

Resensi membahas secara singkat  isi buku, mempunyai gambarab secara menyeluruh apa yang terdapat dalam  bukub yang di resensi. Jika yang diresensi kumpulan cerpen diuraikan  :

  1. Berapa dan cerpen apa saja yang dimuat dalam kumpulan cerpen tersebut.
  2. Tema sentral/utama cerpen-cerpen tersebut atau tema masing-masing cerpen.
  3. Kelebihan dan kekurangan buku kumpulan cerpen yang diresensi.

Dalam menyampaikan kelebihan dan kekurangan buku yang diresensi,penulis resensi hendaknya  mampu menyampaikan alasan-alasan rasional tentang kelebihan dan kekurangan tersebut, menyangkut soal isi buku , teknik, penyajian, ti[pografi/ perwajahan buku.   .
.

Contoh resensi buku 

PEREMPUAN YANG MENYIHIR    

Buku                 : Sihir Perempuan

Penulis              : Intan Paramadhita

Penerbit           : Kata kita .Jakarta.

Cetakan            :  Pertama,Mei 2005

Tebal                 : 150 halaman

Sejumah cerpen yang dimuat di beberapa koran  muncul hasil karya perempuan  muda. Satu persatu dari mereka  mulai menerbitkannya menjadi buku.  Setahun silam nama LindaChistantidengan buku kumpulan cerpennya  Kuda Terbang Maria Pinto  menjadi momentum terpenting bagi generasi penulis perempuan muda seangkatannya saat didaulat terbaik di ajang Khatulistiwa Award. 

Menyebut beberapa contoh lain,kemunculan nama Jenar Maesa Ayu,  Yetti A.KA, Dina Oktaviani, Ucu Agustin, Nukila Akmaladalah yang berupaya menyeruak belantara sastra cerpen yang gersang  dengan karya-karya penulis perempuan muda. Satu lagi diantaranya adalah Intan Paramadhita yang baru saja melepas buku kumpulan cerpen yang berjudul :Sihir perempuan. Dari pemilihan judul buku, judul-judul cerpen dan terutama tema yang diangkat penulisnya, adalah seputar kisah dunia gaib, pekat ceritera horor dan sejenisnya. Ia mengimgatkan kembali pada posisi dan keberadaan perempuan adi-manusiayang telah masyur dalam tradisi,semacam nenek sihir, kuntilanak, mak lampir,sundel bolong,Nyi Blorong ,hinggaRatuPantaiSelatan.

Mengutip komentar promosial di balakang buku, perempuan itu bisa menjadi apa saja: ibu, anak, karyawati yang baik……..Lalu mengapa penulisnya justru berkisah tentang sisi lain seorang perempuan,sebuah dunia di sudut lain, di mana ia mengangkat sisi kelam kehidupannya. Dalam cerpennya bisa terlacak kisah-kisah perempuan pembunuh ( cepen Mak Ipak dan Bunga-bunga), Stigma janda penggoda (  cerpen Pemintal Kegelapan).  Tindakan aborsi ( cerpen Jeritan Dalam Botol),  dan lain-lain.

Buku setebal 150 halaman ini, bukan semata-mata menyodorkan kisah-kisah horor, yang menegangkan dan menghibur.  Cerpen yang mempunyai keterbatasan ruang, itu digunakan penulisnya untuk melancarkan “ permainan halus”-nya dalam tema-tema  cerita “dunia kelam “ seorang perempuan. Ia dijadikan medium untuk melihat kembali dunia perempuan dengan segala aspeknya.  Sebagai perempuan,penulis merangkum segala persoalan yang dialami perempuan dari sudut pandang perempuan. Meski tidak semua tokoh utamanya adalah perempuan, kita akan merasakan kelihaian penulisnyamenjungkirbalikkan kisah perempuan dalam dongeng Cinderela ( (cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari ) ,Super Woman (cerpen Mobil Jenazah). Karyawati yang baik (cerpen  Vampir dan cerpen  Darah), atau menjadi anak perempuan yang berbakti pada ayahnya (cerpen Pintu Merah ).Cerpen bagi Intan adalah sebuahtanya yang menanti jawab para pembacanya dalam pertaruhan  peta nasib dan  kisah seorang perempuan .

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.